Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Siang menjelang sore yang panas


__ADS_3

Hari berganti. Seperti biasa, Bryan mengantar Pipit ke kampus. Semakin hari keposesifan Bryan semakin meningkat. Ia sama sekali tidak membiarkan Pipit bepergian tanpanya. Apalagi semenjak kejadian di kantin tempo hari.


" Abang nggak usah nganter sampai ke gedung tempat Pipit kuliah lah. " protes Pipit saat Bryan hendak turun dari mobil.


" Kenapa? Hem? " tanya Bryan sambil membelai rambut Pipit.


" Pipit kan bukan anak kecil lagi bang. Masak cuma sampai gedung sana aja harus di antar sih. " jawab Pipit sambil menunjuk gedung tempat kuliahnya.


" Kenapa nggak sekalian ikut kuliah aja di dalam gedung. " gerutu Pipit sambil bergumam.


" Sepertinya ide yang bagus juga honey. " sahut Bryan yang masih mendengar perkataan Pipit meskipun Pipit hanya bergumam.


Spontan Pipit mencubit lengan suaminya sambil menatapnya tajam.


" Au ...KDRT ini namanya honey. " seru Bryan sambil terkekeh.


" Abang...Pipit malu kalau harus di anterin sampai sana. " sahut Pipit sambil cemberut.


" Honey, kenapa mesti malu? "


" Ihhh, Abang lama-lama makin nyebelin. Kalau di novel-novel, Abang itu suami yang terlalu posesif. Pipit jadi serba salah. " seru Pipit.


" Honey, I am sorry..Jika sikapku membuatmu tidak nyaman. " ucap Bryan sambil menggenggam tangan Pipit. " Aku hanya mengkhawatirkanmu, juga baby kita. Aku tidak ingin hal buruk terjadi kepada kalian berdua. Aku hanya ingin yang terbaik buat kamu, juga baby kita. " lanjutnya dengan suara yang lembut.


" Bang, percaya sama Pipit. Pipit bisa jaga diri dengan baik. Pipit juga bisa menjaga baby kita dengan baik juga. Abang nggak perlu khawatir. Abang juga udah lihat sendiri kan, Pipit bisa mengalahkan preman sekalipun. Kalau Abang khawatir ada orang kayak si Angel Angel itu, itu mah kecil Abang. " sahut Pipit sambil menjentikkan jari kelingkingnya.


" Iya...iya ..aku percaya. Oke, hari ini kamu boleh ke gedung tempat kuliahmu sendiri. Aku hanya akan mengawasimu dari sini. " ujar Bryan pada akhirnya dan seulas senyum terbit dari kedua sudut bibir Pipit.


" Seneng ya? " tanyanya.


" Banget. " jawab Pipit.


" Ya udah, Pipit berangkat kuliah dulu. " lanjut Pipit sambil menyodorkan tangannya untuk berpamitan dengan suaminya.


Bryan menerima uluran tangan Pipit dan Pipit mencium punggung tangannya. Lalu Bryan memajukan kepalanya dan mengecup kening Pipit lembut.


" Take care. " ucap Bryan setelah mengecup kening Pipit. Dan Pipit mengangguk.


Bryan lalu mengelus lembut perut buncit Pipit. " Baik-baik di dalam sana baby. Jangan buat repot bunda. " ujar Bryan mengajak bayi yang ada di kandungan istrinya berbicara.


" Eh, honey. Kamu yakin mau di panggil bunda sama baby kita? " tanya Bryan kembali menghadap Pipit.


" He em. " jawab Pipit seraya mengangguk.


" Kakak kamu juga di panggil mommy sama Danique. Dan anak kita manggil aku Daddy. Apa kamu tidak ingin di panggil mom? "


" Nggak. Pipit lebih suka di panggil bunda. " sahut Pipit. " Dan kita sudah pernah membahas hal ini. " lanjutnya.


" Oke. " sahut Bryan.


Bryan kembali memandang perut Pipit, lalu mengecup perut buncit itu. " Daddy love you my baby. " ucapnya. Pipit tersenyum melihat sikap suaminya. Hatinya terasa sejuk. Tidak pernah ia sangka sebelumnya jika suaminya yang mantan Casanova ini bisa seperhatian ini kepadanya. Bahkan Pipit yang awalnya takut saat mengetahui dirinya hamil, kini justru ia sangat menikmati kehamilannya. Semua keluarganya menyayanginya dan memberikan perhatiannya kepada Pipit. Terlebih lagi sang suami.


" Udah ah, Pipit kapan masuknya ini kalau dipeluk kayak gini terus. " ujar Pipit karena saat ini tubuhnya sedang di peluk erat oleh suaminya.


" Sebentar lagi. " jawab Bryan masih memeluk Pipit erat.


Setelah beberapa saat, Bryan melepas pelukannya, lalu mengecup sekilas bibir Pipit.

__ADS_1


" Pergilah. Belajar yang rajin biar cepet jadi dokter. Nanti kalau sudah selesai jam kuliahnya, jangan lupa langsung hubungi aku. Aku akan menjemputmu secepatnya. " ujar Bryan sambil membelai rambut pipit.


Pipit mengangguk, lalu berucap, " Assalamualaikum. "


" Waalaikum salam. " jawab Bryan.


Pipit membuka pintu mobil dan turun dari mobil. Sebelum turun, Pipit kembali menghadap suaminya, " I love you om dokter. "


" Love you too my little wife. " jawab Bryan sambil tersenyum.


Saat Pipit sudah turun dari mobil, Pipit melambaikan tangannya ke arah Bryan. Baru saja Pipit melangkah, Naomi datang menghampiri.


" Tumben si pak dokter nggak nganterin lu turun. " ujar Naomi.


" Eh, Indomi... Ngagetin aja. " seru Pipit sambil memegang dadanya.


" Ah, lu mah selalu pake gaya. " protes naomi sambil cemberut.


Pipit tersenyum sambil mengalungkan salah satu tangannya ke pundak Naomi. Naomi ikut tersenyum sambil sebelah tangannya mengelus perut buncit Pipit.


" Apa kabar ponakan Tante? " sapa Naomi.


" Baik, Tante. " jawab Pipit dengan suara mirip anak kecil.


" Tumben laki lo nggak nganter sampai depan ruang kuliah. " ujar naomi.


" Hem. Harus pakai akting yang mendalam untuk bisa mencegahnya nggak ikut kuliah. " sahut Pipit.


" Kapan gue ketemu ma laki kayak gitu? Udah ganteng, keren, kaya, perhatian lagi. " ucap Naomi sambil menerawang ke udara.


" Kamu mau nggak aku comblangin sama si Roy? Dia kan keren tuh. Orang tuanya juga kaya loh. "


" Dih, kebanyakan gaya kamu itu. " seru Pipit sambil menonyor kepala Naomi. Lalu keduanya sama-sama tergelak.


🧚


🧚


Siang menjelang sore tiba. Hari ini, Pipit kuliah lumayan lama. Mulai jam delapan hingga jam dua siang baru selesai. Dan kebetulan saat Pipit kuliah hingga jam dua siang, Bryan ada operasi dadakan. Dan kebetulan juga jam setengah dua ia keluar dari ruang operasi.


Ketika ia membuka ponselnya, dan ada notifikasi pesan dari Pipit, Bryan segera mengganti bajunya dan pergi menjemput Pipit di kampus.


Setelah perjalanan selama dua puluh menit, Bryan sampai di pelataran kampus Pipit. Ia segera turun dari mobil dan mencari keberadaan sang istri. Ketika ia berjalan menuju gedung kuliah fakultas kedokteran, Bryan melihat sosok istrinya yang sedang ngobrol asyik dengan seorang pria. Dengan langkah lebar, Bryan menghampiri istrinya.


Bryan terkejut saat mendapati istrinya sedang ngobrol asyik dengan mantan kekasihnya waktu SMA itu. Bryan langsung merasa panas hatinya. Bukan hanya hati yang memanas, tapi wajahnya juga ikut memanas. Buru-buru ia mendekat ke istrinya dan memeluk pinggangnya posesif. Ingin mengatakan jika Pipit sudah menjadi miliknya.


" Abang...bikin kaget aja. " ujar Pipit.


Bukannya menjawab, Bryan malah sibuk mengecup pipi Pipit. Membuat Pipit memutar bola matanya jengah. Ia tahu, suaminya pasti sedang cemburu.


" Hai, Naomi. " sapa Bryan ke Naomi.


" Hai juga, pak dok. " sapa Naomi balik.


" Kamu sudah selesai kan kuliahnya? " tanya Bryan ke Pipit.


" Udah. " jawab Pipit.

__ADS_1


" Anak Daddy hari ini nggak rewel kan? " tanya Bryan sambil mengelus perut buncit istrinya.


" Nggak dong Daddy. " jawab Pipit dengan suara seperti anak kecil.


Roy hanya terdiam sambil memperhatikan interaksi dua orang di hadapannya itu seraya menghela nafas panjang. Jika di tanya, jujur Roy akan menjawab jika ia cemburu dan sakit hati.


" Kita pulang sekarang. Kamu butuh istirahat juga. " ujar Bryan. Lalu tanpa persetujuan dari Pipit, Bryan menggandeng pinggang Pipit dan di ajak berjalan.


" Mi...Aku cabut duluan ya. " teriak Pipit berpamitan kepada Naomi karena ia sudah berjalan agak jauh.


" Roy, tolong anterin sahabat aku yang cantik itu sampai ke rumahnya dengan selamat. " serunya lagi ganti ke Roy.


" Udah, ayo jalan. " ujar Bryan.


Sampai di dalam mobil, Bryan langsung terdiam. Ia tidak menanggapi semua ucapan Pipit, dan membuat Pipit sedikit kesal.


" ABANG..." teriak Pipit.


" Apaan sih. Orang di dekat gini pakai toa. " protes Bryan.


" Habis Abang ngeselin. Dari tadi Pipit bicara di cuekin. Abang cemburu sama Roy? " tanya Pipit to the point.


Bryan tidak menjawab. Ia hanya melirik tajam ke arah istrinya.


" Bang, jangan kayak anak kecil deh. Abang ngapain pakai cemburu sama si Roy? Abang nggak lihat nih, gara-gara abang cemburu ke roy, Pipit jadi hamidun gini. Kalau sekarang Abang cemburu lagi sama Roy, Abang udah nggak bisa bikin Pipit hamil loh. " canda Pipit sambil terkekeh. Masih tidak ada suara dari Bryan. Pipit hanya bisa menghela nafas pasrah.


Tak lama kemudian, mobil yang di kemudikan Bryan masuk ke pekarangan rumah. Tanpa mengajak istrinya, Bryan keluar dari dalam mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Pipit menggelengkan kepalanya heran dengan sikap suaminya yang ke kanak-kanakan itu.


Dengan agak terburu-buru, Pipit turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah hendak mengejar suaminya. Tapi karena perutnya yang buncit, Pipit agak susah mengejar suaminya. Sampai di dalam rumah, Pipit tidak mendapati Bryan di manapun.


Satu-satunya ruangan yang belum Pipit datangi adalah kamar tidur mereka. Dengan perlahan, Pipit menaiki tangga dan dengan perlahan membuka pintu kamar. Ternyata benar, suaminya sedang rebahan di atas tempat tidur sambil menutup matanya dengan lengannya.


Pipit mendapatkan sebuah ide gemilang sebelum masuk ke dalam kamar. Ide untuk menaklukkan suami yang sedang cemburu. Pipit lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar dengan agak keras. Bryan menoleh sebentar.


" Abang, kenapa harus cemburu sama dia? Udah jelas-jelas, Pipit udah jadi milik Abang bule. Dan hanya akan selalu menjadi milik abang. Lagian, laki-laki mana yang mau sama perempuan gendut dan perut buncit kayak gini. " ujar Pipit sambil duduk di sebelah suaminya.


Masih tidak ada jawaban dari Bryan.


" Ya udah deh kalau Abang mau diem aja. Pipit mau ngadem dulu. Gerah. " ujar Pipit sambil berdiri dan berjalan menjauhi suaminya. Lalu Pipit membuka atasan hamilnya dan juga celana hamil yang sedari pagi menutupi tubuhnya. Hingga kini hanya meninggalkan br* dan celana d****nya. Pipit melirik ke arah Bryan yang sudah membuka matanya. Pipit tersenyum tipis saat melihat suaminya menelan salivanya beberapa kali. Pipit yakin, suaminya pasti akan segera menerjangnya karena selama kehamilannya, Bryan hanya berhasil mengajaknya berolahraga tiga kali.


" Kamu kenapa buka baju? " tanya Bryan dengan suara beratnya.


" Kan Pipit tadi udah bilang, gerah. " jawab Pipit santai sambil berjalan mondar-mandir membereskan buku-buku kuliahnya tadi.


" Kan nggak harus buka baju kayak gitu kan. Kamarnya sudah ber-AC ini. Nanti kamu masuk angin. " ujar Bryan.


" Nggak terasa dingin kok. Pengen kayak gini sebentar lagi. " jawab Pipit. " Huh, bang emang kalau perempuan lagi hamil, dadanya jadi tambah gede ya. Perasaan dada Pipit jadi makin gede. Br* Pipit udah pada nggak muat. " lanjut Pipit sambil berjalan mendekati Bryan dan memegangi dadanya.


" Honey, kenapa kamu memancing sesuatu yang sedang tidur pulas??? " ujar Bryan lalu menarik tangan Pipit dan membuat Pipit jatuh di pangkuannya.


" Jangan salahkan aku jika siang-siang gini aku khilaf. " ujar Bryan sambil mulai meraba tubuh Pipit. Senyum tipis muncul dari kedua sudut bibir Pipit.


" Khilaf juga nggak pa-pa bang. Asalkan habis ini, abang nggak marah lagi dan nggak diemin Pipit lagi. " sahut Pipit sambil mengerlingkan matanya sebelah.


Dan tanpa menunggu lama, Bryan merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang, yang sebelumnya ia telah melepas penutup dada istrinya. Dan terjadilah siang menjelang sore yang panas di kamar itu.


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2