Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Pesan ibu


__ADS_3

Setelah semua anggota keluarga bergantian masuk untuk menjenguk Bu Ani, kini Bryan, Seno, juga tuan Adiguna sedang berbicara serius di ujung koridor. Sedangkan Pipit, Armell, juga nyonya Ruth duduk di bangku tunggu depan ruang ICU.


" Bagaimana menurutmu kondisi besanku? " tanya tuan Adiguna ke Bryan.


Bryan menghela nafas berat, lalu menggeleng. " Berat pa. Bryan tadi sudah berbicara dengan dokter spesialis yang menangani ibu selama ini. Dia mengatakan kalau ibu sudah menderita penyakit ini cukup lama. Seharusnya jika sejak awal ibu mau menjalankan operasi, kemungkinan besar ibu bisa kembali sembuh. Tapi sekarang sudah terlambat. Kankernya sudah masuk stadium akhir. " jelas Bryan.


" Apa tidak bisa kita operasi saat ini? Bukankah Lo ahli dalam bidang ini? "


" Lo benar. Tapi kemungkinannya sangat tipis. Gue emang pernah beberapa kali berhasil menyelamatkan pasien dalam kondisi yang sama persis seperti ibu saat ini. "


" Ya udah, tunggu apa lagi? Lo bisa ikut mengoperasi ibu. Jadi jika dokter yang di sini tidak mampu, Lo bisa ambil alih. "


" Tidak semudah itu El. Peralatan di sini sangat minim. Gue udah tanya sama dokter tadi. Alat apa saja yang di miliki rumah sakit ini. Tapi semua peralatan yang mereka punya, masih belum cukup. Jika di rumah sakit gue, gue jamin gue bisa menolong ibu. Tapi tidak di sini. " sahut Bryan.


" Kalau begitu, kita bawa Bu Ani ke Jakarta. Di sana, kamu yang hendle semuanya. "


" Tapi kondisi ibu masih tidak sadar sekarang. Jika ibu bisa sadar, maka kita bisa menggunakan heli rumah sakit untuk membawa ibu ke Jakarta. Bryan bisa meminta pihak rumah sakit untuk menyiapkan semuanya. "


Seno dan tuan Adiguna mengusap wajah mereka kasar.


" Lalu sekarang apa yang harus kita katakan pada Armell sama Pipit? " tanya Seno.


" Kita beritahu kondisi yang sebenarnya. Mereka berhak tahu kondisi ibu mereka. " ujar tuan Adiguna. Bryan dan Seno masing-masing menoleh memandang istri-istri mereka yang sedang di peluk oleh Nyonya Ruth. Lalu mereka berdua sama-sama mengangguk.


Lalu mereka bertiga kembali berkumpul dengan istri-istri mereka. Seno duduk di sebelah Armell, Bryan berjongkok di depan Pipit, lalu tuan Adiguna berdiri tak jauh dari mereka.


" Baby...." panggil Seno sambil merangkul bahu sang istri. Armell melepas pelukan Nyonya Ruth dan beralih memeluk suaminya. Begitu juga dengan Pipit. Ia membalas genggaman tangan Bryan yang ada di atas pangkuannya.


" Bagaimana kondisi ibu bang? " tanya Pipit ke Bryan.


" Iya, bagaimana kondisi ibu kak? " tanya Armell yang sekarang sudah merubah panggilannya ke Bryan yang dulunya selalu memanggil dengan sebutan dokter. Karena Bryan memintanya untuk tidak memanggilnya dokter, maka Armell memutuskan memanggil Bryan dengan sebutan kak atau kadang uncle B.


Seno mengeratkan pelukannya sambil mengusap-usap bahu Armell. Sedangkan Bryan semakin mempererat genggaman tangannya ke tangan istrinya sambil memandang dalam-dalam wajah istrinya.


" Aku akan mengatakan yang sebenarnya pada kalian. Kalian harus siap mendengarnya. " ujar Bryan tegas dengan suara yang dalam sambil sesekali menoleh ke Armell. Armell dan Pipit menganggukkan kepala dengan ragu-ragu.


Bryan menundukkan kepalanya sebentar untuk mengumpulkan kekuatan menyampaikan kondisi sang ibu mertua. Sebelum mengatakan semuanya, ia mengecup sekilas tangan istrinya yang berada dalam genggamannya, lalu menatap manik mata coklat milik sang istri.


" Ibu menderita kanker kandungan. Dan sudah berada di stadium akhir. " ucap Bryan.


Pipit dan Armell sangat terkejut mendengar berita ini. Mereka menutup mulut mereka sambil menggelengkan kepalanya. Air mata yang menggenang sudah tak tertahankan.


Bryan dan Seno merengkuh tubuh istri mereka masing-masing ke dalam pelukan mereka.


" Ibu baaang....."


" Ibu maaasss ...."


ujar Pipit dan Armell bersamaan. Bryan dan Seno terus memeluk istri mereka yang syok dengan berita itu.


" Abang, sembuhin ibu....hu...hu...Abang kan dokter yang hebat...Tolong sembuhin ibu baaang...." pinta Pipit di sela-sela tangisannya.

__ADS_1


Bryan semakin mengeratkan pelukannya saat mendengar permintaan istrinya yang terasa pilu.


" Honey...kamu tenang dulu, oke. " pinta Bryan. " Jangan seperti ini. " lanjutnya.


Tapi Pipit masih tetap menangis. " Apa yang akan terjadi sama ibu bang? " tanya Pipit sambil menjauhkan tubuhnya dari Bryan. Ia menatap mata biru milik suaminya.


" Dengarkan aku, honey. Kita harus menunggu ibu sadar. Lalu kita akan pindahkan ibu ke rumah sakit tempatku bekerja. Di sana, aku dan timku akan melakukan operasi pada ibu. Aku sudah menghubungi mereka. " jelas Bryan.


" Kenapa tidak di operasi di sini aja kak? " tanya Armell.


" Aku tidak bisa mengoperasi ibu di sini. Peralatan operasi yang di miliki rumah sakit ini kurang. Percuma saja jika operasinya di lakukan sekarang." jelas Bryan kembali.


" Sejak kapan ibu kena kanker? " tanya Pipit mencoba mengingat. " Waktu Pipit masih tinggal di rumah sama ibu, ibu tidak pernah mengeluhkan apapun. "


" Ibu mengidap kanker kandungan ini sudah lama. Menurut dokter yang menangani ibu, sudah empat tahun beliau sering periksa dan berkonsultasi. Dokter sudah menyarankan ibu untuk operasi, tapi ibu selalu menolak. Beliau beralasan tidak ingin membuat anak-anaknya khawatir. "


" Oh, tidaaakkk....." Pipit terlihat begitu terpukul. Ia memukul-mukulkan kepalanya di dinding yang ada di belakangnya sambil kembali menangis. " Anak macam apa aku ini???? Ibu yang tinggal satu rumah denganku sedang sakit parah tapi aku yang bodoh ini sampai tidak tahu?????" pekiknya.


Bryan meraih tubuh istrinya, memaksa untuk membawanya ke dalam dekapannya dengan Pipit yang terus meronta.


" Honey, tenang ... tenanglah sayang..." ujar Bryan sambil mengusap punggung Pipit.


Sedangkan di bangku seberang, Damar memandang Pipit dengan pandangan yang sulit untuk di artikan. Bohong jika ia mengatakan kalau dirinya sudah tidak memiliki rasa untuk Pipit.


Pandangan Damar tidak pernah lekang dari Pipit mulai dari saat ia kembali dari mengantar Siti dan baby Dan pulang ke rumah ibu Ani. Karena tidak mungkin mereka membawa seorang bayi yang baru berusia 7 bulan itu ke rumah sakit.


' Seharusnya saat ini, aku yang memelukmu, menenangkanmu, juga berada di sisimu. ' batin Damar saat melihat Bryan memeluk tubuh Pipit erat saat Pipit sedang menangis.


' Saat ini, aku ingin menjadi dokter Bryan. Supaya bisa memelukmu, dan memberimu kekuatan. Kamu harus kuat, Pit. Kamu harus kuat. ' batinnya kembali.


Ceklek..


Pintu ruang ICU terbuka dari dalam. " Keluarga ibu Ani. " panggil seorang suster.


Semua langsung berdiri dan menghampiri suster itu. " Kami anak-anaknya sus. " jawab Armell.


" Ibu Ani sudah sadar. Sepertinya beliau tahu, anak-anaknya ada di sini. Beliau ingin bertemu kalian. " ucap suster.


Terlihat semua bernafas lega mendengar Bu Ani telah sadarkan diri.


" Suster, ijinkan kami berempat masuk bersamaan. " pinta Seno.


" Maaf, tuan. Tidak bisa. Harus dua dua. " jawab suster.


" Tapi kami tidak bisa membiarkan istri-istri kami masuk sendirian. Kami harus mendampingi. " ucap Seno.


" Tap..."


" Biarkan mereka masuk bersama sus. " ucap dokter yang menangani ibu Ani yang tiba-tiba muncul dari belakang suster itu.


" Tapi dok..."

__ADS_1


" Tidak apa-apa. Saya yang akan bertanggungjawab. " potong dokter.


Lalu suster tadi sedikit menyingkir dan membiarkan Pipit, Bryan, Seno, juga Armell masuk ke dalam ruang ICU bersama dokter tadi.


Setelah mengenakan baju steril khusus ICU, dokter yang menangani ibu mendampingi mereka bertemu dengan Bu Ani.


" Ibu....." ucap Pipit dan Armell bersamaan. Mereka menggenggam tangan Bu Ani bersamaan dari sisi kiri dan kanan. Ibu tersenyum dan menatap mereka bergantian dengan tatapan yang sayu.


Air mata tak henti-hentinya mengalir dari sudut mata Pipit dan Armell.


Seno berada di samping Armell yang juga ikut menggenggam tangan sang ibu. Sedangkan Bryan, ia tampak sedang berdiskusi dengan dokter yang menangani ibu. Sepertinya dokter itu sudah mengenal Bryan sebelum Bryan menemuinya tadi. Nama Bryan Merryll ternyata cukup terkenal di kalangan dokter spesialis bedah di seluruh negeri.


Setelah berbincang-bincang dengan dokter itu, Bryan kembali menghampiri Pipit. Ibu tersenyum kepadanya.


" Kita akan bawa ibu ke Jakarta saat ini juga. Heli sudah bersiap untuk terbang. " ucap Bryan memberitahu Seno, Pipit, juga Armell. Mereka semua mengangguk dan sedikit tersenyum.


Tapi berbeda dengan ibu. Ibu nampak menggelengkan kepalanya. " I...bu ...ma...u...di...si...ni...sa...ja...." ucap ibu dengan suara lirih dan terbata.


" Ibu, kami akan membawa ibu ke rumah sakit bang bule. Ibu akan sembuh di sana. Abang bule sendiri yang akan merawat ibu. " ujar Pipit antusias.


Ibu kembali menggeleng. " I...bu...ma ..u...de...ka...t...sa...ma...ba...pak . " jawab ibu.


Air mata kembali menetes dari sudut mata Pipit.


" Ibu, kalau ibu sudah sembuh, ibu bisa kembali ke rumah kita. Ibu bisa kembali ke kampung. " sahut Armell.


Ibu kembali menggeleng dan tersenyum. " Di ..ma...na...cu...cu...ku?"


" Danique ada di rumah ibu. Sama mbak Siti Bu. Makanya, ibu harus cepat sembuh, biar bisa bermain sama Danique lagi. " jawab Armell.


Ibu hanya tersenyum menjawab. Ia lalu kembali menoleh ke Pipit dan Bryan.


" Ka ..pan...ka...li...an men...daf...tar...kan pe..ni ..ka...han? " tanya ibu.


" Semua berkas-berkasnya sudah kami kirim ke KUA. Kami hanya tinggal menunggu untuk di panggil dan menandatangani buku nikah. " jawab pipit.


" Syu...kur...lah. Nak...Bry...an, i...bu ti...tip a...nak i...bu ya...." pinta ibu sambil memandang sendu ke arah Bryan.


" Iya. Ibu tidak perlu khawatir. Saya akan selalu menjaga Pipit dengan baik. Saya akan memperlakukannya seperti ratu di hati saya. Saya akan memberikan yang terbaik untuknya. " jawab Bryan, membuat ibu tersenyum lega.


Ibu lalu menoleh ke arah Seno, menantunya yang satu lagi. " Nak Se...no, i...bu ti...tip a..nak dan cu...cu. " ucapnya sambil menggenggam tangan seno


" Iya, ibu. Seno akan selalu menjaga mereka berdua. Karena mereka berdua adalah mutiara dalam hidup Seno. " jawab Seno.


Ibu kembali tersenyum, tapi tiba-tiba ibu seperti kesulitan dalam bernafas. Bryan segera menyuruh Seno membawa Armell juga Pipit keluar dari ruangan. Dan dia, masih tetap berada di dalam ruangan membantu dokter yang menangani ibu.


" Ayo kita keluar dulu. " Ajak Seno ke Pipit juga Armell.


" Abang, ibu kenapa? " tanya Pipit ke Bryan.


" Kamu keluarlah dulu dengan Seno. Aku akan tetap di sini memantau ibu. Berdoalah yang terbaik untuk ibu. " ucap Bryan. Pipit mengangguk lalu mengikuti perintah Bryan untuk keluar. Sebelum benar-benar keluar, Armell dan juga Pipit berbalik dan kembali melihat sang ibu yang sedang di tangani dokter juga Bryan.

__ADS_1


***


bersambung


__ADS_2