
" Ayooo terus honey...yang lebih kencang...Aaahhhh..Sakit, honey...jangan terlalu kencang." Bryan yang kini sedang berbaring di atas ranjang dengan bertelanjang dada terus berteriak.
Plak
" Abang berisik! Lebay!!!" seru Pipit setelah ia memukul punggung suaminya yang sedang berbaring tengkurap.
" Ihhh, kok lebay sih?? "
" Tadi mintanya yang kenceng...Di kasih kenceng, bilangnya sakit. Gimana sih? " gerutu Pipit kesal. Karena sedari tadi, ia sudah di kerjai suaminya. Awalnya ia memang yang mengerjai Bryan, tapi di saat-saat akhir, ia ketahuan, dan kini ia harus menjalani hukumannya.
Flash back on
Sore tadi, Seno dan Armell tiba-tiba datang ke rumah bryan. Saat itu, Bryan sedang asyik bermain dengan istrinya. Bahkan ular pitonnya sedang bersiap untuk bertarung. Otomatis Bryan menjadi sangat kesal dengan kedatangan sahabat yang juga telah menjadi kakak iparnya itu.
" Kalian sebenarnya ngapain sih kemarin malam-malam kayak gini? Kasihan anak lo tuh. Malam-malam begini di ajak keluyuran. " tanya Bryan.
" Eh, masih sore ini. Lo tuh yang nggak tahu waktu. Masih sore kayak gini udah manjing aja. Baru juga jam tujuh. Adzan isya aja belum berkumandang. " jawab Seno.
Sedangkan Pipit asyik bermain dengan baby Dan. Sedangkan Armell sedang asyik melihat dan mendengarkan perdebatan suami dan adik iparnya itu. Lucu saja kalau melihat mereka berdebat. Seperti Tom and Jerry.
" Kalian ini, mirip sekali sama Tom and Jerry. " gumam Armell.
Sayangnya gumaman itu di dengar oleh dua orang yang sedang berseteru. Sontak mereka melotot ke arahnya.
" Kenapa? Pada mau protes? Uncle B, kamu tuh adik ipar aku lho ya kalau lupa. Berani marah sama aku? Dan kamu mas. Mau marah sama aku? Nggak terima aku katain Tom and Jerry, iya? Aku suruh tidur di kamar tamu nanti malam, mau? " omel Pipit.
Kedua laki-laki itu langsung menelan salivanya dengan susah payah. Bahkan wajah Seno sudah pucat pasi.
" Baby, kok gitu? Aku nggak marah kok. Suer! " rayu Seno.
" Nggak marah, tapi melotot gitu sampai bola matanya mau keluar. " sahut Armell seolah nggak perduli.
" Baby, I am sorry. Really... really sorry. Oke? Jangan suruh aku tidur di luar. Mana bisa aku tidur kalau nggak meluk kamu, baby. " rayunya kembali.
" Bod*!!! " tukas Armell.
" Baby ...."
" Ha...ha ..ha..." sekarang gantian Bryan yang tertawa terbahak-bahak melihat sahabatnya yang begitu takut dengan istrinya. Seno yang hendak kembali merayu istrinyapun terpotong. Ia menatap Bryan dengan tatapan tajam.
" Kakak ipar, sebaiknya kau memang suruh suamimu ini tidur di teras saja. Jangan ijinkan masuk ke dalam rumah. " ujar Bryan.
" Awas Lo. " Seno melempar bantal sofa ke arah Bryan.
__ADS_1
" Sial. " Bryan membalas Seno dengan melempar bantal sofanya. Dan terjadilah lempar melempar bantal. Armell hanya melihatnya sambil geleng-geleng kepala. Lalu ia berdiri meninggalkan dua laki-laki yang sedang bermain seperti anak kecil itu menyusul adik dan putranya.
" Baby..." panggil Seno saat menyadari jika istrinya sudah tidak ada di sampingnya.
Lalu sebuah senyum menyeringai terbit dari sudut bibir Seno. Jika sampai ia tidak bisa tidur di kamar malam ini, maka sahabatnya itu juga harus mengalami nasib yang sama.
" Lo pengen tahu, kenapa gue sampai datang ke rumah Lo? " tanya Seno.
Bryan mengerutkan keningnya. " Kenapa? "
" Sepertinya bini Lo sengaja ngerjain Lo. Dia tadi yang mengirimkan pesan ke mommy nya Danique. Dia bilang kesepian di rumah. Karena di rumah sedang tidak ada orang. Terus meminta kakaknya membawa Dan kesini. Lalu Armell mengajakku kemari. Tidak tahunya kalian malah sedang asyik. Jadi, aku yakin dia sengaja menyuruh kami kesini karena ingin mengerjaimu. " ujar Seno.
Bryan mengeratkan giginya, " Awas saja nanti kamu honey. " batin Bryan dalam hati.
Flash back off
Dan alhasil, setelah Seno dan Armell pulang, Bryan langsung bertanya kepada Pipit, dan mau tidak mau, Pipit akhirnya berkata jujur yang membuatnya harus memijat suaminya sebagai hukumannya.
" Mau kemana kamu? " tanya Bryan.
" Capek. Tangan Pipit udah keriting. " jawab Pipit dengan nada kesal.
Bryan langsung menangkap tangan Pipit dan menariknya sehingga Pipit jatuh di atas tubuhnya. Lalu, secepat kilat, Bryan merubah posisi mereka. Kini, Pipit yang berada di bawah, dan Bryan di atasnya. Kedua netra biru milik Bryan menatap penuh cinta wajah cantik istrinya.
" Abang mau ngapain? " tanya Pipit penuh tanda tanya sambil menaruh kedua tangannya di depan dada sehingga tubuhnya berjarak dengan tubuh telanjang suaminya.
" Mau kasih hukuman yang lain ke kamu, yang lebih enak. Yang nggak bikin tangan kamu keriting. Tapi hati kamu yang keriting. " sahut Bryan dengan senyuman menyeringai.
Pipit mengerutkan keningnya masih bingung dengan maksud suaminya. Akhirnya, karena gemas dengan wajah istrinya, Bryan menyerang bibir Pipit tanpa ampun.
" Mmmm...." berontak Pipit. " Abang pengen cepet jadi duda ya? " bentak Pipit saat ia berhasil melepaskan diri dari bibir suaminya.
Kini gantian Bryan yang mengerutkan keningnya. " Kok, jadi duda? Maksudnya apa honey? "
" Iya. Abang nggak biarin Pipit nafas. Kalau Pipit nggak nafas, terus Pipit mati gimana? Abang bule jadi duda kan? Pipit nggak rela. " sahut Pipit.
" Ck. Kamu ada ada aja, honey. Siapa juga yang mau jadi duda? Aku kan udah sering bilang, kalau kita sedang berciuman, kamu jangan lupa untuk bernafas. " ujar Bryan sambil menarik hidung Pipit.
" Ihhh... Biasanya Pipit juga udah nafas. Abang aja yang kalau nyium nggak pakai aba-aba dulu. Langsung main sosor kayak bebek. Pipit kan terkejut. Ya otomatis langsung nahan nafas. " seru Pipit.
Bryan jadi tergelak melihat raut wajah Pipit. " Kalau gitu, kamu siap-siap. Aku akan kasih ronde kedua. Jangan lupa untuk bernafas kali ini. " ujar Bryan, dan ia kembali menyerang bibir Pipit dengan brutal.
Jangan lupakan, tangan Bryan yang tidak bisa diam saja. Tangannya sudah mulai bergerilya.
__ADS_1
" Ab....bang ..." panggil Pipit di sela-sela ciuman suaminya. Ia mendorong kuat tubuh Bryan yang menempel pada tubuhnya.
" Abang...." serunya ketika ia berhasil mendorong tubuh Bryan.
" Ada apa lagi, honey. " sahut Bryan agak kesal karena kegiatannya terjeda kembali.
" Abang mau ngapain sih? Tangannya jangan nakal. "
" Ya, aku kasih hukuman sama kamu yang nggak bikin kamu keriting. Sekalian minta jatah aku. Hari ini, aku belum mendapatkan jatahku. "
" Semalam kan udah bang. Bahkan tiap malam semenjak resepsi pernikahan kita, kita udah melakukannya. Cuma jeda beberapa hari waktu Pipit kedatangan tamu bulanan. Gitu aja tangan Abang tetap menggerayangi tubuh Pipit tiap malam."
" Kan pahala honey. Aku tiap hari selalu ingin melakukannya denganmu. "
" Apa semua laki-laki bule seperti itu? Naf**nya yang super. "
" Bisa jadi. Mungkin saja. Kenapa kamu nggak tanya sama kakak kamu? Suaminya juga parohan bule kan? Dia seperti aku apa tidak? "
" Kan bang Seno cuma setengah bule. Ya nggak bisa di samain sama Abang. Yang 100 persen bule asli. "
" Udah dong honey. Ngobrolin bulenya entar aja. Tanggung ini. " protes Bryan sambil membawa Pipit ke bagian bawahnya.
" Abang...." pekik Pipit. " Gede pisan baaaangggg..."
" Tapi bisa buat kamu mengerjab-ngerjab tiap malam. " Bryan hendak menyerang Pipit kembali. Tapi kembali Pipit mendorong tubuhnya.
" Abang....Jangan sekarang. "
" Kenapa? Kamu kan lagi nggak kedatangan tamu. "
" Tapi Pipit lagi masa subur bang. Pipit nggak mau hamil sekarang. " rengek Pipit.
" Nanti kalau aku masukkan, aku akan memakai pengaman. "
" Nggak...Pipit nggak mau pakai itu. Bekas perempuan lain. "
" No, honey. Aku membeli yang baru. Yang lebih bagus kualitasnya. Dan rasa yang berbeda juga. " sahut Bryan. " Ayo dong, honey...Dosa loh nolak suami. Please ..." pinta Bryan.
Karena melihat suaminya yang merengek, dan merasakan jika senjata suaminya sudah benar-benar on, akhirnya Pipit pasrah. Pasrah kembali melayani sang suami. Pasrah untuk kembali di buat mengerjab, mende***, mende***, dan mengera** di bawah kungkungan suaminya.
Ia rela bahkan saat suaminya menggunakan pengaman untuk ular pitonnya saat ular pitonnya itu hendak masuk ke lubang. Malam yang panjang, lagi-lagi terjadi di antara mereka.
***
__ADS_1
bersambung