Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Ungkapan Bryan


__ADS_3

Pipit dan Bryan sekarang sudah berada di dalam kamar berdua. Suasana canggung kembali melanda. Bryan yang biasanya sering gonta-ganti pasangan, berada satu kamar yang cukup sempit begini bersama Pipit, membuatnya salah tingkah dan bingung harus ngapain. Ia berulang kali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Tidur...." mereka mengatakan kata yang sama bersamaan. Lalu mereka berdua sama-sama saling menatap, lalu tertawa canggung.


" Mmm...." Bryan ingin berbicara sesuatu sambil menoleh ke sekeliling. " Di sini ... tidak ada sofa yang bisa abang pakai buat tidur. "


" Ya nggak ada lah bang. " sahut Pipit lalu tertawa sumbang. " Kamar sempit gini mana muat di kasih sofa. "


" Mmm...Abang....abang mending nginep di penginapan yang biasanya aja. " ucap Bryan.


Spontan Pipit menatap tajam ke arah Bryan membuat Bryan menelan salivanya susah payah.


" Ibu bakalan marah sama Pipit kalau abang sampai nginep di rumah Tante Ira. Belum lagi, apa kata para tetangga? Mereka tahunya kita ini suami istri. Mana ada suami istri yang tinggalnya terpisah. " ucap Pipit sewot


' Nah, itu tahu kalau suami istri harus tinggal satu atap. ' batin Bryan.


" Bukannya gitu ..Abang cuma mikirin kamu aja. Ranjang kamu kan nggak seluas ranjang yang di apartemen. Emang nggak masalah gitu buat kamu kalau kita tidur satu ranjang?" tanya Bryan.


" Iyaaa....." Pipit bingung harus menjawab apa. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil melihat ke ranjang.


" Mau gimana lagi? Kita....kita sepertinya emang harus tidur di sana barengan. " jawab Pipit pada akhirnya sambil menunjuk ke ranjang dengan jari telunjuknya.


" Ah, ya udah sih bang. Tidur ya tinggal tidur aja. Cuma tidur doang kan ya. Kalau kita kayak gini terus, kapan tidurnya? Semalem juga nggak bakal ada solusi lainnya. " putus Pipit pada akhirnya.


Lalu Pipit segera naik ke atas ranjang sisi sebelah kanan, membuka selimut, lalu masuk ke dalamnya. Kemudian ia merebahkan tubuhnya.


" Abang nggak tidur? " tanya Pipit kala melihat Bryan masih tetap berdiri di tempatnya.


" Iyaaa... tidur lah. " jawab Bryan lalu ia berjalan menuju ke sisi ranjang sebelah kiri. Bryan membuka selimut lalu naik ke atas ranjang dan memasukkan tubuhnya ke dalam selimut.


" Mau kemana? " tanya Bryan saat melihat Pipit bangun kembali.


" Matiin lampu, tadi lupa. " jawab Pipit. Ia berjalan ke dekat pintu, dimana skalar lampu kamar di letakkan. Kemudian ia mematikan lampu utama, sehingga kini suasana kamar itu menjadi remang-remang karena hanya lampu tidur yang menyala.


Setelah mematikan lampu utama kamar, Pipit kembali ke atas ranjang dan posisinya kini membelakangi Bryan. Bryan menatap punggung Pipit. Jarak mereka begitu dekat. Kalau dulu saat mereka tidur bersama di apartemen, jarak tempat mereka tidur lumayan jauh. Tapi di ranjang ini, jarak mereka begitu dekat. Hanya ada sebuah guling yang menjadi pembatas tubuh mereka.

__ADS_1


Bryan belum bisa memejamkan matanya meski jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Karena memang sudah menjadi kebiasaannya, jika belum jam dua belas malam, ia tidak bisa tidur. Tapi dari sebelah, ia sudah mendengar dengkuran halus dari Pipit. Rupanya gadis itu sudah tertidur.


Tiba-tiba udara menjadi semakin dingin, hujan mulai turun dengan derasnya, dan petir sesekali menyambar dengan suara yang cukup keras.


Bryan merebahkan tubuhnya untuk mencari posisi yang nyaman untuk tidur, karena tadi ia sedikit mendudukkan tubuhnya dengan bersandar di bantal dan sandaran ranjang.


Saat Bryan sudah merebahkan tubuhnya telentang dan mulai menutup matanya, tiba-tiba Pipit mengubah posisi. Entah sadar atau tidak, ia membuang guling yang berada di antara dirinya dan Bryan. Kemudian ia menggeser tubuhnya hingga menempel sempurna pada tubuh Bryan.


Seketika, Bryan kembali membuka matanya dan menoleh ke arah sebelah. Baru ia memiringkan sedikit tubuhnya akan membenarkan posisi tidur Pipit, tiba-tiba tangan Pipit melingkar sempurna di pinggangnya, lalu sebelah kakinya di angkat ke atas kaki Bryan membuat Bryan langsung menghentikan tangannya.


Bryan semakin mematung saat kepala Pipit malah mendusel ke dadanya dan semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Bryan.


" Oh, honey. Apa yang kamu lakukan? Kenapa kau memelukku seperti ini? Apa kamu tidak sadar dengan posisi kamu yang seperti ini, akan membuatku susah untuk memejamkan mataku. " gumam Bryan sambil menunduk menatap wajah pulas sang istri.


Pipit terlihat begitu nyaman dengan posisinya saat ini. Sedangkan Bryan sedang menahan sesuatu yang bergerak dalam diam di bagian bawahnya.


" Oh my God... Beneran kan dia jadi bangun? Ah...****! " umpatnya saat merasa sesuatu di bawahnya mulai mengeras.


" Bu ...dingin...." rengek Pipit dalam tidurnya. Ia semakin merapatkan tubuhnya ke Bryan. " Peluk Pipit Bu. " pintanya mengigau.


Dan dari sebelah, Bryan mendengar sedikit suara-suara tidak jelas. Dan sebelah itu adalah kamar kakak ipar dan sahabatnya. Hal itu membuat Bryan semakin mengumpat dan menggeram.


" Si*al mereka itu! Suasana begini malah membuat suara-suara lakn*t. " umpatnya.


" Bu, dingin...peluuukkk....." rengek Pipit lagi.


Karena merasa tidak tega dengan istrinya, dan memang ia juga menginginkannya, tidur sambil memeluk istri, Bryan melingkarkan tangannya di atas tubuh Pipit. Dan merasa ia di peluk, Pipit semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Bryan.


' Jadi begini rasanya tidur menghabiskan malam sambil saling berpelukan dengan istri sendiri. ' batin Bryan sambil tersenyum.


" Besok pagi jangan sampai marah-marah honey, saat kau mendapati sedang tidur berpelukan denganku. Kau yang meminta. " ujar Bryan sambil membelai dan mengelus pipi Pipit. Menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah istri kecilnya.


Bryan mengecup puncak kepala Pipit lembut dan berkali-kali.


" Kali ini, aku akan menahan hasratku. Tapi tidak untuk lain kali, honey. " ujar Bryan masih sambil membelai dan menatap wajah cantik sang istri yang sedang terlelap.

__ADS_1


" Good night, honey. Have a nice dream. " ucap Bryan lalu kembali mengecup puncak kepala Pipit lama. Lalu ia sedikit menjauhkan tubuhnya dari Pipit, menarik dagu Pipit sedikit ke atas, dan ia menempelkan bibirnya di bibir ranum sang istri. Hanya sebuah kecupan, tidak lebih.


" I love you my little wife. I love you so much. " ucapnya sambil menatap dalam-dalam wajah cantik nan imut milik istri kecilnya.


Kini ia kembali menempelkan bibirnya ke bibir Pipit. Tapi kali ini berbeda dengan yang tadi. Ia melu**t bibir mungil itu dalam-dalam namun penuh dengan kelembutan.


Setelah beberapa saat, ia melepas bibir itu, lalu mengusapnya ringan, menghapus bibir yang basah karena kelakuannya itu sambil tersenyum tipis. Kemudian ia kembali merapatkan tubuhnya ke tubuh Pipit. Ia memeluk erat tubuh istrinya, lalu ia mencoba memejamkan matanya dan meredam sesuatu yang sedang berontak di bawah sana sedari tadi.


🧚


🧚


Fajar menyingsing


Pipit mulai membuka matanya perlahan saat ia mendengar suara adzan subuh dari masjid yang ada di dekat rumahnya.


Saat ia akan menggeliat, menggerakkan tubuhnya, ia merasa sesuatu yang agak berat menimpa tubuhnya. Ia juga merasa gulingnya terasa lebih besar dan keras dari biasanya.


Pipit membuka matanya sempurna, lalu menatap ke bawah. Ia melihat tangannya sedang melingkar ke pinggang Bryan, dan kakinya juga melingkar di tubuh kekar Bryan. Pipit segera mengangkat tangan juga kakinya saat menyadari posisinya.


Kemudian pandangannya beralih ke tubuhnya sendiri. Ia terkejut saat tangan kekar Bryan melingkar sempurna di atas tubuhnya. Pipit menutup mulutnya yang menganga tak percaya dengan posisi mereka saat ini.


' Oh Pipit...Ulah siapa ini? Siapa yang memulai duluan? Akukah? Atau Abang bulekah? ' tanya Pipit dalam hati. Tiba-tiba jantungnya berdebar kencang. Berada di posisi sedekat ini dan seintim ini dengan seorang laki-laki yang dulu saat awal pertemuan mereka pernah menyentil hatinya, membuat hatinya kembali berguncang.


Lalu lamat-lamat, Pipit ingat sedikit seluet kejadian semalam. Ia sedikit ingat, sepertinya semalam ia merengek meminta di peluk oleh sang ibu. Karena semalam hujan begitu deras dan petir menyambar. Sedari kecil, Pipit paling takut jika malam-malam hujan turun dengan derasnya dan suara petir yang menyambar. Maka biasanya, ia akan berlari ke kamar sang ibu dan meminta untuk di peluk.


Perlahan, Pipit mengangkat tangan Bryan dari tubuhnya. Lalu ia beringsut ke belakang perlahan supaya tidak sampai membangunkan Bryan. Jika Bryan tiba-tiba terbangun sekarang, maka Pipit pasti akan sangat malu.


Setelah ia berhasil turun dengan susah payah, Pipit mengambil guling yang tergeletak tak berdaya di lantai yang dingin. Lalu ia menaruh guling itu di dekat Bryan, dan menaruh tangan Bryan di atas guling tersebut.


Pipit lalu buru-buru mengambil mukena dan keluar dari kamar untuk ikut sang ibu pergi ke masjid untuk sholat subuh. Karena biasanya sang ibu akan sholat berjamaah di masjid.


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2