
" Terima kasih banyak, sudah percaya sama aku tanpa mendengar dulu penjelasanku. " ucap Bryan saat mereka sudah berada di dalam mobil perjalanan menuju ke toko pakaian.
" Hem? " Pipit menoleh ke arah Bryan. " Siapa yang tidak ingin mendengar penjelasan abang? Tadi kan Pipit hanya berakting. " lanjutnya pura-pura kesal.
Bryan langsung menepikan mobilnya. Ia melepas seat belt, dan memiringkan tubuhnya untuk menghadap Pipit.
" Honey, apa yang di bilang bibi dan Kylie tidak benar. Dia bukan cinta pertamaku. Karena cinta pertama dan terakhirku adalah kamu. Kylie...." Bryan menjeda omongannya. " Kamu ingat kan aku pernah bercerita jika aku melakukan hubungan terlarang untuk pertama kalinya saat aku sudah mulai muak di bully? " lanjutnya sambil menatap Pipit.
Pipit mengangguk. Ia mulai mempersiapkan hatinya untuk mendengar cerita suaminya. Sebenarnya ia enggan untuk mendengarkannya. Tapi ia ingin Bryan bisa mengungkapkan semua hal yang selama ini ia pendam sendiri. Pipit ingin mengurangi beban yang di pikul Bryan selama ini.
" Kylie...dia anak adalah wanita itu. Tapi demi Tuhan, aku tidak pernah melakukannya karena aku tertarik padanya. Meskipun dia telanjang di hadapanku, aku tidak akan pernah bergairah. " lanjut Bryan.
Pipit mengerutkan keningnya, " Kok bisa? Bagaimana Abang bisa...bi-sa ti-dur dengannya jika Abang tidak turn on saat melihat dia? " tanya Pipit sambil terbata karena sungguh berat baginya menanyakan hal itu.
" Aku nonton bl** film sebelum aku melakukan hal itu kepadanya. Aku sudah turn on saat membawanya ke kamar hotel dan di lihat oleh bibi. Di kamar hotel itu, aku hanya membuka celananya dan memasukkan milikku asal, tanpa memberikan pemanasan terlebih dulu. "
" Apa? Abang....Abang memaksanya? "
" Aku tidak memaksanya. Dia menantangku. Dan aku hanya menerima tantangannya. "
" Abang nggak kasihan sama dia? Bukannya sakit ya bang? "
" Bagaimana dia bisa kesakitan kalau dia sudah tidak vir***. "
Pipit membekap mulutnya sendiri saat mendengarnya. Ia terkejut sekaligus menyadari betapa liarnya pergaulan di luar.
" Abang nggak takut gitu kalau tiba-tiba dia hamil? "
Bryan tersenyum, " Bagaimana dia bisa hamil. Kalau aku tidak pernah mengeluarkan apapun di dalam tubuhnya. "
" Ha? " Pipit kembali terkejut dan ia langsung menoleh ke arah suaminya. Ia masih bingung mencerna.
" Sudah, tidak usah di bahas lagi. Nanti kamu makin bingung. Juga makin penasaran. Kalau kamu penasaran, aku tidak bisa memberikannya sekarang sebelum kita pegang buku nikah. " ujar Bryan menggoda.
__ADS_1
" Ck. Awas aja nanti malam. " ancam Pipit.
" Nanti malam? Apa yang akan kamu lakukan? Mau telanjang di hadapanku? Tetap tidak akan aku beri cash. Aku hanya akan mencicilnya. " canda Bryan.
" Hish...."
Bryan tertawa terbahak-bahak dan menjalankan kembali mobilnya. Selang beberapa saat, mereka sampai di depan sebuah butik. Bryan mengajaknya masuk.
" Kamu ambil dan pilih apa yang kamu butuhkan. " titah Bryan.
Pipit mengacungkan jempolnya dan segera meninggalkan Bryan untuk mengambil beberapa potong baju. Setelah mengambil beberapa baju, Pipit hendak membawanya ke kasir. Tapi saat di dekat kasir, Pipit melihat baju-baju tidur yang sangat seksi di sana. Tiba-tiba, muncul ide gila di otak Pipit untuk mengerjai Bryan.
" Kita lihat, apa dengan ini kamu masih tetap bertahan, bang? " gumam Pipit sambil tersenyum licik dan mengambil sebuah lingerie berwarna peach. Warna yang hampir senada dengan warna kulitnya.
Sambil tersenyum, ia melangkah menuju ke kasir. Ia menaruh semua belanjanya di atas meja kasir. Saat melihat Pipit sudah berada di kasir, Bryan mendekatinya, hendak membayar semua belanjaan istrinya itu.
" Abang, nggak usah. " tolak Pipit. " Pipit kemarin di kasih ini sama bang Seno. " lanjutnya sambil menunjukkan sebuah kartu di tangannya.
" Kamu istriku kan? Bukan istri Seno. Jadi aku yang wajib mencukupi semua kebutuhanmu. Kembalikan itu nanti ke Seno. Bilang sama dia, aku masih mampu menghidupimu. " ujar Bryan sambil mengambil kartu miliknya dan segera memberikannya ke kasir yang sedari tadi selalu tersenyum sambil memandangnya. Dan hal itu membuat Pipit sedikit kesal.
Bryan berlalu dari hadapan mereka berdua, membuat si kasir sedikit kecewa.
" N'aime pas regarder les maris des autres. " ujar Pipit yang di tujukan ke kasir tadi. ( Jangan suka memandang suami orang lain ).
Membuat si kasir tersenyum kikuk dan meminta maaf. Kasir itu mengira jika Pipit adalah adik dari Bryan.
Setelah selesai urusan bayar membayar, Pipit segera menghampiri Bryan, memberikan kartu berwarna gold yang tadi di gunakan untuk membayar.
" Kartu itu buat kamu. Simpan saja. Pakai untuk semua keperluan kamu. " tolak Bryan.
" Kalau Abang butuh gimana? "
" Aku masih punya satu lagi. Yang itu memang buat kamu, istriku. Nanti setelah kita tiba di Indonesia kita ke bank, kita buat m-banking atas nama kamu. " jawab Bryan. " Maaf, aku tidak bisa memberikan kartu yang sama dengan yang di berikan ipar kamu ke kakak kamu. Karena hanya segitu kemampuanku. " lanjutnya.
__ADS_1
" Abang ngomong apaan sih? Pipit bukan cewek matre ya. Pipit bahagia, Pipit senang, dan Pipit bersyukur dengan apa yang Abang bule kasih ke Pipit. " sahut Pipit.
Lalu Bryan meraih tubuh Pipit dan merengkuhnya, dan mencium puncak kepalanya. " Kamu memang terbaik. " ucapnya dan membuat Pipit tersenyum tipis.
Lalu Bryan mengambil semua belanjaan Pipit dari tangan istrinya itu, dan sebelah tangan lagi menggenggam tangan Pipit dan menggandengnya.
" Mau makan siang di hotel aja, atau makan siang dimana? " tanya Bryan.
" Pipit belum lapar tapi bang. Pipit cuma ngantuk, pengen tidur dulu bentar. " ucap Pipit manja.
" Oke. Kalau gitu, kita kembali ke hotel dulu. Baru nanti kita keluar lagi jalan-jalan, sambil makan malam sekaligus makan siang. " sahut Bryan.
Mereka masuk ke dalam mobil, dan Bryan segera menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran butik tadi menuju ke hotel tempat mereka menginap.
Mereka saling ngobrol di dalam mobil membahas tentang apa yang di berikan oleh paman Bryan tadi.
" Bang, kalau Abang harus mengurus perusahaan ayah Abang yang di sini, itu berarti Abang akan tinggal di sini? " tanya Pipit dengan suara lirih. Ia sedih jika ternyata suaminya akan kembali ke Perancis. Mereka akan sangat jarang bertemu. Karena Pipit harus menyelesaikan kuliahnya di Indonesia.
" Kenapa bertanya seperti itu, hem? " tanya Bryan sambil mengelus rambut Pipit dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk mengemudi.
" Kalau Abang di Perancis, terus Pipit di Indonesia, kita jadi tidak bisa bertemu. Terus, apa gunanya kita meresmikan pernikahan kita? " ujar Pipit sambil menunduk.
Bryan tersenyum tipis. " Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kita akan terus sama-sama sampai kapanpun. "
" Tapi kan Pipit harus menyelesaikan kuliah Pipit. Pipit nggak mungkin menyia-nyiakan uang Abang...Abang udah bayar mahal buat biaya kuliah Pipit sampai saat ini. Jadi nggak mungkin Pipit ikut Abang tinggal di Perancis. Pipit juga nggak bisa tinggal jauh beda negara sama ibu. " ujar Pipit dengan mata berkaca-kaca.
" Siapa yang akan mengajakmu tinggal di Perancis? Kalau kamu tinggal di Perancis, berarti kita bakalan tinggal beda negara. " ujar Bryan sambil tersenyum. " Kita akan tetap tinggal di Indonesia. Karena kamu orang Indonesia, dan aku juga punya KTP nya Indonesia. Di sini, aku itu warga asing. Lagian juga, aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaanku. Kamu tahu kan, aku sangat menyukai profesiku. "
" Lalu bagaimana dengan perusahaan Abang? "
" Kita akan membicarakan ini sama Seno, sama papa. Seperti yang kamu bilang tadi. Mungkin, aku akan menyerahkan perusahaan almarhum ayah biar di merger sama Adiguna group. Buatku, yang penting perusahaan itu tetap berjalan dan karyawannya tidak kehilangan pekerjaan mereka. Menurut kamu gimana? Kamu tidak keberatan kan jika aku menyerahkan perusahaan itu ke kakak ipar kamu? " tanya Bryan sambil menoleh ke arah Pipit sebentar.
Pipit menggeleng, " Pipit sih terserah Abang gimana baiknya aja. " ucapnya.
__ADS_1
***
bersambung