Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Gara-gara kecoak


__ADS_3

" Kok sepi? " tanya Bryan saat baru keluar dari kamar.


" Astaghfirullahaladzim.....ABAAAAAANGGGGG....." teriak Pipit sambil mundur ke belakang dan memegangi dadanya.


Sedangkan Bryan, seketika langsung menutup telinganya dengan kedua tangannya. " Bisa nggak sih nggak usah pakai toa teriaknya. " protes Bryan. " Pengang nih telinga. " lanjutnya sambil menggosok kedua telinganya.


" Habisnya Abang bule ngagetin sih. " elak Pipit. " Makanya bang, kalau pagi-pagi nggak mau dengerin suara Pipit yang merdu, pakai suara dong kalau dateng. Kan jadi kaget setengah mampus Pipit nya. " celoteh Pipit sambil menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang karena terkejut tadi.


" Kamunya aja yang melamun. " ujar Bryan.


" Pipit lagi masak ya. Abang nggak lihat emangnya? Gimana bisa melamun sih. "


" Kalau lagi masak, fokus tuh ke sayuran yang lagi kamu potongin. Lihat tuh, hasil potongan sayur kamu. " tunjuk Bryan ke depan Pipit. Pipit mengikuti arah telunjuk Bryan. " Melamun kan? Tempat sayurnya dimana,,, sayurannya nyampenya dimana. " lanjut Bryan.


" He...he...he... Ketahuan ya. " Pipit terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dirinya tadi memang sedang melamun. Ia sedang memikirkan kejadian semalam. Mencoba mengingat secara lebih rinci. Tapi seserius apapun ia berpikir, tetap saja ia tidak bisa mengumpulkan puzzle itu.


" Kok sepi pada kemana? " tanya Bryan kembali.


" Ibu udah berangkat ke pasar pagi-pagi. Ibu bilang ada janji sama pembeli. Tadi Pipit anterin ke pasar. " jawab Pipit sambil kembali mengumpulkan sayuran yang telah ia potong dan berantakan tadi.


" Terus kakak ipar kamu sekeluarga kemana? "


Pipit menoleh ke Bryan sebentar, lalu kembali fokus ke masakannya, " Bang Seno, mbak Mell sama baby Dan lagi jalan-jalan muter kampung katanya. Sekalian mau beli lotek. "


" Ooh .." Bryan manggut-manggut. " Kamu kok nggak bangunin Abang? Kan jadi nggak enak sama ibu. Masak iya tidur di sini pertama kali bangunnya sampai siang. " lanjutnya sambil duduk di kursi makan.


" Abang tidurnya aja kayak orang sekarat. Kayak pasien abang yang koma tuh. Nyenyak banget. Ada gempa aja pasti nggak terasa. " ujar Pipit.


" Masak sih? Habisnya abang semalem nggak bisa tidur nyenyak. Baru habis tengah malam tidurnya bisa nyenyak. "


Pipit menoleh sambil mengernyitkan dahinya. " Kenapa kok Abang nggak bisa tidur? Oh, pasti karena ranjangnya sempit ya. Kamarnya juga sempit. "


" Bukan. Bukan karena itu. Abang nggak bisa tidur, karena ada gadis yang tiba-tiba minta peluk, terus meluk abang erat sambil menduselkan kepalanya ke dada Abang. Jadinya bikin Abang tegang. " goda Bryan.


Pipit langsung mengalihkan pandangannya ke bumbu-bumbu yang ada di depannya. Pipinya sudah bak kepiting rebus.


" Kok diem aja? Nggak pengen tahu siapa gadis itu? " tanya Bryan sambil menahan senyumnya.


Pipit langsung menggeleng kencang, tanpa mengeluarkan suara dari mulutnya.


Bryan bangkit dari duduknya dan menghampiri Pipit yang membelakanginya. Ia lalu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Pipit. Seketika Pipit langsung mematung. Bahkan pisau yang ada di tangannya terjatuh ke lantai. Untung tidak mengenai kakinya.


" Apa kamu lupa caranya bernafas, honey? " bisik Bryan di telinga Pipit dengan tangan yang masih melingkar sempurna di perut Pipit. Pipit menelan salivanya dengan susah payah. Wajahnya semakin memerah. Ingin rasanya ia menceburkan tubuhnya ke empang milik pak Sodrun tetangganya. Biar rasa panas yang menjalar di tubuhnya hilang.


Bryan masih memeluk Pipit dari belakang bahkan semakin erat dengan bibir yang menyunggingkan senyuman.


" Ab...Ab...Abang...Ja....Jangan kayak gini..." suara Pipit terdengar gugup, mulutnya menolak, tapi tubuhnya hanya diam saja.


" Honey, bukankah semalam kau ingin Abang peluk? Bahkan kamu merengek meminta untuk Abang peluk. "


Pipit mengumpulkan segenap tenaga yang tersisa untuk keluar dari pelukan Bryan. Bukannya ia masih merasa illfeel sama Bryan, tapi ia takut kebablasan.


" Abang awas ih...." ujar Pipit sambil menggerakkan tubuhnya supaya tangan Bryan terlepas dari tubuhnya. Bukannya melepas, Bryan justru semakin mengeratkan pelukannya sambil tersenyum menyeringai.

__ADS_1


" Baaanggg...Lepasin...Sesak nih. Pipit nggak bisa nafas. " rengeknya.


" Akui dulu kalau semalam kamu memintaku untuk memelukmu. " ujar Bryan sambil menaruh dagunya di bahu Pipit.


" Mengakui apa? Semalam Pipit nggak ngelakuin apa-apa kok. Apalagi minta di peluk sama abang. " elak Pipit.


" Oke. Berarti kamu lanjutin masaknya, Abang juga akan terus meluk kamu seperti ini. " seru Bryan.


" ABANG. " teriak Pipit. " Mana bisa Pipit masak kalau abang nggelendot kayak gini. Baaanggg.... please...Jangan kayak gini. Kalau mbak Mell sama mas Seno pulang, terus ngeliat Abang kayak gini, bisa berabe. " pinta Pipit.


" Berabe gimana? Mereka juga sukanya pamer kemesraan di depan kita. Sekalian aja kita bales mereka. Lagian kalau ketahuan emang kenapa? Mau di kawinin? Kan udah. " jawab Bryan masih sambil menaruh dagunya di atas bahu Pipit.


" Awas ah... Pipit mau ambil pisau. Pisaunya jatuh di lantai itu. "


" Ambil pisau yang lain aja kan bisa. Tuh, masih banyak. " tunjuk Bryan.


Pipit menghela nafasnya berat. Ia berusaha mencari akal lagi supaya Bryan melepaskan tangannya.


" Abang mending mandi dulu sana. Biar nggak bau jigong mulutnya. Tuh, belekan juga. " ujar Pipit sambil memiringkan kepalanya ke samping.


" Ck. Mulut abang tuh selalu wangi meskipun baru bangun tidur ya. Apalagi belek. Nggak pernah tuh abang belekan." elak Bryan. Tapi tak urung, ia mengendurkan pelukannya.


" Iya, tapi abang mandi sana. Terus sarapan. Kalau abang di sini terus, kapan Pipit selesai masaknya. Pipit juga harus jemput ibu ke pasar juga. " keluh Pipit.


Akhirnya, usaha Pipit kali ini berhasil. Bryan melepas pelukannya, lalu tanpa berkata apapun, ia balik ke dalam kamar untuk mengambil handuk dan dalaman.


Pipit menghela nafas lega saat Bryan berlalu meninggalkannya. " Huh. " Tubuh Pipit terasa melemas. Ia buru-buru mengambil segelas air putih lalu meminumnya hingga tak bersisa.


Tak lama, Bryan kembali keluar dari dalam kamar dan berjalan menuju ke kamar mandi.


" Masak yang enak, honey. Suamimu ini sudah kelaparan. " ujar Bryan sambil mengecup sekilas pipi kanan Pipit. Kembali, tubuh Pipit menegang. Sedangkan Bryan mengulum senyumnya sambil kembali melangkah.


" Benar-benar ya.....ABAAAAANNGGGGG....." Teriak Pipit geram. " PIPIT BISA CEPET MATI KALAU KAYAK GINI CARANYA. ABANG PENGEN CEPET JADI DUDA YA..." lanjutnya. " Huh. Dasar!!! Bule mesum. " umpatnya.


Tak...tak...tak...


Pipit mengiris bawang putih dengan kasar sehingga menimbulkan suara gaduh. Ia kesal dengan sang suami yang terus-terusan menggodanya.


Setengah jam kemudian, masakan Pipit sudah matang. Ia tinggal menyajikan ke atas meja. Baru saja ia hendak mengangkat sayur asem dari atas tungku, terdengar teriakan.


" Aaaa..... Piiiitt......" suara Bryan berteriak. " Pipiiiiiiiitttt......" teriaknya kembali.


Pipit terlihat cuek dengan teriakan itu. " Paling mau jahilin Pipit lagi. " gumamnya.


" PIPIIIITTTT..... TOLONGIN ABANGGGGG....." teriak Bryan kembali.


" Ck. Ada apa sih? Berisik banget. " gerutu Pipit. Tapi kakinya juga melangkah ke dekat kamar mandi.


" Kenapa sih bang, teriak-teriak. Kayak Tarsan aja. " seru Pipit dari luar pintu.


Mendengar suara Pipit, Bryan segera membuka pintu kamar mandi dan menarik tangan Pipit untuk masuk ke dalam kamar mandi.


" ABAAAANGG..." pekik Pipit. " Astaghfirullahaladzim..." Seru Pipit lalu menutup matanya rapat-rapat.

__ADS_1


" Pit, tolongin Abang. Kok malah ditutup sih matanya. " protes Bryan sambil mendekap tubuh Pipit erat karena ia takut.


" Gimana nggak tutup mata? Abang pakai baju dulu....Tuh pepaya kenapa bergelantungan di situ..." seru Pipit sambil masih tetap menutup matanya.


Bryan menatap ke bawah tubuhnya. Ya Salam....Pepaya dia bilang? Apa nggak kegedean?


" Pipit sayang, justru itu Abang nyuruh kamu kesini buat tolongin Abang. Gimana Abang nggak bug**, orang mau ambil handuk aja nggak bisa. " ujar Bryan kesal.


" Tinggal ambil aja kan bang? Orang handuknya juga Abang taruh di situ. " sahut Pipit.


" Iya ..tapi ada kecoa yang nempel di handuk. Abang geli..."


" Ha..." Pipit langsung membuka matanya dan membalikkan badannya menghadap ke Bryan, lalu ia tertawa terbahak-bahak. " Ha... ha...ha...Abang bule takut sama kecoa? Ha...ha...ha..."


" Bukannya takut, burung Pipit...Abang cuma geli lihatnya. " elak Bryan. " Cepetan ambilin handuk sama dalaman Abang. "


Tapi Pipit masih tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.


" Ck. Buruan...Atau kamu sengaja pengen lihat pepaya alami bergelantungan. " ujar Bryan kesal semakin kesal.


Cep


Pipit menghentikan tawanya saat mendengar omongan Bryan. " Iya, Pipit ambilin. " Pipit kembali menutup matanya.


" Eh, jangan di tutup matanya. Kalau matanya di tutup, kan nggak bisa lihat kecoak nya. " protes Bryan.


" Ck. " Pipit membuka matanya saat ia telah membalikkan tubuhnya. Ia lalu sedikit mendongak mencari dimana kecoa itu berada. Oh, ternyata sudah berpindah ke dalaman Bryan.


" Bang, sepertinya kecoa nya pengen nyicipin pepaya deh. " celetuk Pipit. " Tuh, dia di dalaman Abang. "


" Buruan buang kecoaknya. "


" Iya iya ah..." jawab Pipit. " Tapi Pipit geli bang mau megang dalaman Abang. " seru Pipit sambil memegang tangannya.


" Kalau geli megang sarungnya, pegang yang aslinya aja gimana? " seru Bryan masih kesal karena Pipit terlalu lama.


" ihhh... sorry ya...No way..." Pipit lalu menyentil kecoak itu berkali-kali, sampai kecoak itu jatuh ke lantai kamar mandi. Lalu Pipit menginjaknya.


" Sadis amat kamu. " ujar Bryan.


" Kalau nggak di matiin, terus dia terbang lagi gimana? Ya kalau nemploknya cuma di handuk..kalau nemploknya di tubuh Abang gimana? " seru Pipit sambil mengambil handuk dan menyerahkannya ke Bryan.


Bryan segera mengeringkan tubuhnya dengan handuk itu. Dan segera melingkarkan handuk itu ke pinggangnya. Ia buru-buru mengambil dalaman yang tadi ia taruh di gantungan. Tanpa memakainya terlebih dahulu, ia segera keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk mandinya.


***


bersambung


...Ayo dong kasih like'nya wahai para reader ku...biar othor nya makin semangat nih buat nulis .....


...Bantuin dong kak ..ajakin keluarga, temen, buat baca novelnya othor...Gratis pan ya...nggak pakai bayar kok ... cukup di bayar pakai like, othor udah bahagia setengah mampus kalau Pipit bilang.......


...Salam lope-lope sekarung deh dari othor.......

__ADS_1


__ADS_2