
" Ahhh....." suara desa*** terdengar bertalu-talu dari dalam kamar Bryan dan Pipit.
Siapa lagi yang sedang menghabiskan malam panjang yang sudah menjadi rutinitas Pipit dan Bryan tiap malam semenjak kejadian panjat tebing beberapa bulan yang lalu.
Setiap malam, Pipit pasti meminta sang suami untuk menjenguk baby mereka. Entah kenapa, tapi semenjak kehamilannya memasuki usia tujuh bulan kemarin, hormon Pipit yang menyebabkan dia selalu ingin di sentuh meningkat.
" Enak baaanggg....Ahhhh...." suara Pipit terdengar di sela-sela desa***nya.
" I love you, honey ..Ahhhh ..." kini suara Bryan yang terdengar mendayu-dayu.
" Sehhh...ka...ranghhh mmmpp abang...." pinta Pipit karena suaminya hanya bermain-main di tubuhnya, belum melakukan penyatuan. Dan Pipit sudah tidak tahan ingin segera mengajak ular piton suaminya masuk ke kandang.
" Oke, honey..." jawab Bryan sambil mengecup kening Pipit lembut. Dengan perlahan, Bryan memasukkan ular pitonnya ke dalam kandang.
Jleeebbb...Si ular piton Bryan telah masuk dengan sempurna. Perlahan, Bryan mulai menggerakkan pinggulnya naik turun. Bryan berposisi di atas Pipit dengan kedua tangan menyangga tubuhnya sehingga badannya tidak menimpa perut sang istri. Naik turun, naik turun, pinggul Bryan terus bergerak, sampai tiba-tiba....
" Berhenti bang...." ucap Pipit menghentikan kegiatan indah Bryan.
Seketika, Bryan menghentikan aktivitasnya. " What happen, honey? " tanya Bryan dengan suara berat berkabut gai***.
Pipit berpikir sejenak sambil menimbang, ' Tidak sakit. Ah, mungkin Abang bule aja yang terlalu bersemangat. Jadi dedeknya protes. ' batin Pipit.
Yah, tadi Pipit sempat merasa perutnya sakit kala suaminya mulai bergerak naik turun dengan ular pitonnya yang maju mundur.
" Slowly, abang. " pinta Pipit.
Bryan mengangguk, lalu kembali bergerak naik turun dengan menurunkan temponya menjadi slowly, seperti permintaan sang istri tercinta.
Baru beberapa naik turun, Pipit kembali berucap, " Berhenti, bang. " Perutnya terasa sakit kembali. Sejenak ia mencoba berpikir dan merasai. Sakit itu hilang lagi kala suaminya berhenti bergerak.
" What's wrong, honey? " tanya Bryan kembali.
Pipit menggeleng. " Lanjut, bang. " pintanya manja. Bryan mendesah kasar, lalu melanjutkan aktivitas yang tadi sempat terhenti.
Naik turun, naik turun kembali Bryan bergerak. " Ahhh...." desa*** kembali terdengar dari kedua mulut kedua orang itu.
Bryan mulai menaikkan tempo permainannya, kala tubuhnya semakin memanas. Cepat dan semakin cepat Bryan bergerak.
" Honey, kau selalu nikmat. " racau Bryan. " Ohhh honeyyyyy...." racaunya kembali.
Daaannnn..... tiba-tiba....
" Berhenti, bang..." pinta Pipit. Tapi kali ini Bryan tidak mengindahkan. Ia sudah di selimuti kabut gai*** yang sangat. Ia tetap memacu pinggulnya naik turun.
" Stoooopppp......" teriak Pipit karena omongannya yang tadi tidak diindahkan sang suami. Sudah tidak bisa di tolerir sekarang. Perutnya semakin terasa sakit. Rasa sakit yang lebih dari yang tadi. Rasanya seperti di remas-remas. Sepertinya dedek bayinya sedang menggeliat kencang menurut Pipit.
Bryan kini berhenti dengan nafas yang masih terengah-engah. Ia memejamkan matanya. Ular pitonnya terasa berkedut kencang. Ingin rasanya ular pitonnya itu memuntahkan bisanya. Bryan menarik nafasnya panjang dan kasar.
" Ada apa lagi, honey? " tanyanya dengan nada suara berat tapi lirih. Ia masih memejamkan matanya.
" Sa...kit abang...." rintih Pipit.
Seketika Bryan membuka matanya lebar-lebar. " APA? " pekiknya.
" Perut Pipit... Sakit bang...."
Sleb...Bryan langsung menarik keluar ular pitonnya dari dalam kandang. Ia sudah tidak peduli dengan gair** yang sudah di ubun-ubun. Tinggal sekali hentakan saja, ular pitonnya sudah mengeluarkan bisanya.
Dengan panik, Bryan memeriksa perut Pipit. Oh my God, bayinya sudah di bawah. Kenapa tadi dia tidak bisa merasakannya saat ular pitonnya masuk?
' HPL nya masih satu minggu lagi. ' batin Bryan. Tanpa menunggu lama, Bryan berucap ke sang istri, " Tahan nafas sebentar, honey. " pintanya.
__ADS_1
Pipit mengangguk, lalu menahan nafasnya. Bryan segera memasukkan jarinya ke dalam jalan lahir baby mereka. Jalan yang sama yang setiap malam hampir dua bulan ini selalu di masuki oleh ularnya.
' Sudah pembukaan empat. ' batin Bryan kembali setelah memeriksa jalan lahir baby-nya.
" Kita harus ke rumah sakit sekarang, honey. " ucapnya. Lalu ia segera turun dari atas ranjang dan bersiap menggendong istrinya.
" Emang Pipit kenapa bang kok harus ke rumah sakit? " tanya Pipit di saat perutnya sudah tidak terasa sakit lagi.
" Kamu mau melahirkan. " jawab Bryan.
" Tapi bang...HPLnya kata dokter Ratna masih seminggu lagi. "
" Iya. Tapi sepertinya si kecil kita ingin segera melihat indahnya dunia. " Sahut Bryan sambil menelusupkan kedua tangannya ke bawah tubuh sang istri.
" Abang mau ngapain? " tanya Pipit memekik saat tubuhnya hendak di angkat.
" Mau bawa kamu ke rumah sakit. "
" What? Dengan keadaan kita yang seperti ini? Abang mau kita di bawa ke rumah sakit jiwa? " seru Pipit kesal karena mereka berdua masih sama-sama dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun.
Bryan menarik kedua tangannya, lalu menepuk jidatnya. " I am sorry. Karena panik, aku jadi lupa. " ucapnya.
Ia lalu mengambilkan baju dalaman sang istri yang berserakan di lantai, dan memakaikannya. Lalu ia mengambil baju daster hamil sang istri dari dalam almari, dan memakaikannya juga.
" Sudah, ayo. " ajak Bryan ia hendak mengangkat tubuh Pipit kembali.
Tapi pipit segera mencekal tangannya. " Abang belum pakai baju. " seru Pipit kesal.
Bryan memandang tubuhnya lalu tersenyum tipis. " Lupa. " ucapnya. Lalu ia segera meraih celana pendek yang tadi di pakainya serta kaos oblong tanpa lengan lalu mengenakannya.
" Sudah, ayo. " ucap Bryan.
" Kenapa lagi? " tanya Bryan.
" Itu.... Ularnya abang nongol tegak gitu...Emang Abang nggak malu kalau di lihat orang banyak? Tidurin dulu sana. " ucap Pipit semakin kesal.
" Honey, kamu mau melahirkan. Aku mana sempat buat dia tidur. Ah, nanti juga dia tidur sendiri. " jawab Bryan.
" Tadi Abang periksa, Pipit udah bukaan berapa? "
" Empat. "
" Empat? Masih lama itu bang. Bisa masih enam jam lagi. Bukannya Abang lebih paham ya? Lagian sekarang sakitnya udah nggak terasa lagi. "
Bryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " I-iya. Aku panik honey. Jadi pikiranku blank. Tapi kalau mesti nidurin dia, lama. " ujar Bryan sambil menatap ke bawah.
" Terus gimana? Masak Abang pengen lihatin ular Abang yang lagi on ke orang banyak. Pipit nggak rela ya. " ucap Pipit.
" Yaaa....." Bryan sekarang bingung harus ngapain.
" Ganti Abang ...jangan pakai kolor ijo kayak gitu. Pakai boxer. Pakai celana jeans. Biar nggak nongol gitu ularnya. " ujar Pipit.
Bryan lalu segera mengambil boxer dan celana panjang di dalam almari. Lalu ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
" Telepon saha Abang? "
" Mama. Kalau nggak di kabari, nanti mama mencak-mencak. "
" He em. Sekalian mbak Mell juga. Ssshhh...." jawab Pipit lalu ia kembali mendesis karena perutnya kembali terasa melilit.
Bryan lalu menghampiri sambil tangannya yang sebelah memegang ponsel dan di tempelkan ke telinga. Sedangkan yang sebelah lagi, ia gunakan untuk mengelus perut Pipit.
__ADS_1
" Assalamualaikum, ma. "
" Waalaikum salam. "
" Ma, Pipit udah mau ngelahirin. "
" WHAT? " pekik nyonya Ruth. " Kita kan belum gladi Bry. Rencananya besok baru mau gladi resik persiapan melahirkan, Bry. Kamu apain anak kamu kok udah pengen brojol aja? " tanyanya.
" Ya nggak di apa-apain juga kali ma. Sudah kehendak yang di atas kalau baby Bryan mau lahir sekarang. "
" Terus, gimana dong sekarang? Kan kita belum persiapan apa-apa. Papa juga belum nyuruh si Dion buat ngamanin jalanan. " heboh Nyonya Ruth.
" Mama tenang aja. Sekarang mama mending langsung ke rumah Sakit aja. Bryan bakalan bawa Pipit ke rumah sakit sekarang. "
" Iya deh. Kamu jangan lupa kasih kabar si El. " pesan nyonya Ruth.
" Iya ma. "
Klik. Panggilan di akhiri.
Lalu Bryan mendial nomer telpon sahabatnya yang juga kakak iparnya. Sampai berdering empat kali, panggilannya tidak di terima.
" Ck. " Bryan berdecak.
" Kenapa bang? "
" Ini. Telepon Seno nggak di angkat. "
" Mbak Mell coba. "
Bryan mengangguk. Dan sekarang ia menelepon kakak iparnya. Pada panggilan kedua, teleponnya di angkat. Tapi Bryan mendengar suara-suara aneh. Ia lalu menjauhkan ponselnya dan melihat apakah ia mendial nomer yang benar atau tidak. Ternyata benar, itu nomer Armell.
" Halo. " ucap Bryan agak keras.
" Hmmmm...." sahut orang di seberang yang terdengar suara laki-laki sedang mendayu-dayu.
" Seno..."
" Ap-pa...hhh...." sahabatnya menjawab sambil menahan sesuatu.
" Lo dimana? " tanya Bryan sambil mengerutkan keningnya.
" Udahhh...Jangan banyak omong. Lo mau bicara apa? " tanya Seno dengan suara berat.
" Ssshhhh...." samar-samar terdengar seseorang mendesis.
" Astagaaa Seno ...." Bryan menepuk jidatnya perlahan. " Lo lagi on???" tanyanya setengah tertawa. Ia malah mengganggu iparnya yang sedang bekerja ronda malam.
" Breng***! " umpat Seno.
" Buruan Lo kelarin. Habis itu, ke rumah gue. Pipit mau lahiran. " ucap Bryan lalu ia menutup panggilannya.
Ia lalu tertawa terbahak-bahak.
" Ada apa bang? " tanya Pipit.
" Ada kejadian yang lucu. Sepertinya, nasib Seno akan sama seperti denganku malam ini. Ha....ha...ha...ha...." sahut Bryan sambil terus tertawa.
***
bersambung
__ADS_1