Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Kekhawatiran


__ADS_3

Armell dan Pipit saat ini sedang mengobrol dengan ibu mereka di ruang keluarga. Sedangkan Bryan dan Seno sedang menikmati udara yang sejuk sambil ngopi di teras depan rumah. Dan baby Dan, sudah terlelap di kamar sang nenek, karena Bu Ani meminta baby Dan tidur bersamanya selama mereka berada di kampung.


" Bu, boleh kami bertanya? " tanya Armell.


" Tanya apa? Kalau cuma mau tanya, sok atuh rek nanya naon? " sahut sang ibu.


" Ibu kenapa jadi kurus gini? "


" Ah, nggak. Perasaan kalian aja kali. " jawab sang ibu sambil melihat badannya.


" Ibu, ibu tuh kurusan di banding saat ibu mau balik dulu dari Jakarta. Kita nggak ketemu 3 bulan Bu. Baru tiga bulan, tapi Pipit yakin, berat badan ibu turun 5 kiloan. " sahut Pipit.


" Ya, mungkin aja ibu kurusan. Akhir-akhir ini, ibu sering keinget bapak kalian. Kalau udah keinget gitu, jadi nggak nafsu makan. " jawab ibu pada akhirnya.


" Tapi beneran ibu sehat kan? " tanya Pipit sambil merangkul bahu ibunya. " Ibu nggak sedang menyembunyikan sesuatu dari kami kan? "


Bu Ani tersenyum, lalu menepuk paha Pipit lembut, " Ibu baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir. "


" Ibu sebaiknya ibu ikut kami tinggal di Jakarta aja. Ibu tinggal di rumah Mell ya Bu. Biar ada yang jagain ibu. " ujar Armell sambil matanya berkaca-kaca.


" Hei. Ada apa sama kalian? Ibu baik-baik saja. Bukannya ibu tidak mau tinggal bersama kalian, tapi ibu merasa berat meninggalkan kampung ini. Di rumah ini dulu ibu di lahirkan oleh nenek kalian. Di rumah ini, dulu ibu membangun rumah tangga bersama bapak, dan melahirkan kalian. Dan di kampung ini juga orang tua ibu, juga bapak kalian di makamkan. " jawab sang ibu dengan mata yang juga berkaca-kaca.


" Jadi jika ibu juga di panggil Yang Maha Kuasa, ibu juga ingin meninggal di rumah ini dan di makamkan di samping bapak kalian. " lanjutnya sambil menggenggam tangan Pipit, juga tangan Armell.


" Ibu, jangan bicara seperti itu. Ibu akan selalu panjang umur. Ibu juga harus melihat anak-anak Pipit kelak. " sahut Pipit dengan tangis yang sudah tidak bisa ia tahan. Lalu Pipit dan Armell memeluk ibunya bersamaan.


" Bu, Pipit nemenin ibu tinggal di sini aja lagi ya? " seru Pipit setelah mereka selesai berpelukan.


" Kalau kamu tinggal di sini lagi, gimana sama kuliah kamu? Hem? Gimana sama suami kamu juga? " sahut sang ibu sambil tersenyum.


" Bang bule udah biasa tinggal sendiri juga Bu. Kalau soal kuliah, Pipit bisa tinggalin aja. Pipit tinggal di sini sambil cari kerja di deket sini aja. "


Sang ibu menggeleng tegas, " Tidak boleh. Kamu tidak boleh menghentikan kuliah kamu. Ibu tidak suka. Ibu ingin kamu lulus kuliah kedokteran kamu dan menjadi dokter. Jadi jika ibu sakit, ibu tidak perlu ke dokter lain lagi. Lagipula, nak Bryan sudah mengeluarkan uang yang banyak buat daftarin kuliah kamu, buat biayain kuliah kamu. Jadi kamu jangan membuat kecewanya. " ucap sang ibu.


Sedangkan di teras depan, Bryan dan Seno sedang berbicara serius.


" Sen, gue ngeliat ibu kok memang lain. " ujar Bryan.


" Iya, ibu kurusan sekarang. "


" Bukan hanya itu. " Bryan menghela nafas panjang sebelum meneruskan kata-katanya. " Wajah ibu juga pucat. Kalau gue, menurut insting gue sebagai seorang dokter, ibu itu sedang sakit. "


" Benarkah? " tanya Seno sambil menoleh ke arah Bryan dan mengernyitkan dahinya.


" Tadi gue minta ke Pipit untuk bertanya sama ibu. Gue harap ibu mau jujur ke anak-anaknya. " ujar Bryan.

__ADS_1


" Sepertinya kita harus memperpanjang masa liburan kita di sini. Paling tidak, kita bisa melihat kesehatan ibu selama kita di sini. Lo gimana? Bisa nggak lo perpanjang cuti Lo beberapa hari lagi? "


" Kemarin gue ngajuin cuti 1 minggu full. Rencananya habis dari sini, gue mau mantau perkembangan pembangunan rumah gue secara langsung. Tapi kalau emang ada perubahan rencana, it's oke. Kita di sini lebih lama lagi. "jawab Bryan.


" Oke. Bentar, gue telepon si Rezky dulu. Gue juga harus memperpanjang cuti gue sekali-sekali. " sahut Seno sambil menggeser layar ponselnya untuk mencari nama Rezky.


" Lagak Lo. Perusahaan juga punya Lo, mau Lo berangkat, mau kagak, siapa yang berani mecat Lo? "


Seno menanggapi omongan Bryan dengan terkekeh pelan.


" Ngomong-ngomong, Lo yakin dengan pernikahan Lo sama Pipit? Kok Lo memutuskan buat bikin rumah deket sama rumah gue. "


" Yakinlah. Apapun dan bagaimanapun caranya, gue bakalan terus mertahanin Pipit. Membangun rumah deket rumah Lo itu salah satu usaha gue. Dia pasti seneng kalau bakalan gue ajak tinggal di rumah, deket sama rumah kakaknya kan. "


" Gue seneng dengernya. Gue harap kalian akan bahagia, kayak gue sama Armell. " ujar Seno sambil menepuk pundak Bryan. " Tapi gue yakin, kalian bakalan bahagia asal lo ninggalin tuh kebiasaan Lo yang kayak teh celup. Suka celup sana celup sini kalau bini gue bilang. " Seno melanjutkan kata-katanya dengan candaan.


Bryan pura-pura mengambil sebuah pot bunga yang ada di sebelahnya untuk di lempar ke arah sang sahabat yang juga kakak iparnya. Membuat Seno langsung memasang kuda-kuda sambil terus tertawa.


" Kalian ini kalau lagi duduk bareng kayak Tom and Jerry. Berantem melulu. " seru Armell yang sudah berada di ambang pintu bersama dengan Pipit.


Bryan dan Seno menoleh bersamaan, lalu tersenyum ke pasangan masing-masing.


" Baby, udah selesai ngobrolnya sama ibu? " tanya Seno sambil mengulurkan tangannya untuk meraih tangan istrinya. Armell mendekat, lalu Seno meraih pinggang Armell dan mendudukkan Armell di pangkuannya.


" Ibu sudah masuk ke kamar. Kepikiran Danique katanya karena tidur di kamar sendirian. " Jawab Armell.


" Kalian ini selalu saja mengumbar kemesraan tanpa melihat tempat. " gerutu Bryan.


Seno dan Armell menoleh ke arah Bryan bersamaan.


" Jangan syirik jadi orang. Lo kalau pengen, tuh bini Lo. " sahut Seno sambil menunjuk Pipit yang masih menyender di pintu. " Tinggal Lo tarik bawa kesini. " lanjutnya.


" Ck. " Bryan berdecak kesal mendengar sahutan dari sang sahabat. Gimana dia bermesraan dengan istrinya, jika istrinya saja galaknya kayak herder ( Sebutan untuk seorang anjing penjaga rumah ).


Pipit berjalan mendekat ke arah Bryan.


" Gimana tadi sama ibu? Ibu bilang sesuatu? " tanya Bryan ke Pipit.


Pipit menggeleng dengan pandangan sendu. " Pipit sama mbak Mell udah nanya ke ibu, tapi ibu bilang, ibu baik-baik saja. "


" Tadi aku juga udah coba ajakin ibu buat tinggal sama kita mas, tapi ibu menolaknya. " tambah Armell.


" Kita akan di sini lebih lama. Kita temenin ibu dulu. Siapa tahu, kita ada di sini, keadaan ibu membaik. " sahut Seno. Dan di jawab dengan anggukan Armell juga Pipit.


Sedangkan Bryan masih terdiam. Ia masih sibuk dengan pikirannya. Ia yakin jika ibu mertuanya itu sedang tidak baik-baik saja. Ia akan berusaha berbicara dengan mertuanya itu esok hari.

__ADS_1


" Danique mana baby? " tanya Seno ke Armell.


" Danique tidur sama ibu. " jawab Armell.


" Ibu membawanya tidur di kamar ibu? " ujar Seno kembali. " Wah, sepertinya ibu pengertian. Beliau tahu, jika suasana adem kayak gini enaknya kita ngapain baby. " lanjutnya.


" Ngapain emangnya? " tanya Armell.


" Bikin adik buat Danique lah. Ngapain lagi ? " jawab Seno dengan senyum menyeringai. Lalu tanpa aba-aba, Seno mengangkat tubuh Armell hingga membuat Armell setengah memekik karena terkejut.


" Dasar nggak tahu malu. " umpat Bryan kesal karena melihat sang sahabat yang dengan sengaja memamerkan kemesraannya dengan sang istri di hadapannya.


Seno tersenyum menyeringai ke arah Bryan sambil menggendong sang istri dan di bawa masuk ke dalam rumah.


" Hati-hati bang ..jangan kenceng-kenceng...NTAR RANJANGNYA ROBOH. " teriak Pipit yang tidak di dengar oleh sang kakak ipar tentu saja.


Lalu Pipit mendudukkan tubuhnya di atas kursi yang tadi di tempati sang kakak ipar. Tiba-tiba suasana canggung meliputi Bryan dan Pipit. Bahkan pipi Pipit agak berubah warna menjadi ranum. Untuk menyembunyikannya, ia menoleh ke arah sebelah.


" Kamu tenang aja. Besok Abang coba bicara sama ibu. Siapa tahu ibu mau jujur sama Abang karena abang juga seorang dokter. " ujar Bryan memecah keheningan.


Pipit hanya mengangguk.


" Loh, kok masih pada di luar. " ujar ibu yang tiba-tiba datang dari dalam. " Ibu kirain udah pada di dalam. Mau ibu kunci pintunya. "


" Ibu, kenapa ibu belum tidur? " tanya Pipit.


" Ibu tadi kepikiran, pintu depan belum ibu kunci . Maklum kebiasaan ibu tinggal sendiri, jadi kebiasaan ngunci semua pintu sendiri. "


" Ya udah, nanti pintunya Pipit yang kunci. Ibu istirahat aja. " sahut Pipit sambil merangkul bahu sang ibu dan di bawa masuk ke dalam rumah. Bryan mengikutinya dari belakang.


" Kalian juga cepat istirahat. Nak Bryan juga pasti capek habis nyetir perjalanan jauh. Kamu cepat ajak suami kamu untuk istirahat. " titah sang ibu ke Pipit.


Pipit mengangguk. Lalu ibu berlalu kembali masuk ke dalam kamar.


" Abang masuk aja ke kamar dulu. Pipit mau kunci pintu depan dulu. " ujar Pipit dengan canggung. Ia bahkan hampir menabrak Bryan saat ia hendak kembali ke depan untuk mengunci pintu.


" Hati-hati. " ujar Bryan.


Pipit mengangguk sambil berusaha tersenyum senatural mungkin. Lalu ia segera ke depan dan mengunci pintu. Sedangkan Bryan, sudah masuk ke dalam kamar Pipit terlebih dahulu.


Setelah mengunci pintu depan, Pipit segera masuk ke dalam. Sampai di depan pintu kamarnya yang terbuka sedikit, ia menghentikan langkahnya. Ia merasa gugup dan grogi. Ia malah mondar-mandir tidak jelas di depan kamarnya sambil bergumam sendiri.


" Duhhhh,....gimana ini? Kok aku jadi grogi gini sih??? Duuhhh Pipit....tenangkan dirimu...Kalian tidur satu ranjang tidak baru sekali ini aja. Jadi tenang, rileks..." gumam Pipit. Lalu ia menarik dan menghembuskan nafas panjang dan dalam berkali-kali.


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2