Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Satu ranjang


__ADS_3

Bryan dan Pipit keluar dari kamar dengan tangan kiri Bryan yang memeluk pinggang Pipit. Mereka keluar dari kamar bersamaan dan terlihat sangat romantis seperti pasangan pengantin baru.


Di sofa, terlihat paman dan bibi Bryan sedang sibuk dengan ponsel masing-masing.


Mendengar suara pintu yang di buka, spontan paman dan bibi Bryan menoleh ke arah sumber suara. Sang bibi langsung terlihat begitu kesal kala melihat Pipit yang bermanja-manja dengan Bryan. Sedangkan sang paman langsung menampilkan senyum khasnya.


" Selamat malam paman. " sapa Bryan yang kala itu, waktu sudah menunjukkan jam setengah 7 malam.


" Malam. " sahut sang paman singkat dengan pandangan yang tertuju ke seorang gadis yang berada di dalam pelukan sang keponakan. " Siapa dia? " tanyanya.


" Maafkan Bry, paman. Dia istri Bryan. Maaf karena Bryan tidak memberitahu paman ketika Bryan mau menikah. " sahut Bryan sopan ke pamannya.


Sang paman nampak mengangguk-angguk. Lalu Pipit agak maju ke depan, lalu mengulurkan tangannya, " Fitria, paman. Saya istrinya ponakan paman. Salam kenal. " sapa Pipit.


Sang paman tersenyum tipis, sambil memindai Pipit dari atas sampai bawah. Bryan mengajak Pipit untuk ikut duduk bergabung di sofa itu. Lalu mereka saling mengobrol. Tapi beda dengan si bibi. Dia hanya sibuk memandang sinis ke arah Pipit, dengan sesekali melirik ke arah Bryan dengan kesal.


" Honey, rambutmu kenapa masih basah begini? " ujar Bryan sambil membelai rambut basah milik Pipit.


" Siapa coba yang buat Pipit keramas sore-sore gini? Mana hairdryer nya Pipit cariin nggak ada lagi. " sahut Pipit sambil menaruh kepalanya di dada Bryan sambil memainkan kancing kemeja sang suami.


" I am sorry honey. Tapi suka kan? " goda Bryan sambil mengelus pipi Pipit.


" Selalu suka. " jawab Pipit sambil menengadahkan kepalanya dan tersenyum ke Bryan. " Abang selalu bisa buat Pipit terbang ke angkasa dan melupakan semua masalah. " lanjutnya.


Bryan mengecup kening Pipit, " Abang juga selalu suka dengan permainanmu. Kau selalu bisa memuaskan aku. " ujar Bryan yang membuat si bibi semakin menggeram kesal.


Tiba-tiba terdengar suara bunyi bel dari depan.


" Sepertinya pesanan makan malam kita sudah datang, sayang. Biar Pipit yang ambil. " ujar Pipit dengan senyuman terbaiknya. Ia mengecup sekilas pipi kanan Bryan. Entah kegilaan macam apa yang Pipit lakukan. Ia juga tidak mengerti.


Bryan tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang istri. Meskipun ia tahu hal itu hanya sebuah sandiwara, tapi ia benar-benar bahagia. Pipit beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu apartemen.


Seorang kurir makanan datang dengan membawa beberapa paperbag yang berisi makanan. Bryan dan Pipit sengaja hanya membeli masakan, dan tidak mengajak paman dan bibinya makan di luar karena mereka sangat enggan bepergian dengan dua orang yang telah membuat hidup Bryan berantakan.


Setelah Pipit membawa makanan tadi masuk, Bryan segera berdiri menghampiri istrinya dan membantunya menyiapkan makan malam untuk mereka semua.


Setelah makan malam tersaji, Pipit segera memanggil paman dan bibi Bryan untuk bergabung di meja makan dan segera makan malam bersama. Mereka makan malam dalam diam. Hanya interaksi pasangan baru yang mendominasi. Saling menyeka makanan yang bersisa di bibir, atau bahkan saling menyuapi.


🧚


🧚


" Tidurlah. " ujar Bryan menyuruh Pipit untuk segera tidur di atas ranjang.


" Bang bule mau tidur di mana? Kok bawa bantal. Bukannya kamar yang satu di pakai paman sama bibi? " tanya Pipit saat melihat Bryan mengambil sebuah bantal dan hendak membawanya pergi.

__ADS_1


" Abang mau tidur di sofa. "


" Lah kok di sofa? " Pipit ingat bagaimana gaya tidur Bryan saat ia harus tidur di sofa malam itu. Bryan terlihat sangat tidak nyaman karena panjang tubuhnya lebih panjang daripada sofa.


Pipit bangkit dari duduknya, lalu mengambil bantal yang akan di pakai olehnya. " Abang tidur aja di ranjang. Yang tidur di sofa biar Pipit aja. Tubuh Pipit jauh lebih pendek dari bang bule. Jadi, sofanya muat, nggak perlu meringkuk tidurnya. " ujar Pipit.


" No...no...Kamu tidur aja di ranjang. Besok kamu harus kuliah. Harus istirahat dengan baik. " tolak Bryan.


" Abang juga besok harus kerja. Ada operasi juga kan? Jadi tidurnya juga harus best quality. "


" Nggak pa-pa Abang tidur di sofa. "


" Ck. Kalau gini caranya, yang ada kita sama-sama nggak segera istirahat. Ya udah, kita pilih jalan tengah. Biar sama-sama enak dan nyaman tidurnya, kita pakai ranjang ini berdua. "


" Kamu yakin? " tanya Bryan memastikan.


" Hem. " jawab Pipit sambil mengangguk. " Ranjangnya lebar kan? Jadi abang di sebelah sana, Pipit di sini. Terus kita taruh guling-guling ini di tengah. Jadi abang jangan sampai melewati guling ini. " ujar Pipit sambil menata guling sebagai pembatas mereka.


" Beneran? "


" Ck. Iya ah, bawel. Udah halal juga kan? It's oke lah kalau cuma sekedar tidur seranjang. Asal cuma tidur ya bang. Nggak macem-macem. " ujar Pipit tegas.


" Siapa juga yang mau macem-macem. Paling juga satu macam doang. " goda Bryan sambil menaruh kembali bantal di tempatnya.


Pipit juga segera naik ke atas ranjang dan memasukkan dirinya ke dalam bed cover. Sehingga tubuhnya tertutup hingga ke leher.


" Bang, sampai kapan paman sama bibi di sini? " tanya Pipit sambil menoleh ke arah Bryan.


" Belum tahu. Abang tanyain, paman hanya bilang, kalau bibi mengajak pulang, maka mereka akan pulang. "


" Huft. " Pipit mengehela nafas berat. " Berarti bisa lama dong bang? "


" Mungkin. " sahut Bryan. " Oh iya, ngomong-ngomong kamu kok bisa bahasa Perancis? Sejak kapan? " tanya Bryan yang sedari tadi penasaran.


" Emmm...semenjak nikah sama Abang mungkin. Pipit mulai belajar bahasa Perancis. "


" Kamu sengaja belajar bahasa Perancis? Demi Abang? " tanya Bryan sudah bersiap mendapatkan jawaban yang membuat hatinya berbunga-bunga.


" Nggak. "


Jleb


Jawaban yang tidak di harapkan oleh Bryan. Ia lalu membalikkan pandangannya ke langit-langit kamar.


" Lalu kenapa harus belajar bahasa Perancis setelah abang nikahin kamu? "

__ADS_1


" Ya biar ngerti aja. Biar kalau abang tiba-tiba mengumpat ke Pipit pakai bahasa Perancis, Pipit tahu. Terus biar kalau abang bicara entah sama siapa, pakai bahasa Perancis, Pipit juga bisa tahu. Jadi Pipit tahu semua yang Abang katakan. Biar nggak kena prank. " celoteh Pipit.


" Siapa juga yang mau nge-prank? "


" Lah, who knows? "


" Ck. Terserah kamu aja lah. Tidurlah, sudah malam. Good night. " ucap Bryan sambil mematikan lampu nakas. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi Pipit, lalu menutup matanya. Pipit pun melakukan hal yang sama. Ia juga membalikkan tubuhnya dan membelakangi Bryan. Dan ia juga berusaha menutup matanya meskipun jantungnya sedang tidak bersahabat.


Pagi menjelang. Tepat pukul lima, Pipit mulai membuka matanya. Ia menggeliat, lalu melihat ke sebelahnya. Ternyata sudah kosong. Bryan sudah bangun terlebih dahulu.


" Baru juga mau abang bangunin. " ujar Bryan dari dalam ruangan yang berisi semua baju, tas, jam tangan, juga sepatunya.


" Abang udah bangun? Hoaaammm..." sahut Pipit sambil menguap.


" Hem. Buruan bangun, udah jam lima. Sholat subuh dulu. "


Pipit mengangguk, lalu ia bangun dari tidurnya. " Abang mau kemana? " tanyanya saat melihat Bryan hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong tanpa lengan.


" Biasa, mau ke treadmill. "


" Eh ..eh...eh ..tunggu..."


" Ada apa, Hem? " Bryan menghentikan langkahnya.


" Abang ganti baju dulu deh mendingan. Jangan pakai kayak gitu. " ujar Pipit.


" Emang kenapa dengan bajuku? Biasanya aku juga mengenakan pakaian kayak gini kalau mau olahraga. " sahut Bryan sambil memperhatikan penampilannya.


" Kali ini, jangan pakai itu. Ganti baju. Abang mau, mata si bibi merem melek lihat tubuh seksi abang? Yang ada, bibi makin betah tinggal di sini? " ujar Pipit kesal.


" Emang kelihatan tubuh Abang seksi ya? " bukannya segera berganti baju, tapi Bryan malah asyik menggoda Pipit.


" Ck. Bukan saatnya bercanda ini bang. " sahut Pipit kesal.


" Iya...iya ih... Pagi-pagi bukannya di sambut dengan senyuman, ini pagi-pagi malah udah sewot aja. " ujar Bryan sambil kembali masuk ke dalam ruang ganti.


" Bang, entar tungguin Pipit. Pipit mau ikut olahraga. Malas di rumah sendiri terus entar ketemu sama emak lampir yang hornian. " teriak Pipit dari kamar. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci muka juga gosok gigi.


***


bersambung


Double up yach, untuk hari ini....jadi semangat buat kasih like'nya juga ya....😍😍


Lope-lope sekarung....😘😘

__ADS_1


__ADS_2