Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Lamaran yang tertunda


__ADS_3

" Abang kok bisa kenal tuan Athar? Kalau teman kuliah kan tidak mungkin. " tanya Pipit sambil ia memotong-motong daging steaknya.


" Jadi gini...Nenek Athar dulu adalah pasienku. Dia dulu mengidap tumor yang tumbuh di dekat lambung. Lalu aku melakukan operasinya. Para dewan rumah sakit sebenarnya sudah angkat tangan, tapi kekeh mengoperasi beliau. Karena aku yakin beliau pasti bisa sembuh. " cerita Bryan. Pipit mendengarnya dengan seksama.


" Sebenarnya, papanya Athar itu punya saham di rumah sakit tempatku bekerja. Sama seperti papa Adi. Selesai operasi, aku bertemu dengan Athar, yang ternyata dia adalah sahabat Seno saat Seno masih S1. Dan jadilah, kami dekat. " lanjutnya.


Pipit nampak manggut-manggut. " Terus tadi tuan Athar bilang, Abang mau ada acara malam ini. Acara apa? "


" Kan acaranya sama kamu. "


" Cuma makan malam kayak gini? Ngapain harus pakai gaun sama high heels segala sih bang? "


" Ck. Kamu ini. Ini yang namanya makan malam romantis. Selama ini kan aku belum pernah mengajakmu berkencan dan makan malam yang romantis. "


" Bener juga sih. " sahut Pipit. " Eh, bang ..Apa Abang serius mau ngadain resepsi buat pernikahan kita? Kayak yang di minta mama? Kalau menurut Pipit sih bang, nggak perlu. Yang penting kan sekarang kita udah resmi agama juga hukum. Surat nikah udah punya juga. Buat apa buang-buang uang? "


" Kamu ini. " Bryan mencolek hidung Pipit. " Misalkan mama nggak minta juga, aku akan tetap mengadakan resepsi pernikahan itu. Aku ingin membuatmu seperti perempuan-perempuan lain. Berdiri di atas panggung, menjadi ratu sehari. Memakai gaun pengantin yang indah. " ucap Bryan sambil menggenggam tangan Pipit. " Aku juga ingin mengenalkanmu ke semua teman-temanku. "


" Bagiku, uang bisa kita cari lagi dengan mudah asal kita bisa berusaha. Tapi resepsi pernikahan yang di dambakan banyak pasangan hanya akan terjadi sekali seumur hidup. " lanjut Bryan.


" Terserah Abang aja deh kalau gitu. " sahut Pipit pada akhirnya. " Terus rencananya kapan? "


" Setelah peringatan empat puluh harinya ibu. " jawab Bryan. " Sebelum ibu menutup mata untuk selamanya, ibu berpesan supaya aku meresmikan pernikahan kita, memberikan kebahagiaan sebagai seorang pengantin kepadamu. Dan inilah jawabanku. Memberikan pesta pernikahan yang akan selalu kita kenang selama hidup kita. "


Bryan membelai lembut pipi Pipit dengan punggung jarinya. Ia tersenyum hangat. Terlihat dari pancaran mata dan tatapannya, ia begitu sangat mencintai seorang Pipit.


" Ayo kita segera habiskan makanan kita. Karena kita masih harus ke suatu tempat setelah ini. " ucap Bryan.


" Mau kemana bang? "


" Ada deh. Makanya, biar nggak kepo, habisin makanannya. "


Mereka lalu melanjutkan acara makan malam romantis itu dengan tenang. Sesekali, mereka saling mencuri pandang. Saling mengagumi satu sama lain.

__ADS_1


Setelah acara makan malam itu selesai, Bryan kembali menggandeng tangan Pipit dan membawanya ke lantai dua di mall itu. Sampai di lantai dua, Pipit kembali di suguhkan sesuatu yang mencengangkan. Pipit menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ia menoleh ke arah suaminya. Bryan tersenyum, lalu mengajak Pipit untuk masuk ke area dan mendudukkannya di atas bangku.


Bryan memberikan kejutan kepada Pipit. Ia mengajaknya ke area ice skating. Dulu, Pipit pernah bilang kalau dia sangat penasaran untuk bermain ice skating. Pipit bilang, pasti sangat menyenangkan bisa bermain ice skating. Dan sekarang, Bryan mewujudkannya.


Bryan berjongkok di hadapan Pipit, melepas high heels yang menempel di kaki istrinya itu, dan menggantinya dengan sepatu khusus untuk bermain ice skating. Sedangkan Pipit, masih sibuk dengan keterkejutannya. Setelah memakaikan sepatu ice skating ke kaki istrinya, kini Bryan mengganti sepatunya dengan sepatu ice skating juga.


" Ayo kita bermain. " ajak Bryan sambil meraih tangan kanan Pipit. Pipit mengikuti tanpa berkata apa-apa. Ia masih mode cengo.


Saat kakinya mulai menginjak lantai yang licin itu, Pipit baru tersadar jika ini dunia nyata, bukan hanya mimpi ataupun khayalannya.


" Abang, ini beneran? Kita di lapangan ice skating ini? " ujar Pipit dengan wajah berbinar.


Bryan mengangguk, lalu menuntun pipit untuk berjalan di atas lantai yang licin itu menuju ke tengah lapangan.


" Bang, Pipit takut, belum bisa. " ocehnya.


" Aku akan memandumu. Pegang tanganku erat dan jangan di lepas. Aku akan membawamu berjalan dengan perlahan. "


" Wuahhh ...teman Abang tadi benar-benar seorang sultan ya. Punya hotel tinggi bener, ada mallnya, dan di dalam mallnya ada area ice skating kayak gini. " oceh Pipit masih setengah tidak percaya. " Tapi kok sepi kayak gini ya bang? Emang pada nggak suka ice skating ya? "


Bryan mengajarinya dengan penuh kesabaran. Setelah beberapa waktu, Pipit mulai bisa menguasai arena. Bryan sedikit-sedikit mulai melepas tangannya.


" Abang, jangan di lepas dulu. Pipit masih belum yakin bisa. " seru Pipit.


" Oke. Ayo kita coba satu putaran lagi. " ucap Bryan. Bryan kembali menggandeng tangan Pipit dan membawanya meluncur satu putaran.


Pipit tersenyum senang. Ia sudah bisa menguasai. " Bang, lepas pelan-pelan. Sepertinya Pipit sudah bisa. "


" Oke. Bagus. " Bryan mulai melepas tangan Pipit perlahan, dan mulai meluncur menjauh. Membiarkan sang istri bermain sendiri. Bryan sangat bahagia melihat istri kecilnya itu terlihat bahagia. Pipit sesekali berteriak, lalu tertawa. Sambil terus meluncur, Bryan selalu mengamati istrinya.


Saat Pipit sedang asyik meluncur, tiba-tiba terdengar lantunan musik. Musik yang syahdu dan terdengar romantis. Bryan mulai meluncur mendekati Pipit dengan diiringi musik itu. Kakinya bergerak sesuai irama musik. Ia menggapai pinggang sang istri, lalu ia bawa meluncur sesuai dengan irama. Setelah berputar dan meluncur, Bryan melepas pelukannya ke pinggang Pipit. Ia mulai menjauh.


Pipit kembali di buat terkejut dengan apa yang ia lihat. Ia melihat sebuah tulisan di atas area ice skating yang tadi ia lewati bersama suaminya. Pipit kembali menutup mulutnya. Rupanya Bryan mengajaknya mengukir sebuah tulisan saat meraih pinggangnya tadi.

__ADS_1


...Would you be my future, my beautiful wife?...


Itulah tulisan yang tercetak. Pipit menatap Bryan dengan tatapan tak percaya. Bryan lalu meluncur mendekat ke Pipit kembali. Ia berdiri, lalu berjongkok dengan bertopang sebelah lututnya. Mengeluarkan sebuah kotak dari dalam saku jasnya.


" Seharusnya hal ini aku lakukan sebelum kita menikah. Sebenarnya, aku sudah merencanakan semua ini dari dulu ketika aku sadar jika aku mencintaimu. Tapi takdir berkata lain. Tuhan mempercepat langkahku sehingga aku menikahimu terlebih dulu sebelum aku sempat melamarmu meskipun dengan cara yang agak aneh. " ujar Bryan sambil terkekeh mengingat saat dirinya di paksa warga untuk menikahi Pipit.


" Kamu telah mengganti mimpi burukku dengan mimpi indah, kekhawatiranku dengan kebahagiaan, dan ketakutanku dengan cinta. " ucap Bryan. " Saya bersyukur kepada Tuhan karena sudah diberikan satu hati untuk mencintaimu, satu otak untuk selalu memikirkanmu dan satu mulut yang tak pernah berhenti untuk selalu mendoakanmu untuk jadi takdirku selamanya. Sekarang semoga doa ku terkabul. " Bryan menjeda kata-katanya.


" You're the one girl that made me risk everything for a future worth having. " lanjutnya. ( Kau adalah satu-satunya perempuan yang membuatku mempertaruhkan segalanya demi masa depan berharga ). Ia membuka kotak berwarna biru tua tadi. Dan terlihatlah oleh Pipit sepasang cincin di dalam kotak itu.


" Terimakasih untuk segalanya selama ini. Maukah kau menemaniku untuk seterusnya? Maukah kamu benar-benar menerimaku dengan segala masa lalu burukku? Will you be mom of my child? ( Maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku?) " tanya Bryan dengan mengangkat kotak itu ke hadapan Pipit .


Mata Pipit berkaca-kaca. Ia tidak tahu harus berkata apa.


" Cinta itu bukan berarti mencintai seseorang yang sempurna, tapi bagaimana mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara sempurna. Dan kamu, adalah orang yang membuktikannya padaku. " jawab Pipit. Ia menghela nafas dalam-dalam sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya.


" Aku mau bang. Pipit mau menerima Abang apa adanya. Pipit mau menerima semua tentang Abang. Pipit mau selalu menemani Abang selamanya. Dan Pipit, mau menjadi ibu dari anak-anak Abang bule. " lanjutnya.


Bryan tersenyum bahagia. Bahkan sangat bahagia. Ia mengecup telapak tangan dan punggung tangan Pipit bergantian. Lalu mengambil satu cincin dari dalam kotak, dan menyematkannya di jari manis sebelah kanan tangan Pipit. Mengecup punggung tangan Pipit dengan lembut.


Pipit meminta Bryan untuk berdiri. Dan Bryan berdiri. Setelah Bryan berdiri, Pipit mengambil cincin yang satu lagi, menyematkannya di jari manis sebelah kanan tangan Bryan, lalu mengecup punggung tangan Bryan.


Mereka saling menatap dengan binar mata bahagianya. Bryan mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Pipit. Saling mengecup, lalu saling melu***. Lalu berpelukan dengan sejuta rasa cinta dan bunga-bunga yang bermekaran di dalam hati.


***


bersambung


...Yah, akhirnya.... sungguh susah ternyata bikin kata-kata buat melamar yang romantis dan berkesan juga bikin baper ..Maklum lah ye.... othor dulu nggak di lamar pakai kata-kata yang romantis sih ...🤭🤭🤫🤫Nulis ini jadi ikutan baper. Terus bilang sama mas suami, " Yah, pengen dong di lamar lagi pakai yang romantis² gitu. "...


...Eh mas suami malah jawabnya, " Ada-ada aja kamu. Makanya nggak usah nulis-nulis novel. Jadi sok romantis, akhirnya jadi baper sendiri kan? "...


...Tepuk jidatnya akohnya🤦🤦🤦...Suamiku memang sesuatuhhhh....Jadi pengen tukar tambah sama suami Pipit😔😔😀...

__ADS_1


...Jangan lupa like'nya yah kakak..... othor bela-belain perang batin nulis episode kali ini....super baper deh ...Salam lope-lope sekarung.....😘😘😘...


__ADS_2