
Malam menjelang. Malam itu, Bryan sedang mengobrol bersama sang ibu mertua. Sedangkan Seno dan Armell beserta baby Dan sedang main ke rumah paman Armell yang dulu menjadi wali nikah mereka. Dan Pipit, ia sedang berada di dalam kamar.
" Ibu, boleh Bry bertanya sama ibu? " tanya Bryan.
" Mau tanya ya tinggal tanya aja nak. " sahut ibu sambil melipat pakaian yang habis di jemur tadi siang.
" Mmm...Tapi tolong, ibu jujur sama Bryan. "
" He em. " sahut ibu menghentikan aktivitasnya sebentar.
" Ibu yakin ibu baik-baik saja? "
Bu Ani tersenyum, " Tentu saja ibu baik-baik saja. "
" Tapi Bryan perhatikan, tidak seperti itu. Ibu sedang tidak baik-baik saja. " ujar Bryan. " Ibu, Bryan ini seorang dokter. Bryan tahu, mana orang yang kurus karena menderita penyakit, mana yang kurus karena kurang makan. Ibu, jangan pernah menyembunyikan hal yang serius kepada anak-anak ibu. Mereka berhak tahu. " lanjut Bryan.
" Ibu tidak apa-apa. Ibu sehat. Tidak ada yang ibu sembunyikan. Jika ibu memang sakit, bukankah wajar? Ibu kan sudah tua. " jawab sang ibu mertua setenang mungkin.
Bryan menghela nafas berat. Ia masih yakin jika sang ibu mertua menyembunyikan sesuatu. " Bu, jika ibu jujur, paling tidak, katakan sama Bryan Bu, kalau ibu tidak ingin putri-putri ibu tahu, katakan yang sebenarnya ke Bryan. Bryan akan membantu ibu semampu Bryan. Semua penyakit itu bisa di sembuhkan Bu, asal kita tidak terlambat mengatasinya. " bujuk Bryan.
Bu Ani kembali tersenyum. " Percaya sama ibu, ibu baik-baik saja. " ucap ibu menyakinkan. " Oh iya, di mana istri kamu? "
" Di kamar Bu. Lagi menyetrika baju yang tadi ia cuci. " jawab Bryan.
" Bu ..." panggil Pipit.
" Iya..." sahut sang ibu.
" Oh, di sini ibu rupanya. " ucap Pipit saat tahu ibu sedang melipat baju yang habis di jemur tadi siang. " Sini Bu, bajunya. Sekalian Pipit setrika. "
" Nggak usah, biar ibu setrika sendiri. "
" Bu, mumpung Pipit lagi di rumah. Sekarang kan Pipit udah nggak bisa tiap hari nyetrikain baju ibu kayak dulu. " ujar Pipit sambil menatap sendu ke arah sang ibu.
" Baiklah... baiklah...Nih semua baju-baju ibu. " sang ibu akhirnya menyerahkan baju-baju yang beliau lipat tadi ke Pipit.
Pipit menerima dengan senyum lebarnya. Lalu ia kembali ke kamar dengan membawa baju-baju sang ibu.
🧚
🧚
" Abang tadi sudah berusaha bicara ke ibu. " ujar Bryan. Saat ini ia dan Pipit sudah berada di dalam kamar, di atas ranjang sempit milik Pipit, bersiap untuk tidur.
" Ibu bilang apa bang? " tanya Pipit sambil menoleh ke arah Bryan.
__ADS_1
Bryan menggeleng, " Ibu tetap tidak mau mengatakannya. Mungkin ibu tidak ingin menjadi beban pikiran anak-anaknya. Ibu ingin menyimpan semuanya sendiri. "
Lalu Bryan menghela nafasnya berat. " Kalau menurutku, kita bersiap aja untuk berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. "
" Maksud Abang? Ibu beneran sedang sakit? Berbahaya ya bang? " tanya Pipit dengan polosnya.
" Abang juga nggak tahu, honey. Tapi menurut abang, menurut yang Abang lihat, ibu memang sedang sakit. Cuma sakitnya apa, Abang tidak tahu. "
" Gimana kalau ibu memang benar mengidap penyakit yang berbahaya? " tanya Pipit dengan mata yang berkaca-kaca. " Pipit harus gimana bang? " lanjutnya.
Bryan mendekatkan tubuhnya ke Pipit, lalu merengkuh bahu Pipit dan di bawanya ke dalam dekapannya. " Kita harus berdoa. Semoga ibu selalu baik-baik saja. Karena hanya itu yang bisa kita lakukan. " ujar Bryan sambil mengelus lengan Pipit. Pipit mengangguk dalam dekapan Bryan. Dekapan yang ternyata membuatnya merasa begitu tenang dan nyaman.
" Jika memang ibu sedang sakit, dan beliau menyembunyikannya dari kita, ibu pasti punya alasan tersendiri. Mungkin ibu tidak ingin membuat anak-anaknya kepikiran. Mungkin beliau hanya ingin melihat anak-anaknya bahagia. " lanjut Bryan.
Di kamar sebelah.
" Mas, perasaanku kok nggak enak terus ya kalau memikirkan ibu. " ucap Armell yang sedang berada dalam pelukan sang suami.
Seno mengecup singkat puncak kepala Armell. " Kita berdoa saja, semoga ibu selalu baik-baik saja dan selalu di berikan kesehatan. " sahut Seno. Sebenarnya iapun merasakan hal yang sama. Tapi ia tidak ingin membuat istri tercintanya merasa semakin sedih.
" Mell pengen banget ajak ibu tinggal sama kita. Tapi ibu menolaknya. "
" Kalau ibu tidak mau, ibu pasti punya alasan yang kuat. Kita akan sering menengok ibu kemari. Kita bisa bergantian dengan Bryan dan Pipit. " jawab Seno. Armell mengangguk. Lalu Seno mempererat pelukannya.
Di kamar ibu.
" Sayang, nenek titip mommy dan onty kamu ya. Kalau nenek sudah tidak ada, kamu yang akan menggantikan nenek menjaga mereka. "
" Armell, Pipit, putri-putri ibu, maafkan ibu yang tidak bisa jujur dengan kalian. Ibu tidak ingin menjadi beban pikiran untuk kalian. Maaf, jika ibu tidak bisa mengatakan penyakit ibu yang sebenarnya. " setetes air mata menetes dari sudut mata sang ibu.
Kembali ke kamar Pipit.
Gelap gulita. Itu yang Pipit rasakan saat tiba-tiba mati lampu. Ia yang saat itu masih dalam dekapan Bryan, terlonjak kaget. Selain hujan deras yang di sertai petir, Pipit juga takut kegelapan.
" Kok.....mati lampu. " protes Pipit saat tubuhnya sudah duduk tegak.
" Cuma mati lampu doang kenapa mesti merengek. " protes Bryan.
" Gelap abang. Pipit nggak bisa lihat apa-apa. Pipit takut bang. "
Senyum menyeringai terbit dari sudut bibir Bryan. Bryan diam saja tidak menjawab panggilan Pipit. Ia malah menggeser duduknya menjauh dari Pipit secara perlahan.
" Bang...." panggil Pipit kembali sambil meraba-raba sisi sebelahnya. Pipit mengernyitkan dahinya. Tempat yang tadi di tempati Bryan kosong.
" Abang...." panggilnya lagi agak keras. " Abang bule....Jangan bercanda deh bang..." lanjutnya. Masih tidak ada suara dari Bryan.
__ADS_1
" ABANG...." kini Pipit memanggilnya sambil berteriak. Bryan menutup kedua telinganya sambil menahan tawa. " Pipit beneran takut bang... Pipit mending ketemu sama pocong, sama mbak Kunti, daripada harus dalam kegelapan kayak gini. " cerocos Pipit.
" Abang ...." Pipit mulai menangis. " Hiks ...hiks ...Awas ya bang kalau entar ketemu. "
Pipit agak menggeser tubuhnya sambil meraba-raba. Terus bergeser sambil meraba-raba. Sayangnya, Bryan tidak menyadari kalau Pipit semakin mendekat kepadanya.
" Nah, kena kan..." ujar Pipit sambil memegang Bryan. Sedangkan Bryan yang di pegang, langsung menegang.
" Bang, jempol Abang kok gede gini? Habis kegetok palu ya? Emang Abang habis benerin apa tadi kok mainan palu? " ujar Pipit sambil meraba-raba yang sedang di pegangnya.
" Pipiiit..." erang Bryan.
" Lah bang, makin tambah gede aja? Keras lagi. Kok bisa ya jempol Abang kayak gini? Punya Pipit nggak deh kayaknya. "
" Jangan di pegang lagi, Pipiiit...Stop tangannya. " pekik Bryan yang ikutan meraba-raba menyingkirkan tangan Pipit. Tapi Pipit tetap bersikeras.
" Bentar, Pipit pengen mengobservasi dulu. Pipit jadi penasaran kok bisa kayak gini. Kok bisa mengembang dan keras."
" Pipit, itu bukan jempol Abang yang kamu pegang dan elus dari tadi. Bisa bahaya kalau kamu pegang terus. "
" Bahayanya gimana? "
" Dia bisa menerkam kamu. Dia juga bisa menumbuhkan kecebong-kecebong lucu di perut kamu. "
" Apaan sih? Kecebong? Kodok kali. " seru Pipit masih tetap mencoba mencari tahu apa yang di pegangnya.
Dan tiba-tiba, listrik kembali menyala. Kamar menjadi terang kembali.
" Lihat tuh, apa yang kamu pegang? Apa kamu udah mau menampung kecebongku? Biar ibu cepet nimang cucu dari kamu. "
Mendengar Bryan berkata seperti itu, Pipit langsung menunduk melihat dimana tangannya berada.
" MASYAALLAH..." teriaknya.
" Sstttt....Jangan teriak-teriak. Entar di kira tetangga sebelah kita lagi ngapa-ngapain. " ujar Bryan sambil membekap mulut Pipit yang mengeluarkan suara seperti toa. Pipit mengangguk. Lalu Bryan melepas tangannya dari mulut Pipit.
" Sekarang kamu harus tanggung jawab. Udah bikin dia bangun. " ucap Bryan sambil menunjuk bagian bawahnya.
Pipit spontan menggeser tubuhnya dan menggelengkan kepalanya kencang.
" Dosa lho nolak suami. Mau dapet pahala nggak? " goda Bryan.
" Pipit masih di bawah umur. Nggak. Pipit masih anak-anak, belum 20 tahun. " ucap Pipit tanpa mau melihat Bryan. Ia langsung buru-buru merebahkan tubuhnya dan masuk ke dalam selimut, memejamkan mata sambil membelakangi Bryan. Membuat Bryan terkekeh geli.Tapi ia juga mendesah kesal. Sesuatu telah bangun dan ia bingung bagaimana harus menidurkannya kembali. Kalau di apartemen, ia langsung bisa mengatasinya di kamar mandi. Tapi kalau di sini ia pergi ke kamar mandi dan menyelesaikannya di sana, yang ada malah ibu kebangun mendengar suaranya.
***
__ADS_1
bersambung