
" Addduuuhhhh....sssshhh...." Pipit tiba-tiba mengaduh dan mendesis kala ia hendak turun dari atas ranjang. Sudah pukul setengah empat, tapi sang suami tidak membangunkannya, padahal sang suami tadi berjanji akan membangunkannya pukul tiga.
Satu tangan pipit memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya, dan sebelah lagi memegangi tubuh bagian bawahnya. Kembali ia mencoba untuk beranjak.
" Auuu.....Kenapa sakit kayak gini sih? Bukannya sakitnya itu waktu pertama kali di masukin ya? Tapi kenapa kok lagi nggak di apa-apain gini malah sakit? " Pipit bermonolog sendiri.
Pipit melihat ke sekeliling, tapi tak mendapati suaminya di ruangan itu. " Kemana si abang bule?" tanyanya.
Pipit membuka selimutnya saat ia tidak mendapati seorangpun kecuali dirinya dalam kamar itu. Ia mencoba melihat bagian bawahnya dengan merentangkan kedua kakinya lebar-lebar.
" Eh, ada cctv-nya nggak sih di kamar ini? " gumam Pipit sambil menutup sebagian tubuhnya dengan selimut kembali dan mengedarkan pandangannya ke setiap pojok kamar.
" Sepertinya nggak ada. Nggak mungkin lah kamar yang biasa di pakai malam pertama ada cctv-nya. Yang ada entar pegawai bagian yang mengawasi cctv, bisa on terus tiap hari. Ha....ha...ha..." Pipit masih sempat tertawa terbahak-bahak.
Lalu ia kembali membuka selimut dan merentangkan kedua kakinya lebar-lebar.
" Kok nggak kelihatan sih? " gumamnya. Lalu ia memandang ke atas meja mencari ponselnya. " Di mana handphoneku? " Pipit mencari dengan matanya. " Ihhh, kok ada di meja sana sih? " gerutunya karena ia melihat ponselnya berada di atas meja yang agak jauh darinya.
" Pakai handphone Abang aja lah. " gumamnya lalu mengambil ponsel Bryan yang ada di atas nakas di dekatnya.
Pipit mengusap layar ponsel Bryan, lalu mencari aplikasi kamera. Setelah menemukannya, Pipit mengarahkan ponsel Bryan ke bawahnya. Daaaannn.... terlihatlah hasil karya ular piton milik Bryan.
" Hiks ...Kok bengkak gini??? Pantesan sakit, terus agak aneh gini. " gumamnya sambil memasang wajah sedihnya. " Gimana dong ini??? Bentuknya jadi jelek nggak beraturan kayak gini. " tambahnya.
Pipit meletakkan ponsel Bryan di atas ranjang di sebelahnya. Berbarengan dengan itu, terdengar suara pintu terbuka dari luar. Mendengar pintu terbuka, Pipit buru-buru meraih selimut sekenanya untuk menutup kembali tubuh polosnya.
" Udah bangun, honey? " sapa Bryan sambil meletakkan sesuatu di atas meja.
" Abang, kirain siapa. Bikin kaget aja. " ujar Pipit sambil berangsur hendak berdiri. " Au...au...au...sssshhhhhh....." Pipit kembali mendesis.
" Kenapa honey? " tanya Bryan panik dan buru-buru mendekati sang istri.
" Ini, sakiitt..." rengek Pipit sambil menunjuk bagian bawahnya. " Bukannya sakitnya waktu pas di masukin pertama kali ya? Kenapa kok ini lagi nggak di masukin, tetap sakit. " lanjutnya.
" Sini. Aku periksa. " ujar Bryan sambil meraih selimut yang Pipit pegangi.
__ADS_1
Tapi Pipit malah semakin mempererat pegangannya sambil menggelengkan kepalanya tegas. " Nggak mau. "
" Honey, kenapa? Malu? Ngapain malu coba? Aku kan udah lihat dari semalam, berkali-kali lagi. Ayo buka, aku lihat kenapa kok sakit. " kekeh Bryan.
" Pipit bukannya malu. Malu-maluin iya. Tapi ini ...jelek jadinya...." ucap Pipit gugup.
" Jelek? " Bryan mengerutkan keningnya.
Pipit mengangguk. " He em. Bengkak. Jadinya jelek. Pipit nggak mau abang lihat. Entar kalau abang lihat, Abang jadi illfeel lagi. Entar abang ninggalin Pipit, cari perempuan lain yang ininya masih bagus. " cerocos Pipit.
Bryan menahan tawanya melihat wajah menggemaskan istrinya.
" Kenapa aku jadi illfeel? Kalau bengkak, terus jadinya jelek, kan karena ulah aku juga. Bukan karena hal lain. Ayo sini, aku periksa dulu. Nanti kita di obati, biar nggak sakit lagi. " rayu Bryan. Ia kembali mencoba menarik selimut yang dalam genggaman Pipit. Meskipun ragu, Pipit akhirnya melepaskan selimut itu.
Bryan berjongkok di hadapan Pipit saat selimut itu sudah terlepas. Lalu ia membuka kaki istrinya lebar-lebar.
" Ssshhhh...." Pipit kembali mendesis.
Bryan cukup terkejut setelah melihat maha karyanya.
Bryan mengusap wajahnya kasar melihat hasil karya peliharaannya yang buas.
" Bengkak kan bang? Terus merah. Jelek kan jadinya? Sepertinya yang gigit Pipit bukan ular piton. Tapi anaconda deh. " seru Pipit. " Terus, badan Pipit juga kayak habis di gigit semut. Tapi semut raksasa. Nih, merah-merah keunguan hampir merata. " tunjuk Pipit ke tubuhnya. Banyak sekali tanda yang di buat Bryan di tubuhnya.
Bryan menatap Pipit dengan tatapan bersalah yang besar. " I am sorry honey. " ucapnya.
" Sebentar, kamu di sini aja dulu. Aku siapapin air hangat buat merendam tubuh kamu. Biar rasa sakitnya berkurang. " Bryan beranjak berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi, ia mengisi bathub dengan air hangat kuku. Setelah di rasa sudah cukup, Bryan mematikan kran air, lalu kembali ke dalam kamar menghampiri istrinya.
Sampai di dekat istrinya, Bryan membuka kembali selimut yang menutupi tubuh istrinya kembali. Lalu ia mengangkat tubuh mungil istrinya di bawa ke dalam kamar mandi.
Di kamar mandi, Bryan meletakkan tubuh istrinya ke dalam bathtub yang telah terisi air hangat bercampur sabun aroma terapi dengan perlahan.
" Kalau udah selesai, panggil aku. Oke? " pinta Bryan. Pipit mengangguk. Ia begitu bahagia mendapati perlakuan seperti ini oleh suaminya. Tapi sebersit rasa sakit tiba-tiba muncul.
" Abang...." panggil Pipit saat Bryan hendak membuka handle pintu.
__ADS_1
" Hem? " Bryan menoleh.
" Makasih. " ucap Pipit. Bryan kembali menghampirinya, lalu mengecup keningnya.
" I love you. So much. Jangan lupa, panggil aku jika udah selesai. Tapi sekarang, aku mau keluar dulu. Cari salep buat itu kamu biar nggak bengkak lagi. " ujar Bryan.
Pipit mengangguk, " Cepat balik ya bang. "
Bryan mengangguk, lalu segera keluar dari dalam kamar mandi. Sampai di luar kamar mandi, Bryan menghela nafas berat dan panjang. Sedari tadi saat ia melihat bagian bawah istrinya yang bengkak, peliharaannya sudah berubah bentuk. Ular pitonnya sudah kembali on fire. Siap untuk bertanding.
" Sabar..." ucap Bryan sambil mengusap bagian bawahnya. " Kau lihat sendiri kan, akibat kelakuanmu, punya istriku jadi bengkak gitu. Masak kamu masih tega mau mengajaknya bergulat lagi. Tunggu sampai bengkak dan sakitnya hilang, baru kita rayu untuk memuaskanmu. " Bryan bermonolog dengan bagian bawahnya.
Tidak mau larut dalam pikirannya yang sudah traveling, Bryan segera keluar dari dalam kamar untuk mencari salep buat sang istri. Sampai di depan pintu, ponselnya berdering.
" Halo, bagaimana? " tanyanya setelah ia menerima panggilan itu.
" ..... "
" Baiklah. Kemungkinan besok pagi aku akan membawanya pulang. "
" ..... "
" Tentu saja. Aku kan sudah menjual apartemenku. Kau sendiri yang membantuku menjualnya kan? Jadi besok, aku harap semuanya sudah benar-benar siap. "
" .... "
" Bagaimana dengan semua perabotannya? "
"......"
" Baguslah kalau begitu. Aku tutup dulu teleponnya. Aku harus mencari sesuatu yang sangat penting untuk istriku. "
***
bersambung
__ADS_1