Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Solusi yang solutif


__ADS_3

" Mas, kok malah ketawa sih. Aku telepon karena aku butuh solusi yang solutif. Bukan malah di ketawain. " protes Damar.


" Dam, kamu ini kan laki-laki, masak gitu aja harus di ajarin sih. "


" Iya, aku laki-laki. Tapi daripada di suruh merayu perempuan, mending aku merayu senjata api. Aku kan paling anti sama perempuan. Beda sama mas Dion. Yang sudah pakarnya. Makanya aku telepon mas Dion, minta di ajarin caranya gimana. "


" Dam, kamu ada nggak rasa tertarik sama istri kamu? "


" Ya...ada lah. " jawab Damar lirih.


" Ya udah, itu aja yang kamu pakai buat merayu. Asalkan kamu ada rasa tertarik, rayuan akan keluar dengan sendirinya. Jangan kaku. Dekati istrimu, pegang tangannya, atau kamu elus perutnya, seolah-olah kamu sedang mengelus anak kamu yang ada di kandungan istrimu. Setelah ia terpengaruh, lebih dekati dia. Kecup keningnya, lalu turun ke bawah. Setelah itu terserah kamu mau kamu apain. Naluri lelakimu pasti akan keluar dengan sendirinya. " jelas Dion.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka dari dalam. Damar buru-buru menyudahi teleponnya dengan Dion.


" E hem. " Damar berdehem menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba tidak karuan ketika melihat sang istri keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan daster hamil yang pendek, dan rambut yang tidak tertutup jilbab. Rambut panjang milik Imel tergerai bebas karena ia baru selesai keramas.


Imel terlihat begitu cantik malam ini menurut Damar. Sampai-sampai cacingnya sudah membesar dengan sendirinya. Padahal hampir tiap hari jika di dalam rumah, Damar juga melihat istrinya yang tidak berjilbab.


" Kamu kenapa malam-malam pakai keramas segala? " tanya Damar.


" Astaghfirullah mas. Ngagetin aja. " sahut Imel sambil memegangi dadanya karena terkejut.


" Kamu kenapa malam-malam keramas? " tanya Damar kembali sambil berdiri dari duduknya dan menghampiri Imel.


" He...he...he...Tadi cuma mandi biasa aja, rasanya masih belum seger. Kayak ada yang kurang gitu. Ya udah, aku keramas aja biar seger. " jawab Imel sambil mendekap handuk yang habis dia pakai mandi di depan dadanya. Ia terlihat agak kedinginan.


" Siniin handuknya. " pinta Damar sambil menarik handuk yang di dekap Imel. Lalu ia mendorong tubuh Imel dan menyuruh Imel duduk di atas ranjang.


" Kalau nggak kering, kamu bisa kedinginan. Orang mau tidur kok pakai keramas segala. " omel Damar sambil mengeringkan rambut Imel dengan handuk tadi. " Rambutmu kan panjang gini. Jadi keringnya pasti lama. Mana nggak punya hairdryer lagi. " lanjutnya.


Imel menelan salivanya dengan susah payah saat Damar berdiri di depannya dengan bertelanjang dada.


" Mas Damar kenapa tidak pakai baju? Kan dingin ini. " tanya Imel.


" Hem? " Damar menunduk sedikit dan melihat ke wajah istrinya. " Lupa tadi. " jawabnya enteng sambil kembali mengeringkan rambut Imel. Damar tersenyum smirk.


' Buat apa pakai baju kalau nanti juga di lepas. ' batinnya sambil tersenyum lebar tanpa sepengetahuan istrinya.


Damar memegang kepala Imel untuk melihat apakah rambut Imel sudah kering apa belum.


" Udah kering. " ujar Damar.

__ADS_1


" Masak? " Imel segera mengangkat tangannya untuk melihat apa benar rambutnya sudah kering. Tak sengaja, tangannya menyenggol tangan suaminya.


" Kamu kedinginan? " tanya Damar sambil memegang kembali tangan Imel.


" Nggak mas. Biasa aja. " jawab Imel.


Damar duduk di sebelah Imel. " Tapi tangan kamu dingin banget. "


Imel menarik tangannya lalu meletakkannya di kedua pipinya. " Nggak mas. Ini biasa karena habis mandi. "


Damar kembali menarik tangan Imel dan di genggamnya. " Kalau kamu kedinginan, si kecil juga akan kedinginan. "


Imel agak terkejut mendapati suaminya yang tiba-tiba posesif seperti ini. Ia senang di perlakukan seperti ini. Tapi ia juga takut jika itu hanya angannya saja.


Damar menggosok-gosok kedua tangan Imel untuk menghangatkan tangan itu. Setelah beberapa saat, Damar teringat tadi yang di bilang Dion. Mengusap perut sang istri.


Perlahan, ia mengarahkan salah satu tangannya ke perut Imel, dan satu tangannya lagi masih menggenggam tangan istrinya.


Damar mengusap pelan dan lembut perut Imel. Kini, detak jantung Imel yang bergenderang. Sentuhan lembut suaminya di atas perutnya menimbulkan gelenyar aneh di tubuhnya. Entah karena hormon ibu hamil atau apa.


" Dia gerak. " ujar Damar dengan wajah berbinar.


Imel sontak menatap ke arah perutnya dan memegangi perut di mana bayinya terasa bergerak. Dan tangannya otomatis menyentuh tangan suaminya. Ia mendongak saat tangannya menyentuh tangan suaminya. Ia takut jika suaminya akan marah. Melihat mata suaminya yang juga menatapnya, Imel langsung kembali menunduk.


" Kenapa selalu menunduk? Hem? Apa aku semenakutkan itu? Hingga kamu takut saat beradu tatap dengan mataku? " tanya Damar.


" Angkat kepalamu. " pinta Damar.


Imel masih tetap menunduk.


" Aku bilang, angkat kepalamu. " pinta Damar, kali ini dengan suara yang lebih lembut.


Perlahan, Imel mengangkat kepalanya dan menatap wajah tampan suaminya dengan ragu-ragu. Damar lalu memegang dagu istrinya yang masih nampak ragu-ragu untuk menatap matanya.


" Lihat aku. " pinta Damar. Dengan sedikit takut, Imel menatap manik mata milik suaminya. " Apa aku terlihat sangat menakutkan? " tanyanya.


Wajahnya terlihat segar dan berbinar. Sama sekali tidak terlihat datar dan garang seperti sebelumnya.


Imel memberanikan diri untuk menggelengkan kepalanya.


" Bagus. Jadi, mulai sekarang, jangan pernah menunduk lagi jika aku berbicara denganmu. " ujar Damar sambil membelai rambut Imel.


Imel mengangguk sambil mengangguk perlahan. Lalu tiba-tiba, damar menarik kepalanya, dan memberikan satu kecupan di keningnya. Imel sontak memelototkan matanya karena terkejut dengan sikap suaminya.

__ADS_1


" Maafkan aku, jika selama ini sudah selalu menyakitimu. " ucap Damar sambil menatap lekat manik mata milik Imel. " Maafkan aku, jika aku sering membentakmu. Maafkan aku juga yang tidak pernah memberikan perhatian kepadamu padahal kamu sedang hamil. Mulai sekarang, ingatkan aku jika secara tidak sengaja, aku membentakmu. " lanjutnya masih menatap lekat mata istrinya.


Imel mengangguk perlahan. Ia juga menatap mata indah milik suaminya. Imel seakan terhipnotis dengan mata itu. Hingga ia tidak sadar, jika wajah suaminya sudah semakin dekat dengannya. Imel baru tersadar saat tiba-tiba bibirnya terasa hangat dan basah.


Entah keberanian dan kepercayaan diri dari mana, Damar menautkan bibirnya ke bibir istrinya. Hanya mengecup, di awal. Saat tidak ada penolakan dari sang istri, Damar memperdalam ciumannya. Ia bahkan menarik tengkuk istrinya.


Sedangkan Imel, mendapati bibirnya di cium oleh sang suami, hanya bisa mengerjabkan matanya berkali-kali sambil mengumpulkan kesadarannya. Apakah yang ia rasakan ini mimpi atau kenyataan.


Damar menyudahi aksinya saat ia tidak mendapatkan balasan dari sang istri. Setelah ia menjauhkan wajahnya, ia malah melihat mata sang istri mengerjab-ngerjab dengan menggemaskan.


" Kenapa tidak membalasnya? Apa kamu tidak suka aku menciummu? " tanya Damar.


" Aku...aku terkejut. Dan aku...aku tidak tahu bagaimana caranya membalas. " jawab Imel sambil tertunduk karena malu.


" Sudah aku bilang, jangan menunduk saat berbicara denganku. " ujar Damar sambil mengangkat kepala Imel. " Ikuti aku, dan cobalah untuk membalasnya. " lanjutnya, lalu ia kembali menautkan bibirnya ke bibir istrinya.


Kali ini, Imel menutup matanya dan merasai tiap ciuman dan luma*** yang di lakukan oleh suaminya. Lalu berusaha untuk membalasnya meskipun masih kaku.


Semakin lama, ciuman Damar semakin menuntut. Bahkan tangannya kini sudah berada di atas dada istrinya yang masih tertutup oleh daster. Saat gai***nya semakin membesar, Damar mendorong tubuh Imel supaya tertidur telentang. Lalu ia membuat Imel berada di bawahnya. Ia menopang berat tubuhnya supaya tubuhnya tidak menindih perut istrinya.


Lama kelamaan aktivitas mereka semakin memanas. Damar telah membuka daster yang menutupi tubuh istrinya. Bahkan ia juga sudah membuka semua yang menutupi tubuh istrinya itu, sehingga kini Imel sudah terlihat polos. Ia menggeram dan mende*** di bawah kungkungan suaminya.


Karena sudah tidak tahan dengan cacingnya yang sudah meronta untuk di keluarkan, Damar melepas celana pendek yang sedari tadi masih menutupi cacingnya. Setelah semuanya terbuka, ia membuka kedua kaki istrinya lebar-lebar, dan mulai membiarkan cacingnya bekerja. Ia bergoyang naik turun dengan ritme cepat tapi lembut sehingga tidak menyakiti bayinya. Malam ini, pertama kalinya Damar menjenguk dan berkenalan dengan calon anaknya.


Setelah lenguhan yang panjang dari mulut keduanya, Damar langsung tumbang di samping Imel. Tapi sebelum dia merebahkan tubuhnya, ia masih sempat menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan Imel.


Nafas keduanya terdengar tersengal-sengal. Mereka sama-sama memejamkan matanya untuk menetralkan detak jantungnya.


" Mau kemana? " tanya Damar saat ia merasa istrinya bangkit dari tidurnya.


" Mau mandi. " jawab Imel malu-malu.


" Kan tadi udah mandi. Kenapa harus mandi lagi? Besok pagi aja kalau mau sholat subuh. Udah malam. Nggak baik juga ibu hamil mandi malam-malam. " ujar Damar sambil menarik tubuh istrinya supaya berbaring kembali.


" Tapi, aku mau pakai baju dulu. "


" Tidak usah. "


" Dingin. "


" Aku akan memelukmu seperti ini semalaman. Jadi kamu tidak akan kedinginan. " jawab Damar yang kemudian ia meraih tubuh istrinya dan memeluknya erat, menempelkan tubuh polos mereka. Imel tersenyum mendapatkan kejutan yang indah dari suaminya malam ini.


' Mas Dion benar-benar cerdas. Dia memberiku solusi yang solutif. Tidak sia-sia aku berguru padanya. ' batin Damar lalu dia tersenyum tipis.

__ADS_1


***


bersambung


__ADS_2