Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Sosis


__ADS_3

Sore hari yang cerah, beberapa anak manusia sedang duduk berjajar di tepi pantai beralaskan pasir putih. Mereka menatap cakrawala yang menampakkan sinar berwarna orange. Matahari hampir tenggelam di ufuk barat.


Rezky, Ikke, Armell, Seno, baby Dan yang berada di pangkuan sang Daddy, Bryan, Pipit, Leora, Arvin, lalu Dion. Mereka sedang menikmati keindahan yang di suguhkan oleh sang Pencipta. Pipit menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Armell menggenggam tangan baby Danique.


" Arviiinnnn....Mau kemana nak? " teriak Leora karena tiba-tiba anaknya bangun dari duduknya dan berlarian. Ia hendak berdiri menyusul Arvin, tapi tangan Dion menghalanginya.


" Biar aku saja. " ucap Dion ke Leora.


" Tapi tuan...Dia..."


" Nona, biar aku saja yang mengejar Arvin. Kau duduklah di sini dengan tenang dengan mereka. " sahut Dion cepat memotong kata-kata Leora. Bahkan ia sudah bangkit dari duduknya dan segera berlari kecil mengejar Arvin.


" Arviiinn...." panggil Dion sambil mengejar si kecil Arvin yang sedang berlari. Usianya yang sudah menginjak dua tahun lebih tiga bulan itu, membuat anak itu begitu aktif. Ia serba ingin tahu banyak hal. Ia juga ingin mencoba banyak hal.


" Kena kamu. " ucap Dion saat ia berhasil menangkap tubuh gembul Arvin. Lalu ia menggelitik pinggang Arvin dan membuat Arvin tertawa terbahak-bahak.


" Ampuuunnn..." teriak arvin supaya Dion melepasnya.


Akhirnya Dion melepas Arvin dan tidak menggelitiki tubuhnya lagi. " Mamamu khawatir nak. Ayo kita kembali kesana. " ajak Dion sambil menunjuk arah Leora.


Tapi Arvin langsung menggelengkan kepalanya. " Alvin mau ail. Mau main ail. " ucap Arvin dengan mulut cadelnya.


" No, Arvin. Udah sore, Arvin tidak boleh mainan air. Dingin, nanti Arvin bisa sakit. " ujar Dion sambil berjongkok di depan Arvin.


" Alvin mau main ail ooommm...." rengek Arvin.


" Main airnya besok kalau siang-siang gimana? Besok om temenin main air sepuasnya. Sekarang, mending kita jalan-jalan kesana, terus kembali kesini menyusuri pantai. Habis itu, kita bercerita. Mau? " tanya Dion.


Arvin nampak berpikir, tapi akhirnya ia menganggukkan kepalanya.


" Oke. Kalau gitu, Arvin mau jalan sendiri, atau mau naik sini? " tanya Dion kembali sambil menunjuk bahunya.


" Alvin mau dalan ada. " jawab Arvin. Lalu Dion berdiri dan menggandeng tangan mungil Arvin, membawanya jalan-jalan menyusuri pantai sambil memandang indahnya sunset.


Sedangkan tak jauh dari mereka, Leora memperhatikan interaksi dua laki-laki beda usia itu secara intens. Sudah tiga bulan ini Dion mendekatinya. Tapi dia masih belum memberikan jawabannya.


" Kak Leora lihat kan, bang Dion begitu dekat dengan Arvin. Dia juga terlihat begitu menyayangi Arvin. Apalagi yang kak Leora tunggu? Bang Dion juga tampan loh. " ujar Pipit mengagetkan Leora.

__ADS_1


" His...kamu bisa aja. " sahut Leora dengan wajah memerah karena malu.


🧚


🧚


Malam hari di Bali.


Malam itu, mereka mengadakan pesta kecil-kecilan. Barbeque an, makan malam bersama. Sore tadi Seno meminta orangnya untuk berbelanja bahan makanan untuk barbeque an mereka.


Semua berkumpul di halaman belakang dekat kolam renang. Para laki-laki sibuk membakar daging, sosis, dan jagung. Sedangkan para wanita sibuk mempersiapkan yang mau di bakar. Memasak nasi, mempersiapkan bumbu, mempersiapkan sayur sayuran. Sedangkan Arvin, sedari tadi meminta gendong Dion.


" Arvin, turun dong nak. Kasihan om Dion, dia kan lagi bakar-bakar. " rayu Leora.


" Nda mau. Alvin mau maem cocis. " jawab Arvin sambil menggelengkan kepalanya. Ia malah mengalungkan kedua tangannya ke leher Dion erat.


" Iya, nanti kalau sosisnya udah mateng, Arvin maem sosisnya. Sekarang sosisnya biar di bakar dulu sama om Dion. "


" Alvin mau bakal cocis cendili cama ayah. " sahut Arvin, yang kemudian Arvin mengecup pipi Dion.


Glek


" Sejak kapan Arvin memanggil Abang dengan sebutan ayah? Apa yang kau katakan kepadanya hingga dia mau memanggilmu ayah? " tanya Seno sambil menatap Dion tajam.


Dion hanya tersenyum, lalu mengecup pipi gembul Arvin yang ada di gendongannya.


" Awas kalau kau mengajari yang tidak-tidak kepadanya. Jangan lupa, dia juga putraku. " sarkas Seno.


" Ck. Iya, aku tahu. Aku hanya ingin menjadi ayahnya. Apa itu salah, jika aku berusaha memberikan dia keluarga yang utuh? Dia sudah punya dua Daddy. Tapi bukankah kedua-duanya tidak tinggal satu rumah dengannya? Jadi aku menawarinya untuk menjadi ayahnya dan akan selalu bersamanya. Dan dia setuju, memperbolehkan aku untuk menjadi ayahnya. " jelas Dion panjang lebar.


" Eh, jangan cuma anaknya yang di tanya. Arvin mengijinkan mu menjadi ayahnya, tapi bagaimana dengan ibunya? Apa Leora mau menerima kamu menjadi suaminya? " tanya Bryan.


" Aku akan terus berusaha. "


" Aku harap perkataanmu selama ini benar bang. Jangan mempermainkannya. " ujar Seno dengan tajam.


" Kali ini aku serius. "

__ADS_1


" Kalau kau memang serius, cepat kau lamar dia. Jangan sampai keduluan Daddy nya Arvin yang asli keluar dari bui. " tambah Bryan.


" Pasti. Aku akan segera melamarnya. Kalau perlu, malam ini juga. " jawab Dion.


" Nah, sosisnya sudah matang, sayang. Sekarang, Arvin turun, lalu bawa sosis ini ke mama. " ujar Dion ke Arvin yang masih dalam gendongannya.


Arvin mengangguk, lalu turun dari gendongan Dion. Dion memberikan piring yang berisi beberapa tusuk sosial jumbo bakar ke tangan Arvin.


" Hati-hati ya nak. " pesannya sebelum arvin melangkah.


" Kau memberikan sosis jumbo ke mamanya Arvin. Lalu kapan kamu akan memberikan sosismu itu ke dia? " ejek Bryan sambil menunjuk bagian bawah Dion.


" Secepatnya bro. " jawab Dion sambil tersenyum menyeringai.


Malam semakin bertambah malam. Mereka juga sudah menghabiskan apa yang mereka masak tadi. Kini, mereka semua sedang berada di dalam rumah, mengobrol dan bercanda. Sedangkan baby Danique dan Arvin sudah tidur semenjak tadi.


Seno dan Armell berpamitan terlebih dahulu karena mereka tidak bisa membiarkan Danique tidur sendiri lama-lama.


" Nona Leora, bisa kita berbicara sebentar berdua? " ajak Dion.


" E hem...E Hem...." Bryan sengaja berdehem dengan suara keras. " Honey, kita ke kamar yuk. Ngadon anak enak nih kayaknya. Suasana yang mendukung, juga tempat yang mendukung. " ujar Bryan dengan tidak tahu malunya.


" Okeh...Kemon lesgo Abang buleku yang ganteng. Kita ngadon part dua. " jawab Pipit sama seperti suaminya tanpa ada rasa malu. Ia lalu mengamit lengan suaminya. Membuat Rezky dan Ikke menggelengkan kepala mereka.


" Nona Leora, pergilah dengan tuan Dion. Biar saya yang menjaga Arvin. " usul Ikke.


" Apa tidak merepotkan nona? " tanya Leora agak tidak enak hati.


" Tentu saja sama sekali tidak merepotkan nona. Apa anda lupa, dulu saya juga sering menjaga Arvin ketika dia masih bersama Armell. " sahut Ikke dengan senyuman khasnya.


" Baiklah kalau begitu nona Ikke. Sebelumnya aku ucapkan terima kasih banyak. " jawab leora. Ia lalu berdiri dan diikuti oleh Dion. Mereka berjalan berdampingan keluar dari dalam ruangan. Dan setelah mereka berdua berlalu, Ikke juga segera masuk ke dalam kamar untuk menjaga Arvin. Dan Rezky, tetap di ruangan itu sendirian.


***


bersambung


Maaf ya guys.... akhir-akhir ini, othor bikin episode nya terlalu pendek...Entah kenapa, akhir-akhir ini, othor kurang semangat buat nulis... Mungkin efek viewer yang stuck segitu-segitu aja kali ya....Jadi ide brilian othor jarang keluar...🙏🙏🙏

__ADS_1


Jadi, jangan lupa dong...ajakin teman-teman, saudara kelean semua buat mampir di sini....oke....oke...oke.....😘😘🙏🙏


__ADS_2