Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Badmood


__ADS_3

" Cantik ya. Istrinya ya tuan? Atau kekasihnya? " tanya Pipit kembali.


Kali ini, Bryan kembali menatap lekat. Mendongakkan kepalanya karena Pipit tengah berdiri di hadapannya dengan tubuh sedikit membungkuk melihat ponsel Bryan. Menatap Pipit lekat-lekat.


" Selamat malam, Abang bule. " sapa pipit sambil tersenyum manis dan menatap Bryan.


Bryan langsung berdiri ketika sadar jika gadis yang ada di depannya saat ini memang benar-benar istri kecilnya. Pipitpun menegakkan kembali tubuhnya sambil menyimpan kedua tangannya ke belakang.


Bryan menatap Pipit dari atas ke bawah, lalu kembali ke atas. Seolah masih tidak percaya jika yang di hadapannya ini adalah istrinya.


" Kok malah bengong bang? Daripada cuma ngeliatin fotonya, mending ngeliatin yang aslinya aja. Bisa bicara, bisa gerak, bisa di peluk juga. " ujar Pipit kembali.


Tapi Bryan masih tidak bergeming.


" Bang, Abang nggak pengen peluk pipit gitu? Nggak kangen gitu? " tanya Pipit.


Bryan justru menjauhkan tubuhnya dari Pipit. Ia masih tetap diam.


" Abang tega ih. Di samperin istrinya jauh-jauh dari Indonesia, eh malah di cuekin. Naik pesawat aja 16 jam. Lama kan tuh? " gerutu Pipit.


" Kamu kenapa kesini? " hanya itu yang Bryan katakan dan tanyakan. Itupun ia berdiri membelakangi Pipit dan dengan nada bicara yang datar.


Raut wajah Pipit berubah sendu, dan matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak menyangka, kesalahpahaman yang di rasa oleh suaminya, membuat sang suami bersikap sedingin ini terhadap dirinya.


" Bukankah dua minggu yang lalu, Abang bilang akan menemui Pipit dan menanyakan keputusan Pipit? Ini bahkan sudah lebih satu hari. Abang nggak datang, jadi Pipit yang nyamperin Abang bule. " ujar Pipit dengan suara agak bergetar dan sambil meremas tangannya.


" Aku tidak datang, karena aku sudah tahu keputusanmu. Dan aku tidak mempermasalahkan apapun keputusan kamu. Asalkan kamu bahagia. " ujar Bryan. " Dan lagi, kamu seharusnya tidak perlu datang kesini. "


" Abang kan mau bertemu bibinya abang. Jadi Pipit harus mendampingi Abang. "


" Tidak perlu seperti itu. Aku bisa mengatasinya sendiri. Kamu tidak perlu jauh-jauh datang kesini. " sahut Bryan masih tetap membelakangi Pipit.


" Sepertinya Abang benar-benar salah paham. Jangan terlalu mempercayai apa yang mata kita lihat. Karena tidak semua yang kita lihat, tidak seperti apa yang kita duga. "


" Apa yang mata aku lihat, selalu benar. Itulah yang aku percayai. "


" Paling tidak, beri Pipit kesempatan untuk menjelaskan, supaya Abang tidak salah paham lagi. " pinta Pipit.

__ADS_1


" Tidak perlu menjelaskan apapun. " jawab Bryan singkat masih dengan nada bicara yang dingin.


Pipit menghela nafasnya berat. Ia kesal sekarang. Udah badannya capek, ngantuk, lapar, ia bela-belain berangkat dari Jakarta belum sarapan, dan di pesawat tadi ia hanya makan sedikit, eh, sampai sini malah di cuekin kayak gini. Di lihatpun tidak. Ia hanya di sajikan pemandangan punggung.


Plok


Pipit melempar tas ransel kecilnya yang berisi dompet dan ponselnya ke punggung Bryan, dan membuat Bryan mengaduh karena terkejut.


" Aoouu...." Bryan berbalik badan dan melihat ke arah Pipit yang sedang bersedekap sambil menatap kesal ke arahnya.


" Apa-apaan sih? " protesnya.


" Pipit kesel sama Abang. " pekik Pipit dengan bibirnya manyun. " Orang datang jauh-jauh bukannya di sambut dengan senyuman, malah di sambut sama punggung. Emang Pipit bicaranya sama punggung? " lanjutnya lalu membuang muka ke sembarang arah.


Bryan mengambil tas Pipit yang terjatuh, lalu berjalan mendekat ke arah Pipit. Saat Bryan sudah ada di hadapan Pipit, Pipit menatapnya dengan kesal.


" Jangan seperti anak kecil. Dikit-dikit ngambek. " ujar Bryan.


" Abang tuh yang kayak anak kecil. Sukanya marah-marah nggak jelas. " sahut Pipit. " Nggak mau dengerin penjelasan pipit dulu. " tambahnya.


" Penjelasan yang gimana lagi? Kamu mau bilang kalau kamu baikan lagi sama Damar? Aku nggak mau dengerin. " jawab Bryan. " Bikin tambah sakit hati aja. " lanjutnya dengan suara lirih.


Bryan menutup telinganya, " Jangan pake toa. Udah denger juga. " gerutu Bryan.


" Ish, sumpah ya..Abang bener-bener ngeselin hari ini. Tadi Pipit udah ngebayangin, ketemu Abang terus dapet pelukan, terus di ajak makan malam yang romantis. Pipit pikir, Abang bakalan seneng lihat Pipit kesini. Ck. " gerutu Pipit sambil menghentakkan kakinya. " Sebenarnya waktu Abang bilang cinta ke Pipit itu beneran nggak sih? Waktu Abang bilang sayang itu beneran nggak sih? Pipit jadi ragu deh. Kalau kayak gini, percuma dong Pipit buka hati buat Abang bule. Percuma juga Pipit nerima cinta abang. Kan Abang bule nggak beneran cinta sama Pipit. " lanjutnya panjang lebar.


Bryan terkejut dengan kata-kata Pipit. Apa? Pipit membuka hati untuknya? Pipit mau menerima cintanya?


" Kamu bilang apa tadi?" tanya Bryan.


" Bilang apaan? " tanya Pipit balik masih dengan nada kesal.


" Aku akan bertanya sekarang, apa keputusan yang kamu buat? Kenapa kamu sampai susul aku kesini? "


" Tadi katanya nggak mau denger keputusan pipit? Daripada makin sakit hati. " ujar Pipit.


Bryan mengusap wajahnya kasar. Payah! Dia sudah membuat sang istri kesal.

__ADS_1


" Aku akan mendengar apapun keputusan kamu. Biarpun aku harus sakit hati, aku akan tetap mendengarnya. " ujar Bryan.


" Nggak jadi bilang. Pipit udah terlanjur badmood. " sahut Pipit.


( Duh, makin parah kan Bry? Gara-gara siapa coba? Kamu sendiri yang memulai Bry. Jadi kamu yang harus selesaikan. othor bilang.


Iya, iya thoooorrrr...Udah ngerti. Tenang aja, bentar lagi juga jinak. jawab Bryan. )


" Sorry. Aku minta maaf. " ujar Bryan.


Pipit masih diam. Sepertinya dia masih kesal.


" Aku minta maaf. Jangan kesal lagi. " ucap Bryan kembali. Masih tidak ada jawaban. Tapi Pipit melirik ke arahnya. Ia tahu, istri kecilnya itu sedang merajuk. " Katakan, apa yang harus aku lakukan, biar kamu tidak kesal lagi? "


Pipit kembali melirik ke arah Bryan. " Lapar. Pipit lapar. Dari tadi pagi belum makan. " ujarnya.


Bryan menyunggingkan senyum tipis. " Oke, kita makan malam sekarang. Karena kamu udah kelaparan, kita makan di tempat makan yang dekat dari sini. Ayok. " ajak Bryan sambil menggandeng Pipit untuk berjalan mengikutinya.


Mereka pergi ke tempat makan dengan berjalan kaki. Karena letak tempat makan yang di tuju Bryan berada di sekitar taman itu. Tak berapa lama, sampailah mereka di sebuah tenda makan yang cukup ramai.


" Kita makan di sana. " tunjuk Bryan.


Pipit menarik tangan Bryan yang menggandengnya, dan membuat Bryan menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah Pipit.


" Pipit nggak mau kalau makan daging babi. Haram. " ujarnya.


" Pfftt.." Bryan menahan tawanya. " Kamu tenang saja. Aku tidak akan membawamu makan di tempat makan yang menjual barang haram. " ujarnya sambil menarik kembali tangan Pipit. Pipit hanya mengikutinya.


Sampai di tempat makan, Bryan membawa Pipit duduk di salah satu bangku, dan segera memesan makanan. Bryan memesan beberapa jenis makanan.


Tak lama kemudian, makanan yang di pesan Bryan datang. Wajah Pipit tampak berubah berbinar. Matanya terlihat sangat senang. Seperti tidak pernah melihat yang namanya makanan dalam waktu yang lama.


Tanpa menunggu aba-aba, Pipit mulai mencoba semua jenis makanan yang di pesan Bryan. Bryan sampai di buat terkejut melihat nafsu makan Pipit. Ia belum pernah melihat Pipit makan sebanyak itu. Sepertinya Pipit benar-benar sedang kelaparan.


***


bersambung

__ADS_1


Double up untuk hari ini, kelar juga deh....


__ADS_2