
" Baaaangggg......Bang Senoooo....." panggil Pipit dari ruang tamu sampai ruang tengah dengan suara yang sangat keras.
" Ini anak. Datang-datang bukannya salam dulu malah teriak-teriak. " ucap Armell.
" Oh iya, maaf. Assalamualaikum mbak."
" waalaikum salam. " sahut Armell. " Nah, gitu kan enak. "
" Ya udah, sekarang dimana bang Seno mbak? " tanya Pipit dengan tidak sabar. Ia melongok ke dalam, dan celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri.
" Anak ini kenapa sih? Kamu kenapa? Kenapa nyariin Abang kamu? " tanya Armell.
" Penting. Bang Sen...."
" Ada apa sih ini ribut-ribut? " tiba-tiba Seno datang menyela. " Loh, kok..." Ketika melihat Pipit, Seno menunjuk Pipit dengan jari telunjuknya dan terkejut.
" Bang, bang Seno tahu Abang bule dimana? Pipit teleponin, handphonenya nggak bisa. Operator mulu yang jawab. Tadi Pipit samperin ke apartemen, apartemennya kosong. Pipit samperin ke rumah sakit, bagian informasi bilang, bang bule ambil cuti satu minggu. " cerocos Pipit.
" Aku pikir kamu ikut sama dia. " jawab Seno.
" Ikut kemana emangnya bang? "
" Ikut ke Perancis. Bryan berangkat ke Perancis tadi malam. Dia bilang dua hari yang lalu mau pulang ke Perancis, tapi ajakin kamu. " jelas Seno.
Pipit mengerutkan dahinya. " Abang bule nggak pernah bilang apa-apa ke Pipit bang. Apalagi sampai ngajakin Pipit ke Perancis. "
" Padahal dia sudah beli tiket untuk dua orang. Kemarin sehabis beli tiket, dia sempat mampir ke kantor. " ujar Seno.
" Tapi bang bule nggak pernah bilang apa-apa ke Pipit kok bang. Emang bang bule ke Perancis mau ngapain? Ke makam orang tuanya? " tanya pipit.
" Dia bilang pamannya sedang sakit parah, dan nyuruh dia pulang. "
" Apa? Paman? Yang istrinya itu tante-tante girang itu bang? " tanya Pipit.
Seno mengangguk. Raut wajahnya nampak khawatir semenjak ia tahu Bryan tidak membawa Pipit ke Perancis.
" Mas.. sepertinya ada sesuatu yang membuat bang Bryan memajukan kepulangannya ke Perancis. " Ujar Armell yang baru saja bergabung kembali setelah tadi membawa Danique ke Siti.
" Apa? " tanya Seno dan Pipit bersamaan.
" Tadi mbak Siti bilang, kemarin sore melihat mobil uncle B di depan gerbang masuk ke rumah kita. Tapi hanya berhenti di sana sebentar. Habis mengamati ke dalam sebentar, ia lalu menjalankan kembali mobilnya pergi. " cerita Armell.
" Kemarin sore? Jam berapa itu mbak? " tanya Pipit.
" Wah, mbak kurang tahu. Coba kita panggil mbak Siti aja. " Usul Armell. " Mbak Siti....." panggil Armell.
__ADS_1
Tak lama, Siti datang, " Ada apa ya non bos? " tanya Siti.
" Mbak, mbak Siti ingat nggak kemarin bang Bryan kesini jam berapa? " tanya Pipit.
" Waduh, jam berapa ya non? Saya kok kurang tahu pastinya. Soalnya saya tidak melihat jam. Mmmm...." Siti nampak mengingat-ingat. " Kalau tidak salah, non Pipit masih ada di sini kok. Non lagi ngobrol sama mas Damar kalau tidak salah. " lanjutnya. " Oh iya bener. Nona lagi ngobrol sama mas Damar. Soalnya seingat saya, tuan Bryan itu sempat membuka kaca jendelanya, lalu melihat ke arah mas Damar sama non Pipit yang lagi ngobrol. Baru aja saya mau samperin, eh malah udah jalan aja mobilnya. " jelas Siti.
" Mbak...." panggil Pipit sambil menatap Armell cemas. Ia yakin, suaminya pasti salah paham.
" Mbak Siti boleh kembali ke belakang lagi. " ujar Armell. Siti mengangguk, lalu ia undur diri.
" Sepertinya Bryan salah paham. " ujar Seno.
" Iya bang. Lalu gimana ini bang? Kemarin Pipit cuma ngobrol ringan aja sama bang Damar. Bang Damar cuma ngucapin terima kasih ke Pipit udah bikin dia bisa nerima bayinya. Itu aja, nggak lebih. " jelas Pipit.
" Aku jadi makin khawatir sama dia. Kalian tahu sendiri kan traumanya Bryan. "
" Bang, gimana dong ini???" Pipit nampak sangat cemas sekarang. Ia tahu bagaimana Bryan saat berhadapan dengan bibinya.
" Sekarang mau kamu gimana? " tanya Seno.
" Bisa nggak bang, Pipit susulin bang bule ke Perancis? " tanya Pipit dengan wajah memelas.
" Kamu jangan asal bicara Pit. " protes Armell.
" Kamu yakin, mau kesana? " tanya Seno tanpa mengindahkan protesan sang istri.
" Pipit yakin bang. Pipit mau susulin bang bule kesana. "
" Pipit..." bentak Armell.
" Mbak, suami Pipit lagi salah paham sama Pipit. Pipit harus jelasin semuanya sebelum terlambat. Pipit juga khawatir sama bang bule. Dia tidak akan bisa berhadapan dengan bibinya seorang diri, mbak. Pipit harus temenin dia. Pipit harus dampingin abang bule mbak. " nampak raut wajah sedih dari mata Pipit. Bahkan matanya nampak berkaca-kaca.
Seno meraih pundak Armell dan menenangkannya, " Kamu nggak usah khawatir. Adik kamu akan baik-baik saja, baby. Aku akan menyuruh orangku yang ada di Perancis untuk mengawal Pipit sampai dia bertemu dengan Bryan. Dan kita, akan mengantarnya ke bandara. "
Armell nampak menatap wajah adiknya. Armell melihat kekhawatiran yang besar di wajah itu. " Kamu mencintai uncle B? " tanyanya.
Pipit langsung mengangguk.
Armell menghela nafas lega, " Baiklah, kamu boleh pergi. Tapi harus hati-hati. " pesan sang kakak. Pipit kembali mengangguk.
Seno terlihat sedang menghubungi seseorang. Dan tak berapa lama, ia kembali bergabung dengan Armell juga Pipit kembali.
" Satu jam lagi, ada penerbangan ke Perancis. Kita ke bandara sekarang. Rezky sudah membooking tiketnya. " ujar Seno sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
" Satu jam lagi bang? Pulang ke rumah mama, butuh waktu 20 menit. Ke bandara, hampir 45 menit. "
__ADS_1
" Ngapain ke rumah mama lagi? " tanya Seno.
" Lah kan baju-baju Pipit di sana. "
" Udah, nggak usah mikirin baju. Nggak ada waktu lagi. Entar beli baju di sana aja. Nih, Abang bawain kamu kartu. Buat beli keperluan kamu di sana besok sebelum kamu ketemu sama suamimu. " ujar Bryan sambil menyerahkan sebuah kartu berwarna silver ke Pipit. Tentu saja kartu dengan warna yang berbeda dengan yang ia berikan ke sang istri.
Pipit menerima kartu itu sambil melihat ke arah Armell, meminta persetujuan. Ketika melihat Armell mengangguk, Pipit mengambil kartu itu dari tangan Seno.
" Makasih bang. Besok kalau Pipit pulang, Pipit balikin ke Abang. "
" Kartu itu memang Abang bikinkan buat kamu. Mau Abang kasih ke kamu semenjak dulu, suamimu bilang nggak usah. Dia bilang masih bisa memenuhi kebutuhanmu dari hasil keringatnya. " sahut Seno. " Sekarang, kamu simpan kartu itu baik-baik, gunakan jika kamu perlu. " lanjutnya.
Pipit mengangguk.
" Ya udah yuk kita berangkat sekarang. " ajak Seno.
Armell segera memberitahu Siti kalau dia dan suaminya akan pergi mengantar pipit ke bandara. Dan menitipkan baby Dan ke Siti untuk di jaga.
Lalu mereka segera berangkat ke bandara dengan di antar oleh Damar. Kini, meskipun rasa cinta di hati Damar untuk Pipit masih ada, tapi dia sudah benar-benar bisa mengikhlaskan Pipit untuk bahagia dengan laki-laki pilihannya.
Di dalam mobil selama perjalanan, Seno nampak menghubungi seseorang, tapi berulang kali, panggilan itu tidak di angkat. Siapa lagi kalau tidak menghubungi Bryan. Tapi entah kemana laki-laki itu hingga tidak menjawab panggilannya.
Lalu Seno menghubungi anak buahnya yang ada di Perancis. Ia menjelaskan situasinya, dan mengatakan jika orang itu harus menjaga dan mengantar adik iparnya dengan selamat sampai tujuan. Sampai bertemu dengan Bryan tentu saja.
Sampai bandara, Seno membelikan nomer ponsel baru untuk Pipit.
" Gunakan ini untuk berkomunikasi dengan Abang atau kakak kamu jika sudah di Perancis. Abang juga akan menaruh nomer ponsel Bryan yang sedang dia pakai di Perancis sekarang. " ujar Seno.
Pipit lalu memberikan ponselnya ke Seno. Dan Seno segera memasukkan chip baru dan mengatur pengaturan ponselnya.
" Kamu bisa bahasa Perancis emang pit? " tanya Armell.
" Bisa lah kak. Suami Pipit kan orang Perancis. Jadi Pipit belajar bahasa Perancis biar bisa berkomunikasi dengan saudara-saudaranya. "
" Baguslah kalau begitu. "
Tak lama kemudian, terdengar bunyi panggilan. Pipit segera membawa tiketnya masuk dan ia masuk ke dalam pesawat, meninggalkan kakak dan kakak iparnya di ruang tunggu, menunggu pesawat yang ia tumpangi lepas landas.
***
bersambung
Dua episode untuk hari ini, kelar juga....
Bagi yang mau tahu pertemuan Pipit dan Bryan, simak episode yang esok hari...Mulai deh kebucinan mereka berdua....
__ADS_1
Salam lope-lope sekarung buat para readersku...🥰🥰😍😘🙏🙏