Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Sedang tidur pulas


__ADS_3

" Maaf, dok. Saya kesini. Saya hanya ingin tahu keadaan orang yang saya tolong. " ujar Roy saat ia sudah berada di dalam ruangan.


" Dia baik-baik saja. Hanya kelelahan dan sedikit tegang jadi perutnya kram. Itu aja. " jawab Bryan dengan suara yang sudah agak bersahabat.


" Syukurlah kalau begitu. Tapi kenapa dia masih pingsan? "


" Oh, dia sudah tidak pingsan. Dia hanya tertidur pulas. "


Roy manggut-manggut, lalu diam saja sehingga suasana jadi terasa hening. Sebenarnya dia ingin sekali mendekat ke ranjang, tapi ia masih menjaga perasaan.


" Mmm...by the way..Thank you so much for your help. Terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan istri juga anakku. Dan maaf karena selama ini saya selalu bersikap kurang mengenakkan ke kamu. " ucap Bryan sedikit terkekeh.


" Iya dok. Sama-sama. Sudah kewajiban kita sebagai sesama manusia untuk saling tolong menolong. Dan untuk sikap dokter ke saya, saya rasa masih wajar. Wajar jika seorang suami bersikap tidak mengenakkan ke mantan pacar istrinya. Apalagi jika mantannya itu memang punya niat mengambil kembali kekasihnya itu. " ujar Roy keceplosan membuat Bryan memelototkan matanya.


" I-itu dulu dok. Sebelum saya melihat Fitria sudah melendung perutnya. He...he...he..." tambahnya saat melihat raut wajah Bryan yang berubah. " Sekarang saya sih enggan untuk mengambilnya kembali. Kalau saya ambil dia, saya harus mengambilnya beserta bonusnya. Dan saya sepertinya belum siap untuk menjadi seorang ayah. Ha...ha...ha..." canda Roy garing.


Naomi sudah berdetak kencang jantungnya saat mendengar ucapan Roy tadi. Rasanya ingin sekali menyumpal mulut laki-laki itu. Tapi sekarang, melihat raut wajah suami sahabatnya yang cemburuan akut itu berubah cerah lagi, Naomi bisa bernafas lega meskipun alasan yang di buat Roy lumayan norak.


" Hei, anakku pasti berwajah bule sepertiku. Jadi kau tidak pantas menjadi ayahnya. Karena tidak akan ada orang yang percaya jika dia anakmu. " ejek Bryan dengan narsisnya. Membuat Roy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Oh iya, bagaimana dengan bahumu? Mumpung sudah berada di sini, periksalah ke dokter. Aku akan meminta temanku untuk memeriksa bahumu? "


" Tidak perlu dok. Tadi sudah di beri salep sama di suntik anti nyeri di poli kampus. Dan sepertinya sudah tidak apa-apa. Hanya memar kecil. " jawab Roy sambil memegangi bahunya yang terluka saat menolong Pipit tadi.


Bryan mengangguk menjawab. Karena hari sudah sore, Naomi berinisiatif untuk berpamitan.


" Pak dok, sudah sangat sore. Kami mau minta pamit dulu. Pengennya juga nunggu Fitria sampai dia bangun. Tapi sepertinya dia sedang asyik di dunia mimpinya. Mungkin dia sedang bermimpi bermain bunge jumping. He...he...he..." canda Naomi.


" Mungkin saja. " sahut Bryan sambil terkekeh.


" Ayo Roy kita let's go back home. " ajak Naomi.


" Gaya kamu sok-sokan pakai bahasa Inggris. Belepotan gitu. " protes Roy.

__ADS_1


" Suka-suka gue. " sahut naomi sambil mencibir ke arah Roy. Ia berjalan mendekat ke arah Pipit. Lalu mengecup pipi Pipit sekilas.


" Kabari saya jika dia sudah bangun, pak dok. " pinta Naomi sambil mengelus pipi sahabatnya.


" Iya. " jawab Bryan.


Naomi lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Bryan. Bryan berdiri dari duduknya dan menerima uluran tangan Naomi.


" Selamat sore, pak dok. Assalamualaikum. " pamit Naomi.


" Waalaikum salam. " sahut Bryan.


Roy mendekat ke Bryan dan juga mengulurkan tangannya. Bryan pun menerima uluran tangannya.


" Sekali lagi, terima kasih banyak, Roy. " ucap Bryan.


" Sama-sama dok. Mmmm....kalau besok saya kesini lagi ingin menjenguk dia, apa boleh? " tanya Roy dengan hati-hati.


" Saya tidak akan berani macam-macam dok. Apalagi, Fitria tidak mungkin mau dengan saya yang butek begini. " ujar Roy sambil menunjuk wajahnya. " Karena dia sudah punya yang bening. " lanjutnya sambil terkekeh. Membuat Bryan ikut terkekeh.


Lalu Naomi dan Roy meninggalkan ruangan bersama-sama. Dan Bryan kembali ke tempat duduknya tadi.


Tak lama setelahnya, pintu ruang perawatan kembali terbuka. Ah, ternyata Armell dan Seno. Armell berjalan dengan tergesa-gesa.


" Ya Allah dek....kamu kenapa? " tanya Armell dengan panik sambil menggenggam sebelah tangan Pipit. Bahkan air matanya sudah berjatuhan.


" Baby, aku sudah bilang ke kamu dari tadi. Kamu tenang. " pinta Seno sambil meraih pundak Armell.


" Dia baik-baik saja, kakak ipar. " sahut Bryan.


" Baik-baik saja gimana? Dia pingsan begini kok di bilang baik-baik saja. " pekik Armell dengan nada bicara juteknya.


" Baby..." Seno mencoba menenangkan.

__ADS_1


" Dia ini keluargaku satu-satunya mas. Hanya tinggal dia yang aku punya. Kalau adik aku ini kenapa-napa, gimana aku harus bertanggung jawab sama bapak sama ibu? Bapak sama ibu pasti besok bakalan marahin aku habis-habisan di sana. " kini gantian Seno yang kena semprot.


Seno menelan salivanya dengan susah payah. Ia sudah mati kutu jika istrinya sudah dalam mode galak seperti ini. Sedangkan Bryan malah menikmati drama yang sedang ada di depannya sambil tertawa tipis menertawakan sahabatnya tentu saja.


" Baby, kamu nggak menganggapku keluargamu juga kalau begitu? " kini Seno malah ikut-ikutan merajuk. Sepertinya Seno harus berakting supaya istrinya tidak jadi marah sama dia.


" Ya....bukan begitu maksudku mas. " Armell menggaruk kepalanya karena bingung sendiri. " Mas kan suamiku. Daddy nya anakku. Ah ..tau'lah. " lanjut Armell.


" Kalian ini malah berantem. " sahut Bryan. " Kakak iparku, kamu tidak usah khawatir dan panik seperti itu. Adik kamu ini hanya sedang tidur pulas. Dia tidak pingsan. " lanjut Bryan.


" Ha????" Armell dan Seno di buat melongo dengan keterangan Bryan.


" Bukannya tadi waktu uncle telepon, bilangnya kalau Pipit pingsan? " tanya Armell.


" Iya. Tadi dia memang pingsan. Karena terlalu kecapekan dan dehidrasi. Tapi saat sampai di rumah sakit, dia sadar. Tapi terus tidur. Sampai sekarang belum bangun. " jelas Bryan.


" Hah. Alhamdulillah.... Armell nggak jadi di marahi bapak sama ibu. " ucap Armell bernafas lega. Lalu ia mengusap air mata yang masih menetes di pipinya. Dan Seno mengusap tengkuknya sambil berkacak pinggang.


" Oh iya, tadi pakaian uncle B sama punya Pipit mana mas? " tanya Armell. Tadi saat telepon, Bryan sempat minta tolong untuk di bawakan baju ganti. Karena tidak mungkin dia meninggalkan istrinya di rumah sakit sendirian.


" Itu, aku taruh di atas sofa. " sahut Seno sambil menunjuk ke arah sofa dimana tadi dia meletakkan tas pakaian.


" Mending uncle B mandi sekarang. Pipit biar kita yang jagain. Oh iya, tadi Mell juga sempat bawain uncle makan. Uncle pasti belum makan semenjak tadi. " ujar Armell.


" Terima kasih banyak, kakak ipar. " ucap Bryan sambil tersenyum. Lalu ia beranjak berdiri dan berjalan menuju sofa, mengambil sepasang baju dan handuk, lalu ia masuk ke dalam kamar mandi.


Armell duduk di kursi yang tadi di tempati Bryan. Ia membelai rambut Pipit penuh dengan kasih sayang. Seno dengan setia berdiri di samping sang istri yang masih nampak lumayan sedih. Tangannya merangkul pundak istrinya.


" Kamu ini dek....dek..." ucap Armell.


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2