Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Bingung


__ADS_3

" Honey, kamu sekarang lagi hamil. Ada anak kita di sini. " ujar Bryan singkat dan jelas.


Pipit terdiam dengan raut wajah yang tidak terbaca.


Tiba-tiba Pipit bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Bryan yang masih duduk di kursinya. Bryan menatap istrinya yang telah menjauh. Otaknya sedang proses loading. Kenapa sang istri diam saja. Tidak marah-marah, tidak mengomel, juga tidak jingkrak-jingkrak karena bahagia mendengar kabar ini. Bryan saja sudah sedari tadi ingin loncat-loncat saking bahagianya bakalan punya debay.


" Honey, tungguin. " Bryan baru tersadar saat istrinya sudah semakin menjauh. Dengan langkah panjangnya, ia segera menyusul sang istri.


Bryan terus mengikuti sang istri dari belakang. Ia tidak ingin bertanya atau bicara dulu dengan istrinya. Ia ingin mengamati terlebih dahulu raut wajah Pipit. Jangan sampai dia salah ambil tindakan. Bumil sangatlah sensitif. Bryan sangat tahu hal itu.


Bryan terus mengikuti kemana Pipit melangkah. Bryan sedikit bernafas lega saat melihat Pipit berjalan menuju ke arah mobilnya terparkir tadi pagi. Paling tidak, Bryan sedikit lega karena ternyata istrinya itu tidak berbuat yang aneh-aneh.


Tuit....tuit


Bunyi remote control mobil Bryan. Bryan membuka kunci mobil dari kejauhan. Tanpa menunggu Bryan, Pipit langsung masuk dan duduk dengan manis di dalam mobil. Bryan yang melihat, tersenyum tipis.


' Istriku memang sangat menggemaskan. ' batin Bryan.


Bryan segera menyusul masuk ke dalam mobil. Ia menoleh sebentar ke arah istrinya. Mengusap rambutnya, lalu memasangkan seat belt sang istri saat ia melihat Pipit belum memasang seat beltnya.


Perlahan, Bryan mulai menjalankan mobilnya keluar dari area parkir rumah sakit. Ia menjalankan mobilnya sambil sesekali menoleh ke arah istrinya.


Bryan membelokkan mobilnya masuk ke area parkir sebuah supermarket yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.


" Mau beli camilan? " tanyanya ke Pipit .


Pipit menggeleng dengan pandangan yang masih belum terbaca oleh Bryan.


" Atau mau ikut turun? " tanyanya lagi. Pipit kembali menggeleng.


" Oke, kalau gitu tunggu di sini, jangan kemana-mana. Aku mau beli sesuatu. " pinta Bryan.


Kali ini Pipit mengangguk. Setelah suaminya masuk ke dalam supermarket, Pipit menatap perutnya yang masih rata. Pikirannya berkecamuk. Ia bingung dengan situasi yang sedang di hadapinya. Hatinya bercabang, antara bahagia karena Tuhan telah memberikan kepercayaan yang sangat besar kepadanya. Tapi hatinya juga sedih karena ia takut tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya kelak karena ia masih begitu muda.


Pipit ingin sekali mengelus perutnya yang masih rata, tapi ia urungkan. Ia takut dengan dirinya sendiri.


Tak lama, Bryan kembali dengan menenteng beberapa paperbag yang isinya adalah beberapa merk susu ibu hamil rasa vanila dan strawberry, juga berbagai macam camilan sehat untuk ibu hamil.


Bryan memasukkan belanjanya di jok belakang, lalu ia kembali menjalankan mobilnya keluar dari area parkir.


Sampai di depan pekarangan rumah, Pipit segera turun dari dalam mobil tanpa berkata apa-apa. Ia meninggalkan suaminya yang masih agak bengong di dalam mobil.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Bryan ikut turun. Sebelum masuk ke dalam rumah, Bryan memanggil satpam rumahnya.


" Pak Min, tolong bawakan belanjaan yang ada di dalam mobil ke rumah ya. " pinta Bryan.


" Baik pak dokter. " sahut pak min, satpam yang baru satu bulan ini bekerja di rumah Bryan. Atas saran Seno, Bryan akhirnya mengambil dua orang satpam untuk menjaga rumahnya. Dan satpam itupun atas rekomendasi dari bagian keamanan Adiguna group. Tentu saja bukan orang sembarangan.


Setelah memberikan kunci mobil ke pak min, Bryan buru-buru masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, ia tidak menemukan sang istri. Bryan segera naik ke lantai dua untuk melihat istrinya apakah berada di kamar atau tidak.


" Honey..." panggil Bryan saat ia masuk ke dalam kamar dan mendapati sang istri sedang berbaring miring membelakangi pintu kamar di atas ranjang.


Bryan berjalan mendekat ke ranjang. " Honey..." panggil Bryan sambil menyentuh bahu Pipit perlahan.


" Nggak ganti baju dulu? " tanya Bryan.


Pipit menggeleng.


" Nggak mau makan dulu? " tanya Bryan kembali. Dan Pipit lagi-lagi hanya menggeleng.


" Nggak mau...."


" Bang, pipit nggak mau apa-apa. Pipit hanya mau tidur, ngantuk. " potong Pipit.


Bryan menghela nafas panjang. " Baiklah, tidurlah kalau begitu. Aku akan keluar biar tidak mengganggumu. " pamit Bryan lalu ia hendak mengecup bibir Pipit, tapi Pipit segera menghindar. Entah kenapa, Pipit tiba-tiba tidak suka jika suaminya mencium bibirnya.


Sampai di lantai bawah, Bryan memutuskan untuk pergi ke rumah Seno yang ada di sebelahnya. Bryan mendatangi rumah Seno lewat pintu penghubung antara halaman rumahnya dan halaman rumah Seno.


" Sore dok. " sapa Damar.


" Sore, Dam. " sahut Bryan. " Apa Seno dan Armell ada di rumah? " tanya Bryan kala melihat mobil yang biasa di pakai Seno ada di tempat parkir.


" Ada dok. Kebetulan tuan Seno pulang cepat hari ini. " jawab Damar.


" Ngomong-ngomong, bagaimana kabar istrimu? Bukankah sudah mendekati hari kelahiran ya? " tanya Bryan.


" Iya dok. Menurut dokter, HPL nya sekitar seminggu lagi. " jawab Damar.


" Terus, kenapa kamu masih di sini? " tanya Bryan.


" Kan saya masih bekerja dok. "


" Ck. Kamu ini bagaimana? Yang namanya HPL itu belum tentu benar. Bisa jadi istrimu melahirkan sebelum HPL. Dan jika hal itu terjadi, dan kamu tidak berada di sisinya, bagaimana? Siapa yang akan membawanya ke rumah sakit? Memangnya dokter kandungan yang merawat istrimu tidak memberitahu? " tanya Bryan.

__ADS_1


" Tidak dok. " jawab Damar.


" Ck. Payah. Pasti kamu tidak memeriksakan istrimu di rumah sakitku. "


" Memang tidak dok. He...he...he..." ucap damar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " Habisnya kalau di rumah sakit dokter Bryan praktek kan mahal. Soalnya kan rumah sakit paling bonafit di Jakarta. " lanjut Damar.


" Kamu ini. Tuan Adiguna kan pemilik saham terbesar di rumah sakit itu. Jadi otomatis tuan mudamu juga pemiliknya. Dengar Dam, jika istrimu melahirkan, bawa dia ke rumah sakit M. Jangan ke rumah sakit manapun. Dan sekarang, lebih baik kamu pulang, temani istrimu di rumah. Biar aku yang bicara sama Seno. " ujar Bryan.


" Tapi dok..."


" Ck. Sudahlah. Percayalah sama aku. Kamu pulang sekarang. Kalau istrimu mau melahirkan, hubungi aku. Aku akan minta tolong dr Ratna untuk menangani istrimu. "


" Terima kasih banyak, dok. " ucap Damar. " Kalau begitu, saya mau pamit dulu sama tuan Seno dan nona Armell. "


" Barengan. Aku juga mau menemui mereka. " ucap Bryan.


Damar mengangguk, lalu mempersilahkan Bryan berjalan terlebih dahulu.


" Oh iya, Dam. " Bryan tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membuat Damar sedikit terkejut.


" Ada apa ya dok? " tanya Damar.


" Dulu waktu istrimu tahu jika dia sedang hamil, bagaimana reaksinya? " tanya Bryan sambil mengerutkan keningnya.


" Kebetulan waktu itu saya tidak ada di dekatnya dok. Jadi saya kurang tahu. Tapi menurut cerita ibu, Imel sangat bahagia hingga dia menitikkan air matanya. "


Bryan manggut-manggut, lalu kembali berjalan.


" Memangnya kenapa dok? " tanya Damar sambil berjalan mengikuti Bryan dari belakang. " Apa nona Pipit juga sedang hamil? "


Bryan langsung membalikkan badannya menghadap Damar, " Bagaimana kami bisa tahu? Aku kan belum mengatakannya kepadamu. Apa jangan-jangan istriku yang sudah memberitahumu? " tanya Bryan dengan pandangan mengintimidasi.


Damar tersenyum, " Saya hanya menebak dok. Saya bahkan tidak pernah berbicara lagi dengan nona Pipit kecuali ada hal yang penting. Saya tadi menebaknya, karena tiba-tiba dokter Bryan bertanya reaksi istri saya saat tahu ia hamil. "


" Oh..." sahut Bryan sambil manggut-manggut. Ia pun kembali berjalan. " Pipit memang sedang hamil. Tapi anehnya, dia langsung terdiam tanpa bicara apapun saat mengetahui kalau dirinya sedang hamil. Bahkan raut wajahnya juga tak terbaca. " lanjutnya.


" Menurut yang pernah saya baca, perempuan hamil kan memang suka aneh-aneh dok. " sahut Damar.


" Mungkin saja. " jawab Bryan pendek.


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2