
Hari berganti. Hari ini, Bryan dan Pipit berencana pergi ke rumah Bryan yang kini di tempati paman dan bibinya. Saat ini mereka sedang bersiap-siap untuk pergi.
" Bang, ini yang milihin baju siapa sih? " tanya Pipit sembari melihat penampilannya di depan kaca. Semalam, Bryan meminta tolong resepsionis untuk membelikan baju untuk istri kecilnya itu.
Dan ternyata, si resepsionis membelikan baju west style. Celana mirip hot pant, blouse tanpa lengan dengan kerah rendah sehingga dua gunungnya agak sedikit nongol.
Pipit menarik kerah blousenya, berusaha supaya dadanya tertutup. Tapi percuma saja.
Mendengar pertanyaan Pipit, Bryan seketika menoleh dan mengamati penampilan Pipit. " ****! " umpatnya. Ia mendekati Pipit, lalu memutar tubuh Pipit.
" Lepas bajunya. " titah Bryan.
Pipit mendongak menatap Bryan, " Maksudnya? Mau nambahin kreditan? " tanya Pipit.
Bryan langsung menyentil kening Pipit dan membuat Pipit mengaduh sambil mengelus keningnya.
" Kamu mau keluar pakai pakaian kayak gitu? Kalau di dalam kamar, fine. Nggak pa-pa kamu makainya."
" Makanya tadi Pipit tanya, yang beliin baju siapa? Abang kan? "
" Ya aku. Tapi aku minta tolong sama resepsionis buat beliin bajunya. Nggak tahunya, style dia seperti ini. "
" Terus gimana dong sekarang? " tanya Pipit. " Eh, bukannya di sini tuh biasa ya pakai baju kayak gini? Semalam banyak Pipit lihat mereka juga pakai baju kurang bahan kayak gini. "
" Ck. Kamu orang Indonesia. Nggak pantas pakai baju terbuka kayak gitu. "
" Bukannya laki-laki suka ya kalau lihat cewek pakai baju seksi kayak gini? Emang abang nggak suka? Yakin? Bukannya cewek yang pernah Abang pacari juga suka pakai baju kayak gini? Dokter siapa dulu bang namanya? Yang kalian beradegan mesum di lift itu? " tanya Pipit sambil menatap tajam ke arah Bryan.
Bryan mengusap wajahnya kasar. ' Salah bicara sedikit saja, bisa runyam duniaku. ' gumam Bryan dalam hati.
" Aku tidak suka jika gadis yang aku cintai, memakai baju terbuka kayak gini di luaran dan di lihat mata lain selain mataku. " sahut Bryan sambil menarik Pipit ke dalam rengkuhannya.
" Hanya aku saja yang boleh menikmati keindahan tubuh ini. Hanya aku yang boleh merasakan indahnya tubuh ini. Cup...cup...cup..." lanjutnya lalu mengecup bibir, telinga, lalu leher Pipit.
Spontan Pipit menjauhkan kepala Bryan dari tubuhnya. Ia tidak akan mau di kredit dulu. Ia hanya mau di bayar cash.
" Stop, Abang. Jangan di kredit. Pipit nggak mau. " pekik Pipit membuat Bryan terkekeh. " Terus sekarang, Pipit pakai baju apa ke rumah paman? "
" Pakai baju kamu yang kemarin aja. Nanti sehabis dari rumah paman, kita beli baju buat kamu selama kita di sini. "
" Ihh, bau dong bang. Kan udah Pipit pakai selama 24 jam. "
__ADS_1
" Tidak masalah. Yang penting, tubuh kamu ketutup. Entar pakai parfum yang banyak, biar wangi. " sahut Bryan. " Udah sana, buruan ganti baju. " lanjutnya.
Pok
Bryan menepuk pant** Pipit pelan.
" Ih, Abang ah. " protes pipit sambil memegangi pant**nya dan menatap tajam ke arah Bryan.
Tapi ia juga segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti bajunya dengan bajunya yang kemarin.
Sampai kamar, Pipit menyemprotkan parfum Bryan ke pakaiannya. " Nah, wangi. " ujarnya.
" Eh, bang, kok resepsionisnya tahu ya ukuran CD sama br* Pipit? Kan dia juga nggak lihat Pipit. "
" Ya aku lah yang kasih ukurannya. "
" Kok Abang tahu ukuran Pipit? "
" Ya tahulah. Semalam pas aku pegang, langsung ketahuan ukuran kamu berapa. "
" Huh...Tahu lah yang sering megang punya banyak perempuan. " jawab pipit sambil mencibir.
" Udah, nggak usah di bahas masa lalu aku. Entar bikin kamu badmood lagi. Mending ayo kita berangkat sekarang. "
🧚
🧚
Tepat pukul 11 siang waktu Perancis, Bryan dan Pipit sampai di depan gerbang rumah yang cukup besar dan mewah.
" Ini rumah orang tua Abang dulu? " tanya Pipit sambil memajukan duduknya sehingga ia dekat dengan kaca depan mobil.
Bryan hanya mengangguk. Wajahnya terlihat tegang dan pucat. Sepertinya traumanya kembali. Ia menggosok-gosokkan tangannya di atas pahanya. Pipit menyadari itu. Lalu ia kembali duduk seperti semula. Ia raih tangan Bryan dan menggenggamnya, mencoba menyalurkan kekuatan.
" Abang harus bisa mengendalikan diri. Ada Pipit di sini yang akan selalu ada di samping Abang. Abang pasti bisa menghilangkan trauma Abang. " ujar Pipit.
Bryan menoleh dan mendapati senyum manis dan tulus dari sang istri. Sejuk rasa hatinya. Ketegangan yang tadi ia rasakan seperti menguap begitu saja setelah menatap mata bening dan belok milik istri kecilnya. Kelembutan dari tatapan yang telah membuatnya jatuh cinta sedalam-dalamnya.
" Kita keluar sekarang? " tanya Pipit saat ia menyadari tangan Bryan sudah tidak sekaku dan wajahnya juga sudah tidak setegang tadi.
Bryan mengangguk lalu membuka pintu mobilnya diikuti oleh Pipit. Saat hendak membuka pintu rumah, Pipit menghentikan langkahnya, " Bang, kayaknya ponsel Pipit ketinggalan di mobil. Abang masuk aja dulu nggak pa-pa kan? Pipit mau ambil hp dulu. "
__ADS_1
Bryan menjawab, " Iya nggak pa-pa. Ini kuncinya. "
Pipit mengambil kunci itu dari tangan Bryan, lalu ia membalikkan badannya dan segera pergi ke mobil. Sedangkan Bryan, setelah menarik nafas dalam-dalam, ia membuka pintu rumah yang dulu adalah milik orang tuanya itu.
Sampai di dalam rumah, Bryan langsung di sambut oleh sang bibi.
" Oh, keponakan bibi tersayang. " sapa sang bibi sambil menghampiri Bryan dan memeluknya, membuat Bryan mematung seketika.
" Keadaan pamanmu semakin memburuk, Bryan. Bagaimana ini??Hiks...hiks..." ujar sang bibi dengan akting sedihnya. Ia langsung menyandar di lengan kekar Bryan, membuat Bryan benar-benar merasa risih. Tapi ia tidak punya cukup kekuatan untuk menjauhkan tubuh sang bibi darinya. Tubuhnya kembali menegang.
" Maaf, Pipit lama. " suara Pipit seperti air di gurun pasir bagi Bryan.
Mendengar suara perempuan, membuat sang bibi menjauhkan tubuhnya dari Bryan dan menoleh ke belakang. Ia mendengus kesal melihat Pipit ada di sana. Ia tadi sudah merasa senang karena keponakan tersayangnya datang ke rumahnya dan senangnya lagi, suaminya sedang dalam keadaan tak berdaya. Pikirannya sudah melayang kemana-mana dan terbang begitu tinggi. Tapi kini bayangan itu langsung terjatuh, terhempas di tanah.
Pipit yang melihat tangan bibi Bryan masih bergelayut di lengan Bryan, segera menghampiri.
" Halo bibi, apa kabar? " sapa pipit sambil menyodorkan tangannya. Yang otomatis membuat bibi melepas pegangannya di lengan Bryan untuk menerima uluran tangan Pipit. Setelah sang bibi melepas tangannya, Bryan bergeser mendekat ke Pipit, lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Pipit. Hal itu tak luput dari pandangan mata sang bibi. Sambil menyalami Pipit, ia berdecih.
" Maaf, kami mau bertemu dengan paman. " ujar Bryan tanpa mau melihat ke arah sang bibi.
" Pamanmu ada di kamarnya. Ayo. " ajak sang bibi. Ia lalu berjalan dan Bryan juga Pipit mengikutinya dari belakang.
Ceklek
Bibi membuka pintu sebuah kamar. Terlihat sang paman sedang tidur di atas ranjang dan tubuhnya nampak kurus.
" Paman. " panggil Bryan seraya mendekati ranjang.
" Bryan .." sahut sang paman sambil membuka matanya dan menoleh ke arah kanan. Senyum tipis terbit dari sudut bibirnya. Ia mengulurkan tangannya dan Bryan menyambutnya.
" Bagaimana keadaan paman? " tanya Bryan.
" Aku baik-baik saja. " jawab sang paman. " Nichole, aku ingin bicara dengan mereka berdua. Tolong tinggalkan kami. " ucapnya pada sang istri.
" Sayang..."
" Tolong..." potong paman Bryan.
Sang bibi kembali mendengus kesal dan segera keluar dari dalam kamar, lalu menutup pintu kamar itu.
***
__ADS_1
bersambung