Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Ulet Bulu


__ADS_3

Jenazah ibu sudah di kebumikan sore itu juga. Meskipun masih sangat sedih dan berduka, tapi Pipit dan Armell berusaha untuk tetap tegar melepas kepergian sang ibu. Mereka mengikuti semua ritual mulai dari memandikan hingga ketika jenazah sang ibu di masukkan ke liang lahat hingga akhirnya tertutup oleh gundukan tanah merah.


Bryan dan Seno dengan sabar dan ikhlas selalu mendampingi istri-istri mereka tercinta. Setelah acara pemakaman, semua kembali ke rumah. Rumah Pipit masih nampak ramai karena saudara- saudara dari ibu masih berkumpul di sana.


Ada beberapa mereka yang datang dari luar kota, memutuskan untuk menginap satu malam di rumah pipit. Dan saudara Pipit yang dari luar kota, yang memang belum mengetahui tentang pernikahan Pipit dan Bryan di buat terkejut.


Dulu mereka telah di kejutkan dengan pernikahan Armell juga Seno. Tanpa ada kabar berita, tiba-tiba mereka mendapatkan undangan resepsi pernikahan Seno dan Armell. Dan terkejutnya lagi, Armell menikah dengan seorang putra pengusaha yang kaya raya. Bahkan ada saudara yang memang agak julid orangnya, menganggap Armell yang merayu Seno. Bukan hanya julid sebenarnya, tapi ia sekeluarga memang selalu merasa iri dengan keluarga Bu Ani sepupunya.


Dan kini mereka semua di kejutkan dengan kenyataan jika Pipit juga telah menikah dengan laki-laki yang notabenenya, berusia jauh di atas Pipit. Setahu mereka, Pipit baru saja lulus SMA. Tapi ternyata dia malah sudah menikah. Kembali lagi, keluarga sepupu ibu Pipit merasa iri dan tidak terima. Armell mendapatkan suami seorang putra pengusaha, dan kini Pipit mendapatkan suami seorang dokter yang lumayan terkenal, bule lagi.


Sepupu Bu Ani itu berspekulasi kalau Pipit pasti sudah menyerahkan diri ke bule itu makanya dia cepat-cepat menikah. Tapi Pipit juga Armell menanggapi semua kejulidan tantenya itu dengan masa bodoh.


Malam itu, semua sedang bersiap untuk mengadakan pengajian malam pertama meninggalkannya Bu Ani. Kala itu, Bryan sedang berada di dapur untuk membuat kopi sendiri karena sang istri sedang menerima tamu para tetangga yang akan ikut mengaji.


Tiba-tiba, sepupu Pipit yang anak dari saudara julid ibu menghampiri.


" Lagi bikin apa kak? " tanyanya.


Bryan menoleh sebentar lalu tersenyum dan kembali melihat bubuk kopi yang sedang ia tuang.


" Ini, mau bikin kopi. " jawab Bryan.


" Pipit kemana kak? Kok bukan Pipit yang buatin? Seharusnya kan dia sebagai istri yang bikinin kakak kopi. Sini kak, Siska buatin. " tawar saudara sepupu Pipit yang bernama Siska itu.


" Terima kasih. Pipit kan sedang menerima tamu. Saya bisa bikin sendiri. " jawab Bryan.


" Kak Bryan, boleh nggak Siska bertanya? "


" Hem. " sahut Bryan hanya dengan berdehem. Ia sebenarnya agak malas meladeni saudara istrinya yang satu ini. Ia sudah bisa menilai karakter gadis yang ada di sebelahnya ini dari cara dia berbicara dengan Pipit juga Armell. Begitu juga dengan cara bicara ibu Siska .


" Kak Bryan kenapa kok mau menikahi Pipit? Masih kecil gitu. Di paksa sama Tante Ani ya? Pipit tuh emang agak ganjen kak orangnya. Kakak pasti di godain sama dia kan? Terus kakak khilaf, terjebak dengannya. Seharusnya kakak jangan mau di suruh nikahin dia. Kakak yang rugi loh. Mending kak Bryan cari gadis baik-baik, yang tidak suka gonta-ganti pacar. " ujar Siska panjang lebar.

__ADS_1


" Emang Pipit suka gonta-ganti pacar? "


" He em. Pacarnya banyak kak. "


" Darimana kamu tahu? Kan kamu tidak sering bertemu dia "


" Ya tahu lah. Kan aku saudaranya. "


" Oh..."


" Mending kak Bryan tinggalin dia, cari perempuan yang lebih baik dari dia. Dia juga masih terlalu muda untuk kak Bryan. Apa enaknya coba punya pasangan masih kecil gitu? " ucap Siska penuh dengan kemodusan.


" Terus, yang lebih dari dia, terus yang tidak terlalu muda itu yang seperti apa? " tanya Bryan memancing.


Siska nampak tersenyum malu-malu. " Ya ..kayak Siska misalnya. " jawab Siska pelan. " Perempuan seperti Siska ini jauh lebih pantas buat mendampingi kak Bryan yang seorang dokter terkenal. Cantik, sudah dewasa, pasti tidak malu-maluin kalau di ajak kondangan. "


Bryan menahan tawanya. " Cantik? Lumayan sih. Dewasa? Mungkin. Karena yang jelas usia kamu di atas Pipit. "


" Tapi sayang, saya masih lebih menyukai yang orisinil. " lanjut Bryan.


" Bang ..." panggil Pipit.


" Iya honey. " sahut Bryan.


" Pipit cariin ternyata Abang di sini. " ucap Pipit sambil mendekati Bryan.


" Iya, pengen ngopi. Jadi ke dapur bikin kopi. "


" Kenapa nggak minta sama Pipit ..Kan bisa Pipit bikinin. " protes Pipit .


" Nggak perlu honey. Aku bisa buat sendiri. Lagian kamu kan baru menerima tamu ibu-ibu yang pada mau ikut mengaji. " ucap Bryan sambil merangkul mesra bahu Pipit.

__ADS_1


Sedangkan di sebelah mereka, Siska memandang mereka dengan pandangan tidak suka. ' Ganggu aja orang lagi pedekate. ' gerutu Siska dalam hati.


" Eh, ada sepupuku yang cantik rupanya. " sapa pipit sambil menoleh ke sebelah. " Di gangguin ya bang sama ulet bulu? " tanyanya mengalihkan pandangannya menatap Bryan.


" Bukan di gangguin, honey. Dia cuma ini...tadi nawarin diri buat gantiin kamu. " sahut Bryan santai. Pipit memicingkan matanya menatap Bryan.


" Gantiin Pipit? Emang Pipit mau kemana pakai dia nawarin diri buat gantiin? "


" Dia bilang, dia itu lebih cantik dan lebih seksi dari kamu. Lebih dewasa juga. " Bryan masih tetap ada santai menjawab pertanyaan sang istri. Ia menyenderkan pinggangnya di meja dapur sambil tangannya melingkar di pinggang istrinya.


" Terus Abang mau gitu sama dia? Daripada di gantiin sama dia, mending Pipit di gantiin sama mbak Siti. Jelas lebih dewasa, pinter ngurus anak kecil. " Sahut Pipit sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Bryan.


" Sayangnya...Sama sekali nggak tertarik. Aku lebih suka sama yang imut, yang nggak menor kalau dandan. Dan belum pernah di jamah sama laki-laki manapun. Aku suka sama gadis yang seksi, tapi ia tidak memamerkan keseksiannya dengan memakai baju yang press body. Aku suka gadis yang memperlihatkan keseksiannya hanya kepadaku. " ucap Bryan sambil menatap dalam mata coklat milik Pipit. Lalu ia mengecup bibir ranum milik Pipit.


Dan hal itu membuat Siska semakin geram. Ia lalu keluar dari dapur meninggalkan pasangan yang menurut Siska terlalu lebay itu.


Sepeninggal Siska, Bryan melepas bibirnya dari bibir Pipit.


" Kayak rubah aja dia. " gumam Pipit.


" Saudara kamu itu memang sesuatu. Bisa-bisanya dia merayu suami sepupunya sendiri. " ujar Bryan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Oh iya, Abang mau ikut keluar? "


" Aku keluar nanti kalau bapak-bapak aja. Sekarang kan masih ibu-ibu dulu. Kamu aja sama Armell aja yang ikut. Nanti aku sama Seno ikut pengajian bapak-bapak. " ujar Bryan.


" Ya udah, Pipit keluar lagi ya. Abang hati-hati di sini sendirian. Jangan sampai di gigit ulet bulu. " ujar Pipit sambil berjalan meninggalkan Bryan.


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2