
Hai ....hai....hai ...wahai para readersku semua....
Yang minta bonus up buat tahon baruuuu....Yuk di simak...
Hari ini othor double up langsung yesss.....Sengaja kemarin nulis double khusus buat hari ini .. Biasanya kan othor kalau kasih double up, kelean-kelean harus pada nunggu sampai ntar sore nih....Hari ini spesial deh othor kasih double langsung....So, semangat bacanya....Biar othor juga makin semangat nulisnya...
_________________________________________________
' Apa....Apa perempuan itu is-istri bang Damar? '
Meskipun ia saat ini sudah membuka hatinya untuk Bryan, dan Bryan pun sudah masuk ke dalamnya, tapi membayangkan jika Damar telah menikah dan bahkan istrinya sedang hamil, membuat hati Pipit terasa agak perih. Ia merasa di bohongi. Jika perempuan itu hamil sekitar 5 bulan, berarti Damar menikah sudah lumayan lama.
" Loh, dik Fitria...Kok masih di sini? " panggil Imel. Sontak membuat Damar menoleh ke arah Pipit.
" Pipit .." gumam Damar lirih. Ia begitu terkejut melihat Pipit ada di sana, dan melihatnya bersama Imel. Dan tunggu, Imel tadi menyapa Pipit? Apa mereka saling kenal? batin Damar. Ia melihat ke arah Pipit dan Imel bergantian.
" Dik...Dik Fitria..." panggil Imel kembali karena Pipit tidak menanggapi pertanyaannya.
" Oh..Ah...Maaf kak..Tadi ada yang kelupaan. Permisi. " Pipit segera berpamitan.
Damar hendak mengikuti Pipit, tapi tiba-tiba nama istrinya di panggil oleh suster. Sepertinya giliran Imel untuk masuk ke ruangan dokter.
" Mas..." panggil Imel menyadarkan damar yang sudah berdiri hendak mengikuti Pipit.
Mendengar nama Imel di panggil oleh dokter, Pipit menoleh ke belakang sebentar. Melihat Imel memanggil Damar dengan sebutan mas, dan mengajak Damar masuk ke ruangan dokter, Pipit semakin yakin jika benar pikirannya tadi, kalau Imel adalah istri Damar.
Pipit segera berlalu meninggalkan tempat itu. Dengan sedikit berlari, Pipit menuju tempat parkir mobilnya. Ia segera mengemudikan mobilnya keluar dari area parkir rumah sakit.
Sedangkan di dalam rumah sakit, Damar terus merasa cemas. Ia harus segera menjelaskan ke Pipit.
" Kamu masuk dulu. Nanti saya menyusul. " ucap Damar ke Imel, dan tanpa menunggu jawaban dari istrinya, ia berlari meninggalkan istrinya yang masih bengong.
Damar berlari mencari keberadaan Pipit. Ia mencari sampai ke tempat parkir. Ia berputar berusaha mencari mobil Pipit. Tapi ia tidak menemukannya.
__ADS_1
" Si*l! " umpat Damar. " Cepet banget perginya. Duh, bagaimana ini? " gumam Damar. Ia menjambak rambutnya. " Pipit...dengerin penjelasan abang. Bagaimana caranya aku bisa bicara sama kamu? Sekarang kamu seperti tak tergapai olehku. Kamu seolah sengaja menghindar dariku. Tidak...tidak...Aku harus bertemu...Aku harus menjelaskan semuanya. " Damar bermonolog sendiri.
Sementara di dalam mobil, Pipit mengepalkan tangannya di atas kemudi sambil mengemudi mobilnya.
" Jahat kamu bang. Kamu udah bohongin aku. Aku juga bersalah tidak jujur sama kamu. Tapi ini lebih mengerikan. Kamu menikah, dan menghamilinya. " umpat Pipit. Tidak ada air mata yang menetes. Pipit sedih karena ia sudah di bohongi. Ia kecewa. Karena sejak dari kecil, ia paling benci di bohongi.
Pipit tidak merasa sakit ataupun kecewa karena Damar yang katanya mencintainya, malah menikahi perempuan lain. Bukan itu yang membuatnya sakit. Ia bersyukur, ia mengetahui semua ini saat hatinya telah berpaling ke laki-laki lain. Tapi tetap saja Pipit kecewa karena telah di bohongi.
Pipit yang semula berencana setelah dari rumah sakit mau mampir ke perpustakaan kota, tidak jadi. Ia lebih memilih untuk pulang ke rumah. Ke rumah besar keluarga Adiguna tentu saja.
Pipit memarkirkan mobilnya dengan cepat saat ia sudah sampai di halaman rumah Adiguna. Ia lalu segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
" Loh, sayang, kok sudah pulang jam segini? Katanya mau ke perpustakaan. " tanya nyonya Ruth yang sedang mau membuat juice tomat.
Pipit langsung menghampiri sang mama dan mencium punggung tangannya seperti biasa. Setelah itu, ia memeluk tubuh mamanya.
" Mama....Hati Pipit sakit ma...." ujar Pipit sambil meneteskan air matanya. Entah kenapa, saat sudah dalam pelukan mama Ruth, hati Pipit jadi melo.
" Ayo, kita duduk. Cerita sama mama ada apa. " bujuk mama Ruth sambil membawa Pipit ke ruang tengah.
Masih dalam pelukan mama Ruth, Pipit tersedu.
" Sekarang, cerita sama mama, ada apa putri mama yang cantik ini kok bersedih. "
Pipit menjauhkan tubuhnya dari mama Ruth. " Bang Damar ma. Bang Damar bikin hati Pipit sakit. "
" Kenapa sama Damar hem? "
" Bang Damar udah bohongin Pipit ma. Dia udah nikah. Dan istrinya sedang hamil. " cerita Pipit. Seperti itulah Pipit jika sudah merasa nyaman dengan seseorang. Ia sudah menganggap nyonya Ruth seperti ibunya sendiri. Jadi ia tidak pernah merahasiakan apapun dari beliau.
" Sayang, jangan seperti ini. Mama ingatkan, kamu juga melakukan hal yang sama. Bukankah kamu juga sempat berbohong sama dia tentang pernikahanmu? "
" Iya mama. Tapi aku tidak di hamili suamiku. Aku masih menjaga untuk laki-laki yang akan aku cintai besok. Tapi dia nggak ma. Dia manfaatin kesempatan mumpung punya istri. "
__ADS_1
" Pfftt ..." nyonya Ruth tertawa kecil mendengar kata-kata Pipit. " Itu namanya bukan manfaatin sayang. Tapi ia memberikan hak ke istrinya. Dan ia melakukan kewajiban sebagai suami. Itu namanya memberikan nafkah batin sayang. "
Pipit nampak cemberut.
" Sayang, mama mau tanya sekarang sama kamu. " ujar mama Ruth. " Kamu pernah bilang ke mama, katanya kamu sudah membuka hatimu untuk suamimu. Kenapa sekarang tahu Damar udah nikah kamu jadi sedih kayak gini? Berarti kamu belum mencintai Bryan dong sayang. "
" Pipit... Pipit... mencintai Abang bule ma. Tapi tetep aja saat tahu bang Damar nikah, terus dia juga sudah menghamili istrinya, Pipit kesel. Pipit ngerasa di bohongi. Berarti ucapan dia ke Pipit selama ini nol besar. "
" Kalau menurut mama, jika benar kamu sudah mencintai Bryan, kamu lupakanlah si Damar. Biar dia bahagia dengan istrinya. Dan kamu..." nyonya Ruth menyentuh dada pipit dengan jarinya, " Dan kamu, juga harus bahagia bersama suamimu. "
" Pipit jadi ragu ma. Pipit malah jadi takut buat jatuh cinta. Apalagi masa lalu Abang yang seperti itu. Pipit takut, jika tiba-tiba ada perempuan dari masa lalu Abang datang dengan membawa anak, dan bilang ke Abang kalau itu anak Abang. Terus Abang milih perempuan itu, dan ninggalin Pipit. " ujar Pipit dengan wajah sedihnya.
" Sayang, semua itu kalau tidak di bicarakan tidak akan menemukan jawabannya. Menurut mama, bicaralah dengan Bryan dari hati ke hati. Bagaimana perasaan dia ke kamu, bagaimana perasaan kamu ke dia, seberapa seriusnya dia ke kamu, dan bagaimana jika apa yang kamu bilang tadi itu terjadi. Semua itu perlu di bicarakan sayang. Jangan hanya berandai-andai. " Nyonya Ruth menjeda omongannya.
" Mama kok yakin ya sama Bryan. Yakin, kalau dia laki-laki yang tepat buat kamu. Mama yakin, dia bisa membahagiakan kamu. Meski orangnya kadang suka nyeleneh, usil ,tapi sebenarnya, hatinya sangat baik. " lanjut nyonya Ruth.
" Iya ma. " Pipit mengangguk. " Akan Pipit pikirkan dan Pipit bicarakan sama Abang. " lanjutnya.
" Ya sudah, sekarang taruh tas kamu di kamar, terus turun ke bawah lagi. Belum makan siang kan? Kita makan siang bersama. "
Pipit mengangguk. " Papa mana ma kok nggak kelihatan? "
" Kamu lupa, papa kan sedang meeting sama suami bule kamu. "
" Oh iya. " Pipit menepuk jidatnya sendiri. Lalu ia berpamitan untuk ke kamar menaruh tas.
***
bersambung
Agak pendek ya, episode yang ini? Tapi buat kalian yang sedari kemarin tanya, kapan Pipit tahu Damar udah nikah??....Nah, sekarang othor udah kasih jawabannya kan??? Sekarang othor tinggal mikirin gimana membuat Pipit dan Bryan saling bucin...Bener nggak kak???
So, di tunggu aja yah tiap episodenya....
__ADS_1