
Setelah acara makan malam yang kemalaman tadi, nyonya Ruth melakukan panggilan video. Saat mendengar jika Pipit pingsan karena habis manjat tebing, Nyonya Ruth dan tuan Adiguna langsung panik. Beliau ingin sekali langsung ke rumah sakit. Tapi sayang, beliau sedang berada di Belanda karena ada saudaranya yang mengundangnya.
Saat panggilan itu di angkat, beliau langsung berbicara panjang lebar tanpa henti.
Flash back on
" Assalamualaikum, mama. " sapa Bryan ketika ia baru saja meletakkan piring kosong di atas meja.
" Waalaikum salam, Bry. Putri mama mana? "
" Sebentar, ma. Dia ada di bed. " ujar Bryan lalu ia berjalan ke ranjang dan mengarahkan ponselnya di depan istrinya.
" Assalamualaikum ma. " sapa pipit sambil tersenyum manis.
" Waalaikum salam, sayang. Bagaimana keadaanmu sayang? "
" Pipit..."
" Duh, mama kaget banget waktu suami kamu kasih kabar kalau kamu pingsan. Memang kenapa kok sampai pingsan sayang? "
" Dia kecapekan ma. " kali ini Bryan yang menjawab.
" Ck. Pasti ulah kamu ini. Mama udah sering bilang kan sama kamu, pelan-pelan kalau mau olahraga malam. Istrimu sedang hamil. Jangan main srudak sruduk aja. Jangan kenceng-kenceng masukinnya. Mama tahu kamu bule. Punya kamu pasti gede. Naf** kamu juga gede. Tapi istri kamu itu orang Indonesia...Yang nggak gitu juga kali Bry...." oceh nyonya Ruth. Membuat Bryan menelan salivanya dengan susah payah. Sedangkan Pipit, menahan tawanya sebisa mungkin.
" Ma...Bryan nggak pernah seekstrim itu ya kalau menggarap sawah. Bryan selalu kalem. Asal mama tahu aja, semenjak Pipit hamil, Bryan cuma di kasih kesempatan untuk menggarap sawahnya tiga kali. Bayangkan ma, tiga kali selama tujuh bulan. " jawab Bryan tak terima.
" Ha....ha ...ha...Rasain kamu Bryyy....Ha...ha...ha..." kali ini terdengar suara tawa menggelegar dari tuan Adiguna. Membuat Bryan berdecak kesal.
" I am sorry. " ucap Pipit hanya dengan gerakan mulut tanpa suara saat Bryan melirik ke arahnya. Membuat Bryan tidak jadi kesal kepadanya. Bryan malah menghadiahinya sebuah kecupan panjang di dahi.
" Terus apa yang membuat Pipit sampai pingsan karena kecapekan? Kamu suruh dia kerja? " tanya Nyonya Ruth kembali.
" Itu karena ulah Pipit sendiri ma. " kali ini Pipit yang menjawab.
" Emang kamu ngapain sayang? "
" Pipit....mmmm....Pipit habis panjat tebing. " sahutnya lirih.
" APA???" pekik nyonya Ruth dan tuan Adiguna bersamaan. Bahkan tuan Adiguna yang tadi wajahnya tidak terlihat di ponsel, kini terlihat.
" Maaf ma...pa..." ucap Pipit.
Nyonya Ruth dan tuan Adiguna menarik nafas dalam-dalam bersamaan.
" Sekarang ceritakan ke mama sama papa, kenapa kok bisa panjat tebing segala? " tanya nyonya Ruth berusaha tenang.
" Pipit juga nggak tahu gimana awalnya ma. Tiba-tiba saja Pipit sangat ingin sekali memanjat tebing buatan yang ada di kampus. Dan keinginan itu nggak bisa Pipit tolak. " ucapnya sambil menunduk.
Nyonya Ruth mendesah perlahan, " Jadi kamu tadi ngidam panjat tebing? "
__ADS_1
Pipit mengangguk-angguk.
" Ya Allah sayang...Kamu ngidamnya kok ya gitu banget sih..Mama heran. Bryan, dulu kamu pas mau menghamili istrimu gimana sih? Banyak tingkah nih kamu pastinya. " malah Bryan yang kena semprot kan?
Bryan kembali menelan salivanya susah payah. Lalu ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia ingat bagaimana tingkahnya saat akan membuat istri mungilnya itu hamil. Tidak ingin menjawab perkataan nyonya besar, Bryan memberikan ponselnya ke Pipit, lalu ia pergi menghindar duduk di sofa.
Flash back off
" Tidurlah honey. Hari sudah malam. " pinta Bryan sambil membenarkan selimut Pipit.
" Peluk. " pinta Pipit sambil merengek. Bryan tersenyum lalu mendekatkan tubuhnya untuk memeluk tubuh istrinya. Tapi Pipit menarik kembali kedua tangannya yang tadi ia rentangkan, membuat Bryan bingung.
" Why? Nggak jadi di peluk? " tanya Bryan.
" Pengennya...Tidurnya sambil di peluk Abang. Bukan cuma di peluk gitu. " rengek Pipit manja.
" Mana bisa kalau tidurnya di peluk honey? Besok kalau sudah di kamar kita di rumah, Abang peluk sepuasnya deh. "
Pipit cemberut sambil menggelengkan kepalanya. " Pengennya sekarang. " rajuknya.
" Ranjangnya nggak muat honey. Nanti tidurmu kurang nyaman. " bujuk Bryan.
" Nyaman abaangg... Pokoknya Pipit mau tidur kalau di peluk sama Abang. " kekeh Pipit. Membuat Bryan mendesah kasar.
Pipit menggeser tubuhnya ke pinggir ranjang. " Sini abang. Muat kan? " tanya Pipit sambil tersenyum manis ke suaminya.
" Tapi ini abang angkat dulu. Biar Pipit nggak jatuh nyungsep ke bawah. " pinta Pipit sambil menunjuk ke pembatas ranjang.
Bryan kembali mengangguk dan mengangkat pembatas itu. Setelahnya, ia naik ke ranjang sisi kosong yang ada di sebelah Pipit. Pipit tersenyum, lalu mengalungkan tangannya ke tubuh Bryan. Dan Bryan menaruh salah satu tangannya ke bawah leher Pipit, dan tangan yang satunya lagi mengelus perut Pipit.
Pipit yang entah kenapa, dia langsung menyeruakkan wajahnya ke dada suaminya dan menciumi dada bidang suaminya yang masih terbungkus kaos polo sport berwarna putih.
" Honey, jangan begini. Jangan membuat ular pitonnya bangun honey. " pinta Bryan yang sedikit tidak tahan jika istrinya menciumi dadanya seperti itu.
" Kan Pipit memang maunya ularnya abang bangun. " sahut Pipit sambil mengangkat kepalanya dan mengerlingkan matanya sebelah.
" Honey....Kita sedang di rumah sakit sekarang. " Bryan mencoba mengingatkan.
" Apa di kamar ini ada cctv nya? " tanya Pipit sambil memandang ke sekeliling kamar.
" Tidak ada. " sahut Bryan.
Jawaban yang membuat Pipit kembali tersenyum menyeringai.
" Sepertinya melakukannya di kamar VVIP di rumah sakit tidaklah buruk. " ujar Pipit sambil memainkan tangannya manja di dada suaminya, membuat Bryan mengerang pelan sambil memejamkan matanya menahan ularnya supaya tidak bangun.
Pipit tersenyum manis melihat suaminya yang sepertinya sedikit terpancing. Ia menurunkan gerakan tangannya sedikit demi sedikit hingga sampai ke bawah pusar suaminya.
" Honey..." ucap Bryan sambil memegang tangan istrinya yang mulai nakal supaya berhenti. " Please..." pintanya.
__ADS_1
" Tapi Pipit pengen bang..." rayu Pipit. " Kan selama Pipit hamil cuma kasih kesempatan buat abang menggarap sawahnya cuma tiga kali. " lanjutnya.
" Honey, jangan kau ambil hati ucapanku ke mama tadi, oke. Aku tidak mempermasalahkan soal menggarap sawah itu. Itu hanya pembelaanku di hadapan mama. Kalau tidak, kultumnya bisa berubah jadi kuliah tujuh jam bukan lagi tujuh menit. " jawab Bryan.
" Tapi Pipit pengen abang..." rengek Pipit masih sambil menggerakkan tangannya yang berhasil lepas dari cekalan sang suami.
" Honey, besok kalau di rumah, oke? "
" Tapi pengennya sekarang..."
" Tempatnya sempit. Nanti kalau kamu jatuh gimana? "
" Abang di atas, Pipit di bawah. "
" Kalau aku di atas, baby kita kegencet, honey. "
" Ya udah, Abang di bawah, Pipit di atas. " sahut Pipit masih tidak mau mengalah.
" Awas, honey... Tangannya...Nanti ularnya bangun..." ujar Bryan sambil dengan suara serak.
" Kan emang udah bangun.." Pipit menjawab penuh kemenangan. Ia tahu jika ular piton suaminya sudah terbangun. Bahkan ia tahu jika ularnya semakin mengeras dan membesar.
" Aku akan menidurkannya lagi. " ucap Bryan.
" Jangan abanggg....Pipit pengen beneran ini ..Ayo dong bang ..." rengek Pipit.
" Honey, no. Kita tidak bisa melakukannya di sini. " Bryan tetap kekeh menolak.
" Ck. Pipit lama-lama bingung. Ngidam ekstrim salah... Sekarang ngidam enak juga salah..." Pipit pura-pura merajuk. Ia lalu mengganti posisi tidurnya membelakangi sang suami.
Bryan menjadi serba salah sekarang. Apa dia harus melakukannya di rumah sakit? Apa itu etis untuk seorang dokter seperti dia? Tapi jika tidak melakukannya, maka istrinya pasti akan marah kepadanya. Ah, Bryan jadi bingung kan???
' Ah, masa bodoh deh. Toh di kamar ini juga nggak ada cctv nya. Nggak akan tahu juga jika aku melakukannya di sini. Lagian aku melakukannya juga dengan istriku sendiri. Bukankah ini yang dari beberapa bulan lalu aku tunggu? ' batin Bryan mengambil keputusan.
Bryan lalu bangun dari tidurnya dan turun dari ranjang. Membuat Pipit sedikit terkejut. Kok suaminya malah pergi meninggalkannya? Bukannya merayunya yang sedang merajuk. Tapi kebingungan itu segera terjawab saat ia mendengar pintu yang di kunci dari dalam.
Lalu tak lama kemudian, Bryan kembali ke atas ranjang. Tangannya membelai lembut lengan Pipit membuat Pipit tersenyum penuh kemenangan.
' Mana mungkin ada kucing garong di kasih ikan pindang nolak? Heh...' batin Pipit.
" Honey, I am sorry. " ucap Bryan lembut sambil mengecupi pundak Pipit. " Ayo kita melakukannya di sini. Tapi nanti kamu yang di atas, oke? " lanjutnya dengan suara beratnya.
Pipit tersenyum, lalu membalikkan tubuhnya hingga kembali menghadap suaminya. Tak menunggu lama, Bryan segera melahap habis bibir Pipit. Dan jangan lupakan, Pipit dengan hormon kehamilannya, ia juga membalas setiap perlakuan suaminya. Bahkan malam ini, ia menjadi lebih aktif daripada suaminya. Malam panjang yang penuh dengan peluh mereka habiskan di kamar VVIP itu. Eranga* dan desa*** saling bersautan di dalam kamar dan di atas ranjang pasien yang sempit itu. Pipit menepati janjinya, ia berada di atas dan suaminya berada di bawahnya.
" Ride more faster, honey...." racau Bryan yang membuat Pipit tersenyum.
***
bersambung
__ADS_1