Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Kayak perjaka


__ADS_3

Setelah puas menghabiskan satu martabak manis black sweet, ( satu box ya guys, bukan cuma satu iris ) Pipit tiduran telentang di atas ranjang. Ia merasa sangat kenyang setelah menghabiskan satu box full tanpa membaginya sedikitpun dengan Bryan. Bryan hanya ia suruh untuk melihatnya.


" Kenyang, honey? " tanya Bryan sambil ikut tiduran miring di atas ranjang.


Pipit menoleh dan tersenyum, " Banget. " jawabnya sambil mengelus perutnya. Bryan juga ikut mengelus perut Pipit.


" Kalau begitu, karena kamu udah kenyang, sekarang boleh dong kita memulai ritual malam kita. " ujar Bryan sambil mulai menaikkan tangannya masuk ke dalam piyama tidur Pipit.


' Aku akan mengecek, apakah yang aku pikirkan benar atau tidak. ' batin Bryan sambil tersenyum tipis.


" Tapi Pipit capek bang. Ngantuk juga. Boleh nggak malam ini absen dulu? Besok lagi. " rengek Pipit karena tiba-tiba saat suaminya mendekatinya, Pipit merasa malas untuk di sentuh oleh suaminya. Tapi Pipit tidak enak hati jika harus mengatakannya.


" Kamu kalau mengantuk tidur aja honey. Biar aku saja yang bekerja. " bisik Bryan sambil menggigit dan mengecup telinga Pipit membuat Pipit meremang.


" Gimana bisa tidur kalau badan aku di grep*-grep*. " protes Pipit.


" Ya tinggal merem aja honey. Kamu nggak perlu melakukan apapun. Aku janji, malam ini hanya satu kali. Dan aku akan melakukannya dengan cepat. Sehingga kamu bisa cepat tidur dan istirahat " sahut Bryan, ia mulai menciumi pipi, lalu turun ke leher, sambil tangan yang meraba ke dalam da** istrinya.


Mau tidak mau, Pipit agak menggeliat. Merasakan puncak sang istri mengeras, Bryan tersenyum tipis dan geloranya semakin bertambah. Bryan sudah sangat hafal daerah paling sensitif istrinya.


Bryan segera melepas kancing piyama Pipit satu persatu dan melepas secara paksa piyama itu. Ia juga segera melepas bajunya sampai tubuhnya polos. Malam ini, Bryan bermain aman. Ia melakukannya tanpa menekan tubuh Pipit.


Setelah merasa Pipit memanas, Bryan yang memang tidak ingin lama-lama, segera melakukan penyatuan. Tidak seperti biasanya, ketika ia melakukan penyatuan, ia akan memasukkan ular pitonnya secara bertahap. Tapi malam ini, Bryan memasukkan ular pitonnya dengan sekali hentakan.


' Sepertinya dugaanku benar. ' batin Bryan ketika ia merasakan sesuatu yang berbeda di dalam sana.


Lalu Bryan segera melanjutkan aktivitasnya dengan sangat lembut dan bibir yang selalu tersenyum.


Sedangkan di sebuah kamar di rumah yang lain, tepatnya di rumah keluarga Abraham, sepasang pengantin baru saja masuk ke dalam kamar. Ketika acara lamaran dulu, tuan Abraham memang meminta Dion untuk tidak membawa Leora keluar dari rumahnya. Ia ingin Dion pun ikut tinggal di sana. Karena Leora yang memang putri satu-satunya, jadi tuan Abraham tidak ingin anaknya pergi dan membuat rumahnya terasa sepi.


Dion dan Leora berdiri di dalam kamar dengan sangat canggung. Leora sudah berganti baju dengan baju rumahannya karena tadi sore para perias telah membantunya melepas semua pernak-pernik yang ia kenakan, bahkan membantu Leora melepas baju adat Sundanya.


" Tuan.."

__ADS_1


" Nona..."


Mereka berucap bersamaan.


" Tuan saja dulu. Ada apa? " tanya Leora canggung.


" Mmm...nona Leora saja dulu. Ladies first. " Dion mempersilahkan.


" Saya mau membersihkan muka dulu sebentar. " ujar Leora.


" Oh, iya... Silahkan nona. " jawab Dion dan Leora segera berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Sepeninggal Leora, Dion mengusap tengkuknya, " Kenapa jadi canggung gini suasananya? Apa memang semua pengantin baru seperti ini? Lalu apa yang harus aku lakukan? Terus kok rasanya aneh ya, masak udah resmi jadi suami istri, panggilannya masih tuan dan nona. Udah kayak asisten sama anak bosnya saja. " ujar Dion bermonolog.


" Apa aku harus tanya ke Damar? Ah, tidak. Dia mana tahu yang beginian. Malam pengantinnya kan ia lewatkan hanya dengan mendengarkan ceramah dari ibunya. Bahkan malam pertamanya saja terjadi karena pengaruh jamu kuat. " ujar Dion sambil mendesah.


" Lalu aku harus tanya siapa? Dokter Bryan. Iya, aku akan tanya sama dokter mesum itu. " ucap Dion senang karena mendapatkan ide. Ia lalu segera menekan nomer telpon Bryan. Dua kali ia melakukan panggilan, tapi sama sekali tidak ada jawaban.


" Ah, si**. Dia pasti juga sedang bersenang-senang. Siapa lagi ya? " Dion nampak berpikir.


" Tuan..." panggil Leora yang baru keluar dari dalam kamar mandi ke Dion yang sedang membelakanginya.


Dion yang sedang mencoba menghubungi Seno di buat terkejut, bahkan handphone yang ia pegang, hampir jatuh. Untung saja ia sigap, jadi handphone itu berhasil di raihnya kembali sebelum menyentuh lantai.


" No....Nona...Su...sudah selesai? " tanya Dion dengan gugupnya.


" Sudah tuan. Maaf, kalau saya mengagetkan tuan. Saya tidak tahu jika tuan sedang menghubungi seseorang. " sahut Leora.


" Ah... tidak nona...Saya sedang tidak menghubungi siapa-siapa. Saya hanya lagi iseng bermain. " jawab Dion.


" Halo bang. " sapa orang di seberang sana. Yang tentu saja terdengar juga oleh Leora.


Baru saja Dion hendak mengantongi handphonenya kembali, panggilannya ke Seno justru malah terhubung. Sepertinya Dion lupa untuk mengcancel panggilannya.

__ADS_1


" Sepertinya panggilan tuan tersambung. " ujar Leora sambil menahan senyumnya.


" Oh...ah...Ini... sepertinya kepencet. Iya kepencet. " sahut Dion sambil menekan tombol merah di handphone nya.


' Sial. ' umpat Dion dalam hati.


' Lucu banget sih tuan Dion ini. Sudah terbukti kalau dia sedang menghubungi seseorang. Malah bilangnya nggak. Kenapa sih dia ini. ' batin Leora.


" Saya ke kamar mandi dulu. Permisi nona. " pamit Dion sambil mengantongi handphonenya, ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


" Haduh, Leora....Kenapa kamu juga jadi aneh begini sih? Sama seperti tuan Dion. Kalian ini sudah sah jadi suami istri. Kok malah jadi kaku gini. Udah gitu, tuan Dion juga. Kenapa manggil aku masih saja pakai nona. Dan tuan Dion, dia kenapa coba? Ko sikapnya juga jadi aneh gitu. Masak iya, dia juga gugup menghadapi malam pertama kami? Tapi kan dia juga pasti udah sering melakukannya. Dia kan seorang Casanova. Kalau aku gugup, boleh saja. Secara kan aku hanya pernah melakukannya sekali. Dan itupun aku sedang dalam keadaan tidak sadar. Jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya. " ujar Leora bermonolog.


Sedangkan di dalam kamar mandi, Dion memegangi dadanya yang terasa berdebar kencang sambil bersandar di daun pintu.


" Dion...Dion...kenapa kamu jadi lebay kayak gini? Kayak perjaka yang mau malam pertama aja. Kenapa aku seperti ini? Kenapa aku begitu gugup menghadapi malam ini? Bukankah aku sudah sering melakukannya dengan banyak wanita? Kenapa di hadapan nona Leora aku jadi mati gaya. Semua ilmu dan pengalamanku merayu wanita hilang sudah. "


Tiba-tiba handphone nya berbunyi. Ia segera mengambilnya dari dalam kantong celananya.


" Halo, sen. "


" Halo bang. Bang Dion tadi telpon ada apa? " tanya Seno di seberang.


Dion terdiam. Apakah ia benar harus bertanya? Tapi apakah hal itu malah hanya akan membuat dirinya di tertawakan oleh tuan mudanya itu?


" Halo bang. Kok malah diem? "


" Iya. Lagi sibuk, makanya diam. " jawab Dion sekenanya.


" Seno tanya, bang Dion ada apa malam-malam begini telpon? Bukannya bang Dion lagi sibuk sama istri baru ya? " ujar Seno.


" Ck. " Dion berdecak.


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2