Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Om Dokter Sarang Hae


__ADS_3

" Masih badmood? " tanya Bryan setelah selesai makan malam. Mereka kembali ke taman lagi sekarang.


Pipit menggeleng. " Udah kenyang, jadi udah nggak BT. "


" Sekarang, apa sudah mau kasih tahu keputusan kamu? " tanya Bryan dengan hati yang dag dig dug ser.


" Abang bule kemarin lihat apa kok bisa mengatakan Pipit balikan sama bang Damar? "


" Yaaa...lihat kamu ngobrol, sambil ketawa-ketawa. Bahagia gitu kayaknya. " jawab Bryan sambil membuang muka ke arah lain.


" Pfftt..." Pipit menahan tawanya. " Makanya bang, tadi Pipit bilang, belum tahu mata kita itu benar. Kecuali kalau telinga kita juga ikut mendengar. Mendengar dan melihat, itu baru boleh di percaya. " Pipit menghentikan ucapannya sesaat untuk bernafas.


" Bang, Pipit memang ngobrol dan ketawa-ketawa sama bang Damar. Karena memang ada hal lucu yang membuat Pipit ketawa. Tapi kalau balikan, gimana ceritanya kok balikan? Orang Pipit sama bang Damar tidak pernah menjalin hubungan kok. " lanjut Pipit.


" Bang, Pipit tuh masih waras ya. Pipit nggak mungkin mengambil suami perempuan lain. Pipit juga nggak bakalan memisahkan seorang anak dari ayahnya. Ngapain ambil suami orang. Orang Pipit juga udah punya suami sendiri. Yang juga ganteng dan keren. Meskipun umurnya udah agak udzur. " ucap pipit, membuat Bryan memelototkan matanya.


Pipit menanggapinya dengan santai. " Jadi intinya bang, kalau Abang bule mikirnya Pipit ada hubungan sama bang Damar, Abang salah besar. Bang Damar tuh cuma bilang makasih aja, karena Pipit udah membuka matanya untuk menerima calon anaknya. Gitu. "


Bryan nampak menghela nafas lega. " Lalu, keputusan kamu tentang hubungan kita bagaimana? " Bryan menjeda omongannya sebentar. " Apakah tetap seperti ini, atau kita lanjut mengurus ke kantor agama untuk surat nikah kita, atau kita selesai. " tanya Bryan.


" Menurut Abang, keputusan Pipit gimana? " tanya Pipit sengaja mengulur waktu.


" Ya mana aku tahu. Makanya, kamu cepetan bilang. Jangan buat aku mati karena penasaran. "


" Kayak lagu aja. "


" Ck. Cepetan dong. "


" Iya ah. Nggak sabaran banget sih. " protes Pipit. " Pipit pilih pilihan yang nomer dua. " jawab Pipit.


" Yang nomer dua? " Bryan mengernyitkan dahinya. " Emang ada? "


" Ck. Kan Abang tadi yang buat choice nya. Pipit kan tinggal milih. " Pipit berdecak.


Bryan terdiam,. mengingat-ingat pilihan yang ia katakan tadi. Dan sejenak kemudian, wajahnya berubah menjadi sangat bahagia.


Grep


Bryan menghambur dan memeluk tubuh mungil Pipit. Karena Pipit tidak membuat ancang-ancang sebelumnya, tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang. Untung saja, Bryan bisa mempunyai kaki yang kokoh. Jadi dia mampu menahan tubuhnya dan tubuh Pipit.


Lalu ia mengangkat tubuh mungil istrinya yang masih dalam pelukannya, dan dia memutar-mutar tubuh itu karena saking bahagianya.

__ADS_1


" Bang .." pekik Pipit karena terkejut. " Abang...turunin Pipit...malu di lihatin orang banyak. " protes Pipit sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang ia lingkarkan di leher Bryan.


Bryan lalu menurunkan tubuh mungil milik istrinya. Tapi ia masih tetap memeluk tubuh itu. Begitu juga dengan Pipit, ia masih melingkarkan kedua tangannya di leher Bryan. Mata mereka saling bertemu. Saling menatap penuh dengan kebahagiaan.


" Je t'aime. " ujar Pipit sambil menampilkan senyum manisnya. ( Aku mencintaimu ).


" Je t'aime aussi. " jawab Bryan. ( Aku juga mencintaimu ).


Mereka saling melempar senyum. Lalu Bryan mendekatkan wajahnya ke wajah Pipit, semakin dekat dan semakin dekat hingga hembusan nafas mereka saling terasa. Pipit memejamkan matanya, begitu juga dengan Bryan. Saling merasa hembusan nafas mereka.


Cup. Bibir mereka saling bertemu. Sebuah kecupan. Mereka masih saling memejamkan mata merasai setiap apa yang mereka lakukan. Yang awalnya hanya sebuah kecupan, kini Bryan mulai menye**p bibir Pipit. Saling menye**p, saling melu***, saling bertautan. Entah pengetahuan dari mana sehingga Pipit bisa membalas ciuman dan lu***an Bryan dengan sangat baik, meskipun ia sama sekali tidak berpengalaman.


Setelah merasa pasokan oksigen sudah menipis, Pipit melepas tautan bibir mereka. Bibir mereka sama-sama sedikit bengkak. Setelah melepas ciuman mereka, mereka kembali saling berpandangan dan kemudian mereka tertawa bersama-sama.


" OM DOKTER....., SARANG HAE...." teriaknya Pipit. Sepertinya dia sudah tidak malu lagi seperti tadi. Membuat Bryan gemas melihatnya. Ingin sekali ia melu*** kembali bibir yang sudah agak bengkak karena ulahnya tadi, tapi ia urungkan. Ia tidak ingin istrinya kembali merasa illfeel jika dia terlalu over.


" Nado Sarang Hae..." bisik Bryan di telinga Pipit. Lalu ia mengacak-acak rambut Pipit, kemudian memeluknya kembali.


" Ihh, bisa bahasa Korea juga ternyata. " ujar Pipit. " Eh, ngomong-ngomong, Abang udah temgokin paman? "


" belum. Rencananya besok ke rumah. " jawab Bryan. " So, kita beneran akan mendaftarkan pernikahan kita di KUA? " tanya Bryan kembali ingin memastikan.


" Habis dari sini, kita langsung ke KUA. Jadi pengen cepet-cepet pulang. " ujar Bryan.


" Pengen cepet pulang? Pipit baru aja nyampe bang. Capeknya aja belum ilang. Belum juga jalan-jalan. " gerutu Pipit.


" Iya, besok kita jalan-jalan. Mau jalan-jalan kemana kamu? "


" Kemana aja. Mumpung lagi di Perancis. Biar nggak sia-sia datang jauh-jauh dari Indonesia. " jawab pipit.


" Oke. Ngomong-ngomong udah malam nih. Kita balik ke hotel. " ajak Bryan setelah ia melihat jam di tangannya.


" Abang nginep di hotel? Nggak di rumah? "


" Males ke rumah. Besok aja sama kamu ke rumahnya. Yuk. " Bryan mengambil tangan Pipit dan di gandengnya. Mereka berjalan menyusuri taman itu dengan bergandengan tangan.


" Ngomong-ngomong, kamu kesini sama siapa? Siapa yang ngasih tahu kalau aku ada di sini? " tanya Bryan.


" Bang Seno , siapa lagi. Kemarin tuh Pipit nyamperin Abang ke apartemen, ke rumah sakit, nggak Nemu. Ya udah, Pipit langsung ke rumah mbak Mell. Nah, bang Seno bilang Abang ke Perancis. Ya udah, terus Pipit susulin deh kesini. Takut Abang ilang di ambil cewek bule. " ujar Pipit sambil mengamit lengan Bryan. Membuat Bryan tersenyum bahagia.


" Terus, yang ngasih tahu kalau aku di sini, siapa? "

__ADS_1


" Oh iya, Pipit sampai lupa. Duh, kasian tuan itu bang. Pasti nungguin Pipit lama. "


" Siapa? "


" Orang suruhan bang Seno. Tadi Pipit di jemput di bandara, terus Pipit bilang mau nyari Abang. Eh, di anter deh kesini. Dia bilang Abang sering kesini kalau lagi balik ke Perancis. Yuk bang, kita kasih tahu dia dulu. Biar dia bisa pulang. " ujar Pipit. Bryan mengangguk, lalu Pipit menggandeng lengan Bryan dan berjalan menuju ke tempat parkir laki-laki suruhan Seno.


" Itu dia bang orangnya. " Pipit menunjuk seorang laki-laki yang ada di pinggir jalan.


" Oh si Nick yang jemput. Pantesan dia tahu aku dimana. "


" Abang kenal? " tanya Pipit sambil menoleh ke arah Bryan.


" Banget. Dia itu dulu teman kuliah Seno. Lulus kuliah, Seno mengajaknya bergabung di perusahaannya yang ada di sini. Dan sekarang, Nick sudah menjadi tangan kanannya. " jawab Bryan. Lalu mereka berjalan mendekati Nick.


" Hai bro. " sapa Bryan sambil menyalami Nick.


" Hai. Bry. " sapa Nick balik.


" Lagi-lagi, El menyusahkanmu. " ucap Bryan.


" No. This is my job. " Jawab Nick. " Sudah bertemu dengan suami Anda nona? " tanya Nick ke Pipit.


" Sudah. Terima kasih banyak tuan Nick. "


" Sama-sama nona. Jangan di lepas suaminya nona. Kalau perlu di borgol saja. " canda Nick.


" Bisa aja kamu. By the way, thanks alot. Udah jagain istriku. "


" Sama-sama, Bry. Jangan di tinggalin lagi istrinya. Kasihan harus nyari kamu jauh-jauh sampai Perancis. " ujar Nick.


" Iya. Sekali lagi, terima kasih banyak. Kamu bisa kembali. Dia akan bersamaku. " ujar Bryan.


" Tentu saja dia harus bersamamu. " jawab Nick. " Kalau begitu, aku pamit dulu. Selamat malam, nona. Semoga anda senang berada di Perancis. "


" Iya, tuan. Dan selamat malam juga. "


Lalu setelah menepuk pundak Bryan, Nick masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Bryan dan Pipit berdua.


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2