
" Baby...bilang sesuatu oke? Jangan diam saja. " ucap Seno ke Armell. Sepertinya Armell tengah merajuk. Entah karena apa.
Saat ini mereka sedang berada di taman rumah sakit. Sengaja Seno tidak mengajak istrinya langsung kembali ke ruang perawatan Pipit, melainkan mengajaknya ke taman yang ada di lantai dasar.
Armell duduk membelakangi Seno. Sedangkan Seno, terus berusaha menghadap ke Armell. Tiap Seno berpindah tempat, maka Armell pun berpindah posisi. Sampai akhirnya Seno tidak sabar, dan memegang erat kedua pundak sang istri supaya tidak berpindah posisi.
" Ck. " Armell berdecak kesal sambil melirik kesal ke arah suaminya.
" Baby..." panggil Seno.
" Mell tuh kesel tahu nggak sih sama mas. " gerutu Armell lirih.
" Kesel kenapa? "
" Ihhh...mas masak nggak tahu sih, Mell kesel karena apa. "
Seno menghela nafas berat. " Karena kamu hamil lagi? " tanya Seno.
' Udah tahu, nanya. ' batin Armell.
" Baby... Bukannya seneng ya kalau hamil? Setahuku, perempuan kalau tahu bahwa dirinya hamil, pasti bahagia. " sahut Seno masih pura-pura polos.
" Bukannya Mell nggak seneng... Nggak bahagia mas...Mell seneng lah di beri kepercayaan dari Tuhan. Tapi kan Mell minta waktu sampai Danique berusia genap dua tahun, baru mulai progam kehamilan yang kedua. Lha ini, Dan belum genap berusia dua tahun, Mell udah hamil lagi. " ucap Armell dengan tatapan menyendu. Bahkan ia sudah menundukkan kepalanya karena merasa kasihan sama anak pertamanya.
" Baby....Jangan bersedih oke? " ucap Seno menenangkan karena Armell sudah menitikkan air matanya. Seno bahkan ia juga memeluk tubuh istrinya yang nampak bergetar.
Plak
Armell memukul dada suaminya cukup keras. Spontan Seno melepas pelukannya.
" Kenapa? " tanya Seno sambil mengernyitkan dahinya.
" Mell itu nggak sedih karena hamil....." seru Armell. " Mell nangis karena Mell kesel banget sama mas. " tambahnya sambil menatap tajam ke arah Seno.
" Kok? Jadi kesel sama aku? " tanya Seno.
" Pasti mas Seno sengaja bikin Mell hamil. Iya kan? " tuduh Armell masih dengan tatapan tajamnya.
Spontan Seno mengusap tengkuknya. Bohong jika nyalinya nggak jiper ngadepin istrinya jika sudah menampilkan wajah seperti ini.
" Iya kan? Kapan mas? Perasaan mas kan pakai pengaman terus... Apalagi kalau Mell lagi masa subur. Dan seingat Mell teh..Mell selalu ingat kapan masa subur Mell. "
Seno menampilkan senyum manisnya sambil masih mengusap tengkuknya. " Maaf, baby... Pernah bulan lalu itu pengamannya bocor. " jawab Seno.
" Ha? Apa? Bocor? Kok bisa? Mas sengaja bocorin kan pasti? "
" Nggak baby. Sumpah demi Allah..Aku juga nggak tahu kalau karetnya bocor. Aku tahunya habis kita pakai tuh karet netes. " jelas Seno.
__ADS_1
" Kenapa mas nggak bilang ? "
" Iyaaa....Aku pikir kalau cuma bocor sekali, itupun nggak banyak juga pastinya...Masak terus bisa bikin kamu hamil. "
" Nyatanya? "
" Iyaaa.... Berarti kualitas kecebongku kualitas super beneran. Bukan KW KW nan. "
" Iya berarti kualitas telurku juga super gitu? Sekali ketetesan langsung menetas. " sahut Armell sambil cemberut.
" Baby ..." Seno meraih kedua tangan Armell dan di genggamnya. " Semua kan sudah terlanjur. Dan anak adalah titipan dari Allah yang harus kita terima dengan lapang dada dan bahagia. Lagian jika kamu menginginkan hamil lagi di saat usia Danique dua tahun, sekarang kan tinggal dua bulan dari usia Danique dua tahun. " lanjutnya.
" Iya sih mas. Kan emang udah terlanjur...Mau gimana lagi? " sahut Armell.
" Ya udah dong...Jangan sedih lagi. Entar kalau kita ke kamar, terus wajah kamu masih kusut kayak jemuran belum di setrika, bisa-bisa bukan cuma tangan mama yang buat mukul aku...Tapi sepatunya juga bakalan melayang. " ujar Seno. Dan membuat Armell tertawa terbahak-bahak.
" Nasib kamu mas. " ucap Armell sambil menepuk pundak Seno beberapa kali.
" Iya. Berasa aku yang menantu kalau kayak gini. " sahut Seno.
" Ha ..ha...ha..." Armell kembali tertawa. Lalu ia bangkit dari duduknya. " Ayuk lah kita kembali ke kamar. Entar pada di tungguin. " ajak Armell sambil menarik tangan Seno. " Udaaahhhh....Mukanya jangan cemberut terus. Entar handsome nya ilang loh. " goda Armell.
Seno tersenyum lalu juga bangkit dari duduknya, lalu merangkul pundak Armell dan mereka berjalan berdampingan.
Setelah menaiki tangga ke lantai lima menggunakan lift, dan berbelok ke kanan, melewati dua kamar, sampailah mereka di kamar Pipit. Terlihat di sana ada Arvin, Dion, juga Leora yang tengah hamil lima bulan.
" Wah, ramai ya. " sapa Armell.
" Halo, Mell. " sapa Leora balik, lalu mereka cipika-cipiki. " Aku dengar kamu hamil lagi ya? " tanya Leora setelah pelukan mereka terlepas.
" Iya. Alhamdulillah. " jawab Armell sambil mengelus perut ratanya.
" Widdiihhh...gercep banget kamu Sen. Kayak takut nggak kebagian. " canda Dion.
" Ck. " Seno hanya berdecak.
" Kalau baby kamu cowok, kita jodohin besok gimana? Anak gue cewek soalnya. Nggak masalah deh anak aku lebih tua dari anak kamu. " canda Dion kembali.
" Ogah. Anak kamu pasti kayak kamu wajahnya. " tolak Seno dengan nada bercanda juga. Dan mereka semua tergelak.
" Mom....Dan mana? " tanya arvin ke Armell.
" Dan? Loh, iya...Kemana dia? " tanya Armell sambil menoleh ke kanan ke kiri mencari anaknya.
" Dan di ajak granpa sama granma ke kantin kayaknya mbak. Tadi dia agak rewel. Sepertinya bosen dia. " sahut Pipit.
" Nah, Arvin... Ternyata Danique lagi keluar. Arvin kangen ya sama Dan? "
__ADS_1
" He em. "
" Mmmm....Terus kalau sama mommy, kangen nggak? "
" Kangen dong. " jawab Arvin lalu segera menubruk tubuh Armell yang sedang berjongkok di depannya. Memeluk erat tubuh mommy nya, mengecupi seluruh wajah mommy nya itu.
" Oh iya, bang Arvin mau punya adek lagi loh. " ucap Leora.
" Adek? Ini? " tanya Arvin sambil menunjuk perut mamanya yang sedang buncit.
" Bukan. Adeknya bang Arvin yang baru ada di perut mommy. " jelas Leora.
" Iya mom? Ada dedek kecil di perut mom? Seperti Dan dulu? " tanya Arvin.
" Iya. Bang Arvin seneng nggak mau punya adek lagi? " tanya Armell.
Arvin mengangguk antusias. " Pengen dedeknya kayak dedek Paris. Cantik. Biar Arvin punya dedek cantik tiga. " celoteh Arvin sambil menunjuk angka tiga dengan jarinya.
" Abang yang jagain ya? "
" He eh. Sama Danique. " jawab Arvin.
" Anak Daddy makin pinter deh. Mmm...Arvin mau nyusulin Dan tidak? " tanya Seno.
" Mau, Dad..." jawab Arvin sumringah.
" Oke, kalau gitu ayo kita susul Dan. " ajak Seno. Lalu ia meraih tangan kecil Arvin dan di tuntunnya.
" Bagaimana tadi pemeriksaannya mbak? " tanya Pipit ke Armell.
" Alhamdulillah, semua baik. Usianya tiga minggu. " jawab Armell.
" Duh, cantiknya anak kamu Pit. " puji Leora sambil menggendong baby Paris.
" Makasih kak. Tapi semua yang di bawa mirip sama Abang bule. Pipit cuma kebagian bibirnya aja. " jawab Pipit.
" Besok, anak kedua kita akan kita bikin yang mirip kamu, oke? " ujar Bryan.
" Ck. Yang ini aja rasa sakitnya masih terasa. Udah ngomongin anak lagi. Awas aja abang sampai kayak bang Seno. "
" Maksudnya? "
" Bang Seno kan pasti sengaja bikin mbak Mell hamil lagi tanpa minta persetujuan. Kalian laki-laki kan pasti sama. Yang di pentingin enaknya doang. Nggak mikirin, kalau ngelahirin itu sakit minta ampun. Kalian bisanya cuma bilang.... Sayang, ayo dong lagi..... Sayang, pakai pelapis itu nggak enak...Enak yang langsung kesentuh kulit. Gitu kan? " celoteh Pipit sambil menirukan kata-kata yang biasa di pakai suaminya untuk merayunya.
" Iya nggak bang Dion? " Pipit ganti bertanya ke Dion, yang hanya di jawab dengan senyuman canggung dari Dion. Sepertinya ia juga melakukan hal yang sama dulu.
" Bener nggak kak Leora? Bang Dion juga pasti sering seperti itu. " tanya Pipit ke Leora. Duh, Leora jadi bingung harus menjawab apa. Meskipun sudah menikah selama enam bulan, tapi ia masih suka canggung dengan suaminya. Akhirnya ia hanya tersenyum.
__ADS_1
***
bersambung