
Tepat pukul dua malam, Pipit terbangun dari tidurnya. Ia menggeliat kecil, lalu membuka matanya perlahan. Ia sedikit tertegun, seingatnya tadi ia tertidur dengan berbantalkan meja dan posisinya duduk. Tapi kenapa badannya terasa nyaman. Ia tidak merasa pinggangnya sakit, atau lehernya kaku. Lalu ia membuka matanya lebar-lebar.
Ia sedikit terkejut melihat suasana kamar, dan ia melihat ternyata ia tertidur di atas ranjang. Ranjang yang luas, dengan spray dan bed cover berwarna abu-abu. Kamar itu bukan kamar tidurnya, karena seingatnya, kamarnya bercat warna terang. Tapi cat dinding di sana berwarna agak gelap.
Lalu saat ia sudah tersadar 100% dari tidurnya, ia mencium bau maskulin parfum seorang laki-laki. Ia ingat, aroma ini sama dengan aroma yang sering ia cium saat Bryan ada di dekatnya. Oh, fix, sekarang Pipit sadar jika ia berada di kamar Bryan.
Ketika ia menyadari hal itu, ia segera membuka selimut yang menutupi tubuhnya sampai dada.
" Ah, syukurlah... Bajuku masih utuh, tidak berkurang ataupun berubah sedikitpun. " gumam Pipit dengan posisi duduk.
" Oh, Ya Tuhan...." Pipit menepuk jidatnya perlahan. " Tugasku????" pekiknya. Ia lalu segera turun dari atas ranjang dan keluar dari kamar.
Di luar, ia mendapati Bryan yang sedang tidur dengan menekuk kakinya di atas sofa, karena tubuhnya lebih panjang daripada sofanya. Pipit berjalan perlahan, lalu membuka laptop.
Ia membuka folder yang berisi tugas yang menurutnya belum selesai itu. Tapi alangkah terkejutnya ia, ketika melihat makalahnya sudah selesai, dan telah tersusun rapi tinggal di cetak. Ia menyunggingkan kedua sudut bibirnya sambil menatap Bryan yang sedang tertidur.
Ia berdiri dari posisi duduknya, lalu berjalan perlahan ke dekat Bryan. Ia jongkok di depan Bryan yang tertidur pulas, tapi terasa tidak nyaman dengan posisi tidurnya.
" Terima kasih banyak, om dokter bule. " bisiknya pelan takut suaranya akan membangunkan laki-laki yang berstatus suami sirinya itu.
Pipit menatap dalam-dalam wajah yang tengah tertidur itu dengan senyuman yang tersungging tanpa ia sadari.
' Kasep pisan euy... Alisnya tebal, hidungnya mancung, rambutnya pirang, bibirnya seksi. Matanya biru kayak mata kucing. ' pikir Pipit. Tapi ia lalu memukul kepalanya sendiri. ' Duh, mikir apaan sih kamu piiiitt...' Lalu ia segera berdiri dari jongkoknya dan masuk ke dalam kamar kembali.
🧚
🧚
Pagi menjelang. Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam pagi. Pipit yang selesai menjalankan sholat subuh tadi, kini keluar dari dalam kamar. Ia keluar perlahan dari dalam kamar dengan mengendap-endap seperti pencuri. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, karena ia tidak melihat Bryan di sofa seperti tadi malam.
" Ngapain celingak-celinguk? Nyariin Abang? " goda Bryan.
Tap. Jantung Pipit langsung berdetak dengan kencang. Pertama karena ia agak terkejut karena tiba-tiba Bryan ada di belakangnya. Yang kedua, karena ia melihat Bryan yang nampak seksi dengan kaos oblong tanpa lengan dengan kondisi agak basah dan celana sport pendek, serta keringat yang mengucur dari pelipisnya, karena Bryan habis nge-gym tadi.
Pipit memindai tubuh Bryan dari atas ke bawah, lalu kembali ke atas lagi tanpa di sadarinya, sambil sesekali menelan salivanya.
" Oe...Kok malah bengong.." seru Bryan sambil melambaikan sebelah tangannya di depan muka Pipit.
" Keren. " ucap Pipit kebablasan karena ia terkejut dengan suara bariton Bryan.
" Keren? " tanya Bryan sambil menatap wajah Pipit yang nampak salah tingkah.
" Itu....emmm....itu...apa itu namanya...tugas...oh iya, makalah Pipit keren. Finishing dari abang keren. Makasih ya bang. " ujar Pipit gugup karena ketahuan telah mengagumi tubuh atletis Bryan.
" Hem. " sahut Bryan sambil meninggalkan Pipit yang masih di depan pintu kamar belum terkumpul semua kesadarannya.
Bryan berjalan ke arah dapur, lalu mengambil segelas air putih dari dispenser dan menenggaknya sampai tuntas tak bersisa.
Pemandangan itupun tak luput dari mata Pipit. Bryan yang sedang menenggak minuman dengan tetesan air yang mengalir di lehernya membuat Bryan nampak semakin seksi dan menggoda bagi Pipit.
" Astaghfirullah..." gumam Pipit sambil memejamkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Kok malah masih bengong di sini? Udah cuci muka? "
__ADS_1
Pipit langsung membuka matanya, " Udah dong. Kan habis wudhu juga. "
" Kok masih ada belek sama bekas iler tuh. " goda Bryan.
Pipit langsung berlari ke depan pigura yang ada di ruangan itu, dan mengecek mata serta sudut bibirnya. " Ihhh, abang ngerjain Pipit ya...." protes Pipit merajuk. " Udah bersih gini kok. Nggak ada belek atau iler juga kok. "
Bryan terkekeh pelan mendengar rajukan dari Pipit.
" Udah sikat gigi juga emangnya? "
" Nah, kalau itu belum. " sahut Pipit.
" Pantesan mulutnya bau jigong. "
Pipit spontan menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya. " Kan Pipit nggak punya sikat gigi di sini. " jawab Pipit sambil tetap menutup mulutnya.
" Ayo. " ajak Bryan sambil memberi isyarat ke Pipit dengan gerakan kepalanya untuk masuk kembali ke dalam kamar. Pipit mengikutinya. Bryan masuk ke dalam kamar mandi, dan Pipit tetap mengikutinya.
" Ini, sikat gigi kamu. Sudah abang taruh di sini sejak kemarin. " Bryan menunjukkan sebuah sikat gigi yang nampak baru, tapi sudah berada di dalam gelas dimana Bryan menyimpan sikat giginya sendiri.
Setelah memberitahu Pipit, Bryan segera keluar dari dalam kamar mandi.
" Aku tunggu di luar, jadi habis gosok gigi, segera keluar. " teriak Bryan.
Setelah Bryan keluar, Pipit segera menggosok giginya dengan sikat gigi yang Bryan tunjukkan tadi.
' Jadi kemarin, om dokter beli sikat ini ternyata buat Pipit toh. ' batin Pipit.
" Abang merokok? Dokter kok merokok sih? " ujar Pipit saat ia menyusul Bryan di balkon.
Bryan segera mematikan rokoknya saat melihat Pipit di dekatnya. " Cuma sesekali. Nggak terus-menerus. Sehari juga cuma 2 batang. Itupun kalau ingin. Kadang berhari-hari juga nggak. " jawab Bryan.
" Udah selesai gosok giginya? " tanyanya.
Pipit mengangguk.
" Oke, kita sepedaan yuk, keliling komplek. Olahraga biar sehat. " ajak Bryan sambil berdiri dari duduknya.
" Pipit kan nggak ada sepeda. "
" Ada. "
" Tapi Pipit entar nggak bawa baju ganti. Habis sepedaan pasti keringetan. Jijik kalau nggak mandi terus ganti baju. "
" Udah, kamu tenang aja. " sahut Bryan sambil menarik tangan Pipit supaya mengikutinya.
Sampai di garasi mobil khusus Bryan, terlihat Bryan menuntun dua buah sepeda.
" Wuahhh....kok Abang punya sepedanya dua gini? Gimana ceritanya? Hmmm.... jangan-jangan abang sengaja nyediain buat cewek-cewek abang yang Abang ajak nginep di sini ya. " ujar Pipit dengan pandangan curiganya.
" Ck. " Bryan berdecak. Masih saja istri kecilnya itu curiga kepadanya. " Sudah pernah abang bilang, Abang nggak pernah bawa cewek manapun ke apartemen. Kamu yang pertama, dan satu-satunya. Dan sepeda ini, sengaja abang beli buat kamu. Kan nggak menutup kemungkinan suatu saat kamu bakalan nginep di apartemen. Gimanapun juga, kita udah nikah, meski baru nikah agama. " jelas Bryan panjang lebar.
Pipit manggut-manggut sambil mengamati sepeda itu. Sepeda itu memang nampak masih sangat baru. Bannya masih hitam legam. Mungkin memang benar apa yang di bilang Bryan.
__ADS_1
" Ya udah, ayo buruan. Keburu siang. " ujar Bryan yang sudah berada di atas sepedanya.
" Siappp..." jawab Pipit sambil menaiki sepedanya juga.
Mereka mulai mengayuh sepedanya perlahan berdampingan mengitari kompleks apartemen.
" Bang, naik sepeda kayak gini mah nggak asyik. " teriak Pipit.
" Terus yang asyik gimana? "
" Kita balapan yuk. "
" Oke. Tapi kalau kalah, jangan nangis ya. " canda Bryan.
Tanpa aba-aba, Pipit langsung mengayuh sepedanya sekencang mungkin meninggalkan Bryan yang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat istri kecilnya nyolong start.
Bryan juga mengayuh sepedanya sekencang mungkin mengikuti Pipit dan menyamainya.
Setelah hampir satu kali putaran, Pipit tiba-tiba mengerem sepedanya mendadak. Bryan yang tidak tahu, jadi agak kewalahan mengerem sepedanya juga.
" Kenapa berhenti mendadak sih? " ujar Bryan kesal.
" Lapar. Bang, kita makan bubur ayam itu dulu yuk. Kayaknya enak, rame soalnya. "
Bryan menoleh ke arah tempat yang Pipit tunjuk. Seorang tukang bubur ayam keliling yang berada di seberang jalan dan sedang dikerumuni orang.
" Kamu ya. Udah curang, nyolong start duluan, eh, sekalinya berhenti juga asal berhenti. " ujar Bryan kesal.
" Ck. Yang penting Pipit pemenangnya. Jadi apapun yang Pipit minta, Abang harus penuhi. Dan Pipit mau sarapan bubur itu. " tunjuk Pipit ke tukang bubur tadi.
" Ya udah, ayo. Sepeda kamu tinggalin aja di sini dulu. Kamu bonceng abang. "
" Eh, kalau hilang gimana? Kan sayang, sepeda mahal gini. Pipit bawa ajalah sepedanya kesana. "
" Pit, jalanan di depan itu ramai. Kita harus nyebrang biar bisa beli bubur itu. Abang nggak mau kamu kenapa-napa ya. " tutur Bryan dengan tegas. " Ayo cepetan naik sini, atau kita nggak jadi beli bubur ayam. Lagian nggak akan ada yang berani nyuri di komplek apartemen ini. "
Sambil cemberut, Pipit menurut sama kata-kata suaminya. Ia turun dari atas sepedanya memarkirkan di tempat yang aman. Lalu ia berjalan menghampiri Bryan, dan naik ke atas sepeda Bryan. Karena sepeda itu tidak ada jok penumpangnya, maka Pipit duduk di besi yang berada di depan Bryan. Cie...cie...cie... romantis nih roman-romannya.
" Pegangan di pinggang abang sini. Jangan di atas kemudi. Entar berat kalau mau belok. " ujar Bryan sebelum mengayuh sepedanya.
Pipit mengangkat kepalanya sesaat melihat ke arah Bryan dengan cemberut. Tapi tak urung ia melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Bryan.
" Abang bau asem ih. " ujar Pipit kala Bryan sudah mulai mengayuh sepedanya.
Bryan menyunggingkan senyumnya. " Enak aja. Kamu tuh yang bau asem. Badanku selalu berbau wangi meskipun aku berkeringat. " sahutnya.
Pipit menegakkan kepalanya memandang Bryan sebentar sambil berdecih, lalu ia kembali menempelkan kepalanya di dada Bryan kembali. Niatnya mau mengejek Bryan, tapi malah dia yang kena. Memang benar yang Bryan bilang, meskipun ia habis berolahraga dan berkeringat, tapi aroma badan Bryan tetap harum. Entah parfum merk apa yang ia gunakan. Setidaknya itulah yang di pikirkan oleh Pipit.
Wah, bang bule menang banyak nih. Bryan tersenyum tipis karena ia merasa bisa mengendalikan gadis abegeh yang sekarang sudah berstatus menjadi istrinya itu. Gadis keras kepala, dan sering membantah omongannya. Tapi sedikit demi sedikit, gadis itu mulai patuh kepadanya.
***
bersambung
__ADS_1