
" Pit...ayo dong...kamu jangan kayak gini..." ujar Armell. Pipit masih saja diam.
" Kamu bilang sama mbak, mau kamu gimana? Kasihan suamimu. Dia bingung sama sikap kamu. "
" Pipit.... Pipit juga bingung mbak....Sama..." jawab Pipit.
" Bingung kenapa? " tanya Armell sambil mengernyitkan dahinya. Sedangkan di dekat pintu kamar, ada sepasang telinga yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka.
" Pipit bingung bagaimana harus berekspresi...harus seneng, marah, takut, apa sedih saat tahu kalau di sini, ada bayinya. " ujar Pipit sambil menunjuk perutnya.
" Lha hati kamu bagaimana? Seneng nggak? "
" Ya seneng mbak...Mana ada seorang perempuan yang sudah bersuami, di beri kepercayaan dari Tuhan untuk menjadi seorang ibu kok nggak seneng. "
" Terus, sedihnya kenapa? "
" Ya sedih... Pipit kan masih kuliah. Masak iya Pipit kuliah sambil melendung. Kalau teman-teman sama para dosen tahu gimana? Mereka pasti bicara yang tidak-tidak. " ujar Pipit sambil mempraktekkan perut buncitnya dengan tangannya.
" Kamu tuh udah kuliah. Udah jadi mahasiswa. Bukan lagi anak SMA. Kuliah tapi hamil itu diperbolehkan. Tidak masalah. Ada kok mahasiswi yang hamil kayak kamu gini. Banyak malahan. Kamu juga nggak perlu malu. Kan kamu hamil karena udah nikah. Wajar perempuan bersuami hamil itu. " jawab Armell. " Lalu, yang buat kamu takut, apa? "
" Banyak mbak. Pipit takut kalau nggak bisa jaga kandungan Pipit dengan baik. Pipit takut melahirkan pasti sakit. Pipit juga takut jika anak Pipit udah lahir nanti, Pipit nggak bisa jadi ibu yang baik. " jawab Pipit.
Bryan yang ada di dekat pintu menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil mengusap wajahnya kasar.
" Terus, yang membuat kamu marah apa? "
" Ya.... karena Pipit kesel sama bang bule. Pipit udah bilang, lagi masa subur, Pipit minta pakai pengaman. Tapi abang gitu, sengaja biar Pipit hamil. " ujar Pipit dengan raut wajah yang berubah menjadi kesal.
Armell menghela nafasnya berat.
" Pit, mungkin suamimu salah. Tapi juga tidak begitu salah. Uncle B, sudah dewasa. Dia itu seumuran sama suamiku. Wajar jika dia sudah ingin punya keturunan. Apalagi dia sudah menikah. " ujar Armell.
" Sekarang, mbak minta, bicaralah dengan suamimu. Jangan diamkan dia. Dan ini ..." Armell mengelus perut rata adiknya. " Dia juga butuh perhatianmu. Jangan takut. Tuhan mempercayakan anak kepada kamu, berarti kamu pasti bisa menjadi ibu yang baik. Melahirkan juga tidak semenakutkan yang kamu lihat. Kamu ini kan jagoan. Berkelahi dan mukamu lecet dan bibirmu sobek saja kamu tidak takut. " lanjutnya.
Pipit mengangguk.
" Uncle B..." panggil Armell. Rupanya Armell sudah tahu jika bryan berada di dekat pintu kamar. " Masuklah kemari. "
Mendengar sang kakak memanggil suaminya, Pipit menatap tidak suka. " Mbak...kok..."
__ADS_1
" Bicarakan baik-baik dengan suamimu. Bayi ini, milik kalian berdua. " ujar Armell sambil mengelus perut Pipit. " Dan pesen mbak, sayangi dia. Dia adalah harta paling berharga dalam hidup kalian. " tambahnya.
Lalu Armell beranjak saat Bryan masuk ke dalam kamar. Setelah masuk, Bryan menghampiri Pipit yang sedang duduk di atas ranjang. Ia mendudukkan dirinya di sebelah Pipit.
" Honey...Maaf. " ucap Bryan.
Pipit menatap tanpa ekspresi ke arah Bryan.
" Honey, maafkan aku. Aku akui, aku salah karena secara tidak langsung, aku memaksa kamu untuk mengandung anakku. " ucap Bryan sambil menunduk. " Aku sangat menginginkan seorang anak ada di dalam rumah tangga kita. " lanjutnya.
Pipit masih saja diam.
" Kamu jangan diam saja kayak gini. Kalau kamu memang marah sama aku, marah saja. Lebih baik kamu memarahiku daripada kamu diam seperti ini. "
" Pipit juga ingin punya anak kayak abang. Pipit juga pengen memberikan keturunan buat abang. Tapi Pipit kan cuma minta waktu. Paling tidak sampai Pipit lulus kuliah. Pipit takut bang...Pipit merasa Pipit masih terlalu kecil untuk punya anak. "
" Kita akan mengurusnya berdua. Kamu kan tidak sendirian honey. " sahut Bryan.
" Terus, sekarang gimana sama kuliah aku? "
" Kamu tetap bisa kuliah. Orang kuliah itu boleh hamil, honey. Apalagi kamu punya suami. Dan suamimu ini dokter yang cukup terkenal. Tidak ada dosen di universitas kamu yang tidak mengenalku. Jadi kamu tidak perlu khawatir jika dosen-dosenmu maupun teman-temanmu membullymu. "
" Mereka akan segera tahu kalau kamu adalah istri dari seorang dokter spesialis bedah Bryan Merryll Ernest. " jawab Bryan. " Kamu akan tetap bisa kuliah seperti biasa meskipun kamu sedang hamil. Aku akan jadi suami dan calon Daddy siaga buat kalian. " lanjutnya.
Pipit kemudian menubruk tubuh Bryan dan memeluknya erat. Sungguh hormon wanita hamil sangat wow. Baru beberapa menit yang lalu, ia masih kesal dengan suaminya. Tapi sekarang, ia memeluk erat suaminya. Bryan tersenyum lalu mengelus punggung Pipit dengan penuh kasih sayang.
Tapi tiba-tiba, Pipit melepas pelukannya dan bahkan mendorong tubuh Bryan.
" Pipit kan masih kesel sama Abang. Kok malah jadi meluk-meluk sih. "
" Yang meluk duluan tadi siapa?? "
" Pipit. Pipit juga tahu. "
" Kamu masih kesel gimana sih honey? "
" Pipit kesel sama Abang kenapa abang hamilin Pipit tapi dadakan kayak gini. Jadi kan Pipit nggak ada persiapan. "
" Ya... Rencananya juga dadakan. " gumam Bryan.
__ADS_1
" Kok dadakan? "
" Kalau kamu nggak hamil, kamu kan nggak mau bilang sama teman-teman kamu kalau kamu sudah bersuami. Apalagi bilang ke mantan kamu yang sok kecakepan itu. " gerutu Bryan.
" Oh, jadi ceritanya, Abang bikin hamil Pipit karena cemburu? Jangan-jangan ....Abang bikin hamil Pipit waktu abang marah yang pas Pipit ketemu sama si Roy itu. "
" IYA..." jawab Bryan. Kini wajah Bryan yang berubah masam.
" Cie ..cie...cie... yang cemburu....Lutunya suamiku...Udah mau punya anak juga masih suka cemburuan. " goda Pipit sambil menoel dagu Bryan.
" Apaan sih. " Bryan mengelak.
" Dihhh.... cemburu buta itu namanya..." goda Pipit kembali.
" Awas kamu ya..." Bryan lalu menangkup tubuh Pipit dan menggelitik pinggangnya sampai Pipit tertawa terbahak-bahak karena kegelian. Ia berusaha berontak, tapi kekangan Bryan cukup kuat. Hingga mereka sama-sama berada di atas ranjang.
" Abang... Anaknya kegencet ini. " teriak Pipit saat ia tidak bisa lepas dari kungkungan suaminya.
Spontan Bryan langsung melepas tubuh Pipit dan menjauh darinya. Dengan wajah panik, ia menatap perut istrinya lalu mengelusnya sambil berkata, " I am sorry my baby. "
" Ha...ha ..ha .." Pipit tertawa keras melihat raut wajah panik dan cemas suaminya. Kini ia sadar betapa Bryan begitu menginginkan anak darinya.
Pipit kemudian berdiri di atas ranjang, lalu menangkup wajah Bryan, lalu mengecup kening, mata, hidung, dan terakhir bibir suaminya.
" Aku mencintaimu, suamiku. " ucap Pipit.
" Aku juga....sangat...sangat mencintaimu..dan calon anak kita. " sahut Bryan. Lalu ia mulai mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir istrinya tapi tiba-tiba Pipit mendorongnya.
" Why? " tanya Bryan dengan wajah bingungnya karena setelah mendorongnya, Pipit menjauhkan diri darinya.
" Abang jangan dekat-dekat. Pipit nggak suka. " jawab Pipit sambil menggelengkan kepalanya.
" Tapi...Tadi kamu cium aku, kamu baik-baik saja loh. "
" Itu kan karena Pipit yang mau. Tapi sekarang, Pipit lagi nggak mau. Pipit mau mandi. " ujar Pipit tanpa rasa bersalah sedikitpun, dan berjalan menuju ke kamar mandi meninggalkan suaminya yang masih bengong akan perubahan sikapnya. Setelah Pipit menutup pintu kamar mandi, Bryan mengusap wajahnya kasar.
" Apa malam nanti juga dia akan menolakku karena bukan dia yang menginginkannya? Oh, bagaimana nasib ularku???? Dia akan kehausan dong...Oh, ya Tuhan...kenapa ngidamnya harus seperti ini???" seru Bryan.
***
__ADS_1
bersambung