Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Sesi curhat


__ADS_3

" Kalau ngantuk, tidur aja lagi. Nggak usah di tahan. " ujar Bryan ke Pipit masih tetap fokus ke jalanan. Karena sesekali ketika ia melirik, Pipit terlihat sangat menahan kantuk, bahkan beberapa kepalanya kejedot jendela mobil.


" Nggak...Siapa yang ngantuk sih ? Abang bule kali yang ngantuk. Kalau Abang bule ngantuk, sini biar Pipit gantiin nyetirnya. "


" Eleh ...emang bisa nyetir kamu? "


" Ihhh, ngeledek nih ceritanya. Jangan salah ya bang...Kalau cuma nyetir mobil kecil kayak gini mah kecil. " sahut Pipit sambil menjentikkan jari kelingkingnya.


" Mobil gede gini kamu bilang kecil? Yang bener aja. " protes Bryan sambil tersenyum menyeringai. Mobil Bryan tidak bisa di katakan mobil kecil sih emang, karena mobilnya bukan mobil jenis sedan gitu. Mobil Bryan itu Pajero sport keluaran terbaru.


" Kecil lah. Yang gede tuh truck, bis...Itu baru gede. Eh, bang...Abang bule nggak tahu kan, kalau Pipit ini bahkan bisa nyetir truck. Cuman ya di larang aja sama ibu kalau mau nyetir mah. Belum punya KTP soalnya. Jadi nggak punya SIM. "


" Yakin, kamu bisa nyetir truck? " tanya Bryan sambil menoleh sebentar ke arah Pipit.


" He em. " jawab Pipit sambil mengangguk. " Pipit kan sering bawa truck milik paman Pipit yang di buat angkut beras. "


" Nggak yakin gue. "


" Hisss....Abang mah suka nggak percayaan. Entar sore nih, habis Pipit dari sekolah, kita ke rumah paman. Pipit tunjukin ke Abang bule, gimana lihainya Pipit bawa truck. Abang bule Pipit ajakin jalan-jalan deh entar. "


" Oke. " jawab Bryan. " Kamu kalau ngantuk tidur aja dulu. Masih lama juga nyampai kampung kamu. "


" Nggaaakk... " jawab Pipit sambil menguap. " Pipit nggak ngantuk. " lanjutnya sambil membuka matanya lebar-lebar.


Bryan tersenyum lebar melihat kelakuan gadis ABG itu. " Dasar bocah. Ngantuk, bilang aja ngantuk. "


" Ck! Pipit udah abegeh ya baaang....Jangan suka manggil Pipit bocah kenapa sih? " Pipit dalam mode cemberut sekarang.


" Tuh bibir udah mancung. Jangan makin di mancungin gitu. Entar ada bebek lewat, di sosor tuh sama bebek, di kira satu marga. "


" Pipit emang ngantuk ya. Tapi Pipit nggak mau tidur. Takut kalau tidur terus tiba-tiba ada yang berbuat nggak senonoh. " ujar Pipit sambil melirik ke arah Bryan.

__ADS_1


Bryan yang melihat Pipit meliriknya saat berbicara seperti itu menjadi kesal. Nih anak otaknya udah terlanjur terkontaminasi kayaknya.


" Udah aku bilang, aku tuh nggak bakalan nafsu sama anak kecil kayak kamu. Kamu tenang aja, aku nggak bakalan berbuat yang nggak-nggak sama kamu. "


" Eh, Abang bule jangan asal ngejeplak ya. Pipit ini emang masih abegeh. Tapi wajah Pipit ini cantik, body Pipit juga menarik. Di sekolah aja nih, banyak cowok yang ngantri buat jadi cowoknya Pipit. Malah ada juga nih yang mau di duain asal Pipit mau jadi cewek dia. " celoteh Pipit dengan pedenya. " Bener orang bilang, jaman sudah semakin edan. " lanjutnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Pacar kamu yang dulu gimana? Masih sama apa udah ganti? "


" Udah Pipit lengserkan. "


Bryan tersenyum dalam hati. Sepertinya saingannya sudah musnah.


" Lagi nunggu calon imam yang baru. "


" Udah ada calon? "


" Udah terlihat hilalnya sih. Tinggal nunggu di umumkan. "


Ketika ia memantapkan perasaannya, ia berjanji kepada dirinya sendiri, dan almarhum kedua orang tuanya, kalau ia akan berubah menjadi laki-laki yang baik.


Bryan sebenarnya juga terkadang masih tidak percaya jika dia yang seorang Casanova yang nggak kaleng-kaleng, yang di minati banyak perempuan di luaran sana karena kariernya sebagai seorang dokter dapat di acungi jempol, bisa jatuh cinta kepada seorang gadis belia, bahkan masih ABG. Jika mengingat hal itu, ia pasti akan senyum-senyum sendiri.


Tapi ia juga tidak habis pikir, ia yang seorang Casanova, susah sekali mendekati pujaan hatinya itu. Sungguh di luar ekspektasi Bryan , seorang Fitria menolaknya mentah-mentah meskipun ia mengatakan akan menjadikan Pipit sebagai calon makmumnya kala itu dalam posisi bercanda.


Bryan menghela nafas panjang ketika mengingat hal itu. Dan sekarang, ia bela-belain ambil cuti untuk mengantar sang pujaan hati pulang ke kampungnya padahal jujur saja, ia sangat capek, karena semalam ia ada operasi dadakan dan operasi itu berlangsung cukup lama. Baru tadi jam 3 operasi itu selesai dan ia langsung meluncur ke rumah sahabatnya untuk menjemput Pipit.


" Bukan temen sekolah. " jawab Pipit atas pertanyaan Bryan yang tadi. " Pipit pindah haluan. Kalau temen sekolah nggak asyik LDR an. Pipit kan mau nerusin kuliah di Jakarta juga kayak mbak Mell dulu. "


" Siapa? "


" Ada deh. Belum saatnya di launching. "

__ADS_1


Sial. Siapa dia?


" Kamu mau kuliah di Jakarta? Mau ambil jurusan apa? "


" Pengennya sih kalau keterima di universitas di Jakarta. Kalau mau ambil jurusan apa, sebenarnya Pipit masih bingung. Kalau menurut abang bule, Pipit bagusnya ambil jurusan apa? "


" Sekarang SMA kamu, kamu ambil IPA apa IPS?"


" IPA lah. Pipit kan anak pinter. Cerdas lagi. Dan selalu jadi kebanggaan orang tua. " sahut Pipit dengan pedenya.


Bryan sedikit tersenyum tipis. " Kalau kamu IPA, kenapa nggak milih ambil kedokteran aja? "


" Ih, kuliah kedokteran pasti mahal banget. Iya kalau Pipit bisa dapet beasiswa. Kalau nggak, kasihan ibu. Tapi kalau di tanya sih, Pipit emang pengen kuliah di kedokteran. "


" Kenapa harus mikirin biaya? Ipar kamu itu, kalau cuma nguliahin kedokteran orang sekampung juga hartanya nggak bakalan habis. "


" Itu kan punya abang. Pipit mah nggak boleh atuh, mempergunakan kesempatan dalam kesempitan kayak gitu. Bang Seno kan juga punya istri, punya anak, yang harus di nafkahi, besok juga harus di sekolahin. Pipit nggak boleh dong masih membebani bang Seno. "


" Ya udah, aku aja yang biayai kuliah kamu. Kalau cuma biayai kuliah kedokteran kamu aku masih mampu. "


" Abang bule bercanda ya? Pipit aja nggak mau ngerepotin bang Seno kok malah mau ngerepotin bang bule. Emang Pipit siapanya Abang? Abang bule kan juga besok nikah, punya anak juga. Jadi punya tanggungan juga dong. " jawab Pipit sambil tersenyum miris.


Pipit memang sudah lama bercita-cita ingin kuliah kedokteran. Tapi ia cukup tahu diri. Siapa dia? Mana mampu dia kuliah kedokteran yang biayanya pasti sangat mahal. Pipit menghela nafas panjang. Suasana di dalam mobil tiba-tiba lengang. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


***


bersambung


Update pagi-pagi lagi check....😄😄😊😊😍😍


Jangan lupa terus dukung karya othor ya guysss....Vote...Vote...Vote....Klik jempolnya ya...yang banyak....

__ADS_1


Lope-lope sekarung beras deh pokoknya....


__ADS_2