
Malam kemarin, Bryan menginap di penginapan Tante Ira, yang dulu pernah di tempatinya ketika datang ke kampung ini bersama Damar dan Seno. Dan Pipit tidur di rumah sendiri.
Ketika matahari sudah memperlihatkan sinarnya, barulah Bryan kembali ke rumah Pipit.
" Assalamualaikum..." ucap Bryan sambil melangkah masuk ke dalam rumah Pipit yang tidak tertutup.
" Waalaikum salam. " sahut Pipit. " Masih sehat kan bang? " tanya Pipit ketika ia ke depan dan melihat Bryan. Ia sampai memindai tubuh Bryan dari atas ke bawah.
" Maksudnya? Aku jelas sehat lah. "
" Alhamdulillah, kalau Abang bule sehat. Berarti nggak jadi manggil warga buat ngebuatin makam buat Abang. "
Pletak
Bryan menyentil kening Pipit cukup keras.
" Adduhhh. Sakit atuh bang." protes Pipit sambil mengusap keningnya.
" Makanya, kalau punya mulut jangan asal di buka. " sahut Bryan sambil berjalan masuk dengan sedikit menyenggol tubuh Pipit. " Kamu mau ke sekolah jam berapa? "
Bukannya menjawab, Pipit malah terlihat celingak-celinguk ke luar. " Barang-barang Abang masih di tempat tante Ira?" tanya Pipit masih sambil melongok luar.
" Udah tuh, di mobil. " jawab Bryan sambil menunjuk luar dengan dagunya.
Pipit hanya ber-oh ria, lalu ia kembali masuk kedalam rumah, membuat Bryan di buat melongo.
" Hei, pertanyaan ku belum kamu jawab. " protes Bryan dengan suara yang agak keras karena Pipit sudah berada di belakang.
" Ha? " Pipit terlihat menyembul dari dalam. " Pertanyaan apa? "
" Ck! Dasar bocah. " geram Bryan. " Kamu mau berangkat ke sekolah jam berapa? "
" Ooohhh...Entar jam sembilanan. Ini mau beberes di belakang dulu bentar, soalnya nanti kan rumah mau di tinggal lagi. Habis itu, kita cari makan, baru deh habis itu Pipit berangkat. "
" Mau di antar sekalian? "
" Nggak usah. Pipit udah terlanjur janjian sama teman Pipit mau nyamperin ke rumahnya. Berangkat bareng. Bang bule tungguin di rumah aja. "
" Oke deh kalau gitu. "
Pipit kembali ke dalam untuk beberes dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah mengambil ijazah.
🧚
__ADS_1
🧚
Siang menjelang. Pipit sudah kembali dari sekolah. Kini ia sudah resmi lulus SMA dan menyandang gelar baru, yaitu pengangguran 😊. Ia kembali dari sekolah dengan membawa ijazahnya.
Sampai rumah, ia langsung siap-siap, menyiapkan semua barang yang bakal ia bawa. Karena rencananya ia akan lama di sana. Menemani sang kakak menjaga si kecil saat nanti ibu pulang, dan mendaftar kuliah di Jakarta juga.
Pipit keluar dari kamar dengan membawa sebuah koper. Ia kini tidak hanya membawa tas ransel yang biasa ia bawa saat datang ke rumah kakaknya, tapi kali ini ia membawa sebuah koper karena ia membawa baju cukup banyak.
" Banyak banget bawaannya? " ujar Bryan sambil melirik sekilas ke arah Pipit. Saat ini, Bryan sedang asyik melihat foto-foto Pipit dan teman-temannya selama masa sekolah mereka yang sudah terbingkai manis di sebuah album.
" Ya kan Pipit bakalan lama di sana bang. Apalagi kalau Pipit keterima kuliah di Jakarta juga. " sahut Pipit sambil terus menyeret kopernya keluar dari rumah.
" Ijazah, jangan lupa di bawa. "
" Udah beres semua. Insyaallah udah nggak ada yang ketinggalan. "
Plok....plok...plok....
Pipit menepuk-nepuk kedua tangannya membersihkannya. Lalu ia kembali ke dalam rumah.
" Kita langsung berangkat sekarang aja yuk bang. Biar sampai Jakarta nya nggak kemaleman. " ujarnya.
" Iya bentar. " sahut Bryan masih sibuk membolak-balikkan album foto itu sambil sesekali terkekeh geli.
Pipit segera merebut album foto yang ada di tangan Bryan. Tidak...Tidak ..Tidak bisa.... Tidak boleh...Jangan sampai Bryan melihat foto-foto konyolnya bersama teman-temannya. Kalau sampai Bryan melihat sampai halaman belakang, bisa Pipit pastikan, Bryan akan mempunyai alat untuk menggodanya terus.
Untung Bryan cekatan. album foto itu tak terebut. Album foto itu masih stay di tangannya. " Kamu kenapa? Tiba-tiba main serobot? "
" Balikin itu album Pipit, bang. "
" Orang aku belum selesai lihatnya kok. " Jawab Bryan enteng sambil kembali membuka album foto itu.
Pipit kembali mencoba merebut, " Balikin bang, sini...." pintanya.
Bryan menggeleng sambil terus membuka album itu dan tersenyum terkekeh. Pipit kembali mencoba merebut, tapi gagal. Ia kembali merebut, dan terus saling berebut. Bahkan Bryan sampai berdiri dari duduknya dan mengangkat tinggi-tinggi album itu di salah satu tangannya.
" Banggg....balikin...." rengek Pipit sambil sedikit meloncat-loncat untuk menggapai tangan Bryan.
" Bentar lagi selesai, piiit..." kekeh Bryan.
" Iiihhhh....Abang balikin...." pinta Pipit dengan meloncat. Kali ini loncatan Pipit agak tinggi dan keras, yang membuat tubuhnya oleng saat kakinya kembali menginjak tanah.
Dan hap....bruk....
__ADS_1
Bryan menangkap tubuh oleng Pipit, dan alhasil kini mereka berdua terjatuh di atas sofa dengan posisi tubuh Pipit di atas Bryan. Posisi mereka begitu tepat dan nyaman. Bahkan manik mata mereka saling menatap persekian detik.
" Tuh, pak ..Lihat... Kelakuan anak gadis Bu Ani. Saya tadi sudah bilang, tapi pak kades nggak percaya. " tiba-tiba terdengar suara ibu-ibu cempreng berada di rumah Pipit.
Bryan dan Pipit segera mengalihkan pandangan mereka, tapi posisi mereka masih belum berubah. Betapa terkejutnya mereka berdua, saat melihat rumah Pipit ramai oleh warga. Ada pak kades, ada Ulil anak pak kades, ada ibu-ibu rempong, dan masih banyak lagi.
" Bapak lihat sendiri kan, kelakuannya seperti apa. Di rumah lagi nggak ada orang, dan mereka berdua, laki-laki dan perempuan berduaan di rumah yang sepi, dengan posisi seperti itu..." ucap ibu-ibu itu menggebu-gebu dan menunjuk ke arah Bryan dan Pipit.
Menyadari posisi mereka, Pipit segera bangun dan berdiri. Begitu juga dengan Bryan.
" Fitria, kamu ini masih kecil. Kenapa berani-beraninya berbuat mesum begini? Nggak kakak, nggak adik, kelakuannya sama. " ujar Ulil pedas dan dengan tatapan mengejek.
" A'....Aa' jangan asal ya kalau bicara. Siapa yang mesum? Aa' kalau emang kakak aku menolak Aa', Aa' jangan asal nuduh gitu dong. Sakit hati boleh, tapi nggak usah pakai memfitnah orang. " ujar Pipit dengan suara lantang.
" Asal bicara gimana? Semua yang ada di sini juga udah lihat dengan mata kepala mereka sendiri kelakuan kamu kayak apa. "
" Tuan, tolong tenang. Anda semua salah paham. Kami tidak melakukan hal seperti yang kalian tuduhkan. " ujar Bryan.
" Salah paham apanya....Udah jelas-jelas..." seru warga yang lain lagi.
" Maaf, Fitria, dan tuan. Kalian berdua sebaiknya ikut kami ke balai desa. Kita bicarakan di sana baik-baik. "
" Nggak. Pipit nggak mau. Kalau mau bicara, bicara aja di sini. " ujar Pipit sambil menghenyakkan pantatnya di sofa. Ia tidak akan mau di bawa ke balai desa. Masak iya ia mau di arak sama warga karena menurut mereka Pipit dan Bryan telah berbuat mesum.
" Fitria, tolong kerjasamanya. " pinta pak kades.
" Kami juga minta kerjasama dari bapak. Kita bicarakan di sini saja. Kami akan beritikad baik. Kami tidak akan melawan jika hal ini kita selesaikan di sini. " sahut Bryan yang melihat Pipit begitu merasa di rendahkan.
" Baik, kalau begitu. Mari kita duduk. Dan wargaku semua, silahkan beberapa ikut masuk, dan yang lain tunggu di luar. " titah sang kades.
Lalu Bryan duduk di sofa panjang di sebelah Pipit. Pak kades dan Ulil duduk di sofa yang lain. Beberapa warga termasuk ibu-ibu tadi berdiri di depan sofa.
Mereka mulai membahas apa yang telah terjadi. Posisi Pipit juga Bryan semakin tersudut, karena bukti yang warga lihat tadi cukup membuat warga emosi. Mereka hanya berdua, sedangkan warga yang di sana lumayan banyak. Bahkan tante Ira, pemilik penginapan yang semalam di inapi oleh Bryan juga sudah memberikan kesaksian jika semalam Bryan benar menginap di tempatnya.
Tapi kesaksian tante Ira seperti hembusan angin yang lewat begitu saja. Warga tetap tidak bergeming dengan kemauan mereka.
" Pokoknya, kami minta mereka berdua di adili. Jangan sampai hal ini membuat petaka kampung kita. " celetuk salah satu warga, dan suasana menjadi riuh kembali.
" Tenang...Tenang..." pak kades mencoba menenangkan warga. " Fitria, seperti yang warga minta, saya sebagai kepala desa akan membuat keputusan. Kalian harus ME...NI...KAH..."
***
bersambung
__ADS_1