
" Bagaimana kondisinya? " tanya Bryan saat dokter Ratna selesai mengecek keadaan Pipit.
" Luar biasa. Aku pikir dia butuh waktu sekitar tiga harian untuk kembali pulih. Tapi baru satu hari, kondisinya sudah kembali total. " sahut dokter Ratna.
' Ya jelas sudah kembali total. Semalam saja aku sampai kuwalahan meladeninya. Dia benar-benar sesuatu. ' batin Bryan.
" Berarti saya sudah boleh pulang ya dok? " tanya Pipit.
" Kenapa? Sudah tidak betah ya tinggal di rumah sakit? Padahal ini sudah kamar paling bagus loh di sini. Pelayanan juga paling bagus. Hampir sama dengan hotel bintang lima. " jawab dokter Ratna.
" Tapi bagaimanapun juga masih enak di rumah sendiri daripada di rumah sakit dok. Meskipun kita mendapatkan pelayanan yang terbaik di sini. " sahut Pipit.
" Baiklah, sore ini kamu sudah boleh pulang. " ucap dokter Ratna pada akhirnya. Dan membuat Pipit tersenyum senang.
" Terima kasih banyak, dokter. "
" Iya. Sama-sama. Sehat-sehat terus ya bumil. " ucap dokter Ratna.
" Iya. Dokter. "
" Ya sudah, saya duluan kalau begitu. " pamit dokter Ratna ke Pipit. Pipit mengangguk sambil tersenyum.
" Aku duluan. " pamit dokter Ratna sambil menepuk pundak Bryan.
" Terima kasih banyak. " ucap Bryan.
Dan dokter Ratna pun meninggalkan ruangan dan suster ana masih tinggal di sana karena harus melepas selang infus yang ada di tangan Pipit.
Bryan menghampiri suster ana yang sedang melepas infus.
" Sebenarnya aku bisa melakukannya sendiri. " ucapnya.
" Iya. Dan aku akan kena SP dari pihak rumah sakit. " sahut suster Ana yang memang sudah akrab dengan Bryan.
" Ha...ha...ha..." Bryan menyahuti dengan tawanya.
" Nah, udah selesai. Saya permisi dulu. "
" Terimakasih banyak suster. " ucap Pipit.
Suster Anapun meninggalkan ruangan setelah ia selesai melepas selang infus Pipit.
" Pipit boleh mandi nggak? " tanya Pipit ke Bryan. Ia merasa risih karena semenjak kemarin belum mandi. Di tambah lagi semalam dia habis olahraga. Jadi dia juga butuh mandi junub.
" Boleh. " ucap Bryan, lalu ia membantu Pipit bangun dari ranjang.
" Mau di mandiin sama abang tapi. " rengek Pipit manja.
Bryan membuka matanya lebar-lebar karena terkejut. Ada apa dengan istrinya. Semenjak bangun dari tidurnya kemarin, istrinya itu sangat manja.
__ADS_1
" Selang infusmu sudah di lepas. Aku akan mengantarmu ke kamar mandi, dan kamu mandilah sendiri. " ucap Bryan hati-hati karena jika tidak, maka singa betinanya akan kembali muncul.
" Tapi Pipit pengennya di mandiin sama abang." Pipit masih tetap kekeh.
Bryan mengusap wajahnya kasar sambil menghela nafas kasar juga.
" Oke. Tapi hanya mandi, oke? " ujar Bryan.
" Ya iyalah hanya mandi. " jawab Pipit.
' Kalau abang nggak tergoda saat aku telan**** nanti. ' lanjut Pipit dalam hati dan tersenyum menyeringai.
Bryan lalu menuntun istrinya turun dari ranjang dan berjalan menuju ke kamar mandi.
" Bukain bajunya. " pinta Pipit kembali saat mereka sudah berada di dalam kamar mandi.
Bryan kembali menghela nafas berat dan mencoba menahan ularnya biar tidak bereinkarnasi. Karena setahu Bryan, ularnya itu akan selalu bereinkarnasi saat melihat tubuh polos istrinya. Apalagi ketika perut istrinya mulai membuncit. Wanita kecil itu begitu terlihat sangat seksi di mata Bryan.
Dengan perlahan, Bryan mulai membuka kancing piyama Pipit satu persatu. Setelah kancing itu terbuka, Bryan lalu melepasnya dari tubuh sang istri. Dengan susah payah Bryan melihat tubuh bagian atas sang istri yang polos tanpa sehelai benangpun. Karena penutup dadanya sudah ia lepaskan semalam.
Dan sayang seribu sayang, ternyata ularnya tidak bisa di ajak bekerjasama. Ularnya malah sudah terbangun bahkan semenjak ia masih membuka kancing piyama Pipit.
Masih dengan nafas memburu, Bryan melepas celana piyama Pipit. Dan kini, terpampanglah tubuh polos seorang Pipit.
Masih berusaha cuek, Bryan mulai menghidupkan kran shower dan di stel ke mode hangat.
" Ayo cepat mandi. " suruh Bryan.
" Abang nggak di lepas bajunya? Gimana mau mandiin Pipit kalau Abang masih pakai baju gitu? Nanti bajunya abang basah. " ucap Pipit sambil mengguyur tubuhnya di bawah air shower.
Bryan melepas kaos yang melekat di tubuhnya. Hanya kaos. Ia tidak mau melepas celana pendeknya. Lalu ia berjalan mendekati Pipit. Ia mengambil sabun dan segera menyabuni tubuh polos istrinya perlahan.
" Ahhhh...." suara ******* keluar dari mulut Pipit saat Bryan menyabun tubuhnya bagian dada. ******* yang mampu membuat Bryan untuk tidak mengerang.
' Shi*!' umpat Bryan dalam hati.
Pipit membalikkan badannya lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Bryan dan berjinjit untuk menggapai bibir suaminya. Ia melu*** penuh naf** bibir seksi milik Bryan. Bryan membalas ringan ciuman penuh naf** itu. Ia masih mencoba untuk tidak terlalu terpancing meskipun ularnya sudah memberontak.
" Abang, Anaconda nya sudah siap tempur. " bisik Pipit saat ia merasai jika bagian bawah suaminya mengeras dan membesar.
" No, honey. Jangan sekarang. " pinta Bryan sambil menahan gejolaknya.
Tapi bukan Pipit namanya jika ia menyerah begitu saja. Ia semakin merayu suaminya dengan mengelus dada bidang suaminya. Setelah mengelus dada, tangannya turun ke bawah. Dan kini bibirnya yang bermain di dada bidang suaminya. Bryan semakin tidak bisa menahan gai***nya saat tangan mungil milik istrinya sudah masuk ke dalam celana pendeknya.
Bryan akhirnya pasrah. Ia segera membalas perlakuan sang istri. Ia meraih bibir milik istrinya dan di luma**nya rakus. Dan tangannya, jangan lupa...Tangan Bryan sudah bermain lincah di tempat-tempat sensitif milik istrinya. Membuat Pipit mengerang dan mende*** tak karuan.
Merasa sudah semakin sesak, Bryan segera menanggalkan celana yang masih melekat di tubuhnya. Setelah melepas celananya, Bryan mengangkat tubuh Pipit dan di dudukkan di atas meja toilet.
Glontang....Prang...Botol sabun, shampo yang ada di atas meja toilet berjatuhan ke lantai saat Bryan mulai melesatkan ular pitonnya ke dalam kandang dan membuat Pipit bergerak meraih dan menjatuhkan semua yang ada di atas meja toilet.
__ADS_1
Dan tak lama, terdengarlah suara lenguhan panjang dari keduanya.
Jadinya mandi bersama deh... Padahal awalnya Bryan sudah memantapkan hatinya untuk tidak ngapa-ngapain. Tapi pesona ibu hamil di hadapannya ini memang memabukkan.
Pipit tersenyum sendiri sedari tadi karena ia merasa sangat senang. Akhirnya dia kembali bisa meluluhkan suaminya. Dan Bryan hanya bisa berdecak kesal sambil memandikan istrinya melihat sang istri yang sedari tadi tersenyum tidak jelas.
" Kenapa sih kok kayaknya kesel gitu? " tanya Pipit saat Bryan menghanduki tubuhnya. " Berdecak aja dari tadi. "
" Kamu tuh. Aku tadi udah berniat nggak ngapa-ngapain. Jadi lama kan mandinya? "
" Tapi kan enak bang. Iya nggak? " ucap Pipit sambil dengan nada menggodanya.
" Iya enak. Tapi aku tuh nggak pengen bikin kamu di kamar mandi kelamaan. Nanti kamu bisa masuk angin. " omel Bryan.
" Ya....kalau pengen gimana dong???"
" Ya...ya ..ya .. terserah kamu lah. "
Kini Pipit dan Bryan sudah mengenakan baju mereka masing-masing dan Bryan segera membuka pintu kamar mandi. Menyuruh istrinya yang keluar duluan.
Sampai di kamar, ternyata sudah ada dua manusia berbeda gender yang sedang berdiri dengan kikuk.
" Kamu lagi mandi? " tanya yang bergender perempuan.
Pipit sedikit terkejut karena ia belum menyadari kalau di dalam kamarnya sedang ada tamu.
" Eh, Indomiiiiii......." seru Pipit lalu berjalan dengan sedikit cepat menuju sahabatnya lalu memeluk erat tubuh sahabatnya.
" Kapan sampai sini? " tanya Pipit.
" Udah dari tadi... Waktu terdengar suara berisik di kamar mandi. Glontang... glontang...Emang lu ngapain sih di kamar mandi? Perang? " tanya Naomi.
Ceklek. Pintu kamar mandi di tutup dan Bryan berdiri di depan pintu. Suara yang membuat tiga pasang mata menoleh ke arahnya. Lalu Naomi dan Roy saling berpandangan dan berbisik. Entah apa karena setelah itu mereka jadi canggung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya mereka berdua tidak hanya mendengar barang-barang berjatuhan, tapi juga mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar mandi. Bahkan Roy menelan salivanya dengan susah payah.
Melihat sikap aneh dari kedua sahabatnya, Pipit yang juga merasa agak malu, akhirnya mencoba mengalihkan perhatian.
" Eh, ada Roy juga. Kalian datang bersama? " tanyanya ke Roy.
" I-iya. " jawab Roy tergagap karena pikirannya masih traveling.
" Hayooooo...janjian ya....atau jangan-jangan...jadian....cie...cie..." goda Pipit.
" Apaan sih lu ini. Ngaco aja. " sahut Naomi dan dia segera berjalan ke sofa dan menghenyakkan pantatnya kasar di atas sofa.
" Oh iya Roy, makasih banyak ya. Kemarin kamu udah nolongin aku dan dedek bayiku. "
" Iya, sama-sama. " sahut Roy.
***
__ADS_1
bersambung