Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Ucapan sang ibu


__ADS_3

" Ya udah bang. Kalau emang pak dokter itu jodohnya si bungsu, kita mau apa? " ujar ibu ke Seno. " Iya kan Mell? Mungkin Tuhan memang memilihkan jalan yang seperti ini untuk mereka. " lanjutnya.


Seno dan Armell menjadi bengong dan saling berpandangan mendengar jawaban dari sang ibu atas cerita Seno.


' Kok gampang banget ibu kasih restu ke si teh celup sih? Anak bontotmu dalam bahaya buuu....' jerit hati kecil Armell. Ia menelan ludahnya dengan susah payah.


' Kan ibumu nggak tahu kali Mell kalau si teh celup itu suka celup sana celup sini. ' sahut si othor.


" Abang bisa nggak anterin ibu ke kampung sekarang? Masak anak ibu mau nikah, ibu tidak mendampingi. " tanya si ibu ke Seno.


" Biiiisa...Bu...." jawab Seno masih belum konek.


" Oh iya, bang Seno kan punya nomer telpon pak dokter. Tolong teleponin, terus bilang, suruh minta tambahan waktu ke pak kades. Tunggu sampai ibu sampai di rumah, baru di nikahkan Pipitnya. " pinta si ibu.


Seno mengangguk. Tapi ia masih tidak habis pikir kalau si ibu justru menanggapi kejadian ini dengan begitu sabar dan santai. Kalau ibu saja sifatnya lemah lembut seperti ini, lalu dari mana sifat yang di bawa oleh istrinya juga adik iparnya. Apa mungkin dari ayah mertua? Seno berspekulasi sendiri dengan pikirannya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Bu, ibu yakin mengijinkan Pipit menikah muda? Dengan dokter Bryan yang usianya jauh di atasnya? " tanya Armell memastikan.


Ibu mengangguk sambil tersenyum, " Bukankah bagus jika Pipit menikah dengan laki-laki yang lebih dewasa? Ibu senang, biar ada yang menjaganya, ada yang membimbingnya. "


" Tapi ini dokter Bryan loh Bu. Ibu belum mengenalnya lama. Dan kita bahkan belum mengenal keluarganya. "


" Ibu yakin, dokter Bryan laki-laki yang baik. " jawab ibu. " Jika seseorang mempunyai kekurangan, itu wajar. Semua orang tidak ada yang sempurna. Jika dokter Bryan mempunyai masa lalu atau perilaku yang tidak begitu menyenangkan, kita beri dia kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Kita sebagai manusia, harus selalu memberikan kesempatan kepada orang lain yang ingin berubah menjadi lebih baik. " tutur sang ibu.


Armell menghela nafas panjang. Lalu mengangguk-angguk. Jika ibu sudah memutuskan, maka anak-anaknya tidak ada yang berani membantah.


" Tapi apa tidak masalah jika Pipit menikah muda? "


" Tidak apa-apa. " jawab ibu sambil menggelengkan kepalanya. " Jika dokter Bryan mau menikahi Pipit, ibu justru tidak masalah. Biar dia bisa pergi dari kampung kita." lalu ibu menjedanya dengan menghela nafas panjang.


" Sebenarnya, pak kades datang ke rumah kita berkali-kali. Dulu waktu kamu belum menikah, beliau datang untuk melamarmu untuk Ulil. Ibu bilang, jika kamu masih ingin kuliah. Lalu beliau datang lagi ketika tahu kamu sudah menikah. Beliau bilang, tak apa jika kamu menyandang gelar janda. Dan ibu menjawab, tidak mungkin dan tidak akan pernah kamu menjadi janda, karena sebentar lagi kamu akan punya anak dan suami kamu sangat mencintai kamu. Lalu beliau datang lagi dan memaksa supaya ibu menerima lamarannya. Dan lamaran itu di peruntukan untuk Pipit. Beliau mengatakan, jika Ulil gagal memperistri kamu, maka dia harus memperistri adik kamu. "


" Apa Bu? " Armell terkejut. " Kenapa ibu tidak pernah cerita ke Mell? "

__ADS_1


" Berarti keputusan ibu untuk menikahkan Pipit dan Bryan tepat. Jangan sampai adik kamu menikah dengan anak kepala desa itu. " sahut Seno dengan menggebu-gebu.


Armell menghela nafas kasar mendengar sahutan sang suami. Ia tahu, jika suaminya itu sangat sangat sangat tidak suka dengan yang namanya Ulil.


" Sudah di telpon bang, dokter Bryan nya? " tanya ibu ke Seno.


" Sudah Bu. " jawab Seno sambil mengangguk.


" Ya udah, ibu siap-siap dulu. " pamit ibu sambil beranjak dari duduknya.


" Mas nemenin ibu kan? " tanya Armell setelah sang ibu pergi ke kamar.


Seno mengangguk sambil mengusap puncak kepala Armell. " Iya, aku nemenin ibu. Di sana pasti urusannya juga ribet. Kasihan ibu. Kasihan Bryan juga kalau harus mengurus warga sendiri. "


" Terus, mas sama siapa? Bang Damar kan belum balik kesini. "


" Tadi aku udah telpon Rezky. Dia yang bakalan anter aku sama ibu. "


🧚


🧚


Tepat saat adzan Maghrib berkumandang, Seno, ibu, dan Rezky sampai di depan rumah ibu. Mereka turun dari mobil bersamaan. Ibu berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah dengan sedikit tergesa-gesa, dan Seno mengikutinya dari belakang.


" Ibuuu....." Pipit langsung memeluk sang ibu ketika melihat ibunya masuk ke dalam rumah. Nampak di sana, pak kades dan beberapa warga duduk di sofa. " Pipit di tahan Bu sama mereka. "


Ibu menepuk dan mengelus punggung Pipit. " Yang sabar. " hanya itu yang ibu katakan.


" Baik, karena Bu Ani sudah sampai di sini, ayo segera ke balai desa. " ujar pak kades sambil beranjak berdiri.


" Ke balai desa? Mau ngapain pak? " tanya ibu sambil melepas pelukan Pipit.


" Ya untuk menikahkan anak Bu Ani. "

__ADS_1


" Anak saya hanya akan menikah di rumah ini. Saya tidak akan mengijinkan anak saya menikah di balai desa. Terserah pak kades, mau apa tidak. " ucap ibu tegas.


" Tapi warga meminta mereka di nikahkan di balai desa, Bu. " tambah Ulil.


" Saya tidak mendengar warga mengatakan hal itu. Itu hanya usul sepihak dari kepala desa. " sahut Bryan.


" Dengar, pak kepala desa yang terhormat? " sahut ibu Pipit tegas.


" Baiklah. Pak Rahmat, tolong minta pak ustadz Soni datang kemari. " ujar pak kades.


Lalu laki-laki yang bernama Rahmat itu segera pergi meninggalkan rumah Pipit. Ibu membawa Pipit masuk ke dalam kamar. Sampai di kamar, ibu mengeluarkan sebuah kebaya.


" Pakailah ini untuk pernikahanmu, nak. Maaf ibu hanya punya ini. " pinta ibu sambil menyerahkan kebaya itu ke Pipit.


" Tapi Pipit belum pengen menikah Bu. Pipit masih mau kuliah. " pinta Pipit sendu.


" Ibu yakin, meskipun kalian menikah, dokter Bryan pasti akan tetap mengijinkan kamu untuk kuliah. Ibu akan bicara dengannya nanti. " sahut ibu sambil mengelus rambut Pipit.


" Tapi Pipit nggak cinta Bu sama om dokter. Usia kami juga jauh berbeda. "


" Jangan pikirkan masalah usia. Ibu malah seneng kamu dapat suami yang usianya jauh di atas kamu. Dia akan lebih dewasa daripada kamu. Kalau masalah cinta, seiring berjalannya waktu, ibu yakin kalian pasti akan saling mencintai. Seperti kakak sama Abang kamu. "


Pipit menunduk, ia tidak menjawab ucapan sang ibu.


" Ibu tahu apa yang kamu pikirkan. Dengar nak, tidak ada orang di dunia ini yang bersih dari dosa dan kesalahan. Begitu juga kamu, dan dokter Bryan. Dokter Bryan punya masa lalu, dan kesalahan. Kamu juga. Kita sebagai manusia, tidak boleh mengadili seseorang. Hanya Allah yang berhak. Kita hanya di perbolehkan memberikan kesempatan kepada sesama jika mereka mau berubah. Ibu yakin, dokter Bryan juga akan berubah. " lanjut sang ibu.


Entah kenapa ibu bisa berbicara seperti itu. Seolah-olah sang ibu tahu tentang kebiasaan buruk Bryan yang mendapat julukan seorang Casanova kelas kakap. Tapi tidak ada yang tahu, apakah memang ibu itu tahu atau tidak.


" Cepatlah ganti bajumu. Sebelum ustadz Soni sampai di rumah kita. " pinta sang ibu. Pipit mengangguk, lalu beranjak. Ibu keluar dari dalam kamar supaya Pipit bisa mengganti bajunya.


Setelah beberapa menit, ibu kembali masuk dan melihat Pipit sudah mengenakan kebaya yang tadi ibu berikan. Lalu ibu meminta Pipit duduk di tepi ranjang, dan memoles tipis bibir Pipit yang nampak pucat dengan lipstik berwarna pink.


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2