
Sudah satu minggu berlalu dari semenjak pembicaraan Bryan dan Pipit malam itu. Selama satu minggu itu juga, Pipit berusaha keras berpikir dan memantapkan hatinya.
Karena Pipit merasa bosan satu minggu tidak ada kegiatan lain selain kuliah dan berpikir, akhirnya Pipit memutuskan hari ini ia akan bermain ke rumah kakaknya. Ia sangat merindukan keponakannya yang lucu itu.
Selama satu minggu ini, Bryan juga tidak menghubungi ataupun menemuinya. Terakhir Bryan mengirimkan pesan jika ia akan membantu Pipit mengambil keputusan.
📩 Pit, Abang akan memberimu waktu untuk berpikir. Mulai besok, sampai dua minggu ke depan, Abang tidak akan menemuimu ataupun menghubungimu. Abang akan membantumu membuat keputusan. Jika selama ketidakhadiran Abang kamu merasa baik-baik saja, maka Abang akan melepasmu. Dan jika saat Abang tidak ada di dekatmu kamu merasakan rindu, maka Abang akan kembali datang untukmu.
Itulah isi pesan Bryan malam setelah ia mengantar Pipit pulang ke rumah. Dan apa yang Pipit rasakan selama satu minggu tanpa ketidakhadiran Bryan, hanya Pipit yang tahu. ( Bahkan Pipit tidak mau mengatakannya ke othor lho guys ..Sedih nggak sih? ðŸ˜ðŸ˜)
Hari ini hari Minggu. Pipit libur dari kuliahnya. Biasanya jika weekend seperti ini, Bryan akan menemaninya seharian. Kemanapun Pipit ingin bepergian, Bryan akan selalu siap untuk mengantar. Tapi berbeda untuk weekend ini. Pipit mengemudikan mobilnya menuju ke rumah baby Dan seorang diri.
" Assalamualaikum...." teriak Pipit dari luar.
" Waalaikum salam..." sahut Armell dari dalam.
" Halo....ponakan onty yang ganteng...." sapa Pipit ke Danique. Ia mencubit gemas kedua pipi gembul milik Danique. " Onty kangeeennnn....." lanjutnya.
Dan seperti memahami kerinduan sang onty, Danique mengulurkan tangannya meminta gendong onty-nya.
" Mau gendong onty? Oke...Sini sayang .." Pipit mengambil Danique dari gendongan Armell.
Pipit mengecup semua bagian wajah Danique, membuat Danique terkekeh geli dan menepuk-nepuk muka Pipit.
" Ayo duduk Pit. " ajak Armell. Pipit mengangguk dan berjalan masuk ke ruang keluarga mengikuti sang kakak.
" Gimana kuliah kamu? " tanya Armell.
" Alhamdulillah, sejauh ini, Pipit masih bisa mengatasinya. "
" Syukurlah kalau begitu. Jangan sampai mengecewakan suamimu yang sudah mengeluarkan uang lumayan banyak untuk kuliahmu. Aku mau membantunya, tapi di tolak mentah-mentah. "
" Iya kak. " sahut Pipit. " Kok sepi? Bang Seno kemana kak? "
" Oh, mas Seno tadi ijin keluar bentar. "
__ADS_1
" Tumben. Biasanya kalau weekend gini ngerem aja di rumah. "
" Iya, tadi dia bilang harus nemenin kliennya yang dari luar negeri main golf. "
" Mbak Mell beruntung banget ya. Punya suami yang sayang banget sama mbak, ganteng, perhatian, punya baby yang ganteng dan gemesin kayak gini. " ujar Pipit.
" Iya, Alhamdulillah banget. Tapi kamu juga punya suami ganteng juga. Bule asli. Kalau mas Seno kan masih setengah bule setengah nggak. Perhatian juga kan ke kamu? Kamunya aja yang belum bisa menikmati perhatian dari dokter Bryan. "
" Mungkin sih Mbak. " jawab Pipit sambil mendesah perlahan.
Dan obrolan mereka terus berlanjut sampai sore menjelang. Bahkan sampai Danique tertidur juga.
Karena hari telah menjelang sore, Pipit berpamitan untuk pulang. Ia sedikit buru-buru takutnya mama Ruth mengkhawatirkannya. Ia berjalan keluar dari kediaman kakaknya dan hendak menuju mobilnya yang terparkir di sisi samping rumah.
Langkahnya memelan ketika ia melihat sosok Damar sedang menyandarkan tubuhnya di mobilnya.
" Bang Damar... Bukannya ini hari Minggu ya. Tumben dia kesini..." gumam Pipit, lalu ia memijit pelipisnya pelan. Ia bingung harus bagaimana. Ia sebenarnya masih enggan untuk bertemu dengan Damar.
Di saat Pipit hendak membalikkan badannya, tiba-tiba tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Damar. Pupus sudah rencana Pipit untuk menghindar.
" Pipit..." panggil Damar sambil melangkah mendekati Pipit.
" Bang .." Pipit memaksakan untuk tersenyum. Ia akan berusaha menampakkan wajahnya yang baik-baik saja. Ia akan menampakkan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
" Apa kabar non? Lama kita tidak bertemu. Mungkin semenjak nona tinggal di rumah besar ya. " ucap damar berbasa-basi.
" Alhamdulillah, Pipit baik bang. " jawab Pipit berusaha santai.
" Mmmm....Saya tahu, nona pasti merasa tidak nyaman bertemu dengan saya. Tapi, bisakah kita bicara? " tanya Damar.
" Bukankah sekarang kita juga sedang bicara bang? "
" Bukan pembicaraan seperti ini yang saya maksud nona. Bisakah kita keluar, mencari tempat yang lebih nyaman untuk bicara? Ada banyak hal yang ingin saya sampaikan sama nona. " pinta Damar.
Pipit menghela nafas panjang sambil menoleh ke arah lain. Ia tahu, saat seperti ini pasti akan datang. Tidak selamanya ia bisa terus menghindar dari Damar. Mereka memang harus bicara. Menyelesaikan semua urusan di antara mereka, dan kembali berbaikan seperti ketika mereka baru saling mengenal dulu.
__ADS_1
" Kemana bang? Tapi jangan jauh-jauh. " tanya Pipit. Meskipun ia merasa tidak nyaman, tapi ia bertekad akan menyelesaikannya hari ini. Supaya hatinya lega, dan bisa berpikir jernih tentang hubungannya dengan sang suami.
" Ke cafe yang ada di dekat komplek perumahan ini saja kalau begitu. " usul Damar.
Pipit mengangguk, " Ya udah, bang Damar tadi kesini bawa motor seperti biasanya kan? "
" Iya. "
" Habis ini, bang Damar masih ada kerjaan lagi nggak sama bang Seno? "
" Tidak. Tadi tuan hanya meminta saya untuk mengantar dan menemaninya bermain golf. "
" Ya udah, habis ini kan bang Damar pasti terus pulang. Biar nggak ribet, saya bawa mobil dan bang Damar bawa motor bang Damar kalau gitu. Kita ketemu di sana. " lanjut Pipit. Tanpa menunggu jawaban dari damar, Pipit berlalu meninggalkan Damar yang masih nampak mencerna omongan Pipit.
Saat Pipit menutup pintu mobilnya, damar baru tersadar. Ia menghembuskan nafas pelan. Ia merasa Pipit menjadi dingin terhadapnya. Sepertinya Pipit memang sengaja menjauhinya. Tapi Damar tidak terlalu memikirkannya. Yang penting saat ini, Pipit mau di ajak berbicara olehnya.
Melihat Pipit sudah mulai menjalankan mobilnya, Damar segera mengambil motor yang ia parkir di dekat pos satpam.
" Pulang sekarang Dam? " tanya pak satpam.
" Iya pak. " jawab Damar sambil memasang helm di kepalanya.
" Saya pamit dulu ya pak. Assalamualaikum.." pamit Damar.
" Waalaikum salam. " jawab pak satpam.
Damar lalu menstater motornya dan memundurkan, lalu segera pergi meninggalkan pekarangan rumah bosnya dan mengikuti mobil Pipit yang telah jauh meninggalkannya.
" Segitunya kah kamu ingin menjauhiku Pit? " gumam Damar dalam hatinya.
***
bersambung lagi ya guysss.....
Tapi jangan khawatir, hari ini othor double up deh....Biarpun viewernya nggak sebanyak novel othor yang sebelum ini Ndak pa-pa lah ya... othor tetap kasih yang terbaik buat pembaca setia othor yang masih tetap setia nemenin othor di sini ...
__ADS_1