
Bryan kembali ke kamar setelah memutari mall, yang akhirnya ia menemukan ada satu apotik yang masih buka, dan lebih bagusnya lagi, ia mendapatkan barang yang ia cari.
Bryan membuka pintu kamar, lalu menutupnya kembali. Dengan wajah bahagianya ia menenteng kantong plastik yang berisi belanjaannya tadi.
" Honey, aku ud-dah dap-pet....barangnya...." wajah bahagia Bryan hilang seketika setelah melihat sang istri telah tertidur pulas di balik selimutnya.
Bryan menepuk jidatnya, lalu mengelus peliharaannya.
" Sabar ya....pemilik kandangmu sepertinya kecapekan dan mengantuk. Sabar....bar....bar....besok kita tuntaskan bagaimanapun caranya. " ujar Bryan sambil mengelus peliharaannya.
Bryan menghela nafas berat dan menaruh kantong plastik di atas nakas, melepas celana pendeknya sehingga tinggal boxernya. Lalu ia ikut sang istri, naik ke atas kasur, dan memasukkan tubuhnya ke dalam selimut.
Sebelum ia merebahkan tubuhnya, ia mengambil ponsel lalu mengirim pesan ke seseorang.
π© Aku ingin memperpanjang kamar pengantinku. Bisa kan? Berapapun aku bayar.
Tak berselang lama, ponselnya berbunyi.
π© Pakai saja sepuasmu. Aku sudah bilang, kamu bisa memakainya sampai kapanpun. Gratis. Karena kamar itu adalah hadiah pernikahanmu dariku.
π© Hai, kau belum tidur jam segini?
π© Biasa, habis olahraga malam. Emangnya cuma kamu aja yang bisa bermalam panjang?
Ck. Bryan berdecak membaca balasan dari Athar sahabatnya. Sial. Gerutu Bryan, lalu ia kembali meletakkan ponselnya di atas nakas.
Lalu ia membaringkan tubuhnya miring, dan melingkarkan tangannya ke perut polos istrinya. Ingin sekali Bryan mengintip ke balik selimut saat mendapati istrinya yang masih dalam keadaan polos itu. Tapi ia urungkan niatnya karena ia tidak ingin mandi malam-malam begini. Akhirnya, ia mencoba menutup matanya dan menyusul sang istri masuk ke dunia mimpi.
π§
π§
Pagi menjelang. Pipit menggeliatkan tubuhnya sambil menguap. Perlahan, matanya terbuka. Saat matanya terbuka sempurna, yang pertama ia lihat adalah senyum manis suaminya.
" Morning, honey. " sapa Bryan lalu mengecup pipi kanan Pipit.
" Morning juga. Hoaaammm ...." Pipit kembali menguap sambil menutup mulutnya. " Maafin Pipit ya bang. Semalam Pipit ketiduran. Habis abang lama nggak kembali-kembali. " ujar Pipit sambil mengusap matanya yang masih agak bruwet.
" Iya nggak apa-apa. Yang penting, sekarang kita selesaikan yang semalam. " ujar Bryan sambil menggerayangi tubuh polos Pipit.
" Ihh, Abang... tangannya di kondisikan. " pekik Pipit sambil memegang tangan Bryan yang nakal.
" Ayo dong honey...Kita selesaikan. Aku udah nunggu kamu bangun dari tadi. Aku juga semalam udah dapetin apa yang kita butuhkan. " Kini bibir Bryan yang sudah mulai menjelajahi wajah Pipit.
" Tapi Pipit baru bangun tidur bang. " sahut Pipit sambil menahan wajah Bryan supaya tidak mengecupi wajahnya.
" Honey, kalau pagi hari kayak gini, kamu baru bangun tidur, itu bisa mengurangi rasa sakitnya. Pas kan? " ujar Bryan.
Othor : Siapa bilang kalau di lakukan pagi hari bisa mengurangi rasa sakitnya?
Bryan : Udah sih thooor....jangan ikut campur. Aku udah puasa lama loh ini gara-gara othor si ratu tega . Please lah thoooorrrr, kali ini, jangan di bikin gagal lagi.
Othor : Dasar dokter nggak jelas. Ilmu darimana coba, kalau ngelakuin di pagi hari itu nggak sakit? Ada-ada aja nih dokter sedeng...π€¦π€Έπ€Έ
Bryan : Sssttt!!! Udah di bilang, diam dulu. Biarkan aku menyelesaikan tugasku.
Othor nyerah deh .. Mumpung othor lagi baek, othor ijinin hari ini si dokter sedeng Bryan mengeluarkan bisa ularnya.
__ADS_1
" Tapi Pipit baru bangun tidur. Belum gosok gigi. Masih bau jigong. Masih bau bantal. Entar abang nggak nafs*. "
" Siapa bilang nggak nafs*? Kamu tidur aja peliharaanku on kok. "
" Iya bang. Tapi paling nggak, ijinin Pipit bersihin badan dulu. Biar Pipit juga PD gitu. "
" Iya deh. Tapi cepetan ya, jangan lama-lama. " ucap Bryan, ia mengecup pipi kanan Pipit sebelum membiarkan Pipit berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
" Honey, nanti nggak usah pakai baju keluarnya. Biar lebih cepat. " teriak Bryan dari luar.
Tak selang lama, Pipit keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan bathroop. Entah kenapa kepercayaan dirinya tiba-tiba tenggelam sampai ke dasar bumi. Ia keluar dari dalam kamar dengan perlahan dan canggung.
" Honey, ayo kesini. " Panggil Bryan sambil menepuk sisi ranjang yang kosong di sebelahnya.
Dengan perlahan, Pipit jalan mendekati Bryan. Belum juga dia naik ke atas ranjang, Bryan sudah menarik tangannya dan membuat dirinya terjatuh tepat di atas tubuh Bryan.
" Tadi aku sudah bilang, tidak usah pakai baju. " bisik Bryan di telinga Pipit sambil menjilat*nya.
" Geli bang. " seru Pipit sambil terkekeh. Tanpa basa-basi, Bryan membalik posisi mereka. Ia menindih tubuh Pipit.
Dengan sekali tarik, ia melepas tali yang mengikat bathroop yang menutupi tubuh polos Pipit. Bryan mulai menyusuri wajah istrinya tanpa terlewatkan. Hingga berakhir pada bibir sang istri. Bermain disana cukup lama. Saling melu***, bertukar saliva, menyecap.
Jangan lupakan tangan nakal Bryan yang telah menelusup ke bawah. Tangannya merema* dua benda kenyal yang ada di da** istrinya. Bermain di puncaknya, membuat desa*** keluar dari mulut Pipit. Semakin kencang sang istri mendes**, semakin bersemangat Bryan memainkannya. Bahkan kini, bibirnya sudah berpindah kesana. Membuat Pipit menggila.
" Ahhh ...Abang buleeeee.....mmmmppphhhh.....Aaahhhhh.." suara desa***, desis**, keluar bergantian dari mulut Pipit. Tangannya mere*** rambut suaminya dan menekan kepala Bryan seolah meminta lebih.
Di saat Bryan memainkan kedua puncak himalaya miliknya, maka Pipit akan berteriak lebih kencang.
" Abaaang....Bang Bryan....." teriak Pipit semakin menggila. " Abang....Ahhh....Nggak tahan baaaangggg...."
Mendengar racauan dari mulut istrinya membuat Bryan bahagia. Ia menjadi semakin bergelora. Apalagi saat sang istri memanggil namanya. Baru kali pertama ini sang istri memanggilnya dengan menyebut namanya.
Dan benar saja, sesaat kemudian, Pipit terlihat melemas. Dengan nafas yang ngos-ngosan, Pipit memejamkan matanya. Sedangkan Bryan, membelai wajahnya penuh dengan kelembutan.
Tapi tak bertahan lama tangan Bryan diam. Kini tangannya sudah mulai membuka bathroop yang tadi masih Pipit kenakan meskipun talinya sudah terlepas. Sekarang, tubuh Pipit sudah terlihat polos, benar-benar polos. Bryan mulai melancarkan aksinya.
Ia mulai lagi kegiatannya, sehingga membuat Pipit kembali bergejolak. Saat dirinya juga sudah mulai merasa tidak tahan, Bryan membuka kaos oblong dan juga boxernya.
Baru juga Pipit hendak berbicara, Bryan sudah mendahuluinya, " Jangan istighfar honey. Bilang alhamdulilah. Dan jangan takut sama ular pitonnya. Dia udah jinak. Paling entar saat terakhir, ia akan bereinkarnasi menjadi ular kobra yang menyemburkan bisanya. Tapi kamu tenang aja, bisanya tidak mematikan. Malah justru bisa menghadirkan kehidupan baru. "
Setelah melempar boxernya entah kemana, ia kembali menyerang istrinya. Tangannya meraih tangan Pipit, lalu ia arahkan ke bagian bawah tubuhnya.
Tangan Pipit sedikit bergetar saat memegang ular piton milik Bryan. Tapi karena stimulus Bryan yang mematikan, Pipit tanpa ragu lagi mulai mere***, dan membuat Bryan menggila.
" Sebentar, honey. " Bryan beranjak dan mengambil sesuatu dari dalam kantong plastik belanjanya semalam.
" Apa itu bang? " tanya Pipit saat melihat Bryan mengoles sesuatu ke ular pitonnya.
" Ini namanya gel pelumas honey. Biar nanti kalau masuk nggak kesat. Jadi bisa mengurangi rasa sakitnya. " jawab Bryan.
Setelah selesai, ia kembali mendekati istrinya, lalu membuka kedua kaki istrinya lebar-lebar.
" Bismillah, honey. " pinta Bryan.
" Bismillahirrahmanirrahim...." ucap Pipit.
" Kalau sakit teriak aja yang kenceng. Jambak rambut aku juga boleh. Cakar punggung aku juga boleh. Asal jangan di pending lagi. Jangan ngajak konferensi lagi. " ucap Bryan sambil mengarahkan ular pitonnya ke kandang istrinya.
__ADS_1
Satu....dua....tiga.... Sedikit demi sedikit dengan perlahan, Bryan memasukkan ular pitonnya. Semakin masuk, Pipit semakin meringis sambil mencengkeram lengan suaminya.
Sedangkan Bryan, ia begitu senang karena akhirnya dia bisa merasakan aroma keperaw*nan. Peliharaannya selama ini selalu keluar masuk dengan mudahnya ke kandang betina. Tapi kali ini, peliharaannya harus berusaha dengan keras supaya ia bisa membobol kandang barunya.
Suasana sempit dan menggigit membuat Bryan semakin menggelora. Ular pitonnya serasa ikut berteriak kegirangan saat Pipit berteriak dengan kencang ketika Bryan memasukkan seluruh bagian ular pitonnya.
Tes ..tes ..darah kepera**** menetes dari sela-sela bagian bawah Pipit. Bryan tersenyum melihatnya. Ia masih terdiam belum melanjutkan pergerakannya setelah ia berhasil memasukkan seluruh anggota tubuhnya yang tak bertulang itu.
Bryan menunggu hingga rasa sakit yang di rasakan istrinya mereda. Sembari menunggu, tak henti-hentinya Bryan menghujani kening dan mata Pipit yang berkaca-kaca dengan ciumannya.
Berada di lubang yang sempit itu, membuat ular piton Bryan semakin menggila. Ia menginginkan lebih. Tubuh Bryan mulai berkeringat karena hawa panas dari tubuhnya.
" Honey, masih sakit? " tanya Bryan ketika melihat sang istri masih memejamkan matanya, tapi sudah tidak terlihat tegang dan menahan rasa sakit.
" Udah agak nggak. " jawabnya lirih.
Bryan kembali mengecup kening Pipit. " Boleh aku bergerak sekarang? Aku udah nggak tahan, honey. "
" Hmmm " sahut Pipit.
Bryan mendapatkan udara segar mendengar jawaban istrinya. Ia mulai menggerakkan peliharaannya naik turun secara perlahan sambil mencium dan melu*** bibir istrinya.
Pipit mulai rileks. Meskipun masih tersisa rasa sakit dan perih, tapi juga ada rasa indah yang baru pertama ini ia rasakan. Tubuhnya menggelinjang saat Bryan menambah tempo permainannya.
Setengah jam kemudian, Pipit sudah ingin kembali berteriak. " Bang Bryan....Ahhh....Aku nggak tahan .."
" Pengen keluar, honey? " tanya Bryan di sela-sela pergerakannya. Ia semakin menggila saat istrinya maracau, mendes**, mendes**, dan berteriak memanggil namanya di bawahnya.
Pipit mengangguk, " Cepet bang ...Lebih cepat..." pinta Pipit.
" Tunggu honey. Kita keluarkan bersama. Aku juga udah nggak tahan. " ucap Bryan semakin mempercepat gerakannya.
" Aaahhhhh....." mereka berteriak bersamaan.
Setelah ular piton berubah menjadi ular kobra dan menyemburkan bisanya, tubuh Bryan ambruk di atas tubuh Pipit yang juga terlihat lemas. Dengan nafas yang masih ngos-ngosan, Bryan mengecup kening Pipit lama.
" Thank you so much, honey. Kamu memberikan sesuatu yang paling indah dalam hidupku. I love you. " ucap Bryan. Lalu ia memindahkan tubuhnya di samping Pipit. Membelai rambut dan wajah istrinya yang berpeluh akibat ulahnya.
Pipit tersenyum menatap manik mata biru milik suaminya tercinta. " J te'aime. " ucapnya sambil membelai pipi suaminya.
" Istirahatlah. Tidurlah sebentar. " pinta Bryan. Tapi Pipit menggeleng.
" Nggak ngantuk. " jawabnya.
" Apa mau lagi? " tanya Bryan sambil mengerlingkan matanya.
" Ck. Ini aja masih perih. Masa lagi? Emang Abang nggak mau kasih Pipit makan? Pipit lapar bang...." rengek Pipit.
Bryan tersenyum, lalu mengusap rambut Pipit. " Mau makan di kamar aja, atau mau ke restoran? "
" Di sini aja. Pipit masih lemes, mager jadinya. "
" Ya udah aku pesenin makanan dulu. Biar mereka antar ke kamar. "
***
bersambung
__ADS_1
Akhirnya.... permintaan kalean udah akohhh kasih ya ...MP.... First night...Atau apalah itu namanya...
So, jangan lupa, ajakin teman, bapak, ibu, adik, saudara kalean semua untuk mampir kesini ...Jangan lupa juga ..Like....like....like ...πππππππ