Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Maaf


__ADS_3

" Bang Damar mau bicara apa sama Pipit? Kayaknya kok penting banget. " tanya Pipit setelah mereka selesai makan siang.


Damar menarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara.


" Kamu kenapa nggak cerita ke abang? Kamu bilang cinta sama abang, meskipun kita tidak ada hubungan apa-apa, tapi abangpun sayang sama kamu. Jadi apa salahnya jika kamu jujur. "


" Maksud bang Damar apa ya? Cerita masalah apa ya bang? Pipit kok nggak ngerti. " sahut Pipit sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Damar tidak langsung menjawab. Ia mengusap wajahnya kasar.


" Tentang pernikahan kamu sama dokter Bryan. " ucap Damar dengan suara datar.


Deg


Pipit sangat terkejut dengan ucapan Damar. Darimana Damar tahu rahasia yang sudah Pipit sembunyikan baik-baik ini.


Pipit hanya bisa terdiam karena masih terkejut dan syok.


" Abang tanya sama Fitria, kenapa nggak jujur sama abang tentang pernikahan kamu? " tanya Damar dengan suara agak melembut.


Pipit menunduk, " Maaf bang. Pipit minta maaf. " ujar Pipit pelan dengan meremas kedua tangannya yang ada di atas meja. " Pipit nggak bisa menceritakan hal ini ke bang Damar. Semua terjadi karena ketidakberdayaan Pipit bang. "


" Jujur, saat mengetahuinya, dan aku mengetahui hal itu dari orang lain, aku sangat kecewa dan marah tentu saja. Kamu, satu-satunya gadis yang aku cintai, dan kamu bilang juga mencintai aku, malah menikah dengan laki-laki lain. " ujar Damar dengan suara berat.


" Pipit terpaksa bang menikah saat itu. " sahut Pipit.


" Aku tahu. Kamu melakukannya karena warga yang mendesakmu. Aku sudah tahu semuanya beberapa hari yang lalu. Sekarang aku menyesal, kenapa saat itu aku harus pulang ke kampung. Seharusnya jika aku di sini, maka aku yang akan mengantarmu. Dan bisa jadi, akulah yang jadi suamimu sekarang. Bukan dokter Bryan. "


" Maaf. " hanya itu yang bisa Pipit katakan.


Damar meraih tangan Pipit, kemudian menggenggamnya. " Jangan terus meminta maaf. Semua sudah terlanjur terjadi. Yang penting, cinta abang ke kamu masih tetap sama. Abang tahu, kamu menjaga diri kamu dengan baik. Karena kamu tidak tinggal satu atap dengan dokter Bryan. "


Pipit menatap sebentar ke arah Damar. Ia menjadi merasa bersalah dengan sang suami kala mendengar kata-kata Damar itu.


" Kapan kalian akan bercerai? " tanya Damar.


' Maka aku juga akan menceraikan perempuan itu. ' batin Damar.


Pipit kembali tersentak dengan pertanyaan Damar. Bercerai? Pipit selama ini tidak pernah memikirkan hal ini. Apa ia akan bercerai dengan Abang bulenya? Ada rasa tak rela terselip di hati kecilnya.


Damar masih menatap Pipit menunggu jawaban. Tapi Pipit masih tetap sibuk dengan pikirannya sendiri.


" Fitria..."


Panggilan itu menyadarkan Pipit.

__ADS_1


" Kapan kalian akan berpisah? Kalian hanya menikah siri kan? Maka tidak akan sulit untuk bercerai. Tinggal dokter Bryan mengatakan talak kepadamu, maka kamu akan terbebas dari ikatan itu. "


" Pip-Pipit.... Pipit belum tahu tentang itu. " jawab Pipit.


Damar menghela nafas beratnya, lalu menatap ke sembarang arah. " Katakan sama Abang jika kalian akan bercerai. Maka Abang akan memintamu dari nona Armell juga tuan muda. Abang tidak akan melepaskan kamu lagi. " ujar damar saat netranya sudah fokus kembali ke Pipit.


Pipit tidak bisa menjawab permintaan Damar. Meskipun itu hanya anggukan atau gelengan kepala. Ia malah menunduk, semakin merasa bersalah ke Bryan.


" Bang, udah mau sore. Kita pulang yuk. Tadi Pipit cuma pamit sebentar ke mbak Mell. " ajak Pipit.


Damar mengangguk. Ia merasa ada perubahan dari Pipit. Sekarang Pipit sudah tidak pernah mengatakan kata-kata gombalan receh yang membuatnya tersipu dan salah tingkah.


🧚


🧚


Malam telah tiba. Bryan yang tadi siang bilang kalau sore tadi mau datang ke rumah Seno, sampai waktu menunjukkan pukul sembilan malam, masih belum menampakkan batang hidungnya. Sekedar kirim pesan kalau tidak bisa datang pun, tidak.


Pipit yang sedari tadi menunggu kedatangan Bryan, hanya bisa mendesah kesal. Biasanya ia tidak akan merasa kesal seperti ini jika Bryan bilang mau datang, tapi kenyataannya Bryan tidak bisa jadi datang.


" Kemana sih? Kasih kabar kek kalau nggak bisa datang. " gerutu Pipit sambil menatap layar ponselnya yang masih tetap gelap.


Karena capek menunggu, akhirnya Pipit berjalan ke ranjang, lalu menjatuhkan tubuhnya telungkup di atas ranjang, dengan kedua tangan terbuka lebar.


Lama kelamaan, Pipit pun jatuh tertidur dengan ponsel yang masih ada di tangannya.


Tepat pukul sebelas malam, nampak layar ponsel Pipit memperlihatkan sebuah notif pesan. Tapi karena Pipit sudah berada di alam mimpi, ia tidak membaca pesan itu.


Pagi hari menjelang. Hal pertama yang di lakukan oleh Pipit saat membuka matanya adalah melihat layar ponselnya. Saat ia melihat satu notifikasi pesan di sana, Pipit segera bangun dari tidurnya, lalu mengucek matanya sebentar supaya pandangannya lebih jelas.


📩 Maaf, honey. Abang tidak bisa menepati janji untuk ke rumah tadi sore. Ada pasien kritis dan harus segera di operasi. Ini tadi operasinya baru saja selesai. Besok pagi sebelum ke rumah sakit, Abang akan ke rumah.


📩 Kamu besok ada jam kuliah pagi apa tidak?


Ternyata Bryan yang mengirimkan pesan. Pipit segera menjawab pesan itu.


📩 Hari ini, Pipit nggak ada kuliah pagi kok. Jam 2 siang baru ada jam.


Send. Pesan terkirim, tapi masih berwarna abu-abu, belum biru. Berarti pesannya belum di baca. Akhirnya Pipit memutuskan untuk turun dari ranjang dan segera mengambil wudhu untuk sholat subuh.


Setelah sholat subuh, Pipit melihat ke arah ponselnya. Sudah berwarna biru, tapi tidak ada balasan. Pipit melempar ponselnya kesal. Ia lalu kembali ke kamar mandi untuk menunaikan kegiatan paginya, dan mandi.


Tepat pukul tujuh pagi, Pipit keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan. Karena seperti biasanya, ketika waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, semua anggota keluarga sedang berkumpul di ruang makan untuk sarapan.


" Pagi semua..." sapa Pipit sambil berlari kecil masuk ke ruang makan. " Loh, mama...papa..." Pipit sedikit terkejut saat mendapati tuan dan nyonya Adiguna berada di rumah itu sepagi ini. Bahkan orang yang sedari semalam ia tunggu-tunggu kedatangannya, juga sudah berada di sana.

__ADS_1


" Pagi sayang. " sapa sang mama balik. " Kaget ya, mama sama papa kesini pagi-pagi. Biasa, mau numpang sarapan. " celetuk Nyonya Ruth. " Sini, duduk sayang. " ajak nyonya Ruth sambil menepuk kursi kosong antara dirinya dan Bryan.


Pipit mengangguk, lalu duduk di kursi yang di maksud oleh Nyonya Ruth.


" Kapan kamu mau tinggal di rumah mama? Mama kesepian sayang. "


" Pipit pasti akan tinggal di rumah mama. Secepatnya ma. " jawab Pipit karena iapun merasa kurang nyaman tinggal di rumah Seno, karena tiap hari harus bertemu dengan Damar. Mungkin dulu, ia memilih untuk tinggal di rumah Seno, supaya ia bisa sering bertemu dengan Damar. Tapi sekarang ia merasa agak tidak enak hati jika bertemu dengan Damar.


Lalu mereka segera sarapan. Setelah selesai sarapan, mereka berpindah ke ruang tengah dan mengobrol. Sedari tadi, Bryan hanya diam saja karena merasa gadis kecilnya mendiamkannya.


" Bagaimana rencana kalian mau menjenguk ibu kalian? " tanya tuan Adiguna.


Seno melihat ke arah Bryan mencari jawaban.


" Insyaallah weekend ini kami kesana pa. " jawab Bryan.


Pipit langsung menoleh ke arah Bryan dengan wajah sumringah. " Beneran bang? "


Bryan mengangguk, " Kalau abang kamu itu bisa. "


" Bisa kan mas? " kini Armell yang bertanya ke sang suami.


Seno tersenyum sambil mengelus pipi Armell, " Insyaallah. "


" Kalian bawa baby Dan? " tanya Nyonya Ruth.


" Iya ma. Ibu pasti juga merindukan Danique. Kami akan membawanya. " jawab Armell.


" Kalau kalian membawa Dan, sebaiknya kalian ajak Siti. Biar ada yang membantu mengurusnya. "


" Pipit bisa membantu mbak Mell mengurus baby Dan, mama. Mama nggak usah khawatir. " sahut Pipit sambil bergelayut di tangan nyonya Ruth


" Baiklah. Terserah kalian. Yang terbaik saja buat mama. "


" Kamu ajak Damar atau Rezky, El? " tanya tuan Adiguna.


" El mau nyetir sendiri aja pa. Rencana kita kemarin, kami akan berangkat satu mobil saja. Jadi El dan Bryan bisa gantian nyetirnya. Dan Pipit bisa membantu Armell menjaga baby Dan. " jawab Seno.


" Yang penting, satu hal yang harus kalian ingat, hati-hati di jalan. Nggak usah ngebut. Kalian lagi istri dan anak kalian. " tutur Nyonya Ruth.


" Pasti ma. " jawab Seno dan Bryan bersamaan.


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2