
Pipit keluar dari dalam rumah dengan santai ingin menghirup udara segar. Ia terkejut ketika ia hendak menuju taman depan rumah, sang pemilik hatinya sedang mengelap mobil milik Armell.
" Bang Damar..." sapanya dengan binar mata bahagianya.
Damar menoleh, lalu tersenyum, " Nona...".sapanya. Ia menghentikan aktivitasnya dan melangkah menuju ke dekat Pipit.
" Bang Damar kapan balik kesini? Kok nggak kasih kabar? "
Damar tersenyum kikuk. Ia mengusap tengkuknya.
" Maaf nona, saya tidak sempat kasih kabar. Saya sampai Jakarta tadi malam. "
" Nggak pa-pa bang. Gimana kabar Abang? "
" Alhamdulillah saya baik, nona. Nona sendiri gimana kabarnya? "
Pipit menggeleng, " Nggak baik. " jawabnya.
Damar terlihat mengernyitkan keningnya.
" Pipit nggak baik-baik saja karena terlalu kangen sama bang Damar. Pipit kan udah bilang kemarin bang...Rindu itu berat. Abang sih kelamaan perginya. " gombal Pipit.
Blush...
Pipi Damar merona mendengar gombalan receh dari Pipit. Ia kembali mengusap tengkuknya sambil tersenyum canggung dan salah tingkah.
" Nona paling bisa bikin saya speechless. " sahut Damar. " Memangnya hanya nona yang merasakan beratnya rindu? Saya juga. "
Blush
Kini Pipit yang di buat merona. " Ishh...Coba abang udah memperjelas hubungan kita. Pipit kan bisa meluk abang sekarang. "
" Jangan berbicara seperti itu nona. " tiba-tiba rasa sesak Damar rasakan dalam hatinya. Rasa bersalah menggelayuti relung hatinya.
" Beneran bang, Pipit kangen banget sama abang. Pengen meluk abang meski cuma bentar doang. " ujar Pipit dengan wajah sendunya. Saat ini ia memang butuh dada laki-laki di hadapannya ini untuk menghilangkan sedikit bebannya. Kejadian beberapa hari yang lalu, penggerebekan oleh warga, terus pernikahan dadakannya dengan si dokter Casanova, membuat Pipit lelah hati dan pikiran.
" Nona sedang ada masalah? " tanya Damar hati-hati karena melihat raut wajah Pipit yang tidak seceria biasanya.
Ingin rasanya Pipit menceritakan semua yang telah terjadi kepada laki-laki yang mengisi hatinya itu, tapi ia urungkan. Tidak mungkin ia mengatakan kepada Damar kalau dia telah menikah. Bisa kandas cintanya sebelum memulai.
__ADS_1
Pipit mengangguk dan tetap memasang wajah sendu.
Damar mendekat, " Ceritakan nona, ada masalah apa? Mungkin saya bisa membantu. "
Pipit mengangguk, " Emang hanya bang Damar yang bisa membantu menyelesaikan masalah Pipit. "
Damar kembali mengernyit, bingung apa maksud dari Pipit.
Melihat Damar yang terlihat bingung, Pipit tertawa meskipun hatinya bersedih.
" Karena masalah Pipit hanya satu, Pipit rindu sama abang. Jadi kalau bukan bang Damar yang menyelesaikan, siapa lagi dong? " Pipit kembali menggombal.
Damar tersenyum kikuk, lagi-lagi ia di gombali sama gadis ABG, dan dia masuk ke dalamnya. Tapi hatinya berbunga-bunga. Ia jadi melupakan masalahnya sendiri yang ia alami beberapa hari belakangan ini.
Tanpa sadar, Damar menarik Pipit ke dekatnya, dan mengecup sekilas puncak kepala Pipit.
" Maaf. " ucap Damar saat ia menyadari kesalahannya dan segera menjauhkan dirinya dari Pipit. Sedangkan Pipit, tersenyum sambil cengir-cengir dengan pipi bersemu merah.
Pipit segera pergi meninggalkan Damar yang masih bersikap kikuk, sambil masih tersenyum.
" Makasih bang. " ucapnya setengah berteriak sambil menoleh ke belakang karena ia mengatakannya sambil tetap berlari kecil.
" Maaf. " gumam Damar ketika Pipit sudah tidak terlihat lagi. Kata maaf yang Damar katakan kali ini, bukan kata maaf karena telah berani mengecup kepala Pipit, tapi karena hal lain.
Pipit berjalan masuk ke dalam rumah sambil bersenandung. Hatinya bahagia, dan saat ini ia sejenak melupakan kejadian besar yang ia alami dua hari yang lalu.
" Jangan bermain api. " ucap Armell ketika Pipit melaluinya tapi tidak menyadari kehadirannya.
Pipit langsung berhenti bersenandung dan berhenti melangkah.
" Mbak Mell, ngagetin aja. " ujar Pipit sambil memegang dadanya.
" Kamu aja yang terlalu senang, jadi tidak menyadari kalau kakak kamu ini berada di sini semenjak tadi. "
" He...he...he...maaf. "
" Kesini lah sebentar. " pinta Armell sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya.
Pipit lalu duduk di kursi itu. " Ada apa mbak? "
__ADS_1
" Mbak cuma mau bilang, jangan bermain api. Saat ini, status kamu adalah seorang istri. Kamu punya suami, bukan cuma pacar. Kamu tahu kan, apa istilahnya jika seorang istri dekat dengan laki-laki lain selain suaminya? "
Pipit terdiam mendengar ucapan kakaknya.
" Mbak tahu, kamu tidak mencintai suamimu. Tapi tetap saja, dia adalah suamimu, yang patut untuk kamu jaga perasaannya, patut untuk kamu hormati. Mbak juga tahu, hatimu saat ini milik Damar. Kamu mencintainya, dan dia juga sepertinya mencintaimu. Tapi kamu tetap harus ingat, ada hati lain yang perlu kamu jaga. "
" Pipit tahu mbak. Pipit tahu Pipit salah. Tapi hati Pipit tidak bisa untuk berbohong dan berpura-pura. Pipit mencintai bang Damar dan berhari-hari kami tidak bertemu. Pipit kangen sama dia. Lagian, om dokter juga nggak ada di sini. Dia nggak lihat juga. "
" Tapi jika kamu melakukannya dengan sembunyi-sembunyi dari suamimu itu malah justru kamu berselingkuh? Apa kamu mau di katakan perempuan yang suka selingkuh? "
Pipit langsung menggeleng. " Lalu Pipit harus gimana mbak? Pipit bingung. Tapi yang jelas, Pipit nggak bisa jika harus menjauhi bang Damar. "
Armell mendesah. Ia juga bingung harus berkata apa ke Pipit, karena ia tidak pernah mengalami kejadian seperti yang adiknya alami ini. Ia tidak pernah jatuh cinta selain dengan suaminya. Dan ia juga tidak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki manapun selain suaminya.
" Sebaiknya kamu pastikan perasaan Damar seperti apa ke kamu. Jika memang dia mencintai kamu, dan dia berani mengajak berkomitmen, kamu harus berani mengatakannya ke dokter Bryan. Jangan memberi harapan yang tidak mungkin untuk dokter Bryan. Meskipun ia bukan laki-laki yang sempurna, tapi dia bilang ke mbak kalau dia akan berubah dan meninggalkan kebiasaannya yang suka gonta-ganti pasangan. Ia berjanji hanya akan setia kepadamu. "
Pipit terdiam dan menunduk.
" Kamu pikirkan juga perasaan ibu. Ibu tidak tahu tentang Damar. Jika ibu tahu, ibu juga pasti akan kecewa. Selagi ibu masih berada di sini, mbak minta, bersikap baiklah dengan dokter Bryan. Dan jangan terlalu dekat dengan Damar. " tambah Armell. Lalu ia berdiri dan menepuk-nepuk pundak Pipit sebelum dia berlalu.
Pipit masih tetap termenung setelah mendengarkan perkataan kakaknya. Ia semakin dilema. Ia ingin berteriak rasanya.
" Pit, kok belum mandi? " tanya sang ibu yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
" Ibu. " Pipit sedikit terkejut.
" Kamu kok belum mandi? Bukannya hari ini nak Bryan mau mengajakmu pergi? Sudah hampir jam delapan loh ini. Buruan mandi, terus sarapan, kasihan jika nanti suamimu sampai sini harus nunggu kamu lama. " cerca ibu.
Pipit berdiri dari duduknya, " Iya Bu. " Ia mulai berjalan dengan wajah sendu menuju kamarnya. Ibu melihatnya hanya menggelengkan kepalanya.
" Dasar anak muda jaman sekarang. Ibu harap, kamu bisa menerima suamimu dengan apa adanya dan hidup bahagia bersamanya. Ibu tahu jika ada laki-laki lain yang juga menginginkanmu. Tapi tetap saja kamu adalah perempuan bersuami. " gumam sang ibu.
Sepertinya ibu tahu semuanya yang terjadi dengan anak-anaknya. Lalu ibu berlalu ke taman belakang untuk menyusul sang cucu yang sedang bersama dengan mbak Siti.
***
bersambung
Maaf banget ya guysss....jam segini baru update....🙏🙏🙏
__ADS_1