Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Suka rambut panjang


__ADS_3

" Bang nanti Pipit nginep di hotelnya sekamar sama Abang kan ya? " tanya Pipit saat mereka sampai di lobby hotel.


" Ha? " Bryan terkejut, lalu menoleh ke arah Pipit. Apa maksud bocah satu ini. Tidur sekamar? Dua kali sekamar sama bocah ababil ini membuat tensi Bryan naik karena kurang tidur. Jangan karena udah fix beneran mau jadi suami istri, terus semua bakalan aman dan nyaman.


" Abang kok malah berhenti? Kenapa? " tanya Pipit membalikkan badannya karena Bryan ternyata menghentikan langkahnya.


" Hem? " Bryan kembali terkejut. Bersama dengan istri kecilnya ini membuat pikirannya sering ngeblank. Belum lagi kejutan-kejutan yang di berikan oleh bocah di depannya ini.


" Tuh kan malah bengong? Ayo buruan ke kamar bang. Pipit mau mandi. Udah gerah banget ini. " Pipit mengambil tangan Bryan dan menariknya masuk ke dalam hotel.


Bryan sedikit menggelengkan kepalanya memulihkan kesadarannya. Ia mengikuti arah Pipit berjalan.


Sampai di depan lift, Pipit membalikkan badannya kembali, " Lantai berapa bang? "


" Lantai? " tanya Bryan belum sepenuhnya sadar.


" Iya, kamar Abang di lantai berapa? " tanya Pipit.


" Oh, kamar aku. Lantai 11. " jawab Bryan.


Pipit memencet tombol angka 11. " Ya lantai kamar lah. Masak iya rooftop. Emangnya mau bunuh diri nyariin rooftop. " gumam Pipit.


Ting


Pintu lift terbuka. Pipit segera keluar dan diikuti oleh Bryan.


" Mau kemana? Kamar aku belok kanan. " Bryan memberi tahu.


" Oh. " sahut Pipit lalu kini ia yang mengikuti Bryan.


" Ayo masuk. " ucap Bryan setelah ia membuka pintu kamarnya. Pipit masuk ke dalam dulu, baru Bryan masuk setelahnya.


" Wuaahhhh....Luas banget kamarnya. " Pipit mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. " Bang! " panggil Pipit. " Jangan-jangan abang booking kamar segede ini mau di buat party-party ya. Ngundang perempuan-perempuan malam...Minum-minuman ..Hiiiii...." ujar Pipit sambil bergidik.


Cup


Bryan mengecup bibir Pipit sekilas setelah mendengar kecurigaan istrinya itu.


" Jangan kebanyakan nonton sinetron. " ujar Bryan sambil melenggang pergi menuju mini bar yang ada di kamar itu.


Sedangkan Pipit baru tersadar dari kekagetannya, " Abang..." pekiknya. Ia berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya menghampiri Bryan. " Asal main comot aja. " gerutunya kesal karena Bryan telah mengecupnya tiba-tiba.


Bryan tersenyum, " Mau lagi? " godanya.

__ADS_1


Spontan Pipit menutup mulutnya dengan punggung tangannya. Bryan terkekeh melihatnya. " Mau kamu tutup bagaimanapun, kalau aku pengen nyium, tidak akan pernah kamu menghindar. Kamu ingat istilah, ada banyak jalan menuju ke Roma, kan? "


Plok


Lagi-lagi Pipit melempar tas ransel kecilnya ke Bryan. Kali ini, Bryan bisa menangkapnya.


" Emang tas kamu nggak kepakai ya? Kok dari tadi main lempar aja. " ujar Bryan sambil menaruh tas Pipit di atas meja mini bar.


" Ehhh...enak aja nggak kepakai. Tas ini mahal loh. Bukan harga tasnya yang mahal. Tapi isinya yang bikin tas ini mahal. " Pipit mengambil tasnya lalu memeluknya.


Bryan menggeleng-gelengkan kepalanya. " Kamu katanya tadi mau mandi? "


" Oh iya. " sahut Pipit. Lalu ia meletakkan kembali tasnya di atas meja. Ia segera berjalan menuju ke kamar mandi. Tapi baru saja Pipit menutup pintu kamar mandi, ia kembali membukanya.


" Ngapain keluar lagi? Ada yang kelupaan? " tanya Bryan setelah ia menenggak air mineralnya.


Bukannya menjawab, tapi Pipit malah duduk di tepi ranjang. " Gimana mau mandi? Percuma juga mandi. Pipit kan nggak bawa baju ganti. " jawabnya.


" Oh iya, dari tadi aku mau tanya kok lupa. " ujar Bryan sambil berjalan menghampiri Pipit. " Koper kamu mana? Apa masih di mobilnya Nick? " tanyanya.


" Pipit nggak bawa koper abaaanggg... Boro-boro bawa koper, bawa baju ganti aja nggak. Gara-gara buru-buru, bang Rezky dapet tiketnya kecepetan. Pipit nggak sempat ambil baju deh. " sahut Pipit.


" Terus gimana sekarang? Kamu mau ganti baju gimana? Apa kita keluar lagi, buat beli baju? " tanya Bryan.


" Terus gimana? Betah kamu tidur pakai baju kamu itu? "


Pipit langsung terbangun. Sepertinya ia mendapatkan sebuah ide. " Pakai baju Abang aja. Bisa kan? " Ia bangun dari duduknya dan berjalan mencari koper Bryan. " Baju Abang dimana? " tanya pipit karena ia tidak menemukan baju Bryan di dalam koper.


" Di almari. Tuh. " jawab Bryan sambil menunjuk sebuah almari dengan dagunya.


Pipit langsung gercep menuju almari, membukanya, dan mulai memilih.


" Kalau kaos, harus pakai celana. Kalau celana Abang bule, udah bisa di pastikan kalau kegedean. Mmmm....pakai apa ya? " Pipit bermonolog sambil matanya melihat baju-baju Bryan silih berganti dan jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dagunya.


" A ha..." Pipit menjentikkan jarinya. " Pakai kemeja aja. Kan pasti panjang tuh di badan Pipit. Jadi nggak usah pakai celana deh. " lalu Pipit mengambil sebuah kemeja dengan perlahan supaya deretan baju-baju itu tidak berantakan. Setelah mengambil kemeja, Pipit mengambil satu celana da*** milik Bryan.


Bryan yang melihat langsung berdiri, " Mau kamu bawa kemana tuh CD aku? "


" Ya mau di bawa ke kamar mandi lah. Kemana lagi emangnya? Pipit pinjam bang sekalian. Masak iya, Pipit tetap pakai dalama* yang Pipit pakai ini. Ih, jorok bang. Udah kotor, kena keringat. " sahut Pipit.


" Lah, emang pas di tubuh kamu? Nggak kegedean? Size large itu. " ujar Bryan.


" Entar Pipit pikirin deh gimana biar bisa pas. Toh bahannya melar gini. " sahut Pipit sambil melihat CD Bryan yang ada di tangannya. " Ah, udah ah. Pipit mau buru-buru mandi. Udah gatel tubuh Pipit. "

__ADS_1


Tanpa menunggu komen dari Bryan , Pipit ngacir ke kamar mandi dan segera menutup pintunya.


Setelah setengah jam kemudian, Pipit keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk di atas kepala, kemeja Bryan berwarna navy yang menutupi tubuhnya hingga atas lutut, lengan yang di gulung hingga siku. Pemandangan yang mampu membuat jiwa kelelakian Bryan bangun. Ia menatap istrinya itu dari atas hingga ke bawah. Kaki jenjang dan paha mulus putih, tubuh di balut dengan kemeja yang kedodoran, menambah kesan seksi bagi yang melihat.


" Ada hair dryer nggak ya bang? " tanya Pipit sambil melepas handuk yang melilit di tas kepalanya. " Tadi Pipit cari di kamar mandi nggak ada. Rambut Pipit basah. Udah terlanjur keramas. Masak tidur dengan rambut basah. " tambahnya.


Bryan segera beranjak dan mengambil hairdryer yang tadi siang ia taruh di dekat sofa karena ia harus mengeringkan beberapa kertas penting yang tadi sempat tersiram air minum.


" Duduk. " Bryan menyuruh Pipit duduk di kursi depan meja rias setelah ia mengambil hairdryer. Pipit mengikuti ucapan Bryan. Ia duduk di kursi depan meja rias.


Setelah Pipit duduk, Bryan mengambil handuk kecil yang ada di tangan Pipit, dan mengeringkan rambut Pipit menggunakan handuk dulu sebelum menggunakan hairdryer.


Setelah di rasa rambut Pipit sudah tidak menetes, Bryan menghidupkan hairdryer lalu mulai mengeringkan rambut Pipit.


Baru saja Bryan hendak memegang rambut pipit, Pipit memegang tangannya, " Pipit bisa sendiri bang. " larangnya.


Bryan melepas pegangan tangan Pipit. " Udah, kamu diam aja. Yang penting terima beres. " ucap Bryan sambil mulai mengeringkan rambut Pipit. " Kamu tahu, aku sudah lama ingin melakukan hal kecil seperti ini ke seorang gadis yang akan menjadi istriku. " lanjutnya tanpa melihat Pipit.


Pipit menatap Bryan dari dalam kaca dan tersenyum tipis. " Makasih ya bang. "


" Sama-sama honey. " sahut Bryan sambil melihat ke arah pipit sebentar sebelum kembali mengeringkan rambut Pipit. " Rambut kamu lumayan panjang ya. Sejak kapan kamu mulai memanjangkan rambut? "


" Mmm....Sejaaaakkk....Kalau tidak salah, sejak kelas 3 SMP. "


" Wow, lumayan lama juga ya. Memang kamu suka rambut panjang? "


" Hm. " sahut Pipit sambil sedikit mengangguk.


" Sepertinya, keluarga kamu suka memanjangkan rambut semua. Armell, ibu juga. "


" Iya. Awalnya Pipit penasaran sama rambut ibu sama mbak Mell. Kenapa mereka suka memanjangkan rambut. Jadi ikut-ikutan deh. " jawab pipit. " Kalau Abang, suka sama cewek yang rambutnya panjang, apa pendek? "


" Hm? " sahut Bryan sambil memandang pantulan Pipit dari dalam kaca. " Kalau aku suka apapun yang kamu suka. " jawab Bryan sambil tersenyum menggoda.


" Ck. " Pipit berdecak sambil mencebikkan bibirnya. " Di tanya serius juga. "


Bryan memperlebar senyumannya. " Aku suka gadis berambut panjang. Mereka terlihat lebih manis. " jawab Bryan pada akhirnya. Dan jawaban itu berhasil membuat Pipit tersenyum.


" Nah, udah selesai. " ucap Bryan sambil mencabut kabel hairdryer.


Pipit memegang rambutnya, berdiri dari duduknya, dan tersenyum manis ke suaminya, " Terima kasih banyak suami buleku. " ucapnya, lalu berjinjit dan mengecup pipi kanan Bryan sekilas.


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2