Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Tersiksa


__ADS_3

Siang hari pesawat yang di tumpangi rombongan Bryan telah mendarat dengan sempurna dan selamat di badar udara Ngurah Rai. Di bandara, mereka telah di jemput oleh orang suruhan Seno dengan membawa Toyota Hiace commuter manual luxury.


Orang suruhan Seno itu membawa mereka ke sebuah villa mewah milik keluarga Adiguna.


" Ayo semua turun. " ajak Seno yang masih menggendong Danique. Seno membantu istrinya turun dari mobil. Kemudian diikuti oleh Bryan dan Pipit.


" Wuaaaahhhh.....Bagus banget vilanya....." ujar Pipit dengan rasa terkejut dan teramat sangat. Bryan kembali menggelengkan kepalanya.


" Wuahhhhh.....Keren banget....Mas, bagus banget vilanya. Pasti mahal ini sewanya. " kini gantian Armell yang terpukau dengan vila megah yang ada di hadapannya.


Tanpa memperdulikan yang lainnya, Pipit dan Armell masuk ke dalam villa. Mereka sudah penasaran dengan bagaimana dalam villa itu. Ada apa saja di dalamnya.


Bryan dan Seno saling memandang satu sama lain, lalu menggelengkan kepalanya bersamaan. Tak lama, mereka segera masuk ke dalam menyusul istri-istri mereka.


" Mereka memang sesuatu. Lain daripada yang lain. " ujar Seno.


" Makanya aku memilih adik iparmu. Karena dia unik. " sahut Bryan.


" Yah. Itu juga kenapa aku memilih Armell menjadi istriku. Unik, dan lain daripada yang lain. Sepertinya memang kita di takdirkan berjodoh. Karena sama-sama mempunyai istri yang unik. Kakak adik lagi. " tambah Seno


" Hem. " sahut Bryan. " Kemana mereka? " tanya Bryan karena setelah ia sampai di dalam villa, ia tidak menemukan istrinya maupun istri sahabatnya.


" Mas..."


" Bang..."


Panggil Pipit dan Armell bersamaan dari lantai dua.


" Awas..." Teriak Bryan dan Seno bersamaan. Mereka terkejut dan panik saat tiba-tiba istri-istri mereka nongol di lantai dua dan dengan badan yang agak membungkuk ke bawah di dekat pagar pembatas.


" Honey...."


" Baby..." kembali mereka berdua berseru.


" Sini. " kedua kakak beradik itu melambaikan tangannya ke suami mereka masing-masing.

__ADS_1


Dengan segera, dua laki-laki itu segera menyusul istri-istri mereka naik ke lantai dua.


" Jangan berdiri di dekat pagar seperti itu, honey. Kalau jatuh bagaimana? " protes Bryan.


" Kamu juga baby. Kamu udah besar. Bukan anak kecil lagi. Harusnya bisa hati-hati. " omel Seno ke Armell.


" Ck. Kalian ini. Kami sudah besar. Kami akan hati-hati. Nggak mungkin juga kami melompat dari lantai dua. Kalian aja yang terlalu posesif sama kami. " gerutu Armell dan diikuti anggukan mantap dari Pipit.


" Kalian kenapa masuk ke dalam tidak menunggu kami? " tanya Bryan.


" Itu karena kita kepo sama dalamnya vila, abaaang....Dan ternyata, dalamnya lebih wow...Kami juga udah memilih kamar buat kita. " sahut Pipit.


" Yang mana? " tanya Bryan.


" Itu kamar kita. Yang di sebelah kamar mbak Mell sama mas Seno. " tunjuk Pipit. " Pemandangannya bagus . Kita bisa lihat laut dari dalam kamar. " tambahnya.


" Yuk mas, kita ke kamar. Kasihan baby Dan. Dia pasti capek pengen rebahan. Ngantuk juga dia pastinya. " ujar Pipit.


" Oke. Kita masuk, terus tidurin baby Dan. Habis itu, aku tidurin kamu, baby. " sahut Seno sambil mengerlingkan sebelah matanya.


" Apa Lo? Gue mau olahraga siang sama bini gue. " sahut Seno sambil merengkuh pundak Armell dan menggandengnya.


" Gue juga bisa. Emang Lo doang yang bisa? Gue enak dong, nggak ada yang ganggu. Nah Lo, baru mulai on, si Danique nangis kejer. Gagal deh belalai lo dapet makan. Ha....ha....ha...." ejek Bryan sambil menggandeng Pipit di bahunya dan segera membawa Pipit masuk ke dalam kamar sebelum tanduk Seno keluar.


Ceklek


Pintu kamar terdengar di kunci dari dalam. Di dalam kamar, Pipit berdiri di hadapan sebuah jendela kaca yang sangat besar. Pipit sedang menikmati pemandangan laut yang sangat indah.


" Honey, kita olahraga dulu yuk. " Bryan memeluk Pipit dari belakang sambil mengecup pundak Pipit. " Kita anggap hari ini kita awalan kita honeymoon. Honeymoon journey namanya. Besok kita sambung lagi kalau kita sudah ada waktu senggang. " rayu Bryan.


Pipit membalikkan badannya dan tersenyum sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Bryan. Ia lalu mencium bibir seksi suaminya. Mendapat sinyal hijau, Bryan menarik tengkuk Pipit untuk memperdalam ciumannya.


Pipit mendorong tubuh Bryan hingga mencapai ranjang, lalu menghempaskan tubuh kekar suaminya. Kini, Pipit berada di atas tubuh Bryan. Ia kembali menyerang bibir suaminya tanpa ampun.


Kemudian tangan mungilnya mulai membuka kancing kemeja Bryan satu persatu, dan di tariknya lalu membuangnya ke sembarang arah. Bryan sempat di buat terkejut dengan kelakuan istrinya yang biasanya hanya tinggal pasrah menerima, tapi kali ini, istrinya yang berinisiatif duluan. Tapi rasa terkejut itu hanya di rasakan sebentar oleh Bryan. Karena menit berikutnya hanyalah kenikmatan yang ia rasakan.

__ADS_1


Kali ini, Pipit bahkan tidak membiarkan Bryan bergerak. Ia tidak mengijinkan Bryan untuk memimpin permainan. Ia dengan lidah dan tangannya yang mungil memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Bryan terbang hingga ke awang-awang.


Bryan terus mende*** dan menyebut nama istrinya berkali-kali saat Pipit memain*** lidahnya untuk menyerang telur dari ular piton milik Bryan.


" Ohhh honeyyyyy.....Jangan menhukumku seperti ini. Aaahhh.....honey....aku tidak tahan...." oceh Bryan dan membuat Pipit tersenyum tipis.


Ia lalu bangkit dari atas tubuh suaminya dan melepas pakaian bawahannya. Sengaja ia tidak melepas kaos yang melekat pada tubuhnya. Bahkan ia juga tidak melepas br*nya. Ia tidak membiarkan Bryan menyentuh bagian dari tubuhnya.


Dan jleb


Pipit telah memasukkan ular piton milik Bryan ke dalam kandangnya. Naik turun, naik turun Pipit terus bergerak di atas tubuh suaminya. Membuat suaminya berteriak dan mende*** sambil meminta supaya ia bisa memegang kedua aset berharga Pipit yang ada di dadanya. Tapi Pipit menggelengkan kepalanya dan membuat Bryan sedikit frustasi. Tapi tak urung dia merasa sangat bahagia karena istrinya bisa memuaskannya.


Erang** panjang keluar dari mulut Bryan yang menandakan jika ular pitonnya telah bersin dengan liur yang lumayan banyak memenuhi rahim sang istri. Kali ini Bryan berharap, kecebongnya segera tumbuh di dalam rahim istrinya.


Pipit berdiri dari atas tubuh suaminya dan tersenyum senang melihat suaminya memejamkan matanya tak berdaya. Ia kembali memakai celana yang tadi di lepasnya. Lalu ia mengecup kening suaminya dan membuat suaminya membuka matanya lalu memeluk erat tubuhnya.


" Darimana kamu tahu semua itu? " tanya Bryan.


" Hem? Maksudnya? " tanya Pipit sambil mengerutkan keningnya.


" Darimana kamu belajar bermain seperti tadi? Hem? "


" OOO...Dari internet lah. Darimana lagi? " jawab Pipit santai.


" Kamu pintar sekali. Pintar menyenangkanku, juga pintar membuatku tersiksa. "


Pipit sedikit menjauhkan tubuhnya hingga ia bisa menatap suaminya. " Bagaimana bisa aku membuatmu tersiksa bang? "


" Iya. Karena kamu tidak mengijinkanku menyentuh bagian-bagian dari tubuhmu. " sahut Bryan sambil cemberut.


" Ha...ha....ha..." Pipit tergelak melihat wajah cemberut suaminya. Lalu cup...Pipit mencium bibir seksi milik suaminya. " Bukankah aku sudah memberikan bibirku untuk Abang nikmati? " ujar Pipit.


***


bersambung

__ADS_1


__ADS_2