
" Hei, ayo cepet siap-siap. " ajak Bryan ke Pipit yang masih setia meringkuk di atas sofa.
Pipit mengangkat wajahnya, " Emang mau kemana? "
" Katanya butuh buku. Aku antar ke toko buku sekarang. " jawab Bryan.
" Oh iya. " Pipit menepuk jidatnya sendiri. " Masyaallah ... Pipit lupa. Bisa di strap pak dosen kalau sampai nggak dapetin tuh buku buat nyelesaiin tugas. " gumamnya sambil buru-buru beranjak dari atas sofa.
" Tungguin bentar ya bang. Pipit ganti baju bentar. Jangan di tinggalin. " teriaknya sambil berjalan dengan cepat.
Bryan hanya menggelengkan kepalanya sambil menghenyakkan pantatnya di atas sofa.
Tak beberapa lama, Pipit keluar dari dalam kamar dengan membawa tas ransel yang berisi tablet, ponsel, juga dompetnya.
" Mbak...Bangg....." panggil Pipit setengah berteriak karena kakak dan kakak iparnya berada di lantai dua. " Pipit pergi dulu sama Abang bule ya ke toko buku. " pamit Pipit.
Seno keluar dari dalam kamar, lalu menengok ke bawah dari pagar tepi lantai dua. " Nggak usah pakai teriak juga. Kayak Tarzan. " ujarnya.
" Abang nggak pernah nonton film Tarzan ya? Tarzan kan cowok. Pipit, cewek. " jawab Pipit.
" Ck. "
" Bang, Pipit mau ke toko buku di antar sama Abang bule bentar ya. " pamit Pipit kembali.
" Hmm. Lama juga nggak pa-pa kalau perginya sama dia. " jawab Seno sambil menunjuk Bryan.
Pipit langsung menghampiri Bryan.
" Gue bawa bini gue dulu bentar ke toko buku. " pamit Bryan ke Seno sambil berdiri dari duduknya.
" Lama juga boleh. " jawab Seno sambil tersenyum menyeringai.
Lalu Bryan mengikuti Pipit yang sudah berjalan keluar lebih dulu. Di luar, ternyata Pipit sudah siap di dalam mobil warna merahnya.
" Bang, kita pakai mobil ini. " teriak Pipit dari dalam mobil. Bryan mengangguk, lalu berjalan menuju mobil merah Pipit terparkir.
Bryan hendak membuka pintu kemudi dan menyuruh Pipit berpindah tempat, tapi Pipit segera berkata, " Bang, kali ini, ijinin Pipit yang nyetir ya. "
" Tapi kamu belum punya SIM. "
" Ya ntar kalau ketemu pak polisi, kita langsung tukeran tempat. Ya bang ya ... Please..." pinta Pipit mengiba.
Tanpa menjawab, Bryan langsung berjalan mengitari mobil dan masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Pipit. Sambil tersenyum manis, Pipit perlahan mulai menjalankan mobilnya keluar pekarangan rumah Seno.
Bryan menjadi navigator buat Pipit hari ini. Ia berniat melakukan apapun yang di minta istri kecilnya hari ini, supaya istrinya itu melupakan kegalauannya.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di halaman parkir toko buku terbesar dan terlengkap di ibukota. Pipit dan Bryan segera turun dari dalam mobil setelah mobil terparkir cantik di tempatnya. Mereka masuk ke dalam toko beriringan.
Sampai di dalam toko, Bryan menunjukkan letak buku-buku tentang kedokteran di sebelah mana. Lalu ia membiarkan Pipit mencari buku yang ia mau. Bryan dengan sabar dan setia menemani dan mengikuti kemana kaki Pipit melangkah.
__ADS_1
Pipit berjalan kesana-kemari sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mulut komat kamit, " Nih buku susah bener di cariinnya. Ck. Pak dosen bener nggak sih kasih tahu judulnya? Kok Pipit udah jalan kesana kemari mondar-mandir cari tuh judul nggak ketemu. Jangan-jangan pak dosen yang kayak monster itu sengaja ngerjain. " Mulut Pipit tidak berhenti menggerutu dan ngedumeli si dosen.
Sudah hampir satu jam mereka di dalam toko buku itu. Tapi buku yang Pipit cari masih belum ketemu juga. Bryan dengan sabar menemani dan mengikuti kemanapun kaki Pipit melangkah.
Akhirnya Pipit berjalan menuju ke petugas toko.
" Kak, maaf permisi, mau tanya. Buku dengan judul ini ada nggak sih? " tanya Pipit sambil memperlihatkan catatan kecilnya.
Petugas itu membaca catatan itu sesaat. " Wah, kebetulan stok buku kami dengan judul ini hanya sedikit, nona. Dan sudah habis terjual siang tadi. "
" Yaah...Nggak ada gitu kak sisa. Siapa tahu di gudang ada sisa. Yang BS juga nggak pa-pa deh. " rengek Pipit.
Petugas itu tersenyum lembut ke Pipit. Petugasnya itu laki-laki ya guys.
' Cantik gadis ini. ' puji sang petugas dalam hati.
" Nggak ada, nona. Maaf. Nona kuliah di kedokteran ya? " tanya petugas itu mencoba berkenalan.
" Ck. Nggak dapat buku itu, bisa-bisa di gorok sama pak dosen nih. " gerutu Pipit dengan wajah sendunya.
Sang petugas terkekeh pelan. " Masak sampai segitunya dosennya...kok sampai mau menggorok mahasiswa. "
Bryan memperhatikan interaksi dan raut muka si petugas dari kejauhan. Sebenarnya Bryan sangat kesal karena petugas itu mencoba mendekati istri kecilnya. Tapi sebisa mungkin ia menahannya.
" Ya udah deh, makasih ya kak. " ucap Pipit sambil tersenyum tipis.
" Boleh kenalan dulu nggak nona cantik? " tanya sang petugas.
Mata si petugas langsung mengikuti arah jari Pipit, kemudian ia tersenyum kecut dan salah tingkah saat matanya bertemu tatap dengan mata elang sang bule.
Saat petugas itu memandang ke arah Bryan, Pipit berjalan mendekati Bryan.
" Gimana, dapat bukunya? " tanya Bryan sambil melirik ke arah petugas tadi yang masih mengamati gerak-gerik Pipit. Mungkin petugas itu belum percaya jika gadis yang ingin di kenalnya itu sudah bersuami.
Pipit menggeleng lemah sambil menunduk. " Gimana dong ini? Mana besok makalahnya harus udah di kumpulin lagi. " ucapnya sambil meremas tangannya.
" Emang yang kamu cari buku apa sih? Kok sampai di toko segede ini nggak ada. "
Pipit lalu menyodorkan kertas kecil yang bertuliskan judul sebuah buku. Bryan membaca judul buku itu, lalu tersenyum tipis.
" Kenapa nggak dari tadi bilangnya kalau mau cari buku ini? Aku punya di apartemen kalau cuma buku ini. " ujar Bryan.
Mendengarnya, Pipit langsung mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk, dengan wajah berbinar-binar. " Beneran? Abang punya? "
" He em. " jawab Bryan sambil mengangguk dan melipat kertas kecil itu.
Tanpa Bryan duga, Pipit melompat dan memeluknya dengan mengalungkan kedua tangannya ke leher Bryan. Bryan di buat sangat terkejut, bagai mendapatkan jackpot besar. Bahkan ia menahan nafasnya.
" Kenapa Abang nggak bilang dari tadi kalau bang bule punya tuh buku? Keburu Pipit tadi mengumpat pak dosen. Kirain salah kasih tahu judul bukunya. " celoteh Pipit masih dalam posisi memeluk Bryan.
__ADS_1
" E khem..." Bryan berdehem menetralkan desiran di hatinya.
Dan deheman itu sepertinya menyadarkan Pipit apa yang sedang dia lakukan saat ini. " He...he...he... kebablasan saking senengnya jadi meluk abang. "
Bryan tersenyum kikuk sama seperti yang Pipit lakukan. Tapi tiba-tiba, wajah Pipit kembali mendung.
" Kenapa lagi? " tanya Bryan.
" Udah hampir malam. Mau di kerjain semalam suntuk juga makalahnya nggak bakalan jadi. Kan butuh analisis juga, susah jadinya. " ujar Pipit.
" Ck. Cuman gitu doang? Kamu lupa, siapa suami kamu ini? Aku ini dokter yang sudah bertahun-tahun jadi dokter andalan di rumah sakit ternama. Kalau cuma masalah bikin makalah kayak gitu, gampang. Dosen kamu aja belum tentu lebih pintar dariku. " jawab Bryan membanggakan diri.
Wajah Pipit kembali bersinar, " Beneran ya, bang bule bantuin? "
Bryan mengangguk sambil tersenyum dan mengusap rambut Pipit. " Ya udah, ayo kita segera ke apartemen. Biar bisa langsung mengerjakan tugas kamu. "
" Okeh. Let's to the go...." jawab Pipit sambil berbalik badan dan berjalan keluar dari toko buku itu.
" Emang ada bahasa Inggris let's to the go? Yang ada kan let's go. " gumam Bryan lirih.
" Abang yang bawa mobilnya. Kamu duduk di sebelah. " perintah Bryan. Sedikit demi sedikit, Bryan mencoba mengartikan dirinya untuk Pipit. Dengan harapan, Pipit segera memasukkan dirinya ke dalam hatinya. Saat ini, ia cukup memanggil dirinya abang jika berbicara dengan Pipit, bukan lagi ' aku '.
Pipit langsung memberikan kunci mobilnya ke Bryan dan segera berjalan menuju pintu sebelah, membukanya, lalu masuk ke dalam bersamaan dengan Bryan yang juga masuk dan duduk di balik kemudi.
Perlahan, Bryan menjalankan mobilnya keluar dari parkiran toko buku itu. Pipit mulai menghidupkan musik sesuai lagu yang ia sukai.
" Ibu nggak ke rumah lagi? Sudah lama kan, ibu pulang ke kampung? " tanya Bryan sambil masih fokus ke jalanan.
" Sepertinya ibu belum punya rencana kesini. Sebenarnya Pipit kangen banget sama ibu. Tapi ibu bilang, toko ramai. Sayang kalau harus tutup lagi. " sahut Pipit yang tiba-tiba menatap sendu ke arah jalanan karena merindukan sang ibu.
" Mau menjenguk ibu? " tanya Bryan sambil menoleh ke arah Pipit sebentar.
" Mau sih. Tapi apa bang Seno ngebolehin Pipit naik bis sendiri. "
" Kalau naik bis, bukan cuma ipar kamu yang nggak ngebolehin. Abang juga nggak boleh. Kalau kamu mau jenguk ibu, kita pergi sama-sama. Abang juga kangen sama ibu. " ujar Bryan.
" Beneran Abang bule mau nganterin? " tanya Pipit sambil menoleh ke arah Bryan.
Bryan tersenyum sambil mengangguk.
" Horeee....Asyikkkk.... Pulang kampunnngg...." Pipit bersorak dan membuat hati Bryan menghangat melihat istrinya terlihat sangat bahagia. " Eh, emang abang nggak sibuk? Bang Seno bilang, Abang mau di angkat jadi direktur di rumah sakit itu. Abang pasti sibuk banget. "
" Belum Abang pikirkan masalah itu. Direktur yang sekarang, masih menjabat di sana. Mungkin satu atau dua tahun lagi baru pensiun. Kalau kita menuruti kerjaan, pasti nggak ada selesainya. Sekali-sekali, boleh lah kita menyisakan waktu buat diri kita sendiri. "
" Betul juga sih. Kerja terus tapi nggak merhatiin kesehatan, nggak istirahat, juga nggak baik. Toh kita cari uang banyak-banyak, besok nggak bakalan bisa kita bawa mati ini. " jawab Pipit.
Bryan mengacak rambut Pipit karena gemas. Gadisnya ini selalu saja bisa membuat hatinya berdebar dan berbunga-bunga.
***
__ADS_1
bersambung