Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Nyidam gado-gado


__ADS_3

" Kita pesan dulu. Pipit, mau ikut kesana, pesen sendiri apa sekalian aku pesenin? " tanya Ameera saat mereka telah sampai di warung makan gado-gado 43 yang di maksud oleh Bryan.


" Mau ikutan aja. Pengen liat, masaknya kayak apa. " sahut Pipit antusias. Ia lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menyusul Ameera. Bryan pun tak kalah kepo. Ia juga berdiri mengikuti istrinya.


" Buuu...." panggil Ameera ke penjual.


" Iya, mbak. Mau pesen apa? " tanya si mbak penjual.


" Gado-gado ya mbak. Empat porsi. Yang dua, buat bumil ini, biar milih-milih sendiri. " ujar Ameera.


" Di makan sini ya mbak? " tanya si mbak penjual.


" Iya. Minumnya, es campur sama...." kata-kata Ameera terjeda. Ia mundur sedikit untuk bertanya ke Armell juga Seno. " Mbak Mell, mau minum apa? "


" Ada apa aja emangnya? " tanya Armell dari kejauhan.


" Ada...es campur, jeruk hangat, teh, kolak, ada es buah juga. " jawab Ameera.


" Mmm...es campur aja, dua sama mas Seno. " ujar Armell.


Ameera mengangguk, kemudian kembali ke mbak penjual, " Mbak, es campur empat ya. Tapi yang satu jangan di kasih es. " ujar Ameera.


" Iya. Di tunggu ya mbak. Nanti pesenannya di antar. " ucap si mbak penjual.


" Aku kesana dulu ya. Kalian silahkan pesan-pesan dulu. " ujar Ameera sambil menepuk pundak Pipit.


Pipit mengangguk dan pandangannya sedari tadi tak lepas dari masakan yang ada di warung itu.


" Bang, kayaknya enak semua deh. Jadi pengen nyicipin semua. " ujar Pipit sambil mengelus perutnya. " Abang mau makan apa? " tanyanya.


" Nona, yang namanya gado-gado, yang mana? " tanya Bryan ke mbak penjual.


Si penjual malah tersenyum geli mendengar dirinya di panggil nona oleh seorang bule.


" Kok malah ketawa nona? " tanya Bryan.


" Habis mas nya lucu. Saya geli di panggil nona. Panggilnya mbak aja mas. Jangan pakai nona. " ujar penjual.


" Iya, mbak. " ucap Bryan dengan agak canggung.


" Mas bule tadi tanya gado-gado ya. Gado-gado itu ini mas. Semua yang ada di sini, di jadikan satu di piring, terus di kasih bumbu. " jawab mbak penjual sambil menunjukkan semua sayuran yang ada di depannya.


" Bumbunya kayak apa mbak? " kali ini Pipit yang bertanya.


" Bumbunya kayak gini. "


" Oh, udah jadi ya. Kirain baru mau di buatin. Pengen lihat proses buat bumbunya kayak gimana. " lanjut Pipit.


" Honey, kita kesini mau makan gado-gado loh. Bukan mau lihat orang masak. " ujar Bryan.

__ADS_1


" Tapi anak kamu pengen lihat yang bikin bumbunya bang. " rengek Pipit sambil mengelus perutnya.


" Mbaknya nyidam ya? Gini aja mbak, kebetulan di belakang lagi ada orang yang buat bumbu. Apa mau lihat? Tapi prosesnya lama ya. " ujar mbak penjual.


Wajah Pipit berubah berbinar. " Angsal ningali mbak? " tanya Pipit dengan bahasa Jawa yang kaku. ( Boleh lihat mbak? )


" Lho, mbak e saget boso jowo ? " tanya si mbak penjual. ( Lho, mbaknya bisa bahasa Jawa? )


" Saget. Tapi secuil-secuil. " jawab Pipit. ( Bisa mbak tapi sedikit-sedikit. )


" Masnya bule nggih saget boso jowo? " tanya penjual. ( Mas bule juga bisa bahasa Jawa? )


" Honey, kalian ini bicara apa sih? Bahasa planet mana lagi yang kamu gunakan? " tanya Bryan.


" Ih Abang...Ini namanya bahasa Jawa. Mbaknya ini tanya, Abang bisa nggak bahasa Jawa? " ujar Pipit.


" No. I can't. "


" Bang, Pipit mau lihat orang yang bikin bumbu gado-gado ini sebentar ya. "


" Emang boleh sama mbaknya? "


" Boleh kok. "


" Ya udah, sana. Tapi jangan lama-lama. Kamu belum sarapan. Katanya mau ke makam sunan Muria juga. " ujar Bryan.


" Iya ...iya bentar doang. " jawab Pipit. " Yuk mbak, saya pengen lihat caranya bikin bumbu ini kayak apa. " ujar Pipit sambil menunjuk bumbu gado-gado yang sudah jadi itu.


Lalu datanglah seorang laki-laki paruh baya masuk ke dalam warung. Pipit dan mbak penjual tadi langsung masuk ke dalam rumah. Suami mbak penjual tadi langsung membuat gado-gado empat porsi untuk rombongan Bryan.


" Tuan, nanti yang tambah satu porsi lagi, tapi telurnya, yang kuning di buang aja ya. " pinta Bryan.


" Mas, panggilnya jangan tuan dong. Panggil mas aja. " pinta suami mbak tadi.


" Oh iya. Aneh ya di sini kalau di panggil tuan. " tanya Bryan.


" Iya. Soalnya di sini orang kalau manggil paling mas, kak, bapak...kayak gitu aja. "


" Wah, mas cekatan sekali bikin gado-gadonya ya? " tanya Bryan.


" Iya mas. Kan udah kebiasaan. Sehari-hari yang di pegang ini. " jawab mas penjual.


" Mas, kalau ini apa namanya? " tanya Bryan sambil menunjuk masakan yang ada di dalam almari sebelah.


" Oh, itu namanya tahu bacem. " jawab mas penjual.


" Rasanya kayak apa? "


" Ada manisnya, ada asinnya, ada asemnya. "

__ADS_1


" Nanti minta ini satu ya mas. Pengen nyobain. Terus kalau ini apa? Masakannya banyak banget. " tanya Bryan kembali sembari mengamati masakan yang ada di almari itu.


" Yang itu macam-macam namanya mas. Tapi semua lauk itu kalau di jadikan satu, namanya nasi rames. " jawab si penjual.


Bryan manggut-manggut. " Mas, nanti boleh minta semua masakan itu dikit-dikit aja di jadikan satu piring? Pengen nyobain semua. " pinta Bryan.


" Boleh mas. Nanti saya kasih. " jawab penjual.


Pas ketika mas penjual mau mengantar pesanan ke.meja Seno dan yang lain, Pipit kembali bersama mbak penjual.


" Udah lihatnya honey? " tanya Bryan yang sedari tadi menunggu istrinya.


Pipit mengangguk, " Ternyata prosesnya ribet. Mending langsung makan aja. Mbak, aku minta bikinin gado-gado, tapi jangan pakai kol. Aku nggak suka kol. "


Mbak penjual mengangguk, lalu segera mengambil sebuah piring dan mengisinya dengan lontong.


" Mbak, kalau ini, sayur apa namanya? Aku kok nggak pernah lihat. "


" Itu namanya sayur pakis. Itu khas dari gunung Muria. "


" Aku mau pakai itu mbak gado-gadonya. " jawab Pipit. Mbak penjual mengangguk, lalu kembali mengisi piring tadi dengan berbagai macam sayuran.


" Honey, kita tunggu di depan aja yuk. " ajak Bryan. Pipit mengangguk, lalu Bryan menggandeng pinggang Pipit dan di ajak menghampiri rombongan.


" Lama amat. " protes Armell.


" Ini nih adik kamu. Lihat orang bikin bumbu gado-gado dulu. " sahut Bryan.


" Udah lihatnya? "


" Udah. " jawab Pipit sembari mengangguk. " Ternyata bikin bumbunya ribet. Butuh tenaga ekstra. Bumbu kacangnya di tumbuk pakai lesung. " ujar Pipit.


Tak lama, pesanan mereka sampai.


" Silahkan. " ujar mas penjual yang mengantar makanan mereka.


" Ini apaan kok cuma lauk doang? " tanya Seno.


" Kata mas yang jualan, ini namanya rames. "


" Nasinya? "


" Nasinya entar kalau makan siang, kita kesini lagi. Buat makan nasi rames. " ujar Bryan, lalu segera mencicipi gado-gado pesanannya.


" Wuahhh benar-benar mantap. " ujar Bryan sambil mengacungkan jempolnya.


" Iya bang. Enak. Nanti siang harus kesini lagi. Nyobain menu yang lain. " tambah Pipit setelah ia juga mencicipi gado-gado itu.


***

__ADS_1


bersambung


Maaf ya guys,,, episode ini agak garing.....🙏🙏🙏 othor pikirannya belum bisa fokus.... insyaallah episode besok sudah bisa lebih baik lagi ...🙏🙏


__ADS_2