Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Dion dan Leora


__ADS_3

Nona, tidak semua laki-laki mempunyai pikiran seperti itu. Nona Leora, perempuan terhormat, cantik, baik. Arvin juga seorang anak yang lucu, tampan. Laki-laki mana yang tidak menginginkan seorang anak seperti dia? Saya saja sangat menyukai tuan kecil itu. " sahut Dion.


" Mana ada lelaki seperti itu? "


" Ada nona. Contohnya, laki-laki yang ada di samping anda saat ini. " ujar Dion.


Leora menoleh ke samping, ke arah Dion. " Tuan Dion ini ternyata suka bercanda ya? " ucap Leora sambil tersenyum tipis. " Saya pikir, tuan Dion ini seorang pendiam dan kaku, yang bisanya hanya berkata serius. "


" Saya sedang serius, nona. Saya akan sangat senang jika anda mengijinkan saya untuk mendekati anda. Saya akan sangat senang jika anda mengijinkan saya untuk menjadi ayahnya Arvin. " ucap Dion dengan serius. Entah kenapa ia bisa mengatakan hal seserius ini. Mungkin ledekan tuannya yang terus menggema di telinganya, mampu membuka ruang di hatinya yang selama ini tertutup, dan kebetulan saat ruang itu terbuka, sosok Leora berada di depannya.


" Uhuk ...Uhuk .." Leora bahkan sampai tersedak camilan yang baru saja ia masukkan ke dalam mulutnya.


Dion segera memberikan minuman ke Leora. Leora segera menenggak segelas juice jambu di sodorkan oleh Dion.


" Please, tuan. Jangan bercanda seperti ini. Bercandaan anda tidak lucu. " sahut Leora dengan wajah yang merona. Leora juga entah mengapa hatinya terasa berbunga mendengar ucapan Dion yang ia anggap hanya sebagai gombalan receh itu. Bahkan tadi saja, dia masih membayangkan jika ia saat ini sedang berdiri di samping Bryan di atas altar.


" Saya serius, nona. Dan saya tidak pernah berbicara seserius ini sama lawan jenis saya. Saya harap, nona mau memikirkan dan mempertimbangkannya. " pinta Dion.


' Nyak, anakmu ini sedang berusaha mendapatkan menantu untukmu. Juga cucu untuk nyak sama babe. Doain Dion ye nyak, be..Semoga nona Leora mau menerima lamaran Dion. ' batin Dion.


Leora terdiam, tidak mengangguk, juga tidak menggeleng. Ia berusaha mengalihkan perhatian dengan menghabiskan camilan yang ada di depannya dengan segera.


Suasana menjadi hening dan sedikit canggung. " Nona, apa nona tadi sudah memberikan ucapan selamat sama dokter Bryan juga nona Fitria? " tanya Dion memecahkan keheningan.


Leora menggeleng, " Belum tuan. Dari tadi ramai terus. Antriannya banyak kayak antri sembako. "


Dion terkekeh mendengar jawaban Leora.


" Bagaimana kalau kita naik dan memberikan ucapan selamat kepada mereka sekarang? Sepertinya antrian sembakonya sudah mulai menipis. Sepertinya mereka kehabisan stok. " sahut Dion, sambil berdiri, lalu mengulurkan tangan kanannya di hadapan Leora, pertanda untuk mengajak Leora bersama dan bergandengan.


Dengan canggung dan sedikit salah tingkah, Leora mengangkat tangannya, dan meletakkannya di atas telapak tangan Dion yang lebar. Tangan Leora jadi nampak mungil dalam genggaman Dion. Dion tersenyum tipis merasai tangan mungil Leora yang berada dalam genggamannya.


Perlahan, Dion membimbing dan menggandeng tangan Leora untuk naik ke atas panggung. Dari atas panggung, ada enam pasang mata yang memperhatikan mereka berdua. Mungkin mulai ketika mereka masih ngobrol di kursi, sampai mereka bergandengan tangan naik ke atas panggung. Enam pasang mata itu bahkan saling melirik satu sama lain berusaha mencari jawaban. Tapi semua menjawab dengan sama, yaitu mengendikkan bahu mereka.

__ADS_1


Sampai di depan Seno dan Armell, Leora melepas genggaman tangan Dion. Terlihat wajah tidak rela dalam wajah Dion. Dan hal itu membuat Seno menahan tawanya. Sepertinya Seno tahu apa yang sedang terjadi.


Leora menyalami Armell dan Armell membawa Leora ke dalam pelukannya. Mereka saling ngobrol sebentar, lalu Dion mengajak Leora menghampiri sang pengantin.


Dion mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Bryan.


" Selamat dokter Bryan. Anda benar-benar insyaf rupanya. " ucap Dion .


" Karena aku sudah mendapatkan hunian yang pas untuk peliharaanku. " jawab Bryan tak senonoh membuat Pipit menyenggol lengannya.


" Hati-hati dengan peliharaan dokter Bryan nona. Peliharaannya buas sekali. Sudah memakan korban sampai tak terhitung jumlahnya. " ucap Dion sambil mengulurkan tangannya ke Pipit. " Selamat menjadi hunian untuk peliharaan dokter Bryan, nona. " ucapnya kembali.


" Terima kasih banyak bang Dion. Pipit akan menjinakkan peliharaan Abang bule. Biar tidak suka kelayapan dan makan sembarangan yang berbau basi. " jawab Pipit tidak kalah frontal.


Sedangkan Leora hanya menjadi pendengar karena ia tidak mengerti peliharaan dan hunian apa yang di maksud tiga orang itu.


" Oh, ya ampun, kak Leora, maaf. malah di anggurin. " sapa Pipit.


" Oh, tidak apa. Selamat ya Pit, atas pernikahannya. Aku doakan semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. " ucap Leora.


" Wah, sepertinya ada yang tidak kita tahu ini bang. " ucap Pipit sambil menyenggol lengan suaminya. Bryan menoleh. " Lihatlah mereka bang. Sepertinya sebentar lagi akan ada Casanova insyaf lagi. " tunjuk Pipit.


Bryan mengikuti petunjuk Pipit, memperhatikan penampilan Dion dan Leora sambil mengerutkan dahinya. Ia memandang, mencari, tapi ia tidak mendapatkan apa-apa.


" Maksudnya apa honey? " tanya Bryan dengan pandangan penuh tanya.


" Lihatlah kostum yang mereka berdua pakai Abang...."


Bryan kembali meneliti penampilan Dion dan Leora. " Ada apa dengan kostum mereka? Come on, honey ..Jangan pakai teka-teki. Aku bingung. "


" Abang tahu tidak film Frozen? " tanya Pipit. Bryan menggeleng. Pipit langsung menepuk jidatnya." Abang, kostum yang mereka pakai ini adalah princess Anna, dan Cristoff. " Tunjuk Pipit ke Leora dan Dion bergantian. " Mereka adalah pasangan dalam film Frozen. " lanjutnya dengan agak kesal.


" Aku benar-benar tidak tahu honey. Jangan marah. "

__ADS_1


" Dia ini tidak bakalan tahu tokoh-tokoh dalam Walt Disney, nona. Yang dia tahu hanya jantung, hati, isi perut. Karena hampir tiap hari dia membelah perut manusia. " sahut Dion.


" Nona Leora, hati-hati sama dia. Dia ini adalah seorang playboy. " ujar Bryan karena agak kesal dengan Dion.


Leora hanya tersenyum simpul. Tidak ingin berlama-lama di hadapan Bryan, Dion segera meraih tangan Leora dan di bawa berjalan menuju tuan dan nyonya Adiguna.


" Kapan aku akan berdiri di panggung seperti ini lagi, tapi kamu yang jadi mempelainya Yon? " tanya nyonya Ruth.


" Secepatnya, nyonya. " jawab Dion sambil melirik ke arah Leora.


" Mama tenang saja. Sepertinya playboy kita yang satu lagi juga segera insyaf. Nona Leora, mohon bimbingannya untuk calon playboy insyaf ini. " kelakar tuan Adiguna.


" Ck. Anda sama saja dengan mereka. " gerutu Dion.


" Hei, aku tidak sedang mengejekmu. Aku sedang mendoakanmu. Kamu harus segera meresmikan secepatnya. Jangan di buat main-main anak orang. Bisa-bisa kamu di gantung sama tuan Abraham. " lanjut tuan Adiguna.


" Tuan tenang saja. Saya sedang berusaha memasuki hatinya. Bukan begitu nona Leora? Asalkan nona Leora menjawab iya, atau mengangguk saja, maka saya akan segera mengajak tuan dan nyonya untuk melamarnya ke tuan Abraham. " jawab Dion .


Leora hanya diam dengan semburat merah di pipinya. Selama hidupnya, ia hanya pernah dekat dengan seorang laki-laki, itupun saat ia masih SMA. Sedangkan kejadian dengan Robert, hingga lahirlah Arvin, itupun ia tidak tahu rasanya. Karena saat itu ia dalam keadaan tidak sadar. Jadi, di dekati seorang laki-laki seperti ini, baru ia rasakan sekali ini.


" Bagaimana nona Leora? "


" Ha? " Leora sedikit terkejut. Ia mendongakkan kepala setelah sedari tadi ia menunduk menyembunyikan semburat merah di pipinya.


" Dion ini laki-laki yang baik. Dia laki-laki yang bertanggung jawab, juga tekun dalam bekerja. " ujar Nyonya Ruth.


" Cuma sebelumnya dia ini agak Playboy. " canda tuan Adiguna.


" Jangan membuka aib tuan. Saya ini sedang berusaha PDKT. Jika tuan berkata seperti itu, maka nona Leora tidak akan memikirkan ucapan saya tadi. Dia akan langsung menggeleng. " sahut Dion.


" Ha ..ha ..ha .." tuan dan nyonya Ruth tertawa bersama-sama.


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2