Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Letoy


__ADS_3

Saat ini, Bryan, Pipit, Seno, juga Armell berada di dalam mobil yang sama dengan arah tujuan yang sama, yaitu ke rumah sakit untuk mengantar Pipit. Bryan berada di jok belakang menemani sang istri yang terkadang rasa sakit tiba-tiba mendera di perutnya. Sedangkan Armell duduk di samping sang suami yang berada di belakang kemudi dengan wajah yang di tekuk.


Flash back on


" Astagaaa Seno ...." Bryan menepuk jidatnya perlahan. " Lo lagi on???" tanyanya setengah tertawa. Ia malah mengganggu iparnya yang sedang bekerja ronda malam.


" Breng***! " umpat Seno.


" Buruan Lo kelarin. Habis itu, ke rumah gue. Pipit mau lahiran. " ucap Bryan lalu ia menutup panggilannya.


Mendengar ucapan Bryan yang terakhir, Seno menghentikan aktivitasnya. Ia termenung sebentar saat panggilan Bryan berakhir.


" Ada apa mas? " tanya Armell di sela-sela nafasnya yang memburu. " Siapa yang menelepon? Kok mas sampai mengumpat gitu? Itukan ponselku. " lanjut Armell.


" Bryan yang nelpon. Katanya Pipit mau melahirkan. " jawab Seno santai, tapi tidak sesantai bagian bawahnya yang terasa berdenyut, ingin segera kembali bergoyang.


" APA??" pekik Armell.


Dug


" Aaa..."


Armell terkejut dengan apa yang di katakan suaminya. Karena terkejut dan panik, Armell bangun dari rebahannya dan menendang tubuh suaminya yang masih berada di atasnya dan membuat sang suami tersungkur telentang di atas lantai.


" Maaas...." teriak Armell semakin panik karena mengetahui suaminya tersungkur bebas di atas lantai.


Ia lalu buru-buru turun dari ranjang dan menghampiri sang suami.


" Maaf mas. Mell refleks tadi. " sesalnya sambil membantu sang suami bangun.


Seno bangun sambil memegang pant**nya yang terasa ngilu karena berciuman dengan lantai yang keras. Melihat suaminya yang kesakitan, Armell ikut mengelus pant** suaminya.


" Jangan di elus, baby. Lihat tuh, dia semakin on. " protes Seno sambil menunjuk ke arah senjatanya dengan dagunya.


" Maaf. " cicit Armell. " Ya udah, aku mau buru-buru mandi dulu. Habis itu, mas gantian mandi. " ucap Seno sambil ia berbalik badan hendak mengambil handuk. Tapi tangannya segera di cekal oleh Seno.


" Terus ini gimana, baby? Kamu nggak kasihan? Kita kelarin urusan sama Martinez dulu lah sebentar. " rengek Seno.

__ADS_1


" Ah, entar si Martinez juga bakalan letoy dengan sendirinya mas." sahut Armell sambil menyentil pelan kepala Martinez.


" Auuu....Sakit baby. " protes Seno.


" Hishh... Nggak usah lebay deh. Ini Pipit mau lahiran loh mas. Kalau kita kelamaan, kasihan dia. Kalau Mell kudu bikin si Martinez angkrem, bisa-bisa bayinya Pipit lahir di kolong ranjang. " lanjut Armell.


" Ah, baby ..Bentar doang..."


" Bentar apanya. Tadi kan dia barusan masuk. Masih butuh waktu setengah jam lebih buat dia muntah baru mau keluar dari kandang. Udah ah, Mell mau mandi. Dosa kalau nggak mandi dulu. " ucap Armell lalu dia segera meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Seno menatap istrinya dengan mendesah kasar.


Sedangkan di rumah sebelah, sedikit keributan terjadi.


" Ya ampun bang ...Kita belum mandi junub ini mah..." pekik Pipit saat Bryan sudah rapi dengan celana jeans panjangnya.


" Kenapa harus mandi? Kan aku belum ngeluarin apa-apa? "


" Ih, si Abang mah. Ya tetep kudu mandi Abang...Kalau nggak dosa. Ular pitonnya Abang kan tadi udah masuk ke kandang. Jadi Pipit harus mandi. Pipit nggak mau ya lahiran dalam keadaan tidak suci. Abang juga...harus mandi. Nggak mau kan pertama kali dedek lihat Daddy-nya dalam keadaan yang tidak suci? " cerocos Pipit kala rasa sakit di perutnya menghilang.


Akhirnya Bryan menyerah. Ia membuka seluruh pakaian yang di kenakan istrinya, lalu membuka semua pakaian yang di pakainya. Lalu ia membawa sang istri masuk ke dalam kamar mandi. Mereka mandi berdua untuk mempersingkat waktu. Hanya mandi ya guys....Not more... Meskipun Bryan ingin lebih, tapi tetap ia tahan.


Flash back off


" Nggak mbak. Udah ilang lagi sakitnya. " jawab Pipit sambil tersenyum di dalam dekapan Bryan. Pipit menyandarkan kepalanya di dada bidang Bryan, dan Bryan mendekapnya dengan salah satu tangannya. Sedangkan tangannya yang lain ia gunakan untuk mengelus perut dan pinggang Pipit.


" Kalau sakit, cakar aja tuh tangan suami kamu. " kali ini suara Seno yang terdengar. Dan suaranya masih terdengar lumayan kesal. Suara yang membuat Bryan terkikik. Sudah sejak tadi Bryan memperhatikan wajah Seno yang di tekuk. Sepertinya dugaan Bryan tadi benar.


" Nggak masalah. " sahut Bryan ringan.


" Bang Seno dulu kalah pinter dari bang bule. Bang bule tadi siang waktu Pipit tidur, dia potongin kuku Pipit semua jadi pendek. Jadi kalau Pipit cakar, nggak begitu sakit. " sahut Pipit polos.


" He..he...gue gitu loh... Belajar dari pengalaman terdahulu. " ucap Bryan membanggakan diri sambil menepuk pundak Seno.


" Ck. Nggak usah pegang-pegang. " protes Seno dengan nada datarnya.


" Lo kenapa sih Sen? Dari tadi muka lo gelap banget. " tanya Bryan sambil menahan tawanya. Seno hanya berdecak.


" Suamimu kenapa Mell? Nggak kamu kasih jatah apa dia tadi? " tanya Bryan ke Armell.

__ADS_1


" Eh, uncle B jangan salah. Mell mah istrinya yang baik. Tidak pernah menolak keinginan suami. Tadi aja pas uncle telepon bilang Pipit mau lahiran, kita lagi enak-enakan. Iya kan mas? " sahut Armell tanpa sadar.


" Terus nanggung? " jebak Bryan.


" Iyalah nanggung. Masak iya Mell enak-enakan, tapi Pipit kesakitan. "


" Ha....ha...ha...." tawa menggelegar terdengar dari dalam mobil. Siapa lagi yang tertawa kalau bukan si Bryan. Ia menepuk-nepuk pundak Seno yang sedang mengemudi. Jangan lupakan raut wajah Seno yang semakin terlipat.


Bryan masih tidak bisa berhenti tertawa, sedangkan Armell langsung terdiam sambil melirik ke arah suaminya. Ia baru sadar jika ia sudah keceplosan bicara. Suaminya pasti semakin kesal.


Dan tiba-tiba....


" Auu...." seru Bryan dan seketika tawanya berhenti. " Sakit lagi, honey? " tanyanya karena Pipit kembali meremas tangannya.


Pipit mengangguk tanpa suara. Ia hanya meringis menahan sakit. Bryan segera kembali mengelus perut dan pinggang Pipit bergantian.


" Kok sakitnya udah mulai sering. Tadi uncle cek lagi nggak sebelum berangkat, dia udah bukaan berapa. " tanya Armell.


" Udah. Buka enam. Tapi sepertinya sekarang udah nambah lagi. " sahut Bryan.


" Abang...Dulu abang pernah bilang, kalau Pipit jadi istri Abang, Abang bakalan kasih tahu caranya biar kalau pipit mau lahiran nggak sakit. " tanya Pipit sembari menahan sakitnya.


" Mana ada orang lahiran nggak sakit. " sahut Seno.


" Honey, kemarin aku udah bilang sama kamu, kamu operasi aja. Tapi kamunya nggak mau. "


" Operasi kan juga sakit bang. "


" Teknologi sekarang sudah semakin canggih. Operasi sekarang sudah tidak sesakit dulu. Kamu juga akan cepat sembuh. " ujar Bryan.


" Ssshhhh...." Pipit kembali mendesis dan di sertai pekikan seseorang.


" HONEY...Auuu..." suara Bryan. " Sakit honey. Dia masih bangun, belum mau tidur. Jangan kamu remas gitu...." ujar Bryan.


" Ha....ha....ha....," kini terdengar tawa menggelegar dari arah depan. Seno sedang tertawa terbahak-bahak. Ia kini tahu, jika sahabatnya itu juga bernasib sama dengannya. " Ternyata lu juga lagi nanggung ya tadi? "


Kalian tahu dong ya guys ...Apa yang di remas oleh Pipit yang sedang menahan rasa sakitnya??? Niat hati mau meremas paha, eh malah kebablasan...Terlalu naik tangannya...😄😄😄🤣🤣

__ADS_1


***


bersambung


__ADS_2