Om Dokter Sarang Hae

Om Dokter Sarang Hae
Ngidam panjat tebing


__ADS_3

...Mohon maaf buat para readersku.....


...kemarin othor nggak bisa up episode...nggak tahu nih vertigo nya nggak mau pergi...udah satu minggu, enakan....kambuh lagi...enakan....kambuh lagi....Samapi othor kesel sendiri...ke dokter udah dua kali...yg kemarin malah yang makin parah...makanya nggak kuat buat nulis......


...Mohon maaf juga, kalau satu minggu ini up episode nya cuma satu sehari... kembali lagi semua gara-gara vertigo....nggak bisa buat mikir otaknya....🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏...


____________________________________________


" Fitria...please...jangan aneh-aneh deh elu. Jangan bikin gue kena semprot. " bujuk Naomi siang itu.


" Kalau kamu nggak ngadu juga nggak kena semprot mi. " jawab Pipit kekeh dengan pendiriannya.


" Fit, ayolah...lu lihat perut Lo udah makin buncit gitu. Jangan macem-macem....Gue juga khawatir sama elu, sama orok lu. " Naomi masih tetap membujuk.


" Ini juga karena keinginan anak aku. Kalau dia nggak pengen, aku juga nggak akan ngelakuin ini. Kalau sekarang aku nggak memenuhi keinginannya, anak aku kalau udah lahir entar pasti ileran, Mi. " rengek Pipit.


" Nyonya Ernest, Lo dengerin gue. Biarpun anak Lo ileran, dia pasti tetep cakep. Bapaknya kan bule asli bukan KW. Nggak masalah deh anak lu ileran. Bisa di elap ini. Yang penting sekarang, keselamatan kalian. " kekeh Naomi tetap tidak membolehkan apa yang akan di lakukan Pipit.


" Aku dan anak aku akan baik-baik saja. Kamu ini lama-lama udah kayak suami aku aja. " gerutu Pipit.


Naomi mendesah pelan. Jika sahabatnya ini sudah menginginkan sesuatu, maka tidak ada seorangpun yang mampu menghalaunya. Apalagi ketika ia mulai hamil. Naomi yakin, bahkan suaminya sendiri pasti tidak mampu menghalangi niat sahabatnya ini.


Akhirnya Naomi hanya bisa pasrah dan membiarkan sahabat baiknya itu melakukan keinginannya. Ia hanya akan mengamati sambil berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


" Hei, siang bolong melamun aja. Ngapain kamu di sini. " seseorang menyapa Naomi sekaligus menyadarkan Naomi dari lamunannya.


Ketika sadar dari lamunannya, Naomi langsung mencari keberadaan sahabatnya yang tidak ada di dekatnya lagi. Seketika Naomi menepuk jidatnya perlahan saat melihat sahabatnya sudah berada di antara para pemanjat tebing.


" Lihat tuh mantan cewek lu. Susah di bilanginnya. " sahut naomi kesal sambil menunjuk ke arah Pipit.


" Mau ngapain dia? " tanya Roy saat melihat Pipit yang berada di antara para pemanjat tebing. " Jangan bilang kalau dia...." lanjut Roy.


" Iya. Dia bilang anaknya pengen panjat tebing. Ngidam yang gila nggak sih? " ujar Pipit.


" Astaghfirullah...Pipit...Pipit... ada-ada aja tuh anak!! "


" Lu tolong coba kasih tahu dia. Gue mau kasih tahu lakinya. Biar cepetan kesini. " pinta Naomi.


" Entar suaminya cemburu lagi sama aku. Ogah ah. Malah bikin masalah melulu. "

__ADS_1


" E lah. Lakinya nggak bakalan sempat cemburu kalau lihat bininya kayak gitu. " tunjuk Naomi dengan dagunya. Naomi langsung mendorong tubuh Roy dengan satu tangannya, dan tangan yang lain merogoh tas untuk mengambil ponselnya.


Dengan agak enggan, akhirnya Roy berjalan menuju ke tempat Pipit berada. Sebenarnya Roy sangat khawatir dengan keinginan Pipit. Hanya saja, ia juga tidak ingin Pipit mendapat masalah lagi dengan suaminya yang setahu Roy , sangat pencemburu itu.


Di tempat lain.


" What??? " teriak Bryan saat ia menerima panggilan. Bahkan pasien yang baru akan keluar dari ruangannya, terlonjak karena terkejut.


Bryan melempar ponselnya ke atas meja. Lalu ia mengacak dan meremas rambut pendeknya.


" Ada apa dok? Apa terjadi sesuatu yang buruk? " tanya Kalila setelah pasien yang tadi meninggalkan ruangan Bryan.


" Lebih buruk dari yang buruk. " jawab Bryan asal.


" Kenapa dok? Apa nona Fitria akan melahirkan? Tapi... bukankah usia kandungannya baru tujuh bulan? " ujar Kalila yang langsung ikut panik.


" Lebih buruk dari sekedar melahirkan dini. " jawab Bryan masih sambil meremas rambutnya. Jawaban yang membuat Kalila mengerutkan alisnya.


" Istriku, mengalami ngidam ekstrim lagi. Jauh lebih ekstrim dari yang kemarin kemarin. " lanjut Bryan.


" Apalagi sekarang dok? "


" Dia mau ikut panjat tebing. " seru Bryan.


" Kau benar. " sahut Bryan.


" Lalu kenapa dokter masih duduk di situ? Sebaiknya dokter segera menyusul nona Fitria. "


" Ah, kau benar lagi. Kenapa otakku jadi blank setiap aku mendengar kabar tentang istriku. " Bryan lalu beranjak berdiri dari duduknya, melepas jas dokternya, dan menggantinya dengan jas pribadinya. " Bagaimana dengan pasien yang lain? "


" Dokter tenang saja. Akan saya alihkan ke dokter Pram. " Sahut Kalila.


" Terima kasih banyak, suster Lila. " ucap Bryan, lalu ia hendak membuka handle pintu.


" Dok..." panggil Kalila. " Sebaiknya dokter jangan lewat pintu depan. Lewat pintu belakang sepertinya jauh lebih baik. Daripada pasien yang masih ada di depan, marah marah karena dokter pergi. " lanjutnya.


" Ah, iya...benar sekali. Aku akan lewat pintu belakang. " sahut Bryan.


Bryan dengan buru-buru meninggalkan ruangan lewat pintu belakang dan segera berlari menuju ke parkiran mobilnya.

__ADS_1


Setelah melakukan perjalanan sekitar setengah jam, akhirnya mobil yang di kendarai Bryan berhenti di tempat parkir kampus. Dengan bergegas ia keluar dari mobil dan berlari menuju tempat yang tadi di bilang oleh Naomi.


Ketika melihat banyak orang berkerumun dan terdengar kasak kusuk di tempat yang di maksud oleh Naomi, jantung Bryan serasa mencelos. Berbagai pikiran buruk menghantamnya. Dengan terburu-buru ia membelah kerumunan dan akhirnya melihat apa yang sedang terjadi.


Ternyata kerumunan orang itu sedang melihat pertunjukan atau lebih tepatnya adalah atraksi. Atraksi seorang ibu hamil tujuh bulan yang sedang melakukan panjat tebing. Bahkan beberapa dari orang-orang itu memvideokan kejadian langka tersebut. Dan tentu saja akan mengunggahnya ke akun jejaring sosial mereka supaya viral.


Bryan berlari ke arah depan dan berteriak, " Honey... Turun!!!! "


Pipit menoleh ke bawah saat mendengar suara suaminya memanggil. " Abaaaaaangggg...Mau ikut naik? " teriaknya dengan wajah berbinar.


Bryan mengusap wajahnya kasar sambil tangan yang lain berkacak pinggang. Sudah tidak mungkin baginya membuat sang istri mengurungkan niatnya. Lalu Bryan melihat ke sekeliling. Ia mendapati Naomi yang juga terlihat sangat panik. Dan saat pandangannya beralih ke depan, ia melihat sang mantan kekasih istrinya yang sedang mengenakan peralatan untuk panjat tebing seperti yang di kenakan istrinya.


Bryan berjalan mendekat. Sebenarnya hatinya memanas melihat sosok Roy ada di tempat itu. Ia yakin, jika istrinya tadi pasti habis ngobrol dengan si Roy itu. Apalagi sekarang, laki-laki itu mengenakan peralatan yang sama seperti yang istrinya pakai. Jangan-jangan laki-laki itu juga mau melakukan panjat tebing menyusul istrinya. Sambil mengepalkan tangannya erat, Bryan berjalan mendekat ke Roy.


" Lo mau ngapain? " tanya Bryan mencengkeram bahu Roy.


" Oh, anda sudah datang rupanya. Maaf, kami hanya ingin mendampingi istri anda. Berjaga-jaga saja jika tiba-tiba terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. " jawab Roy dengan tenang. Ia yakin, suami dari perempuan yang ia cintai ini pasti sedang salah paham.


Bryan mendongak ke atas kembali melihat ke arah istrinya yang telah memanjat setinggi kurang lebih hampir dua meter itu. Jika di lihat, tinggi tebing buatan yang memang sengaja di buat oleh pihak universitas untuk para mapala, tingginya sekitar lima belasan meter.


" Karena anda sudah ada di sini, silahkan anda mendampingi istri anda tuan. Jangan biarkan dia naik sendirian. " lanjut Roy.


Mendengar ucapan Roy tadi, cengkeraman tangan Bryan di bahu Roy terlepas. Ia lalu kembali menatap Roy yang ada di depannya.


" Kau saja. Kalian saja yang mendampingi istriku. Aku phobia dengan ketinggian. " ujar Bryan dengan nada rendah.


Senyum tipis tersungging dari sudut bibir Roy. " Baiklah jika begitu tuan. " jawabnya.


" Apa kau yakin bisa memanjat tebing itu dengan baik dan menyelamatkan istriku jika sampai terjadi apa-apa dengan istriku? " tanya Bryan dengan menatap tajam mata Roy.


" Insyaallah. Saya juga anggota mapala di kampus ini. Jadi saya sudah cukup terlatih jika hanya memanjat tebing buatan ini. " jawab Roy mantap. " Dan saya pastikan, akan melakukan yang terbaik untuk Pipit. Karena sama seperti anda, Pipit juga penting dalam hidup saya. " lanjut Roy memanas-manasi Bryan.


Dan benar sekali, Bryan langsung kembali mengepalkan tangannya erat dan menggeretakkan giginya. Jika saja ia tidak mengingat jika laki-laki di depannya ini sangat ia butuhkan sekarang, sudah pasti Bryan akan langsung menonjok hidung mancungnya itu.


" Ayo kita naik sekarang. " ajak Roy ke temannya yang satu yang juga akan ikut mendampingi Pipit. Yang di jawab anggukan oleh temannya itu. Lalu mereka mulai beranjak menaiki takik demi takik yang ada di tebing buatan itu, mengikuti Pipit yang sudah berada di atas mereka.


Semua penonton yang ada di bawah, termasuk Bryan juga Naomi, menyiratkan ketegangan dan kepanikan di wajah mereka.


***

__ADS_1


bersambung


Sampai sini dulu ya guys...Kepala othor udah agak gliyengan lagi nih... insyaallah besok kita sambung lagi....🙏🙏🙏🙏


__ADS_2