
" Loh, katanya mau ke apartemen ambil buku sama ngerjain tugas? Kok malah ke supermarket? " tanya Pipit,. karena Bryan membelokkan mobilnya ke area supermarket yang lumayan besar yang mereka lewati.
" Kita belanja dulu. Stok bahan makanan di apartemen habis. Jadi kita belanja dulu buat makan malam nanti. Sekalian beli camilan buat nemenin kamu mengerjakan tugas. " jawab Bryan sambil memutar stir untuk memarkirkan mobilnya.
Ceklek
Bryan melepas sabuk pengaman ketika mobil sudah terparkir dengan manis di tempatnya. Pipit juga mengikuti melepas sabuk pengamannya. Lalu mereka sama-sama turun dari dalam mobil dan berjalan beriringan memasuki supermarket.
Bryan mengambil sebuah troli dan mendorongnya, sedangkan Pipit di biarkan berjalan di sampingnya.
" Kamu mau makan malam apa nanti? " tanya Bryan saat mereka berjalan menuju area sayur dan lauknya.
" Pipit sih apa aja doyan. " jawab Pipit sambil mengambil sebuah mangga dan menciumnya.
" Kalau kamu mau, ambil aja. Sepertinya mangganya manis. " ujar Bryan yang juga ikut mengambil sebuah mangga dan menghirup aromanya.
Pipit mengangguk, lalu mengambil tiga biji buah mangga dan di taruh di dalam plastik yang sudah tersedia di sana lalu ia masukkan ke dalam troli yang masih kosong.
" Abang bisa bikin masakan Perancis nggak? Kata mbak Mell, ada makanan Perancis yang waktu itu dia makan, namanya ....emmm... apaan sih ya....kayak rendang gitu rasanya. Tapi ada bedanya. Enak banget katanya... Pipit jadi penasaran. "
" Apaan? Beef burguignon.? "
" Nah iya betul. "
" Oke, kita masak itu untuk makan malam nanti. " Lalu Bryan mendorong kembali trolinya ke tempat daging. Ia memilih-milih daging sapi yang pas, kemudian beberapa sayuran, dan beberapa jenis bumbu.
Sedangkan Pipit, mengambil beberapa buah telur dan di masukkan ke dalam plastik.
" Kok beli telur? " tanya Bryan.
" Pipit suka nggak kenyang kalau nggak ada telurnya...he...he...he...Makanan favorit Pipit ini bang. " jawab Pipit.
" Sekalian kamu pilih camilan sana. Abang tungguin di sebelah sana sambil belanja barang yang lain. " ujar Bryan.
Pipit mengangguk, lalu ia berlalu menuju rak-rak besar yang berjajar yang berisi Snack. Ia memilih beberapa jenis makanan ringan. Dari yang gurih, manis, juga pedas. Setelah selesai memilih, Pipit berjalan menghampiri Bryan kembali. Lalu memasukkan beberapa Snack yang ia pilih tadi ke dalam troli.
" Gelas Abang di rumah pecah? Kok beli yang baru. "
" Buat kamu. Di rumah Abang cuma punya mug dua biji. " jawab Bryan. Pipit juga melihat Bryan membeli beberapa botol sabun mandi, sikat, pasta gigi, dan beberapa buah piring. Tapi Pipit terlihat tidak begitu memperdulikan. Mungkin persediaan Bryan habis di rumah. Pikir Pipit.
Setelah membayar semua barang belanjaan itu, mereka segera meneruskan perjalanan untuk ke apartemen Bryan.
" Yah, bang...Udah magrib ya? Pipit nggak bawa mukena. Abang punya nggak di rumah? "
__ADS_1
" Abang mana punya. Itu kan buat perempuan. Kalau sarung sama peci Abang punya. " sahut Bryan.
Lalu saat ia melewati sebuah toko, Bryan membelokkan mobilnya dan memarkirkan di sana.
" Mau kemana bang? " tanya Pipit saat melihat Bryan turun dari mobil tanpa mengajaknya.
" Kamu tunggu di sini bentar. " jawab Bryan. Lalu ia turun dari mobil dan masuk ke dalam toko itu.
Tak berapa lama, Bryan nampak keluar dari dalam toko dengan membawa sebuah paper bag.
" Mukena buat kamu. " Bryan menyerahkan paperbag itu ke Pipit saat ia sudah berada di dalam mobil.
Pipit nampak terkejut sambil melihat isi paper bag itu. " Abang beliin mukena? Pipit bisa kok nanti pinjem sarung Abang buat nutupin kaki. "
" Kan kaki. Terus kepala kamu? " sahut Bryan sambil menjalankan mobilnya keluar dari area parkir toko itu.
" Oh iya...He...He...he...." sahut Pipit sambil tersenyum nyengir. " Makasih ya bang bule. "
" Sama-sama. " jawab Bryan.
Setelah lima belas menit menempuh perjalanan, akhirnya Bryan dan Pipit sampai di apartemen mewah milik Bryan. Bryan menenteng semua tas belanjaan mereka tadi. Ia hanya membiarkan istri kecilnya menenteng sebuah tas belanjaan yang isinya sedikit saja.
Sampai di depan pintu masuk apartemen, Bryan menyuruh Pipit untuk menekan password key pintu itu.
Pipit mengangguk saat menyadari kalau ia tengah terkejut. Ia berpikir sebentar untuk mengingat tanggal pernikahannya. Setelah teringat, ia memencet tombol yang ada di pintu itu.
Ceklek..
Pintu berhasil di buka. Pipit membuka pintu lebar-lebar dan menyuruh Bryan masuk terlebih dahulu karena ia menenteng begitu banyak kantong. Baru Setelahnya, Pipit ikut masuk setelah menutup kembali pintu itu.
" Bang, kok password nya bisa tanggal pernikahan kita? " tanya Pipit saat ia sudah berada di dapur bersama Bryan yang sedang membuka dan mengeluarkan belanjanya tadi.
" Pernikahan kita kan di rahasiakan. Jadi kalau pakai angka itu pasti aman. Nggak bakalan ada yang bisa masuk kesini. Selain abang sama kamu tentunya. " ujar Bryan yang sekarang sedang menata belanjanya tadi di tempatnya.
Pipit membantu Bryan menata belanjanya tadi di, " Ini taruh di mana bang? "
" Taruh di dalam lemari yang itu. " jawab Bryan sambil menunjuk ke arah lemari yang ada di samping Pipit.
" Yes, finish. Thank you for helping me. " ucap Bryan.
" You are welcome. " jawab Pipit sambil tersenyum.
" Kamu mending cari buku yang kamu butuhkan di kamar. Kemarin kamu udah lihat kan rak buku yang ada di dalam kamar aku? " ujar Bryan. Dan Pipit mengangguk, lalu berjalan menuju ke kamar Bryan untuk mengambil buku yang ia butuhkan.
__ADS_1
Sedangkan Bryan, sedang menyiapkan bahan-bahan yang akan dia masak buat makan malam bersama istrinya nanti. Ia sudah melepas jasnya. Kini tinggal kemeja yang ia singsingkan sampai ke atas siku dan celana bahan yang sedari tadi ia pakai.
Sambil menunggu Pipit keluar dari kamarnya dan ia juga sudah selesai menyiapkan semua bahan masakannya, termasuk menghaluskan semua bumbu-bumbu, Bryan menelepon sahabatnya.
" Bro, sepertinya malam ini adik ipar lo nginep di apartemen gue. " ucap Bryan.
" Eh, jangan macem-macem Lo. " ancam Seno.
" Ck. Pikiran Lo tuh yang macem-macem. Pipit mau ngerjain tugas di sini. Dan sepertinya bakalan lama selesainya. Kalau entar dia mau gue anterin pulang ya gue bawa pulang dia. "
" Oh. " sahut Seno. " Tapi awas jangan macem-macem loh. Lo kan udah puasa beberapa bulan. Jangan sampai lo kayak kucing yang di suguhi ikan pindang kalau lihat adik gue. " ancam Seno kembali.
" Ck. Iya ..iya .."
Tut ..Tut ..Tut .. panggilan itu berakhir.
" Emang kenapa kalau gue macem-macem? Halal kan? " gerutu Bryan sambil menatap layar ponselnya.
" Ngomong sama siapa bang? " tanya Pipit ketika ia keluar dari kamar sambil mendekap buku tebal yang ia ambil dari kamar, dan melihat Bryan sedang ngedumel.
" Hem? " Bryan menoleh sebentar ke arah Pipit. " Ini temen abang. " jawab Bryan sekenanya.
" Udah bawa laptop kamu? "
" Bawa tablet. "
Bryan masuk ke dalam kamar sebentar, lalu kembali lagi menghampiri Pipit. " Pakai laptop, biar cepat ngetiknya. " ia menyerahkan laptopnya ke Pipit.
Pipit mengangguk dan mengambil laptop bryan, lalu berjalan menuju meja yang ada di ruangan itu.
" Kamu kerjakan saja dulu. Abang mandi bentar. Udah gerah soalnya. "
" Siippp. " Pipit menjawab pamitan Bryan dengan mengacungkan jempolnya.
***
bersambung
Jangan lupa like...like...like....
Pagi-pagi gini udah othor update loh....
Salam lope-lope sekarung....Sarang Hae...😍😍😘
__ADS_1