
" Apa boleh Abang bilang, apa yang Abang mau? " tanya Bryan hati-hati.
" Ya boleh lah bang. Pipit kan juga pengen tahu keinginan Abang itu apa. " dengan sekuat tenaga Pipit mengatakan ini. Sebenarnya ia takut dengan jawaban Bryan. Tapi daripada ia terlalu berharap dan akhirnya malah sedih di kemudian hari, mending sedih sekarang sekalian.
" Beneran? Jika Abang mengatakan keinginan Abang, kamu janji bakalan memikirkan keinginan Abang itu? " tanya Bryan kembali.
Pipit mengangguk dengan samar-samar dan penuh keragu-raguan. Ia lalu menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. Berusaha mengurangi detak jantungnya yang bertalu-talu.
Bryan melihat anggukan Pipit, lalu tersenyum tipis.
" Abang ....Ingin benar-benar menikah denganmu. Baik secara agama, juga secara hukum. " ujar Bryan, membuat debar jantung Pipit semakin kencang. Entah perasaan apa ini. Bahagia, terkejut, atau apa, Pipit juga belum mengerti.
" Bang, kalau kita menikah resmi secara hukum, kita akan terus dalam pernikahan ini. Selamanya Abang akan bersama Pipit terus. Abang yakin? "
Bryan mengangguk. " Aku punya prinsip, aku hanya akan menikah sekali seumur hidup. Dan sekarang aku sudah menikah denganmu. Maka aku akan menjaganya sampai kapanpun. " jawab Bryan tegas.
Pipit kembali menghela nafas panjang. " Bukankah prinsip aja nggak bisa buat mempertahankan sebuah pernikahan supaya pernikahan itu bertahan selamanya? "
" Abang tahu hal itu. Prinsip saja tidak cukup untuk membangun sebuah pernikahan yang langgeng. "
" Bang, boleh Pipit bertanya? "
" Mau tanya apa? " Bryan menatap lekat Pipit yang masih menunduk.
" Abang yakin bisa mencintai Pipit sepenuhnya saat kita sudah resmi menikah secara hukum juga? " tanya Pipit lirih, lalu ia menggigit bibir bawahnya menunggu jawaban dari Bryan. Ia bahkan sama sekali tidak berani melihat ke arah Bryan.
Mendengar pertanyaan Pipit, Bryan tersenyum.
" Abang tidak hanya akan bisa mencintaimu. Tapi Abang sudah mencintaimu saat ini. " jawab Bryan mantap.
" Uhuk....uhuk...uhuk..." Pipit tersedak air mineral yang sedang di minumnya. Bryan yang melihat segera menepuk-nepuk perlahan punggung Pipit
" Pelan-pelan minumnya. " ujar Bryan masih menepuk punggung Pipit.
" Pipit udah pelan minumnya bang. " sahut Pipit sambil menata nafasnya. " Uhuk ...Pipit kesedak karena jawaban Abang. Uhuk..." lanjutnya.
" Emang kenapa sama jawaban Abang? "
" Aneh aja. Mana mungkin Abang mencintai Pipit. Siapa sih Pipit ini bang? Cantik nggak, seksi nggak, kaya juga nggak. Pipit ini hanya gadis remaja yang baru tumbuh dan berkembang. " sahut Pipit.
" Bagiku, kamu adalah gadis paling cantik, paling seksi yang pernah aku temui. Aku mencintaimu sepenuh hatiku. " ucap Bryan.
Pipit terdiam bergelut dengan pemikirannya sendiri. Ia bingung, apakah benar seorang dokter yang sukses di usia mudanya ini mencintainya??
__ADS_1
Karena Pipit terdiam, Bryan meraih tangan kanan Pipit, lalu menggenggamnya.
" Mungkin bagimu, aku hanya lelaki playboy yang suka bergonta-ganti pasangan dan susah di percaya. Tapi jujur aku katakan, aku sudah berubah. Aku sudah memutuskan untuk meninggalkan kebiasaan burukku. " ujar Bryan. Ia menjeda omongannya untuk menarik nafas sebentar.
" Aku pernah bilang kan, kalau aku melakukan kebiasaan buruk itu saat aku teringat dengan masa laluku? "
Pipit mengangguk.
" Sekarang kenangan buruk itu sudah bisa aku atasi tanpa harus bergelut dengan wanita. "
" Benarkah? " tanya Pipit.
Bryan mengangguk, lalu menatap dalam mata Pipit. " Kamu. Kamu yang bisa membuatku menghilangkan traumaku. Kehadiranmu saat bibiku datang, benar-benar sangat membantu ketakutanku. Badanku yang sudah berkeringat dingin, perut mual, emosi yang tak terarah, meluap seketika saat melihat dirimu. " ujar Bryan. " Kamu yang aku butuhkan. Kamu seperti obat buatku. "
Bryan kembali menggenggam tangan Pipit. " Sekarang Abang tanya sama kamu, bagaimana dengan kamu? "
Pipit menoleh sejenak ke arah Bryan. Lalu ia menunduk sebelum akhirnya mengangkat wajahnya kembali.
" Pipit bingung bang. "
" Bingung kenapa? " Bryan mengernyit. " Apa hatimu masih di miliki olehnya? " tanya Bryan dengan suara yang tak sepercaya diri seperti tadi.
" Olehnya? Oleh siapa? " tanya Pipit.
Seketika, Pipit langsung menoleh ke arah Bryan. " Ab-abang tahu? "
Bryan tersenyum miris. " Tentu saja Abang tahu. Siapapun pasti akan tahu jika melihat bagaimana interaksi di antara kalian. "
" Tapi sekarang sudah tidak seperti itu bang. Hati Pipit sudah bukan miliknya. Saat Pipit memutuskan untuk tinggal di rumah mama, saat itu juga Pipit memutuskan untuk menjauhinya. " jawab Pipit.
" Kalau kamu sudah memutuskan menjauhinya, apa kamu tidak bisa memasukkan namaku ke hatimu? " tanya Bryan.
" Pipit bingung bang. Meskipun Pipit sudah memutuskan untuk menjauhi bang Damar, tapi kenyataan yang baru saja Pipit ketahui, membuat hati Pipit bimbang. "
" Kenyataan apa? "
Pipit menunduk, " Bang Damar ternyata juga sudah menikah. "
Bryan menghela nafas berat. " Bukankah tidak masalah buatmu jika Damar sudah menikah? Bukannya kamu juga berniat menjauhinya? Atau kamu kecewa karena sebenarnya kamu masih mengharapkannya? " tanya Bryan dengan sedikit emosi.
" Bukan begitu bang. Pipit bukan kecewa karena ia memiliki istri. Pipit ...Pipit kecewa karena di bohongi. Melihat kehamilan istrinya, Pipit yakin bang Damar menikah sudah lima bulan yang lalu. Itu berarti ucapan yang ia katakan ke Pipit selama ini omong kosong. Dia bilang sayang sama Pipit, tapi ternyata dia menghamili istrinya. Dan....dan hal itu menggoyahkan hati Pipit bang. " Pipit kembali menunduk.
" Maksudnya? "
__ADS_1
" Pipit menjauhinya, berusaha melupakannya, karena Pipit...Pipit...ingin memikirkan tentang pernikahan kita. Kelangsungan pernikahan kita. Tapi , karena kelakuan bang Damar, Pipit jadi bimbang. Pipit takut, jika Pipit menyerahkan hati Pipit ke Abang bule, ternyata Abang bule melakukan hal yang sama. Pipit takut bang. " seru Pipit.
Bryan mengusap wajahnya. " Abang tidak akan melakukan hal itu. Percayalah. "
" Bang, Abang pernah nggak berpikir, karena kebiasaan Abang, tiba-tiba ada seorang perempuan yang datang ke Abang, terus meminta pertanggungjawaban karena ia hamil. Ia hamil anak Abang. Pipit takut bang...kalau hal itu terjadi. Pipit nggak bakalan sanggup. " jawab Pipit dengan wajah sendunya.
Bryan berpindah posisi. Ia berjongkok di hadapan Pipit, menggenggam kedua tangannya. " Honey, dengerin Abang. Aku memang sering melakukan one night stand dengan banyak perempuan. Tapi aku berani jamin, aku tidak menebar benihku sembarangan. Aku tidak pernah meninggalkan benihku di perut wanita manapun. "
" Bagaimana Abang bisa yakin kalau Abang tidak pernah membuat perempuan yang abang...tiduri, hamil. " dengan susah payah, Pipit berujar.
" Abang ini seorang dokter. Abang bisa pastikan, kalau tidak akan ada perempuan yang pernah tidur bersamaku hamil. Jikapun suatu saat ada perempuan yang datang dan mengaku jika dia memiliki anak dariku, aku berani melakukan tes DNA untuk membuktikan jika anak itu, bukan anakku. " lanjut Bryan sambil menatap wajah Pipit. Kemudian ia mengangkat tangannya, membelai lembut pipi Pipit dengan punggung jarinya.
" Percayalah honey, aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu. " pinta Bryan.
Mata Bryan dan Pipit saling bertemu. Saling mencoba mencari dan memberikan kebenaran.
" So honey, apakah kamu masih meragukanku? Atau kamu mau meresmikan pernikahan kita secara hukum seperti permintaan ibu? Jika kamu bersedia meresmikan pernikahan kita secara hukum, maka aku akan membuat pernikahan kita, menjadi pernikahan paling bahagia. "
Pipit memutus tatapan mata mereka. " Beri Pipit waktu bang. Pipit ...Pipit ..masih bingung saat ini. " ujar Pipit.
Bryan menunduk, berusaha menetralkan emosinya. " Baik. Abang akan kasih kamu waktu lagi untuk berpikir. Tapi kamu juga tolong pikirkan jawabannya secepatnya. Selain untuk pernikahan kita, pikirkanlah untuk ibu juga. Aku kasih waktu dua minggu. Tidak lebih ya. Pikirkan baik-baik. " ujar Bryan sambil kembali mengelus pipi kanan Pipit.
Pipit mengangguk. Bryan bangun dari jongkoknya.
" Ya udah, kita pulang sekarang yuk. Udah malam. Abang anter kamu pulang. " ujar Bryan sambil mengulurkan tangannya.
Pipit menerima uluran tangan Bryan, dan beranjak berdiri dari duduknya.
" Itu makanannya masih, nggak di bawa? " tanya Bryan.
Pipit menggeleng, " Udah kenyang. " jawabnya.
" Ya udah, yuk pulang. " ajak Bryan lalu ia menggandeng tangan Pipit.
***
bersambung
Akhirnya tiga episode untuk hari ini, selesai sudah. Maraton nulisnya, jadi capek. Capek tangannya, juga capek otaknya π€....
Tapi buat kelean para pembacanya akyuuhhhh,,,, othor melakukannya dengan ikhlas dan lapang dada...
Selamat menikmati, dan selamat menunggu kelanjutan episode nya esok hariπ€....
__ADS_1
Lope Lope sekarung buat kelean semuanyahhhh....πππ