
" Kok sudah pulang mas? " tanya Imelda istri Damar.
Damar mendudukkan tubuhnya di atas sofa panjang, dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil memejamkan matanya.
" Hem. " sahut Damar.
" Aku buatin minum dulu sebentar mas. " ucap Imel lalu ia berlalu dari hadapan Damar untuk pergi ke dapur.
Pikiran Damar saat ini agak tidak nyaman. Melihat gadis yang pernah mengisi hatinya pulang dari hotel, dan mendengarkan pembicaraan Bryan dan keluarganya agak membuat hati Damar terasa perih.
Damar memang sudah berniat untuk melupakan Pipit, dan belajar untuk menerima istrinya. Tapi meskipun begitu, yang namanya cinta pertama, tetap saja susah untuk di lupakan. Damar mendesah berat mengingat hal itu. Melupakan sosok Pipit sangatlah tidak mudah, meskipun ia sudah melihat dengan matanya sendiri, bagaimana mesranya sang gadis pujaan dengan suaminya.
Sekarang Imel sudah tidak takut saat ingin berbicara dengannya, karena iapun sudah mau berbicara dengan Imel. Meskipun hanya sedikit. Ia juga sudah membeli sebuah apartemen di kalangan elit. Ia merasa ingin memberikan kehidupan yang lebih baik untuk calon anaknya kelak. Tidak bisa ia pungkiri juga, ia kini sudah bisa menerima calon bayinya yang sedang di kandung oleh istrinya. Ia juga sudah mulai perhatian dengan sang istri.
" Ini mas, kopinya. " ucap Imel sedikit mengejutkannya.
Damar membuka matanya dan menegakkan posisi duduknya.
" Duduklah. " pinta Damar.
Imel menurut dengan perintah suaminya. Ia duduk di sofa single dekat sofa yang di duduki Damar.
" Bagaimana dia hari ini? " tanya Damar sambil menunjuk perut Imel dengan dagunya.
Imel tersenyum sambil melihat perutnya dan mengelusnya. " Alhamdulillah, hari dia cantik, tidak rewel. Cuma sesekali dia menendang. " jawab Imel.
Damar dan istrinya sudah mengetahui jenis kelamin sang anak yang ternyata adalah seorang perempuan. Imel begitu bahagia saat mengetahuinya. Ia akan mempunyai teman di rumah. Sedangkan Damar ia bersikap biasa saja meskipun hatinya juga bahagia.
" Au...." pekik Imel.
" Kenapa? " tanya Damar saat ia menyeruput kopinya, tiba-tiba sang istri mengaduh.
" Dia nendang. " sahut Imel sambil mengusap perutnya. " Mas, mau pegang? Liihat mas, ini pasti pant**nya. " lanjutnya dengan wajah berbinar memandangi perutnya.
Hati damar tergelitik ingin mengelus perut istrinya yang besar itu. Usia kandungan Imel saat ini sudah masuk delapan bulan. Perut itu sudah kelihatan membuncit.
Tangan Damar terulur dengan sendirinya. Tapi saat ia hendak menariknya kembali sebelum sampai di perut sang istri, Imel malah menarik tangannya dan di letakkan di perut bagian samping, dimana terlihat ada tonjolan di sana.
" Iya kan mas? Ini pasti panta*nya. " ujar Imel.
__ADS_1
Damar terdiam. Entah kenapa hatinya terasa nyeri. Dadanya terasa sesak saat ia merasakan pergerakan lembut dari dalam perut Imel.
Anaknya. Di dalam perut itu, ada anaknya. Darah dagingnya. Yang selama ini tidak pernah ia pedulikan. Damar menatap Imel dari atas ke bawah. Tubuh istrinya itu nampak kurus untuk ukuran ibu hamil. Kembali hati Damar merasa teriris. Apa dirinya sangat keterlaluan? Bagaimana bisa ia membiarkan perempuan itu mengandung anaknya, tapi ia tidak memberikan perhatian sama sekali. Bahkan ia masih sangat ingat, ia justru sering marah-marah tidak jelas dan memaki perempuan di hadapannya itu.
Baru kali ini Damar sangat merasa bersalah kepada Imel. Mata Damar berkaca-kaca. " Maaf. " ucap Damar sambil menarik kembali tangannya dari atas perut Imel.
Imel langsung menatap ke Damar seketika. Ia tiba-tiba merasa takut. " Maaf mas, Imel udah lancang pegang tangan mas Damar dan meminta mas Damar mengelus perutku. " ucap Imel sambil tertunduk dalam.
Damar menghela nafas panjang. Ingin sekali ia menjelaskan kenapa ia meminta maaf tadi. Tapi bibirnya terasa kelu. Akhirnya ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar tidurnya.
Oh iya, othor belum sempat mengatakan ya, kalau apartemen yang di beli Damar adalah apartemen Bryan. Jadi, saat ia menempati apartemen itu, Damar menjadikan kamar yang dulu di gunakan oleh Bryan sebagai kamar tamu untuk kamarnya bersama sang istri. Dan kamar Bryan dulu, ia akan gunakan sebagai kamar bayi mereka nanti.
Bukan tanpa alasan Damar tidak menggunakan kamar yang dulu di gunakan oleh Bryan. Damar hanya tidak ingin berada di kamar dimana kamar itu pernah di tempati oleh Pipit dan Bryan.
" Aku mau mandi. " ucap Damar sebelum ia masuk ke dalam kamar tidurnya.
Imel mendongak, lalu segera masuk ke dalam kamar mengikuti suaminya. Ia segera menyiapkan handuk untuk suaminya, menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Damar hanya menatap nanar Imel yang dengan telatennya menyiapkan segala keperluannya.
" Handuknya mas. " ucap Imel tanpa berani menatap Damar.
" Kalau bicara sama orang, lihat orangnya, jangan nunduk terus. " ujar Damar sambil berlalu ke kamar mandi setelah mengambil sebuah handuk dari tangan Imel.
Imel juga tidak tahu harus memasak apa untuk suaminya. Karena ia tidak tahu apa masakan kesukaan suaminya. Akhirnya, ia memutuskan untuk menelepon ibu mertuanya untuk menanyakan makanan kesukaan Damar.
Setelah mendapatkan informasi dari sang ibu mertua, Imel segera membuka kulkas. Beruntung di sana ada bahan untuk membuat masakan kesukaan suaminya. Masakan suaminya itu sangatlah simpel ternyata. Telur ceplok yang di bumbu pedas sama tempe mendoan.
Dengan wajah cerianya, Imel mulai memasak makanan untuk makan malam. Sambil sesekali bersenandung, Imel meracik bumbu balado telur ceplok.
Setengah jam kemudian, Damar keluar dari dalam kamar, dan mendapati istrinya sedang memasak sambil bersenandung. Damar melangkah perlahan menghampiri istrinya.
" Masak apa? " tanya Damar yang mengejutkan istrinya.
Imel bahkan hampir saja melayangkan spatulanya. " Astaghfirullah, mas Damar bikin kaget aja. "
" Lagi masak apa? Baunya sampai ke kamar. " ujar damar sambil melongok melihat ke atas kompor.
" Aku bikin balado telur ceplok. Ibu bilang, mas Damar suka kalau ibu masak ini. " jawab Imel.
" Hem. " sahut Damar sambil senyum tipis tersungging dari sudut bibirnya yang tentu saja tidak terlihat oleh istrinya.
__ADS_1
" Mas duduk aja dulu. Bentar lagi matang. Nasinya juga bentar lagi matang. " pinta Imel.
Damar menurut. Ia duduk anteng di meja makan sambil memandang punggung istrinya yang sedang memasak. Ia kemudian teringat dengan apa yang di katakan Rezky tadi saat di rumah baru Bryan.
" Kamu tidak akan bisa menerima istri kamu seutuhnya dan melupakan nona Fitria jika kamu masih selalu menjaga jarak dengan istrimu. Cobalah untuk dekat dengannya dan menerima dia sebagai istrimu. Seorang istri yang halal untuk kamu sentuh. Dan akan menjadi dosa jika kamu tidak memberikan nafkah batin kepadanya. Kau mengerti maksudku kan? Cobalah untuk menyentuh istrimu. Lagian, bukankah ibu hamil tua harus sering di tengok anaknya biar jalan lahirnya semakin lebar? "
" Ck. Ada-ada saja mas Rezky ini. "
" Aku serius. Coba tanya si bos jika tidak percaya. Dulu saat istrinya hamil tua, dokter kandungannya menganjurkan seperti itu. Biar saat lahir, bayinya bisa lahir lebih mudah. "
" Udah matang mas masakannya. " ucapan Imel itu membuyarkan lamunan Damar.
Ia lalu mengangguk dan menunggu istrinya yang sedang mengambilkannya nasi dan lauk di atas piringnya.
" Terimakasih. " ucap Damar sambil tersenyum canggung. Imel mengangguk, lalu ia mengisi piringnya dengan nasi dan lauk juga.
" Makan yang banyak. Anakku juga butuh banyak nutrisi. Kalau ibunya saja kurus begitu, darimana anakku mendapatkan gizi. " ujar damar yang membuat Imel tersenyum dan tersipu karena baru kali ini ia mendapatkan perhatian dari sang suami.
" Ini udah banyak mas. "
" Belum. Itu sedikit. Ini, makan yang banyak. " sahut Damar sambil menambahkan nasi ke dalam piring Imel.
" Udah mas. Jangan kebanyakan. Nanti perutku nggak muat. " tolak Imel karena Damar memberinya nasi yang lumayan banyak.
" Habisin. Aku nggak mau anakku kurus seperti ibunya. " ujar Damar yang membuat Imel cemberut. Damar tersenyum tipis melihat wajah istrinya yang lucu dan menggemaskan. Sebenarnya, Imel adalah perempuan yang cantik dan manis. Tidak kalah cantik dari Pipit. Cuma bedanya, Pipit itu masih sangat belia.
" Kamu mau makan apa? " tanya Damar.
" Ini udah makan mas. "
" Maksudnya, biasanya perempuan hamil itu ngidam pengen makan sesuatu apa gitu. Kamu selama ini tidak pernah aku lihat ingin makan sesuatu. "
" Oh, Alhamdulillah, dedek bayinya nggak rewel. Dia nggak pernah menginginkan sesuatu yang aneh-aneh. "
" Kalau pengen sesuatu, bilang. Jangan cuma di pendam. Nanti anakku ileran. " ujar Damar.
" Iya mas. " jawab Imel sembari tersenyum bahagia. Suaminya sudah tidak sekaku dulu.
***
__ADS_1
bersambung