
" Bang Damar mau bicarain apa? Maaf bang sebelumnya, Pipit nggak bisa lama-lama soalnya. Takutnya mama nyariin. " ujar Pipit dengan tidak menatap Damar sama sekali. Tidak seperti biasanya yang ia selalu memandang wajah tampannya si Damar.
Damar menghela nafas berat dan memandang ke sembarang arah. Hatinya terasa nyeri melihat sikap Pipit yang sekarang. Ia berusaha menata hatinya untuk memulai pembicaraan dengan gadis hatinya.
" Maafin bang Damar ya. " ucap damar sambil meraih tangan Pipit.
Pipit tersentak kaget melihat Damar memegang tangannya. Dengan buru-buru ia menarik tangannya. Mungkin kalau dulu, Pipit akan merasa sangat senang jika Damar menggenggam tangannya seperti itu. Tapi tidak jika sekarang.
" Maaf. " ucap Damar sambil mengambil tangannya kembali.
Pipit menampilkan senyum dengan canggung.
" Pit, aku minta maaf. " ulang Damar.
" Untuk? " tanya Pipit sambil mengerutkan dahinya.
" Untuk semuanya. Untuk.... untuk...." terlihat Damar begitu susah untuk mengatakan.
" Untuk apa bang? " tanya Pipit yang sebenarnya ia sudah tahu kemana arah ucapan Damar.
" Untuk yang kamu lihat kemarin dulu di rumah sakit. " sahut Damar lirih dengan pandangan ke bawah. Ia tidak punya keberanian untuk menatap mata Pipit.
Pipit menarik nafas berat. " Jadi benar kalau kak Imel itu istrinya bang Damar? "
Damar mengangguk samar. Pipit menanggapinya dengan senyum sinis. Senyuman itu tak lekang dari mata Damar, karena ia sekilas melirik ekspresi yang di tampilkan oleh Pipit.
Damar memejamkan matanya rapat-rapat. Ia yakin, Pipit pasti sangat kecewa terhadapnya.
" Aku di jodohkan oleh ibu. " Damar mulai menjelaskan. " Tanpa sepengetahuanku, ibu mengatur pernikahanku. Ketika aku pulang saat itu, mau tidak mau, aku harus menikah dengan gadis itu. " Damar melanjutkan.
Pipit hanya diam tanpa ingin menyela ataupun protes. Bahkan marahpun, ia enggan.
" Maaf telah menutupi semuanya dari kamu. " lanjut Damar. Pipit masih tetap diam.
" Pit, please ... Ngomong sesuatu. Jangan diam saja. " ucap Damar agak keras.
" Pipit harus ngomong apa bang? Toh semuanya udah kejadian kan. " ujar Pipit.
" Kamu boleh marah sama aku. Yang penting kamu nggak diam aja kayak gini. "
__ADS_1
" Marah? Apa hak Pipit untuk marah sama bang Damar? Toh kita juga sedang tidak dalam hubungan yang memberikan Pipit hak untuk marah. Pipit bukan siapa-siapanya bang Damar. " sahut Pipit. " Dan lagi, rasanya tidak adil jika Pipit marah sama bang Damar. Karena Pipit juga melakukan hal yang sama bukan? Pipit juga udah menikah. Bahkan mungkin hari pernikahan kita hampir sama. " lanjutnya.
" Aku sudah melupakan hal itu Pit. Aku siap menerimamu apa adanya. " jawab Damar mantap.
" Tapi pipit tidak bisa seperti bang Damar. Maaf. Kita memang sama-sama telah menikah. Kita juga sama-sama merahasiakan pernikahan kita. Tapi ada perbedaannya bang. Istri bang Damar sedang hamil. Dan Pipit tidak. "
Jeddarr...
Ucapan Pipit itu membuat Damar terhenyak. Iya, posisi mereka berbeda. Pipit masih utuh, sedangkan dia sudah menghamili istrinya.
" Tapi hatiku masih sama. Hatiku tetap untukmu. " jawab Damar.
" Kalau hati bang Damar tetap untuk Pipit, pasti bang Damar bisa menjaga hati Pipit juga kan? Tidak mungkin bang Damar membuat hamil seorang gadis. " Pipit menjeda omongannya sebentar untuk bernafas. " Abang tahu, selama ini Pipit selalu berusaha menjaga apa yang Pipit punya. Bahkan Pipit sampai berbohong sama ibu, Pipit tidak tinggal satu atap dengan bang bule. Pipit udah berdosa kepada suami Pipit bang. Meskipun Pipit hanya menikah siri dengan Abang bule, tapi tetap saja Pipit sudah berdosa terhadapnya. Pipit selaku saja berusaha menjauhinya. " lanjut Pipit dengan suara yang agak keras karena ia terbawa emosi.
Pipit menyesal, karena telah egois ke semua orang. Matanya mulai terasa panas.
" Pipit, maafkan aku. " ucap Damar sambil berusaha menggenggam tangan Pipit. Tapi lagi-lagi, Pipit menepisnya. Pipit bersedekap, sambil menggigit kuku-kuku jarinya.
" Pipit, kita masih bisa mengulang semuanya dari awal. Aku akan meminta restu dari kakak kamu. "
Lagi-lagi, Pipit menampilkan senyum sinisnya.
" Aku tidak mencintainya. "
" Cinta akan hadir jika bang Damar mau membuka hati. Cinta bisa hadir karena terbiasa. Ingat bayi yang kak Imel kandung bang. Anak bang Damar kan? " ucap Pipit dengan tenang. Damar tidak mampu menjawab. Ia hanya bisa tertunduk.
" Bang, Pipit juga seorang perempuan. Pipit tahu bagaimana perasaan istri bang Damar. Dia pasti menderita, harus hamil anak bang Damar, tapi bang Damar mengacuhkannya. Kasihan kak Imel bang. Seharusnya seorang perempuan yang sedang hamil, harus selalu bahagia. Tidak boleh stress sama sekali. Tapi dengan sikap bang Damar itu, membuat bayi bang Damar dalam bahaya. Ia juga ikut tertekan seperti ibunya. " Pipit menjeda omongannya sesaat.
" Tapi aku mencintaimu. Aku akan mengatakannya dengan baik-baik ke Imel. Aku akan tetap bertanggung jawab dengan bayi yang ia kandung. Karena memang dia adalah darah dagingku. " sahut Damar.
" Tapi Pipit nggak bang. Perasaan Pipit sudah tidak seperti dulu. Lebih baik bang Damar lupakan Pipit, dan mulailah membuka hati bang Damar untuk kak Imel. Paling tidak, sayangilah bayi bang Damar. Dia tidak bersalah. Dia juga tidak menginginkan untuk di lahirkan ke dunia ini. Pipit yakin, dengan bang Damar yang dekat dengan bayi Abang, Abang juga akan bisa dekat ibunya. " Pipit menampilkan seulas senyum. Kali ini, senyuman itu benar-benar tulus. Pipit kini sudah merasa lega karena sudah mengungkapkan apa yang ingin ia ungkapkan.
" Kita akan tetap berteman bang. Hubungan persahabatan sepertinya akan lebih langgeng. Oh, bukan sahabat. Kita akan menjadi saudara. Bang Damar jadi kakak aku, dan aku jadi adik bang Damar. Lebih enak dan nyaman kan bang? Pipit jadinya punya ponakan dua nantinya. " lanjutnya.
" Pipit..." Damar sudah tidak tahu harus berbicara apa. Ia kalah dewasa dari gadis yang ada di depannya itu.
" Bang Damar mau kan, jadi kakak laki-lakinya Pipit? " tanya Pipit sambil tersenyum manis.
" Apa kamu akan menerima dokter Bryan sebagai suamimu? "
__ADS_1
" Abang bule kan memang sudah jadi suaminya Pipit, bang. "
" Maksudku, apa kamu akan benar-benar menjalani pernikahanmu dengannya? Selamanya? "
" Selamanya? Kalau bang Damar tanya hal itu, Pipit tidak bisa menjawabnya. Karena yang tahu masa depan kita adalah Yang Di Atas. Pipit hanya sekedar menjalaninya. "
" Berarti kamu akan menjadi istrinya seutuhnya? "
" Mungkin bang. Mungkin Pipit akan mulai membina rumah tangga dengan bang bule dengan benar kali ini. Benar-benar memulainya dari awal. " jawab Pipit. Entah ia bersungguh-sungguh menjawabnya, atau hanya sekedar ucapan supaya Damar tidak lagi mengejarnya? Othor juga tidak tahu. Karena othor bukan seorang dukunðŸ¤ðŸ˜„😄.
" Kamu yakin akan bahagia dengannya? " tanya Damar menyelidik.
" Semoga bang. Kebahagiaan itu datang dari diri kita sendiri. Jika kita ingin bahagia, maka Tuhan pasti memberikan kebahagiaan kepada kita. " jawabnya lembut. " Mari kita cari kebahagiaan kita masing-masing bang. Bang Damar dengan istri dan calon bayi bang Damar, dan Pipit akan mencarinya bersama bang bule. " lanjutnya.
Damar kembali tertunduk. Sudah tidak ada harapan untuknya lagi. Semua sudah berakhir sekarang. Ia harus rela dan ikhlas melepas Pipit untuk meraih kebahagiannya.
" Baiklah. Berbahagialah kamu. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik buat kamu. " ujar damar pada akhirnya.
" Pipit juga selalu mendoakan yang terbaik buat bang Damar. Bang Damar juga, berbahagialah. " jawab Pipit. " Kalau gitu, Pipit pamit pulang dulu ya bang. Takut di cariin mama. "
Damar mengangguk.
" Bang Damar nggak pulang? " tanya Pipit saat ia sudah berdiri tapi Damar masih tetap di kursinya.
" Nanti sebentar lagi. "
" Jangan malam-malam pulangnya bang. Kasihan istri bang Damar. Pasti khawatirin Abang. " nasehat pipit.
" He em. "
" Bang Damar ingat pesan Pipit ya, hargai istri bang Damar. Dan berusahalah menerima dan mencintai bayi yang ada di dalam perut kak Imel. " lanjut Pipit.
Dan Damar menjawabnya dengan anggukan, " insyaallah. "
***
bersambung
Dua episode buat hari udah ya sayyy ...
__ADS_1
Tunggu besok lagi buat episode barunya...