
Seno dan Armell duduk bersebelahan di bangku tunggu depan ruang ICU. Sedangkan Pipit, duduk termenung seorang diri dengan derai air mata. Karena sang suami masih di dalam ruangan membantu menyelamatkan sang ibu. Tuan dan nyonya Adiguna pergi ke kantin untuk membeli minuman untuk mereka semua.
Damar yang masih duduk di bangku agak jauh dari tempat duduk Pipit, masih tetap menatap Pipit dengan entah tatapan apa itu. Melihat Pipit sendirian, tubuhnya bangun dari duduknya dan kakinya melangkah mendekati Pipit.
" Nona..." panggil Damar sambil memegang pundak Pipit perlahan. Ia mendudukkan dirinya di sebelah Pipit.
Pipit menoleh, lalu tersenyum mengatakan kalau ia baik-baik saja.
" Semua pasti baik-baik saja. Ibu nona pasti akan sembuh kembali. " ujar Damar.
Pipit mengangguk, " Ibu tadi sudah sadar. Beliau juga sudah berbicara. Tapi tiba-tiba, ibu sesak nafas bang. " cerita Pipit.
" Nona yang sabar ya. Saya akan selalu ada di sini untuk nona. " ucap Damar memberikan kekuatan pada Pipit. Ia mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Pipit, tapi Pipit cepat-cepat menghindar.
" Maaf nona. " ucap Damar kala menyadari kelancangannya. Ia menggenggam erat tangan yang sangat ingin menyentuh gadis di sampingnya. Gadis yang sudah tidak mungkin ia raih. Gadis yang telah memberikan hatinya untuk laki-laki lain.
Kini, damar hanya bisa duduk di samping gadis itu untuk menemaninya.
Ceklek
Pintu ruang ICU terbuka dari dalam. Nampak Bryan keluar dari dalam ruangan itu. Bryan sedikit tersentak saat melihat Damar duduk di sebelah sang istri. Tiba-tiba hatinya berdenyut dan ingin menghajar laki-laki itu. Tapi ia mencoba meredam emosinya. Ia tahu kondisi dan lokasi.
Dengan langkah cepat, ia menghampiri istrinya. Damar yang melihat kedatangan Bryan, buru-buru berdiri dari duduknya, lalu sedikit membungkukkan badannya sebelum berlalu dari sana dan kembali ke tempat duduknya tadi.
Bryan menghenyakkan pantatnya di tempat yang tadi di duduki oleh Damar.
" Bagaimana ibu bang? " tanya Pipit.
Bryan memeluk tubuh Pipit dan menyandarkan kepala Pipit di dada bidangnya.
" Ibu koma. " hanya itu yang mampu Bryan katakan. Itu saja sudah membuat istrinya juga kakak iparnya kembali menangis.
Bryan semakin mempererat pelukannya, berkali-kali mengecup puncak kepala Pipit. Kondisi sang ibu memang tidak baik. Bahkan lebih buruk dari tadi. Bryan juga sudah mengcancel heli yang akan menjemput ibu. Tidak mungkin membawa Bu Ani pindah rumah sakit dalam keadaan seperti itu.
" Kamu harus kuat. Demi ibu. Yang bisa kita lakukan sekarang hanya berdoa. Semoga ada keajaiban yang menghampiri ibu. " ucap Bryan.
Tuan dan nyonya Adiguna sudah kembali dari kantin dengan membawa beberapa gelas minuman hangat untuk anak-anak mereka, juga Dion dan Damar. Bahkan beliau juga membeli sarapan.
Pagi menjelang. Karena masih belum ada kabar dari dokter, nyonya Ruth meminta Armell untuk pulang barang sebentar. Danique butuh menyusu. Seno mengajak istrinya untuk pulang sebentar. Tapi Armell mau pulang kalau papa dan mamanya juga ikut pulang bersamanya. Armell merasa mertuanya itu juga butuh istirahat meskipun hanya sebentar. Akhirnya, sang mertua menyetujuinya. Mereka mengajak Dion untuk mengantar. Sedangkan Damar, Seno menyuruhnya untuk menemani Bryan juga Pipit.
__ADS_1
" Honey, makanlah dulu. " bujuk Bryan.
Pipit hanya menggeleng sambil menyandarkan kepalanya di dinding.
" Honey, come on. Sedikit saja tidak apa-apa. Asalkan perutmu ada isinya. " Bryan masih tetap membujuk. Ia sudah menyendok satu sendokan untuk di suapkan ke mulut Pipit. Pipit masih tetap menggeleng.
" Honey, semalaman kamu sudah tidak memejamkan matamu barang sebentar. Dan kamu juga tidak mau mengisi perutmu. Kalau kamu jatuh sakit bagaimana? Hem? Kalau kamu sakit, kamu tidak bisa menjaga ibu. " ujar Bryan membujuk istrinya. Pipit mulai merespon.
Bryan mengarahkan sendok yang telah berisi nasi dan lauk ke depan mulut Pipit.
" Abang juga harus makan. " ucap Pipit karena ia juga tahu kalau suaminya belum mengisi perutnya sama sekali.
Bryan mengangguk sambil tersenyum, " Iya. Kita akan makan sepiring berdua. Romantis kan? " ujarnya.
Pipit menyunggingkan sedikit senyumannya, lalu ia membuka mulutnya. Bryan menyuapinya sambil sesekali tersenyum. Ia juga menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri bergantian dengan Pipit.
" Damar, sebaiknya kamu juga makan. " titah Bryan.
" Iya, dokter. Saya nanti akan makan. " jawab Damar sambil mengangguk.
Selang beberapa saat usai makan, Bryan meminta istrinya untuk tidur meskipun hanya sebentar.
" Honey, tidurlah sebentar. " pinta Bryan.
" Tapi kamu tidak tidur semalaman. Sekarang sudah jam 10 pagi. Tidur sekarang tidak masalah. " ucap Bryan.
Pipit masih tetap membuka matanya. Lalu Bryan menarik tubuh Pipit, lalu kepala Pipit ia sandarkan di atas pangkuannya.
" Angkat kakimu. Taruh di atas bangku. Meski tidak terlalu nyaman, tapi pahaku cukup nikmat untuk di pakai sebagai bantal. " canda Bryan membuat Pipit tersenyum.
Pipit mengikuti arahan suaminya. Ia mengangkat kakinya ke atas bangku. Bryan membelai rambut Pipit lembut.
" Terima kasih banyak, Abang bule. Udah nemenin Pipit jagain ibu. " ucap Pipit sambil menoleh, menengadahkan kepalanya menatap wajah Bryan.
" Ibu kamu, juga ibuku. Sudah kewajibanku untuk menjaganya juga. Aku juga berterima kasih kepadamu, sudah memberiku kesempatan untuk berada di sisimu untuk mendampingimu di saat seperti ini. " jawab Bryan, lalu ia mengecup kening Pipit cukup lama.
Bryan tersenyum saat bibirnya terlepas dari kening Pipit. " Sekarang tidurlah. " ucapnya sambil kembali membelai lembut rambut Pipit.
Damar yang melihat pemandangan itu, hatinya merasa sakit. Ingin rasanya ia meninju wajah bule Bryan , lalu menggantikan posisi Bryan saat ini. Karena sudah tidak tahan, damar berpamitan.
__ADS_1
" Maaf dokter, saya minta ijin untuk ke kantin sebentar. Minum segelas kopi panas sepertinya bisa menyegarkan. " ucap Damar. Bryan mengangkat wajahnya yang sedari tadi tak henti menatap istri kecilnya sambil terus membelai lembut rambut juga pipi sang istri, dan mengangguk menjawab ijin Damar.
" Tidurlah sayang. I love you. " ucap Bryan, lalu memberikan kecupan kecil di pelipis Pipit.
Karena Bryan juga mengantuk, selang beberapa saat ia juga ikut tertidur dengan bersandar pada dinding di belakangnya. Suster yang berlalu-lalang di depan ICU melihat Bryan dengan tatapan kagum dan memuja. Mereka sudah mendengar berita kalau dokter spesialis bedah terkenal dari ibukota sedang berada di rumah sakit itu.
Mereka memuji ketampanan wajah bule Bryan tanpa melihat jika Bryan di sana bersama sang istri. Bahkan ada beberapa dari mereka yang mencibir melihat Pipit sebagai istri dari dokter hebat itu. Ada yang mengatakan kalau istrinya terlalu muda, ada juga yang bilang kalau istrinya kurang cantik, dan masih banyak lagi.
Tepat pukul 12 siang, Seno, Armell, tuan dan nyonya Adiguna diikuti oleh Dion, tiba di rumah sakit kembali. Mereka merasa kasihan melihat Pipit yang tertidur dengan berbantalkan paha Bryan, sedangkan Bryan tertidur dengan bersandar di dinding.
" Bry...." panggil Nyonya Ruth sambil mengelus pipi Bryan.
Bryan mulai menggerakkan kelopak matanya. Perlahan, ia membuka matanya.
" Ma.." ucapnya sambil mengucek matanya.
" Mending kamu bawa istrimu pulang. Istirahatlah meski hanya sebentar. Biar kami yang gantian berjaga di sini. " ujar Nyonya Ruth.
Bryan nampak berpikir, " Pipit pasti tidak akan mau ma. " ucapnya.
" Kak, Pipit langsung di gendong aja mumpung dia masih lelap. Dia tidak akan mudah terbangun jika ia sudah tidur setelah ia kecapekan atau kurang tidur sebelumnya. " ucap Pipit.
Bryan akhirnya mengangguk. " Mell, apa dekat sini ada hotel atau semacamnya? "
" Ada sih kak. Tapi hotelnya tidak terlalu bagus. Hotelnya ada di belokan pertama setelah rumah sakit ini. " ucap Armell.
" Tidak masalah. Yang penting kami bisa istirahat. Kalau aku bawa dia pulang ke rumah, kalau dia terbangun pasti marah-marah. Kalau masih dekat rumah sakit kan kalau dia marah, bisa langsung aku ajak balik kesini. " ujar Bryan.
Bryan mengangkat tubuh Pipit perlahan supaya tidak membangunkannya.
" Mari saya antar, dok. " tawar Damar.
" Boleh. Nanti sekalian kamu istirahat juga sebentar di sana. " jawab Bryan karena ia tahu, Damar juga belum tidur sama sekali semenjak kemarin.
Bryan mulai berjalan sambil membawa Pipit yang masih tertidur pulas dalam pelukannya.
" Dam, apa kamu sudah mengabari istrimu kalau mungkin kamu tidak akan pulang selama beberapa hari ke depan? Istrimu pasti khawatir jika kamu tidak memberi kabar. " tanya Bryan.
" Iya dok. Nanti sampai di hotel, saya akan meneleponnya. " jawab Damar sopan.
__ADS_1
***
bersambung