
Hari Senin tiba. Semua sudah kembali beraktivitas sendiri-sendiri.
" Tuan muda, hari ini saya ingin mengajukan cuti setengah hari. " pinta Dion ke Seno.
Seno mengerutkan keningnya, " Tumben? Ada apa bang? "
" Ada urusan pribadi. Doakan saja hari ini aku berhasil. Aku akan meminta Leora ke papanya langsung. " ujar Dion dengan senyuman tipisnya.
" Yakin di terima bang? " ledek Seno.
" Ck. Kamu ini sama seperti tuan Adiguna. Kenapa pada suka aku gagal? "
" Bukan begitu bang. Apa bang Dion udah tanya sama Leora dulu? "
" Sudah. Dia bilang dia mengikuti apapun keputusan papanya. Jadi aku ingin segera bertemu dengan tuan Abraham. Dulu, aku sudah pernah berbicara dengan tuan Abraham. Sepertinya dia menerimaku. Tapi aku tetap ingin memastikan kembali. Jadi, rencananya hari ini aku akan ke rumah beliau untuk menemui beliau juga Leora. "
" Baiklah bang. Aku doakan semoga sukses. " ujar Seno
" Oke. Kalau begitu aku kembali ke ruanganku dulu. " pamit Dion. Ia lalu berdiri dari duduknya dan segera keluar dari ruangan Seno.
🧚
🧚
" Selamat sore, nona. " sapa Dion ketika ia melihat Leora membuka pintu rumah.
" Tuan Dion..." Leora agak terkejut dengan kedatangan Dion. Karena biasanya Dion selalu mengatakan kepadanya kalau mau datang ke rumah. " Kok tumben..."
" Iya, maaf nona. Saya tidak memberitahu nona dulu jika saya mau datang. Apa tuan Abraham ada di rumah? " tanya Dion. Meskipun dia sudah tahu jika papanya Leora berada di rumah. Karena ia sudah menghubungi tuan Abraham sebelum dirinya datang kemari.
" Oh, ada tuan. Mari silahkan masuk. " ujar Leora sambil membuka pintu rumah lebar-lebar.
" Silahkan duduk dulu tuan. Saya akan panggilkan papa dulu. " ujar Leora selanjutnya.
Dion mengangguk lalu mendaratkan pant**nya di atas sofa yang empuk.
Lalu Leora masuk ke dalam rumah dengan perasaan was-was dan penuh tanya. Kenapa Dion sore-sore datang ke rumahnya. Padahal Dion tidak mengatakan apapun sebelumnya. Jangan bilang jika Dion serius ketika di Bali kemarin. Kalau dia akan segera menemui papanya sepulangnya dari Bali.
' Ah, pasti tidak untuk itu Leora. Dia datang kesini pasti karena di minta oleh tuan Adiguna untuk membicarakan bisnis. Bukan untuk melamarmu. ' gumam Leora dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Kamu kenapa Le? " tanya tuan Abraham mengagetkannya.
" Hah. Papa ..bikin kaget aja. " protes Leora sambil memegang dadanya.
" Lagian orang jalan kok pakai melamun. Udah gitu, geleng-geleng kepala lagi. Emang apa yang lagi kamu pikirin. "
__ADS_1
" Oh nggak ada apa-apa kok pa. Oh iya, papa ada tamu tuh di depan. "
" Sudah datang ya tamunya? " tanya tuan Abraham dengan wajah berseri.
" Emang papa tahu, siapa tamunya? "
" Ya pasti tahu lah. Calon mantu papa kan yang datang? " tanya tuan Abraham dengan senyum menyeringai.
" Calon mantu??" gumam Leora sambil menggosok tengkuknya yang tidak gatal tapi tiba-tiba merasa merinding.
" Calon ma...." ucapan Leora terhenti karena papanya ternyata sudah tidak ada di depannya. " Papa? Belum juga Leora selesai bicara, udah ngilang aja. " gerutu Leora. Lalu Leora segera ke dapur untuk meminta ARTnya membuatkan minuman untuk tamu papanya.
Sedangkan di ruang depan, sedang terjadi pembicaraan yang hangat. Tidak ketegangan yang terjadi seperti ketika laki-laki lain yang sedang meminta anaknya dari seorang ayah.
Tuan Abraham nampak senang dengan kedatangan Dion. Bahkan tanpa basa-basi, Dion langsung mengutarakan niatnya datang ke rumah itu.
" Bagaimana tuan Abraham? Apakah ijin yang tuan berikan kepada saya dulu masih berlaku? " tanya Dion dengan sungguh-sungguh.
" Tentu saja tuan. "
" Tuan , jangan memanggil saya dengan sebutan tuan. Panggil saja saya Dion, tuan. "
" Oh baiklah nak Dion. Saya ini orangnya tidak suka plin plan. Jika saya sudah memutuskan sesuatu, maka itulah yang akan terjadi. Seperti yang saya katakan sebelumnya, jika saya akan dengan senang hati menerima nak Dion menjadi menantu saya. Tapi sekarang masalahnya, apakah Leora sudah memberikan anda jawaban? " ujar tuan Abraham.
" Sudah tuan. Nona Leora mengatakan jika saya serius ingin meminangnya, maka saya harus meminta ijin kepada tuan juga Arvin. Nona Leora akan mengikuti apapun keputusan tuan dan Arvin. " jawab Dion mantap dan yakin.
" Untuk Arvin, karena dia masih terlalu kecil untuk mengetahui tentang kehidupan orang dewasa, saya pikir tidak ada masalah. Arvin menyukai saya tuan. Dan dia juga sudah memanggil saya dengan sebutan ayah. " jawab Dion.
Tuan Abraham nampak manggut-manggut. Ia sepertinya senang saat mendengar jawaban Dion. Karena semenjak tadi pagi, Arvin selalu menyebut Dion dengan sebutan ayah ketika anak kecil itu bercerita tentang liburan singkatnya ke Bali. Dan tuan Abraham tentu saja mengetahuinya.
" Baik. Kalau begitu, mari kita tanya putri saya sekarang. Apakah dia benar-benar menerima dirimu atau tidak. " ujar tuan Abraham.
" Iya, tuan. " jawab Dion.
" Leora.....Le......" panggil tuan Abraham ke Leora
" Iya pa. " sahut Leora dari ruang tengah. Sebenarnya ia sudah sedari tadi berada di ruang yang dekat dengan ruang tamu. Ia sengaja menguping pembicaraan papanya dengan Dion. Dan entah kenapa, ketika ia mendengar Dion mengatakan maksud dan tujuannya ke papanya, dan sang papa yang langsung menerima Dion, hati kecil Leora bersorak. Bahkan sedari tadi, senyum tipis tidak pernah lepas dari bibirnya.
Leora segera keluar ke ruang tamu. " Ada apa pa? " tanya Leora berpura-pura. Leora sengaja tidak menatap Dion sama sekali. Karena jantungnya berdetak lebih kencang saat memandang wajah tampan laki-laki yang sedang duduk di sofa ruang tamunya itu.
" Duduklah di sini. " pinta tuan Abraham sambil menepuk bagian kosong dari sofa yang beliau duduki.
" Ada apa pa? " tanya Leora kembali saat dirinya sudah duduk di sebelah papanya.
" Di sini, ada nak Dion. " tunjuk tuan Abraham yang membuat Leora mau tidak mau memandang ke arah Dion sebentar. Lalu kembali membuang pandangannya saat netranya bertemu dengan netra hitam milik Dion.
__ADS_1
" Dia kesini, untuk melamarmu. " ucap tuan Abraham to the point.
Leora menunduk sambil meremas ujung bajunya.
" Bagaimana? " tanya tuan Abraham sambil menatap putrinya yang sedang menunduk.
Sedangkan Dion, di seberang sana, menunggu jawaban dari Leora dengan harap harap cemas. Ia juga sama seperti Leora, meremas jemari tangannya.
" Bagaimana nak? " tanya tuan Abraham kembali.
" Mmm....Papa bagaimana? Leora....Leora "
" Papa sih iyes. " jawab tuan Abraham menyambung ucapan Leora.
Membuat Leora tersentak dan mengangkat kepalanya menatap sang papa dengan terkejut. Papanya bilang iyes.
" Papa bilang iyes. " ulang tuan Abraham.
Leora kembali menunduk. " Leora ...Arvin...Arvin kan..."
" Arvin juga iyes. " potong tuan Abraham kembali.
Leora mengerutkan keningnya sambil kembali menatap papanya. Ini yang mau nikah siapa sih sebenarnya. Kenapa malah papanya yang terlihat sangat bersemangat.
Leora mendesah perlahan. Jika sudah begini masalahnya, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
" Sekarang kamu bagaimana? Ada tiga orang. Dua orang sudah menjawab iyes. Tinggal satu orang. Tapi menurut juri X-Factor, kalau dua orang sudah menjawab iyes, berarti dia memang lolos. " ujar tuan Abraham sambil menunjuk Dion yang ada di hadapan.
Dion tersenyum tipis sambil terus menatap Leora yang kembali menunduk. Leora menarik nafas dalam-dalam lalu memejamkan matanya sebentar sebelum akhirnya dia membuka suaranya.
" Leora....Leora juga iyes. " jawab Leora masih sambil menundukkan kepalanya.
Hah. Dion akhirnya bisa bernafas lega. Jika saat ini ia sedang tidak berada di hadapan calon mertuanya, sudah di pastikan ia kan meloncat-loncat kegirangan sambil mengangkat kedua tangannya.
" Sudah dengar sendiri kan nak Dion? Putri saya menjawab apa? "
" Iya tuan. " jawab Dion penuh semangat. " Kalau begitu, besok malam saya akan membawa keluarga saya datang kemari untuk melamar putri tuan secara resmi. Tapi maaf tuan, karena saya sudah tidak punya ayah juga ibu, maka saya akan mengajak tuan dan nyonya Adiguna untuk melamar nona Leora. "
Leora sedikit terkejut saat Dion mengatakan bahwa ia akan mengajak tuan dan nyonya Adiguna ke rumahnya besok malam.
" Apa tidak terlalu cepat itu nak? "
" Tidak tuan. Besok malam adalah waktu yang tepat. Lebih cepat, maka akan lebih baik. Kalau tuan setuju dengan rencana saya, saya akan menikahi nona Leora bulan depan. " sahut Dion yang membuat Leora menelan salivanya dengan susah payah.
***
__ADS_1
bersambung