
Setelah beberapa saat, Bryan keluar dari dalam kamar memakai kaos oblong berwarna putih polos dan celana pendek. Rambut yang masih basah membuat kesan seksi semakin bertambah.
Pipit yang sedari tadi sibuk dengan laptop di depannya, mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar Bryan. Melihat Bryan dengan baju kasualnya dan rambut basahnya, membuat Pipit menelan ludahnya dengan susah payah. Hati Pipit tiba-tiba berdesir, dan jantungnya berdegup kencang. Bryan yang berpenampilan seperti itu, nampak lebih muda bagi Pipit.
' Ya salam....Ada apa dengan hatiku? Kenapa dia jadi begitu keren dan seksi seperti itu? Betapa indahnya ciptaanMu. ' bisik hati kecil Pipit.
" Gimana tugasnya? " tanya Bryan yang sudah berada di dekat Pipit. Begitu dekat malahan. " Kok malah bengong. " lanjutnya.
" Oh. .Ah ..Ba-baru sedikit. " jawab Pipit terbata sambil menetralkan detak jantungnya. Bryan semakin mendekatinya, membuat Pipit kehilangan konsentrasi. Sekarang konsentrasi Pipit justru ke aroma musk yang masuk ke dalam hidungnya yang berasal dari Bryan.
Lagi-lagi, Pipit begitu susah menelan salivanya. Pipit memejamkan matanya menghirup perlahan aroma musk yang berasal dari suaminya itu.
Lalu ia segera membuka matanya dan menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
' Aduhhh Pipiiiitttt..... Dokter jantung mana ini??? Dokteeeerrr....Tolongin Pipit....' teriak hati kecilnya.
" E hem..." Pipit berdehem, " Pipit mau ambil minum dulu bentar. Tenggorokan Pipit tiba-tiba terasa kering. " ujar Pipit sambil segera berdiri dengan canggung dan berjalan menuju ke dapur.
Sedangkan Bryan, ia menatap Pipit dari arah belakang dengan senyuman smirknya. Sepertinya ia menyadari jika Pipit sedang salah tingkah ada dia di dekatnya. Karena ia tadi sempat melihat wajah melongo Pipit saat ia baru keluar dari dalam kamarnya.
' Awal yang bagus, Bryan. Lo harus semangat. Yakin, dia bakalan jatuh hati sama Lo. ' batin Bryan menyemangati dirinya sendiri.
Di dapur, Pipit menaruh kedua tangannya ke atas meja menopang tubuhnya. Lalu ia menghirup udara banyak-banyak.
" Huh. " ia mengeluarkan nafasnya. " Rileks, Pit....Jangan sampai goyah dan balik badan ke om dokter mesum itu. " gumam Pipit perlahan.
Di belakangnya, Bryan tersenyum tipis. Sepertinya ia mendengar gumaman Pipit.
" Katanya mau ambil minum? " ujar Bryan mengagetkan Pipit.
" Dih, Abang... ngagetin Pipit aja ..." seru Pipit sambil memegang dadanya. Lalu ia segera menyingkir dari meja kompor, dan mengambil satu botol air mineral di dalam kulkas, dan segera kembali ke meja tempatnya mengerjakan tugas tadi.
Bryan mengamatinya sambil geleng-geleng kepala. Lalu ia melanjutkan acara memasaknya.
" Udah sholat magrib tadi? " tanya Bryan sambil menoleh sebentar ke arah Pipit.
" Udah, tadi pas sekalian ambil buku. " jawab Pipit tanpa melihat ke arah Bryan.
" Oh iya bang, masak nasi juga kan? " tanyanya. Kali ini ia menoleh ke arah Pipit.
" Nasi? Bukannya tadi mau makan Beef Burguignon? "
" Iya, mau makan itu. Tapi pakai nasi juga. Kalau nggak pakai nasi, mana kenyang bang... Pipit ini orang Indonesia asli. Jadi kalau belum makan nasi, namanya belum makan. Soalnya belum kenyang. "
" Oke, Abang masakin nasi. "
__ADS_1
Lalu Bryan meneruskan acara memasaknya, sedangkan Pipit kembali sibuk dengan tugasnya.
Hampir satu jam waktu berlalu. Masakan Perancis yang diinginkan Pipit sudah jadi.
" Makan malam dulu. Nanti tugasnya di lanjut lagi." tutur Bryan.
Pipit nampak menggeliatkan tubuhnya. Lalu melihat jam tangannya. Sudah jam setengah delapan.
" Bang, sholat dulu aja yuk. " ajak Pipit sambil berdiri dari duduknya di lantai yang beralaskan karpet tebal.
" Boleh. Mau di imamin? "
" Boleh. Kuy lah. "
Lalu mereka berdua sholat isya berjamaah. Kembali lagi hati Pipit berdesir. Ia jadi teringat kala Bryan sering menggodanya dulu dan menyebutnya calon makmum. Seperti doa saja, pikir Pipit karena hal itu kejadian.
Setelah sholat, mereka segera ke dapur dan duduk di meja makan. Beef burguignon yang di masak oleh Bryan tadi telah tersaji di atas meja, di depan Pipit dan Bryan duduk.
" Gimana rasanya? " tanya Bryan setelah Pipit memasukkan satu potong daging ke dalam mulutnya.
" Enak. Banget. " jawab Pipit sambil mengunyah dagingnya.
Bryan tersenyum, lalu ia juga mulai makan.
" Abang nggak pakai nasi makannya? " tanya Pipit yang sedari menyendok nasi, sedangkan dia melihat Bryan hanya memakan daging berbumbu itu.
" I know. Abang kan bule. Jadi makan kayak gitu aja udah kenyang. Kalau Pipit mana kenyang. Kalau cuma makan daging doang, yang ada entar malam nggak bisa tidur pulas. " jawab Pipit lalu memasukkan sepotong daging lagi ke dalam mulutnya.
" Oh iya, Pipit mau nanya, Abang kan dari Perancis. Kok bisa agamanya Islam? "
" Abang ini seorang mualaf. Dulu agamaku Nasrani. Tapi semenjak keluar dari rumah, tinggal dengan Daddy-nya Danique, lalu datang ke Indonesia, Abang memutuskan untuk menjadi mualaf. Aku masih ingat banget, waktu itu papa Adi yang ngundang ustadz ke rumah dan mengajariku membaca syahadat. "
" Wuaahhhh...." Pipit mengacungkan kedua Jempolnya.
Lalu mereka kembali menikmati makanan mereka dalam diam.
" Bang, biar Pipit aja yang cuci piring. " ujar Pipit setelah mereka selesai makan.
" Udah, kamu lanjutin ngerjain tugasnya. " seru Bryan.
" Ck. Susah, Pipit bingung. Mending Pipit cuci piring aja. Abang kan tadi udah masak. Pipit nggak bantuin. Jadi sekarang, Pipit yang beresin semuanya. "
" Oke, terserah kamu saja lah. " akhirnya Bryan mengalah dan membiarkan Pipit membersihkan bekas makan malam mereka.
Ia berjalan menuju ke tempat Pipit mengerjakan tugas tadi, lalu melihat seberapa jauh Pipit mengerjakan tugasnya.
__ADS_1
' Lumayan. ' batin Bryan sambil tersenyum.
Setelah beberapa saat, Pipit menghampirinya.
" Bang, bantuin yah? " pinta Pipit. " Pipit nggak ngerti pas udah sampai di bagian ini. " ucapnya sambil menunjuk ke buku tebal yang ada di depannya.
Bryan melihat buku itu dan membacanya. Ia lalu menjelaskan sedikit ke Pipit. Setelah mengerti, Pipit segera melanjutkan mengerjakan tugasnya.
" Bang, " panggil Pipit dengan mata yang tetap fokus ke layar laptop.
" Hem. " sahut Bryan sambil tetap sibuk dengan ponselnya.
" Kalau misalnya nih...misal ya bang...Abang punya peliharaan kucing, terus kucing itu hamil. Tapi Abang masih harus kerja. Kira-kira abang bakalan terus pulang ninggalin kerjaan Abang buat lihat tuh kucing yang lagi hamidun nggak?"
Bryan nampak berpikir. Apa ini ada hubungannya dengan Damar yang tiba-tiba pulang hari ini?
" Kalau Abang punya peliharaan yang lagi hamil, ya kan peliharaan? Bukan istri kan yang lagi hamil. Ya nggak segitunya lah buat di khawatirin. Lagi hamil juga kan, belum melahirkan. Lagian kalau hewan kan nggak ada tuh ngidam macem-macem. " jawab Bryan.
" Tuh, bener kan apa yang Pipit pikirkan juga. Masak iya cuma gara-gara kucingnya lagi hamil, dia terus bela-belain pulang. " ucap Pipit tanpa sadar.
" Kenapa? "
" Ah, nggak apa-apa. Pipit asal ngomong aja. " sahut Pipit. Iapun kembali fokus ke tugasnya.
Bryan dengan sabar membantu Pipit mengerjakan tugasnya itu. Sesekali Pipit menguap dan menggeliat. Sampai tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Bryan yang tadi sempat berpamitan ke kamar mandi karena harus menunaikan hajatnya, ketika kembali ke ruang tengah, ia mendapati Pipit tengah meletakkan kepalanya di atas meja dengan berbantalkan kedua tangannya yang ia lipat. Sepertinya Pipit tertidur. Bryan menghampirinya. Berjongkok di samping Pipit, melihat ke layar laptop yang masih menyala.
" Belum selesai ternyata. " gumamnya. Lalu ia kembali ke Pipit. Mau di bangunkan, kasihan. Akhirnya dia memutuskan untuk mengangkat tubuh mungil tapi berisi milik Pipit dan di bawanya ke dalam kamarnya.
Ia berjalan perlahan sambil membawa Pipit dalam dekapannya. Setelah sampai di kamar, Bryan merebahkan tubuh Pipit secara perlahan ke atas kasur.
Bryan lalu duduk di tepi ranjang di samping Pipit yang tertidur, menatap dalam-dalam wajah cantik yang imut itu. Lalu tangannya terulur untuk menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik itu. Bryan tersenyum.
" Aku akan membuatmu mencintaiku, honey. Pasti. " ucap Bryan serius sambil menatap wajah nan cantik milik istrinya. Lalu ia sedikit mencondongkan tubuhnya, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Pipit. Ia kecup dalam-dalam kening sang istri.
" I love you my little wife. Have a nice dream. " ucap Bryan setelah melepas kecupannya. Lalu ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju keluar kamar. Ia kembali menutup pintu kamar dengan sangat perlahan.
Malam ini, Bryan akan begadang menyelesaikan tugas istrinya yang belum sepenuhnya selesai. Tapi hal itu hal yang mudah untuk Bryan. Mengerjakan makalah seperti itu ia bisa menyelesaikan dalam waktu kurang dari satu jam. Tapi karena itu tugas Pipit, jadi ia hanya sekedar membantu. Dan sekarang, ia akan menyelesaikan makalah itu, tapi sesuai dengan kemampuan yang di miliki Pipit.
***
bersambung
Bonus weekend ya guys ...Doble up ..
__ADS_1
jangan lupa...like....like...like....