
" Nona, kita sudah dekat selama kurang lebih tiga bulan lamanya. Menurut nona, apa yang membuat nona masih meragukan saya? " tanya Dion sambil menatap dalam manik mata Leora.
Leora lalu menundukkan kepalanya.
" Nona, apa nona masih meragukan cinta saya ke nona? " tanya Dion kembali.
Masih belum ada kata-kata yang keluar dari mulut Leora. Ia masih tetap menunduk dan diam.
" Saya benar-benar mencintai anda, nona. " ucap Dion mantap. Ia lalu menghela nafas panjang. " Saya tahu dan sadar diri nona. Kalau saya mempunyai masa lalu yang buruk. Saya akui, saya sering gonta-ganti pasangan, bahkan saya juga sering melakukan hubungan one night stand. Tapi, semua orang bisa berubah kan nona? Begitu juga dengan saya. Saat ini, saya sedang berusaha keras untuk berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik. " lanjut Dion.
" Saya serius mengajak anda untuk berkomitmen. Bukan karena alasan apapun. Tapi karena saya benar-benar mencintai anda dan ingin menghabiskan hidup ini hanya bersama anda. " Dion kembali menjeda omongannya.
" Nona, apa anda tidak kasihan dengan Arvin? Dia begitu merindukan sosok seorang ayah. Belum lagi jika nanti dia sudah sekolah. Apa anda pernah memikirkan bagaimana jika di sekolah nanti, teman-temannya membullynya? "
Deg
Leora agak terkejut mendengar penuturan Dion. Selama ini, ia memang tidak pernah berpikir ke sana.
" Apa anda ingin menunggu Robert keluar dari penjara untuk menyekolahkan Arvin? "
Leora menggeleng lemah.
" Lalu apa yang anda tunggu nona? " tanya Dion. Lalu ia kembali menarik nafas dalam-dalam. " Saya tahu, anda belum mencintai saya. Tapi saya rasa, cinta dari saya saja sudah cukup untuk membina rumah tangga. Karena saya akan membuat anda mencintai saya setelah kita menikah. " lanjut Dion penuh dengan kemantapan dan kepercayaan diri yang tinggi.
Leora mendongakkan kepalanya dan menatap manik mata hitam milik Dion. Ia ingin meyakinkan dirinya dari mata itu. Apakah ada keraguan disana. Dan ternyata, Leora tidak menemukannya.
" Tuan,....." Leora masih agak ragu untuk berucap. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya.
" Tuan, jika anda serius ingin menikahi saya, maka mintalah saya ke orang tua dan anak saya. Apapun keputusan mereka, saya akan mengikutinya. " ucap Leora pada akhirnya.
__ADS_1
Sebenarnya ia juga sudah mulai ada rasa terhadap Dion. Mendapatkan perhatian, gombalan- gombalan recehnya, membuat hatinya bergetar. Apalagi melihat kedekatannya dengan Arvin putranya. Bahkan entah bagaimana ceritanya, Dion berhasil membuat putranya memanggilnya ayah.
" Baik. Sepulang kita dari sini, saya akan langsung menemui tuan Abraham. Kalau Arvin, saya berani pastikan 100% dia akan dengan senang hati menerima saya sebagai ayahnya. Karena saya sudah bertanya kepadanya, dan dia mengatakan kalau dia sangat senang jika saya mau menjadi ayahnya. " jawab Dion dengan pedenya.
" Anda yakin kan, akan menerima saya jika tuan Abraham menerima saya sebagai menantunya? " tanya Dion memastikan. Ia tidak mau kena prank dong tentunya.
" Iya. " sahut Leora sambil tersenyum imut.
Dan jangan tanya bagaimana ekspresi wajah Dion. Ia seperti menang lotre. Karena belum lama ini, dirinya telah menemui tuan Abraham untuk meminta ijinnya meminang putri satu-satunya. Dan tanpa banyak berpikir, tuan Abraham memberikannya ijin.
Jadi secara otomatis, bisa di pastikan kalau dirinya akan menikah dengan wanita pujaannya ini. Sepertinya sepulang dari Bali, ia harus segera mengurus segala hal yang di butuhkan untuk melangsungkan pernikahan. Ia tidak ingin menunggu terlalu lama.
Dion tersenyum tipis tersembunyi. Tak henti-hentinya, ia menatap mata Leora penuh cinta.
" Saya juga akan segera mempersiapkan pernikahan kita. Saya akan menyewa wedding organizer terbaik. " ujar Dion dengan senangnya.
" Tuan, bukankah Anda belum menemui papa? Anda belum tahu beliau mengijinkan atau tidak. " sahut Leora sambil terkekeh melihat wajah laki-laki yang sebentar lagi menjadi suaminya itu.
Sedangkan di dalam kamar di lantai dua. Pasangan yang tadi masuk kedalam kamar duluan, sedang melakukan konferensi.
" Ayolah baby... Sebentar aja..." rayu Seno.
" Nanti Danique kebangun mas. Entar kalau belum kelar terus Danique bangun, kamunya jadi marah-marah nggak jelas. " sahut Armell yang masih tetap tidur menghadap ke putranya.
" Bentar aja, baby. " Seno masih tetap merengek seperti anak kecil yang minta jajan. Ia tiduran miring menghadap istrinya yang membelakanginya. " Mumpung kita lagi di Bali ini beb. Suasananya romantis. Di rumah juga udah jarang beb, kita bersenang-senang. Ayolah baby....Sebentaaarrr aja..." rengek Seno.
Armell menghela nafas panjang. Memang benar, semenjak ada Danique, mereka jarang melakukannya. Tidak sesering saat Danique belum lahir. Mereka hanya akan melakukannya saat mereka bisa mencuri waktu di sore hari atau saat Danique tidur dengan sang Oma.
Dan malam ini, Seno benar-benar sudah tidak tahan. Ia sangat merindukan menyentuh istrinya. Sebenarnya ia sudah merencanakan akan melakukannya siang tadi saat sampai di vila ini dan kebetulan Danique sedang tertidur pulas. Tapi nasibnya kembali sial karena belum juga mereka melakukan pemanasan, Danique sudah terbangun dan mengambil alih secara mutlak istrinya.
__ADS_1
Armell membalikkan badannya perlahan takut putranya terbangun. Seno tersenyum saat melihat istrinya membalikkan badannya.
" Kita akan melakukannya, tapi sebentar saja. Cukup sekali saja. Mas jangan minta lebih. Kalau tiba-tiba Danique terbangun, mas harus terima resiko menyelesaikan sendiri di kamar mandi. Dan jangan terlalu bersemangat. Nanti berisik, Danique bisa kebangun. " ujar Armell panjang lebar setengah berbisik.
" Kita pindah ke sofa saja. " ajak Seno.
" Sofa kan sempit mas. Entar gelundung gimana? Bisa encok akunya. " protes Armell.
" Kamu belum tahu saja. Sebentar. " ucap Seno, lalu dia bangkit dari tidurannya dan berjalan menuju sofa panjang yang ada di kamar itu. Saat sampai di sofa, Seno memencet tombol yang ada di sofa itu, dan membuat sofa itu melebar.
" See? Sekarang kamu tidak perlu takut kalau jatuh. " ujar Seno sambil menunjuk ke sofa. Dan jangan lupakan jiwa terkejutnya Armell. Ia bahkan sampai lupa untuk menutup mulutnya yang menganga.
Seno berjalan menuju ke ranjang menghampiri istrinya yang masih tertegun.
" Aaaaa....." teriak Armell karena tiba-tiba tubuhnya melayang di udara.
" Sssttt...." Seno memperingatkannya untuk tidak berisik. Armell langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya. " Jangan berisik, baby. Nanti tetangga kita bangun dan mengganggu kita. "
" Mereka tidak akan mengganggu kita. Karena aku yakin, mereka juga sedang sibuk sendiri. Mereka kan belum berbulan madu. " sahut Armell.
Cup
Seno mulai melancarkan aksinya. Ia mulai dengan mencium dan ******* bibir istrinya yang bagai sabu baginya. Armell mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya dan Seno berada di atasnya saat mereka telah sampai di sofa.
Mereka memulai kegiatan panas mereka dengan saling bertautan. Armell yang memang juga merindukan sentuhan suaminya, ikut larut dalam permainan Seno. Seno selalu saja bisa membuatnya melayang dan merasa sangat di hargai di atas ranjang. Ia merasa sangat di cintai. Seno selalu memperlakukannya dengan sangat baik.
Semakin malam, suasana semakin memanas. Suara desa*** dan era**** terdengar dari dua kamar yang saling bersebelahan. Karena Bryan dan Pipit juga telah melakukan part 2 mereka malam ini. Entah sudah berapa gaya yang mereka praktekkan. Tapi yang pasti mereka telah melakukannya selama tiga jam.
Dan untuk Seno dan Armell, Seno yang tadinya mengatakan kalau hanya akan melakukannya satu kali, kini mereka telah melakukannya dua putaran. Saat putaran pertama selesai dan melihat Danique yang masih tertidur pulas, Seno kembali merayu Armell melakukan untuk putaran kedua.
__ADS_1
***
bersambung